Baby... I Love You

Baby... I Love You
Otw halal?



Sudah 3 hari keluarga Radit ada di Jogja, dan ini adalah malam terakhir Radit, Kendra dan kedua orang tuanya sebelum kepulangan mereka besok ke Jakarta. Sedangkan Sya masih stay di Jogja 4 hari lagi karena memang jatah libur dari perusahaan sudah habis.


Saat ini semua orang sedang berkumpul bersama di ruang keluarga seperti biasa. Saat para orang tua sedang terlibat perbincangan, Radit dan Sya hanya diam menyimak. Sedangkan Kendra tentu saja sudah asik dengan serial Upin Ipin di TV.


" Kenapa nggak pulang bareng Sya aja Mbak? kenapa harus cepet-cepet gitu. " Tanya Mama Farida kepada Mama Riana.


" Aku sih pengennya lama disini Far. Tapi ya itu, Papa sama Radit katanya mau ada proyek baru. Jadi ya udah aku mah nurut aja. " Ujar Mama Riana menjelaskan alasannya pulang lebih cepat dari Sya.


" Kalau udah begitu mana bisa aku nglarang kamu pulang. " Mama Farida akhirnya menyerah untuk membujuk agar keluarga Radit tidak pulang.


" Kamu tuh suka ngerajuk dari dulu, semoga nggak nurun ke Sya ya. " Ujar Mama Riana tertawa kecil.


" Sama aja Ri. Mamanya sama Sya sama-sama tukang ngerajuk. " Ujar Ayah Dodi menyahuti.


" Kayak Mama nggak aja. Mama juga gitu. " Sahut Papa Riyan tertawa kecil.


" Ya udah kita para perempuan emang suka ngerajuk. " Ujar Mama Riana yang membuat semua orang tertawa.


Suasana menjadi menghangat karena candaan para orang tua. Radit ditempat duduknya sedang berpikir akan sesuatu hal. Sedangkan Sya sedang membalas chat dari teman-teman kantornya yang meminta untuk dibawakan oleh-oleh saat dia berangkat ke Jakarta nanti. Dan tanpa sadar ternyata Kendra sudah tertidur di kasur bulu yang memang diletakkan di depan TV. Radit merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan orang tuanya dan juga orang tua Sya.


" Ehmm... Pa Ma dan Om Tante, ada yang mau Radit bicarain boleh? " Tanya Radit kepada para orang tua. Seketika pembicaraan menjadi hening. Sya yang sedang sibuk dengan ponselnya langsung terdiam. Menebak apa yang akan Radit katakan selanjutnya.


" Kenapa Dit? " Tanya Ayah Dodi kepada Radit.


" Om Tante kan sudah tau, kalau Radit punya hubungan spesial lebih sama Maureen."


Mama Riana yang mendengar perkataan Radit seketika langsung tersenyum lebar, dia tidak menyangka jika Radit akan seberani ini. Ini baru anak Mama, begitu ucapnya dalam hati.


Berbeda dengan Sya, gadis itu langsung terdiam kaku di tempatnya. Apakah dirinya akan di lamar oleh Radit malam ini? Pikir Sya dalam hati.


Sedangkan Papa Riyan hanya santai menunggu Radit untuk menyelesaikan ucapannya.


" Iya, lalu? " Tanya Ayah Dodi dengan tenang. Mama Farida yang ada di sampingnya hanya diam mendengar percakapan antara suaminya dan anak sahabatnya itu.


" Ehhhmm... Sebenarnya ini bukan lamaran karena Radit sendiri tidak mempersiapkan apa pun. Disini Radit mau minta izin sama Om dan Tante. Radit serius menjalin hubungan dengan Maureen. Kalau Om dan Tante merestui, boleh Radit meminang Maureen menjadi istri Radit? " Radit bertanya dengan wajah penuh percaya dirinya.


Mama Riana yang mendengar tentu saja senyumnya menjadi semakin lebar, sedangkan Papa Riyan hanya tersenyum simpul melihat keberanian putranya itu.


Sya menatap Radit dengan tidak percaya. Ternyata Radit benar-benar melamarnya kepada orang tuanya secara tidak langsung.


