
Hari ini Sya dan yang lainnya sudah kembali lagi ke Jakarta seperti yang sudah di rencanakan. Sesampainya di bandara Radit langsung ke Kantor karena Andre sudah menunggunya untuk menghadiri agenda rapat, sedangkan Sya dan Kendra ikut pulang ke rumah orang tua Radit karena jaraknya yang lebih dekat dari bandara.
"Kamu istirahat dulu aja di kamar Sya, pasti capek kan." Ujar Mama RIana kepada Sya. Pasalnya Sya terlihat begitu letih.
"Iya Ma, kalau gitu aku ke kamar dulu." Jawab Sya, sejak hamil seperti yang kita ketahui kalau fisik Sya menjadi lebih lemah dari biasanya. Dan Sya sangat bersyukur karena memiliki ibu mertua yang begitu perhatian seperti Mama Riana.
"Abang mau ikut Bunda ke kamar enggak? Bunda mau bobok sebentar." Ujar Sya kepada Kendra.
Bocah tampan itu menggelengkan kepala tanda menolak ajakan Sya.
"Enggak Bunda, Abang mau main sama Gley dulu." Jawab Kendra seraya menunjuk kucing berwarna abu-abu yang sedang berguling-guling di karpet lantai.
"Ooo... Ya udah Bunda bobok ke kamar dulu ya." UJar Sya kepada Kendra sebelum dia beranjak untuk ke lantai 2 dimana kamar Radit berada.
Begitu melihat ranjang dengan kasur yang terlihat empuk, Sya langsung ingin merebahkan tubuhnya disana, tapi sebelum itu dia harus mengganti pakaiannya dengan dress ibu hamil agar lebih nyaman.
Dan ya, karena kelelahan Sya langsung tidur tidak lama kemudian.
...~~~...
Di tempat lain Radit sedang melakukan rapat bersama beberapa kepala divisi perusahaannya. Radit mengecek kinerja tiap divisi bulan ini. Tidak lama, hanya memakan waktu 2 jam saja. Dan sore harinya Radit juga harus bertemu dengan Dani untuk membahas kelanjutan project mereka.
Dan benar saja, saat Radit selesai dengan rapatnya bersama para kepala divisi dia mendapati Dani sudah ada di dalam ruangannya. Menunggu dengan santai seraya menikmati rokok dan kopinya.
Jika dulu sebelum bertemu dengan Sya, Radit sering merokok di dalam ruangannya maka sekarang sudah tidak. Bahkan Radit sudah menghentikan kebiasaan buruknya itu. Dan tidak di pungkiri kalau itu adalah karena Sya.
" Hey Bro...." Ujar Dani begitu melihat Radit masuk.
Radit menatap Dani yang hari ini terlihat sangat aneh. Bagaimana tidak, biasanya ekspresi yang ada di wajah Dani hanya dingin dan datar, tapi kli ini terlihat berbeda karena ada senyuman yang tersemat di wajahnya.
" Lo kenapa? Ketempelan setan?" Tanya Radit kepada Dani.
Sedangkan Dani hanya mengangkat bahunya tanda tidak peduli dengan pertanyaan Radit itu.
Radit juga tidak memperpanjang mengenai permasalahan ekspresi wajah Dani yang berbeda dari biasanya, fokus mereka sekarang hanya project mereka.
Sesuai keputusan, project antara Santoso Grub dengan Persada Grup akan di mulai awal bulan depan, dan itu berarti masih kurang 2 minggu lagi.
Radit memutuskan untuk pulang setelah project kerja sama sudah di sepakati.
...~~~...
Radit menjemput Sya dan Kendra di rumah orang tuanya. Radit memutuskan untuk tidak menginap karena dia memiliki kejutan untuk Sya. Setelah terjadi perdebatan dengan Mama Riana yang memintanya untuk menginap, akhirnya Radit berhasil mendapat izin Mamanya itu.
"Kamu kok senyum-senyum begitu Mas, ada apa?" Tanya Sya kepada Radit.
Radit tersenyum mendengar pertanyaan Sya. Terlihat sangat jelas kalau Sya begitu penasaran, sedangkan Kendra terlihat tenang tertidur dengan nyenyak.
Aneh saja menurut Sya, tidak biasanya Radit tersenyum sendiri tanpa adanya alasan yang jelas. Memang apa atau siapa yang sudah membuat Radit terlihat begitu bahagia? Apakah seorang wanita? Tidak-tidak, Sya tidak boleh berfikiran negatif seperti itu kepada Radit. Tidak mungkin kan kalau Radit berselingkuh?
