Baby... I Love You

Baby... I Love You
Lega sekaligus menyesal



Setelah mendapat telepon dari Mama Riana, setidaknya sedikit banyak membuat Radit merasa lega. Walaupun sedikit agak kecewa karena dia tidak bisa berbicara langsung dengan Sya. Tapi setidaknya Radit tau kalau istri dan anak-anaknya dalam keadaan baik dan mereka tidak benar-benar meninggalkan Radit.


Mengenai perintah Mama Riana untuk dirinya supaya tidak datang dan menjemput Sya di Bali, sebenarnya Radit tidak setuju. Radit merasa dia harus sesegera mungkin menyelesaikan masalah yang terjadi antara dirinya dan Sya. Tapi pada akhirnya Radit memilih untuk mengalah, biar bagaimana pun yang di katakan Mama Riana benar, istrinya itu perlu menenangkan dirinya.


Dan lagi, Radit juga harus fokus dengan pembukaan cabang perusahaan yang akan di lakukan 2 minggu lagi. Memang dalam 2 minggu ke depan jadwal Radit tidak terlalu padat tapi itu semua mungkin saja bisa berubah. Jika nantinya Radit justru kembali fokus ke pekerjaan, dirinya takut justru akan mengabaikan Sya dan anak-anaknya lagi.


"Sabar Radit, hanya 2 minggu. Kamu bahkan mengabaikan mereka lebih lama dari pada itu." Radit menyemangati dirinya sendiri.


Sejenak Radit tertegun mengingat apa yang telah dia lakukan.


"Apa aku yang melakukan ini semua?" Tanya Radit kepada dirinya sendiri.


Radit tidak menyangka kalau kontrol emosinya akan lepas kendali. Sudah lama sekali Radit tidak seperti ini.


Radit menatap kearah lantai dasar ranjang yang berantakan. Kaca lemarinya pecah dengan lampu tidur yang tergeletak hancur di lantai. Bantal-bantal juga sudah berpindah ke sudut ruangan. Seprai tergeletak di kakinya. Radit merasa pusing sendiri melihat kamarnya yang sangat tidak beraturan ini, padahal itu semua perbuatannya sendiri.


Mau tidak mau sepertinya Radit harus memanggil Bi Siti atau asisten rumah tangganya yang lain untuk membersihkan kamarnya. Secara kalau harus membersihkan sendiri Radit tidak sanggup. Moodnya juga tidak memungkinkan Radit melakukan itu.


Radit memutuskan untuk keluar kamar untuk memanggil seseorang untuk membersihkannya. Namun betapa terkejutnya Radit saat mendapati Bi Siti dan Seto ada di depan kamarnya.


"Kalian ngapain disini?" Tanya Radit kepada keduanya.


"Bibi denger Mas Radit banting-banting barang di kamar, jadinya Bibi turun manggil Seto buat jaga-jaga kalau Mas Radit kenapa-napa." Jawab Bi Siti seraya menundukkan kepalanya. "Mas Radit enggak papa kan?" Tanya Bi Siti kepada Radit.


"Enggak Bi, saya baik-baik aja." Jawab Radit. "Oo iya, tolong di bersihin ya kamarnya, maaf jadi ngrepotin dan buat kalian cemas. Set, tolong kamu bantu Bi Siti. Saya mau pulang dulu." Ujar Radit seraya menepuk pelan baru Seto.


"Baik Mas."


Tampa mengatakan apa-apa, Radit langsung turun dan keluar untuk pulang ke rumahnya. Radit merasa lebih baik dia di rumahnya sendiri, karena dengan begitu Radit tidak merasa terlalu hampa tanpa adanya Sya.


Aahhh, rasanya Radit benar-benar merindukan kehadiran Sya dan anak-anaknya. Radit benar-benar ingin terbang ke Bali sekarang juga. Tapi Radit juga tidak mau gegabah. Radit takut kalau Sya masih marah kepadanya.


"Sabar Dit sabar." Radit terus menggumamkan kalimat itu.




Sesampainya di rumah Radit langsung memarkirkan mobilnya di garasi. Begitu masuk ke dalam rumah ternyata Mbak Tinah dan Mbok Inah ternyata sedang menunggu kepulangannya.



