
Sebelum dzuhur, Sya terbangun dari tidurnya. Terlihat Kendra yang masih lelap di sampingnya. Posisi ranjangnya yang mepet ke tembok membuat Kendra tidur dengan aman tanpa takut terjatuh. Tadi saat baru masuk kamarnya, Kendra langung antusias. Bagaimana tidak? kamar Sya terasa sangat nyaman. Tidak terlalu banyak barang di kamarnya. Ditambah ada beberapa tanaman hias yang sengaja Mama Farida letakkan disana.
Tadi tidak susah untuk menidurkan Kendra, karena tadi sudah terlalu lelah di perjalanan. Jadi begitu tubuhnya berbaring di kasur, tidak lama kemudian Kendra langsung tertidur. Begitu pula dengan Sya, saat melihat Kendra sudah tidur, tidak ada lagi alasan untuknya menahan kantuk yang sedari tadi menyerang.
Hingga sekarang terbangun, ternyata Sya sudah tidur lebih dari 2 jam.
Sya memutuskan untuk turun ke lantai bawah untuk melihat apakah ada yang memerlukan bantuannya atau tidak. Setelah memastikan jika Kendra amat, barulah Sya keluar dari kamarnya.
Ternyata di lantai bawah sepi, tidak ada siapapun disana. Sya beranjak lagi untuk ke dapur. Dan ya, disana ada Mama Riana yang sedang memasak.
" Masak apa Ma? " Tanya Sya tiba-tiba. Sya duduk di kursi dekat meja makan untuk mengambil air minum.
" Eehh, Sya. Ini masak Ayam kecap. Kamu katanya suka banget sama Ayam kecap. " Ujar Mama Riana menjawab.
" Ihh, Mama tau aja sih kesukaan aku. Oo iya Mama kemana Ma? " Tentu saja yang ditanyakan oleh Sya adalah Mama Farida. Sama-sama memanggil Mama jadi bingung kan gimana penyembutannya. Namun Mama Riana paham dengan maksud ucapan Sya.
" Farida lagi ke kamar mandi Sya. " Jawab Mama Riana tersenyum lembut.
" Ooo gitu. Oh iya Ma, ada yang perlu Sya bantu nggak? " Tanya Sya lagi.
" Nggak usah sayang. Semua udah siap kok. Mama sama Mama kami udah selesai masak sayur kangkung, goreng bakwan jagung, sop sapi. Tinggal ini aja Ayam kecap yang belum siap. "
" Maaf ya Ma, Sya bukannya bantuin malah asik tidur. " Ujar Sya tidak enak.
" Nggak papa sayang, Mama ngerti kok kalo kamu capek. Lagian tenang aja, Mama masak bareng sama Mama kamu kok, ditambah juga dibantuin Mbak Sri. Jadi nggak terasa capek. "
Jadi Mbak Sri adalah asisten rumah tangga Sya dari dulu, beliau adalah istri Pak Iman yang juga bekerja disini sebagai supir. Pak Iman dan sama Mbak Sri tidak menginap disini. Mereka akan datang sekitar jam 7 pagi dan pulang jam 4 sore. Sedangkan hari minggu seperti karyawan pada umumnya, mereka juga mendapat jatah untuk libur.
" Udah bangun toh dek, cah bagusnya masih bobok? " Tanya Mama Farida yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Iya Ma udah. Kendranya masih bobok pules, mungkin kecapean dia. " Ujar Sya menjawab.
" Iya kayaknya capek banget Kendra, soalnya tumben aja gitu dia tidur nggak minta minum susu strawberrynya. " Ujar Mama Riana
" Padahal biasanya Kendra perjalanan ke Bandung naik mobil 4 jam dari Jakarta nggak secapek itu kan Ma?. " Tanya Sya kepada Mama Riana.
" Soalnya tadi malem begadang dia sama Radit. "
" Haa, begadang? Kenapa begadang? " Tanya Sya kaget. Sya tidak tau karena memang tadi malam dia tidur di kamar tamu di lantai bawah. Sebenarnya Mama Riana memintanya untuk tidur kamar Rida, tapi Sya tolak karena tidak enak dengan pemilik aslinya.
" Mama juga nggak tau, tapi setau Mama Kendra baru tidur hampir jam 1 deh. " Mama Riana tau karena suara tawa Kendra samar-samar terdengar sampai ke kamarnya.