Sya terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Saat ini otaknya begitu sulit untuk diajak berpikiran positif. Ingin bertanya kepada Radit pun dia takut kalau suaminya itu justru tersinggung.
Melihat Sya yang terdiam dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak setelah mendengar jawaban darinya, Radit mengerutkan dahi, apa ucapannya salah? Radit hanya menjawab kalau dia sedang bahagia tadi.
"Kenapa sayang?" Tanya Radit kepada Sya.
Sya yang mendengar Radit bertanya kepadanya sedikit terkejut.
"Haa, kenapa Mas? Aku nggak papa." Jawab Sya sekenanya. Tidak mungkin kan Sya mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Ada yang mengganggu pikiran kamu?" Tanya Radit seraya menatap Sya sekilas. Kenapa suasana yang tadinya hangat tiba-tiba berubah menjadi tidak nyaman seperti ini, padahal Radit merasa tidak melalukan kesalahan apapun saat ini. Llau apa yang sedang mengganggu pikiran Sya sekarang?
Sya terdiam mendengar pertanyaan yang Radit ajukan, kalau dia menjawab tidak itu berarti dia berbohong kepada Radit. Tapi kalau Sya menjawab iya pun dia juga takut untuk mengatakannya.
"Aku tau ada yang sedang mengganggu pikiran kamu, jadi katakan saja sayang. Dengan begitu aku bisa tau apa penyebabnya." Ujar Radit beberapa saat setelah Sya tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab pertanyaannya.
Wajah Sya terlihat ragu saat akan megatakannya, tapi Sya memberanikan diri untuk menatap Radit.
"Tapi Mas jangan marah." Jawab Sya dengan ragu.
Lagi-lagi Radit mengernyitkan dahinya, kenapa dia sampai harus marah?
"Iya aku nggak aka marah sayang, enggak ada alasan yang bikin aku marah." Jawab Radit seraya tersenyum agar Sya menjadi tenang saat mengatakannya.
" Mas enggak lagi selingkuh kan?" Tanya Sya dengan suara lirih namun masih bisa terdengr jelas di telingan Radit.
Dan ucapan lirih dan pelan itu justru begitu membuat Radit terkejut bukan main, sampai-sampai tanpa sengaja Radit menginjak pedal rem tiba-tiba. Hal ini membuat Sya hampir saja tersungkur kedepan, untung saja Sya menggunakan sabuk pengaman dan Radit langsung menahannya.
"Sayang kamu enggak papa kan?" Tanya Radit kepada Sya. Tatapannya juga langsung beralih kepada Kendra yang tertidur di kursi belakag, dan untungnyya Kendra juga tidak apa-apa, bahkan tidurnya tidak terusik sama sekali.
" Maaf aku bikin kamu kaget." Ujar Sya dengan mata berkaca-kaca.
"Enggak papa sayang, aku yang harusnya minta maaf karena hampir membuat kamu terluka. Kenapa kamu sampai berpikiran kalau aku selingkuh?" Tanya Radit dengan lembut kepada Sya.
"Kamu senyum-senyum sendiri, aku pikir kamu punya selingkuhan, soalnya kan sekarang aku udah nggak cantik karena gemuk." Jawab Sya seraya terisak pelan. Pikiran itu tiba-tiba saja bersarang di kepalanya, bukan tidak mungkin kalau Radit akan selingkuh kalau kondisinya saja seperti ini. Sya begitu insecure dengan bentuk badannya yang berbeda dari saat dia belum menikah dulu.
"Astaghfirulloh sayang, kenapa kamu bisa sampai kepikiran kalau aku selingkuh. Bahkan mikirin wanita lain selain kamu saja aku nggak pernah sayang. Jangan berpikir seperti itu lagi, aku nggak mau kalau kamu dan dedek sampai kenapa-napa. Apalagi karena hal yang tidak mungkin terjadi." Ujar Radit seraya memeluk tubuh Sya yang sedang terisak itu. " Dimata aku kamu selalu cantik, dan aku tidak berbohong akan hal itu. " Tambah Radit.
Sya hanya menangis sesenggukan di dada Radit.
"Iya aku nggak akan kayak gitu lagi." Jawab Sya lirih.