" Om tau kamu laki-laki yang baik, kamu pekerja keras dan juga penyayang. Yang paling penting, kamu adalah seseorang yang penuh tanggung jawab. Semua itu sudah cukup untuk masuk kedalam kriteria Om dan Tante, dan kami setuju karena kami memang sudah membicarakannya beberapa hari yang lalu. Jadi tetap saja, keputusan mutlak ada di tangan Sya. " Ujar Ayah Dodi tersenyum. Sekarang semua orang menatap kearah Sya.


Tanpa mereka tau, saat ini Sya sedang berkelana dengan pikirannya sendiri.


" Ayah nggak tau aja kalo Mas Radit tuh orangnya dingin, galak, terus posesif. " Ujar Sya dalam hati.


" Jadi gimana Dek? " Tanya Mama Farida.


Semua orang langsung tersenyum mendengar jawaban Sya.


" Niat baik tidak perlu ditunda lama-lama. " Ujar Papa Riyan dengan wajah bahagia. Akhirnya anak laki-lakinya itu akan segera melepas status dudanya.


Sya yang mendengar ucapan Papa Riyan langsung mengerti kemana arah pembicaraan mereka.


" Eehhmm, tapi.. tapi Sya pengennya menikah kalau Mas Fardan sudah menikah lebih dulu. " Ucap Sya dengan lirih. Wajahnya menunduk karena takut untuk melihat kemungkinan wajah kecewa mereka.


Dan benar saja wajah Radit langsung terlihat kaku. Bukan marah, hanya lebih karena dia terkejut saja mendengar jawaban dari Sya. Sedangkan orang tua Radit memilih untuk menyerahkan semua keputusan ditangan Radit dan juga Sya.


" Tenang aja dek, bulan depan kan Mas Fardan mau ngelamar cewek. " Ujar Mama Farida.


" Siapa? Kok Mas Fardan nggak pernah cerita ke adek sih. Eehh cerita sih, tapi nggak pernah ngasih tau orangnya. " Ujar Sya dengan cemberut.


" Asti. " Jawab Mama Farida tersenyum.


" Asti? Asti siapa? " Tanya Sya bingung.


" Asti temen kuliah adek. Yang dulu satu kosan sama adek. " Ujar Mama Farida.


" Ya ampun, Asti Larasati? Bener-bener ya mereka berdua. Kenapa coba nggak pernah cerita kalo mereka ada hubungan. " Ujar Sya kesal.


Asti Larasati, ya dia adalah gadis asal Semarang yang dulu satu kosan dan satu Universitas dengan Sya. Dulu saat Masnya sering menjenguknya di Bandung, Asti dan Fardan terlihat biasa saja. Mareka hanya sekedar bertegur sapa pada umumnya. Tidak pernah ada hal-hal yang membuat Sya curiga jika keduanya menjalin hubungan. Tapi ternyata... Hmmm. Padahal Sya sendiri masih berhubungan baik dengan Asti sampai sekarang. Mereka masih sering chatting juga. Tapi karena sekarang Asti kerja di salah satu Bank di Semarang, mereka jadi tidak pernah bertemu sejak wisuda mereka 6 bulan yang lalu. Dan setiap mereka chatting pun tidak pernah ada pembahasan mengenai Fardan. Jadi ini benar-benar membuat Sya terkejut.


" Kata Mas Fardan biar adek kaget. " Ujar Mama Farida tersenyum.


" Berarti Asti pernah kesini dong Ma? "Tanya Sya.


" Pernah. "


" Udah, bahas Mas Fardan sama Asti nya nanti lagi. Sekarang kan lagi bahas Adek sama Radit. " Ujar Ayah Dodi.


Pasalnya sedari tadi tanpa sadar Sya mengabaikan Radit dan orang tuanya.


" Hehehe, maaf Sya kelepasan. " Ujar Sya tidak enak hati.


" Nggak papa sayang. Jadi Sya mau kan jadi mantu Mama? " Tanya Mama Riana dengan lembut.


" Iya Sya mau kok. " Sya Sya menunduk malu.


Radit tentu saja sangat bahagia mendengar jawaban dari Sya. Ingin hati memeluk gadis ini, namun Radit belum berani. Mereka masih belum halal, di tambah saat ini ada orang tua mereka.


" Terima kasih. " Ucap Radit dengan lirih kepada Sya saat gadis itu menatap ke arahnya. Sebenarnya hanya gerakan bibir saja, namun Sya dapat memahaminya. Seketika Sya mengangguk dan tersenyum malu.