" Oo gitu. "
Mama Riana beranjak ke belakang untuk memanggil Papa Riyan dan juga Ayah Dodi yang sedang asik ngombrol dan duduk di gazebo dekat kolam ikan. Sekedar informasi, di rumah ini tidak ada kolam renang, hanya ada kolam ikan. Kenapa? Karena Sya tidak bisa berenang. Jadi saat Ayah Dodi menawarkan untuk membuat kolam renang langsung Sya tolak. Dan lagi, Fardan dan Mama Farida juga setuju untuk tidak membuat kolam renang, irit air katanya. Meski halaman depan rumahnya tidak berpagar, Halaman belakang rumah ini justru di pagar tembok keliling. Karena untuk tempat menjemur baju dan juga keluarganya bersantai.
" Dek ini ayam kecap nya udah mateng. Tolong bangunin nak Radit dulu, dia tidur di kamar tamu. Kita makan siang bareng-bareng." Ujar Mama Farida memberikan perintahnya.
" Kendranya nanti aja, kasian kalo dibangunin sekarang. Nak Raditnya aja dulu. Pasti dia juga mau bersih-bersih dulu dek. " Ujar Mama Farida memberikan pengertian.
" Iya iya, ini mau Sya bangunin. "
Sya beranjak dari duduknya menuju kamar tamu untuk melaksanakan perintah Mama Farida membangunkan Radit. Sebenarnya sejak kejadian tadi malam Sya menjadi agak segan. Dia mulai menganggap Radit sebagai atasan saja seperti awal mereka bertemu.
Tok... tok... tok...
" Mas Radit.... " Sya mengetuk pintu dan memanggil nama laki-laki itu.
Tidak ada jawaban dari dalam sana.
Tok... tok... tok...
Sekali lagi Sya mencoba untuk mengetuk pintunya, siapa tau Radit dengar dan akan segera bangun.
" Mas.... "
Tetap tidak ada jawaban. Sya bingung saat ini. Haruskah dia membuka pintu kamarnya dan masuk kesana? Walaupun ini ada di rumahnya sendiri, tetap saja Sya merasa tidak enak jika harus masuk ke kamar yang saat ini sedang di huni oleh tamunya.
Akhirnya Sya memberanikan untuk menekan gagang pintunya, ternyata memang tidak di kunci. Dengan ragu Sya masuk kedalam, tentu saja tanpa menutup pintunya lagi. Takut timbul fitnah nantinya.
Di atas ranjang. Terlihat seorang laki-laki tertidur dengan lelapnya meskipun terlihat sedikit kurang nyaman karena dia tidur menggunakan celana jeans dan kemeja berkerah, siapa lagi kalau bukan Radit. Saat ini wajah dingin Radit seolah hilang digantikan dengan wajah penuh kehangatan. Tidak ada gurat-gurat berpikir di dahinya seperti yang sering Sya lihat selama ini.
Sya mendekat kearah ranjang, dia ragu apakah harus membangunkan Radit atau tidak. Mau membangunkan tidak berani, eehh bukan, tidak enak hati maksudnya. Tapi kalo tidak di bangunkan kasihan juga karena sekarang sudah waktunya makan siang nanti yang ada dia malah kelaperan dan berakhir kena penyakit magh. Ditambah Radit juga harus sholat dzuhur.
" Mas... " Panggil Sya pelan. Namun tidak ada pergerakan sedikitpun dari Radit.
" Mas.... Bangun, udah siang ini. Kita semua mau makan siang. " Panggil Sya sekali lagi. Dan kali ini dia memberanikan diri untuk sedikit mengguncang badan Radit.
" Mas... Bangun... " Panggil Sya dengan kesal pada akhirnya. Kesabarannya sudah menipis karena sulitnya membangunkan Radit. Dan ini adalah salah satu hal yang baru Sya ketahui.
" Hhmmm... " Radit bergumam dan sedikit membuka matanya. " Kenapa? " Tanya Radit dengan lirih.
Melihat Radit yang sudah membuka matanya justru membuat Sya gugup tiba-tiba. Rasa kesalnya tiba-tiba menguap.
" Bangun Mas, udah siang. " Ujar Sya dengan gugup.
Radit melihat kearah Sya, tiba-tiba ada seulas senyum yang tersungging dibibirnya.
" Mas kenapa senyum-senyum gitu? " Tanya Sya dengan takut-takut. Bukan apa-apa, Sya cuma takut kalo ternyata Radit kesambet.
" Ternyata gini ya rasanya baru buka mata terus liat bidadari didepan kita. Aku merasa jatuh cinta. " Ujar Radit menatap dalam kearah Sya.
" Apaan sih Mas, udahlah aku mau ke atas bangunin Kendra. " Sya menjadi salah tingkah mendengar ucapan Radit. Kemudian dengan terburu-buru Sya keluar dari kamar tamu untuk menuju kamarnya sendiri.
" Aku jatuh cinta? " Ucap Radit pada dirinya sendiri dengan wajah sendu.