"Mas Radit, gimana? Mbak Sya sama anak-anak di rumah Ibu Riana?" Tanya Mbok Tinah kepada Dani.



Radit tersenyum kecut.


"Enggak, mereka nggak disana. Tapi memang bersama Mama dan Papa sekarang. Maureen dan anak-anak ada di Bali.".Jawab Radit sekenanya hanya agar 2 asisten rumah tangganya itu tidak lagi mencemaskan keadaan Sya dan anak-anak.



" Syukurlah kalau gitu." Mbak Tinah dan Mbok Ina merasa lega mendengarnya. Mereka berdua benar-benar panik saat mendapati fakta kalau Sya dan anak-anak tidak ada di rumah.




"Iya Mbok, saya mandi dulu setelah itu turun lagi." Jawab Radit. Kemudian dia berjalan naik ke kamarnya.



Sebenarnya Radit saat ini benar-benar sedang tidak nafsu makan. Tapi Radit merasa tidak enak untuk menolaknya, biar bagaimana pun Mbok Inah sudah repot-repot memasak untuknya.



Radit langsung naik ke kamarnya. Suasana sepi dan dingin menyambut kedatangannya. Biasanya setiap Radit pulang lembur, Sya akan menunggunya di ranjang seraya membaca novel atau menyusui baby Rendra yang biasanya sering terbangun setiap dia pulang.



Baru Radit sadari juga kalau di benar-benar mengabaikan momen pertumbuhan anak bungsunya itu karena dirinya yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sekarang baby Rendra berusia 4 bulan, dan Radit mengabaikan bayi kecilnya itu sudah hampir 2 bulan ini.



Jika kalian bertanya apakah dirinya marah karena Sya pergi membawa anak-anak mereka tanpa pamit, maka jawabannya tidak. Radit sama sekali tidak marah kepada Sya. Radit tau bagaimana kesabaran Sya sudah habis karena terlalu lama dia abaikan. Radit justru merasa marah dengan dirinya sendiri.



Dan jika kalian bertanya apakah Radit kesal atau tidak kepada Mama Riana karena ikut campur dalam urusan rumah tangganya, maka jawabannya juga tidak. Radit sadar kalau Mama Riana lah orang yang juga paling berusaha untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan pernikahan antara dirinya dan juga Sya. Lagi pula Mama Riana juga tau batasan. Dia tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anaknya kalau tidak benar-benar di butuhkan. Dan jujur saja baik Radit maupun Sya masih sangat membutuhkan bimbingan dari Mama Riana.



Tatapan Radit berhenti kearah meja nakas, disana terdapat bunga tulip putih yang seharusnya dia berikan kepada Sya dan juga seember ayam goreng kesukaan Kendra. Mungkin karena terlalu panik mendengar kalau Sya dan anak-anak tidak ada di rumah, Radit tanpa sadar membawanya ke kamar.



Radit berulang-ulang merutuki dirinya sendiri, kenapa dia tidak menyadari kesalahannya sejak kemarin? Setidaknya kalau dia sudah sadar dari kemarin maka Sya dan anak-anaknya pasti tidak pergi ke Bali saat ini.



"Lebih baik aku segera mandi agar pikiranku lebih jernih." Ujar Radit sebelum dia masuk ke kamar mandi.



Selesai mandi pun bayangan Sya langsung datang ke kepalanya. Biasanya setiap selesai mandi, istrinya itu sudah menyiapkan pakaian ganti untukknya. Dan sekarang Radit harus melakukannya sendirian lagi.



Jujur sebenarnya Radit sudah merasa sangat lelah. Setelah seharian bekerja dan juga mengamuk karena kehilangan Sya, Radit rasanya ingin segera merebahkan tubuhnya agar bisa beristirahat karena tenaganya begitu terkuras.



Tapi Radit ingat, dia belum makan dari siang. Selain karena Mbok Inah yang sudah memasak, Radit juga ingat kalau Sya akan sangat marah kalau dirinya sampai melewatkan jam makan.



Radit tidak ingin membuat Sya semakin marah kalau mengetahui dirinya telat makan, jadi Radit memaksakan diri untuk turun, tentunya dengan seember ayam goreng di tangannya.