
Radit dan Sya buru-buru menuju ke bagian informasi dimana Kendra berada. Ada rasa bangga dihati Sya karena Kendra tumbuh menjadi anak yang pintar.
Tidak jauh dari tempat Radit dan Sya, mereka sudah bisa melihat Kendra duduk di temani seorang wanita cantik.
"Abang... " Ucap Sya begitu menemukan Kendra.
"Bunda... Abang caliin Ayah dali tadi tapi enggak ketemu. Ya udah Abang kesini aja minta tolong sama tante cantik." Jawab Kendra dengan polos.
"Tapi Abang nggak papa kan?" Tanya Sya seraya memastikan kalau putranya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Iya Bunda, Abang baik-baik aja kok. Bunda nggak usah khawatil." Jawab Kendra seraya tersenyum manis. Bocah tampan itu benar-benar tau bagaimana cara agar membuat Sya tidak cemas lagi.
"Maafin Ayah ya Bang, harusnya Ayah nggak ninggalin Abang sendirian." Ujar Radit dengan raut wajah menyesal yang begitu jelas tergambar di wajahnya.
"Iya Ayah, Abang maafin." Jawab Kendra seraya tersenyum manis.
Tanpa sengaja Sya dan Radit mengabaikan wanita yang saat ini ada di samping Kendra. Sampai akhirnya Sya yang menyadari terlebih dahulu keberadaannya.
"Terima Kasih ya Mbak sudah mau bantu anak saya." Ujar Sya mengucapkan dengan tulus.
Namun mendadak Sya menjadi merasa sedikit jengkel karena wanita di depannya ini justru fokus menatap Radit. Hati istri mana yang tidak kesal melihat semua itu.
Terlihat jelas kalau wanita itu tertarik kepada Radit. Sya bukan gadis bodoh yang tidak tau bagaimana raut wajah wanita yang tertarik kepada suaminya.
Sedangkan Radit yang memang pada dasarnya cuek dan jarang memperhatikan sekitar terlihat tidak peduli dengan apa yang wanita bername tag Risa lakukan karena fokusnya sekarang hanya kepada Kendra. Di tambah Radit juga sedang membawa stroller baby Rendra.
"Kalau gitu kami permisi ya Mbak. Sekali lagi Terima kasih. Dan tolong matanya di jaga, laki-laki yang Mbak tatap itu udah punya istri dan anak." Bisik Sya yang ternyata langsung di dengar oleh Risa. Setelah mengatakan itu buru-buru Sya menggandeng tangan Kendra dan juga menarik tangan Radit.
Wanita bernama Risa itu langsung tersentak kaget mendengar kalimat terakhir Sya. Niatnya tadi memang membantu bocah tampan itu bertemu dengan orang tuanya, tapi saat melihat paras Ayahnya, mendadak Risa menjadi terpesona.
Sedangkan Radit hanya mengikuti langkah Sya tanpa bertanya apapun.
Sepanjang perjalanan Sya berusaha menormalkan moodnya lagi, terlebih disini ada Kendra. Dan lagi, Radit juga bukan tipe laki-laki yang mudah peka, dia pasti tidak sadar kalau saat ini Sya sedang cemburu dengan wanita yang beberapa menit lalu mereka temui.
Setelah berjalan agak jauh dari tempat tadi, Sya sudah mulai bisa menenangkan diri.
"Abang habis ini mau makan dimana?" Tanya Sya kepada Kendra. Sya sama sekali tidak menatap Radit sejak tadi, dan hal ini membuat Radit menyadari kalau ada yang sedang tidak beres dengan istrinya.
"Mau Ayam goleng kakek dong, boleh kan Bunda?" Jawab Kendra dengan penuh harap.
"Boleh dong sayang, hari ini Abang bebas boleh minta apa saja." Sya tersenyum melihat Kendra yang tersenyum bahagia.
Sedangkan Radit? Dia hanya diam membiarkan. Nanti akan dia tanyakan sesampainya di rumah.
Dan sekarang mereka sudah ada di tempat makan yang Kendra inginkan. Seperti biasa Kendra akan memesan ayam goreng kesukaannya. Mengikuti Kendra, Sya dan Radit pun memilih untuk memesan makanan yang sama.
Setelah lelah bermain dan selesai makan, Sya dan Radit memutuskan untuk pulang. Di tambah lagi karena Kendra yang sepertinya sudah mulai mengantuk dan baby Rendra juga mulai rewel.
Dan benar saja, sesampainya di mobil Kendra langsung tertidur di kursi belakang bersama baby Rendra.
"Kamu kenapa? Kayaknya lagi marah sama aku, aku buat salah? Atau mengenai Kendra tadi? aku minta maaf sayang, janji aku enggak bakal ngulangin lagi." Ujar Radit kepada Sya. Berharap Sya mau berbicara dengannya lagi, karena sebenarnya Radit paling tidak tahan kalau didiamkan oleh istrinya ini.
Sya menoleh kearah Radit sebelum menjawabnya.
"Enggak, siapa bilang aku marah. Aku enggak marah Mas." Jawab Sya tanpa melihat kearah Radit.
"Kamu bohong, aku tau kamu lagi marah sama aku. Baiklah, aku tidak akan menuntut jawaban sekarang. Kita bahas ini di rumah." Ujar Radit kepada Sya.
Karena sebenarnya percuma saja Radit membahasnya sekarang. Radit tidak mau kalau sampai tidur putra-putranya terganggu karena perdebatan antara dirinya dan juga Sya.
Radit menaikkan kecepatan mobilnya, dia merasa harus menyelesaikan masalah ini segera. Jangan sampai Sya mendiamkannya sampai berhari-hari.
"Mas jangan cepet-cepet bawa mobilnya." Ujar Sya begitu menyadari kalau Radit menambah kecepatan mobilnya.
Dengan perlahan Radit mulai menurunkan kecepatan mobilnya sesuai dengan permintaan Sya.
Sesampainya di rumah, Radit menggendong Kendra dan menidurkannya di kamar tamu setelah terlebih dahulu membukakan pintu untuk Sya. Kemudian dia juga membawa Sya ke kamar tamu dimana Kendra tidur.
"Adek tidurin disini dulu sama Abang." Ujar Radit kepada Sya. Hal ini membuat Sya mengernyitkan dahinya bingung.
"Kenapa nggak sekalian dibawa ke kamar atas aja Mas?" Tanya Sya kepada Radit.
"Kita harus menyelesaikan masalah kita. Biar anak-anak Mbak Tinah dan Mbok Inah yang jagain." Jawab Radit tegas.
Melihat Radit yang sepertinya sedang dalam mode serius, Sya langsung menuruti ucapan Radit. Dia meletakkan baby Rendra di sebelah Kendra yang juga tertidur pulas.
"Mbak Tinah... " Ujar Radit memanggil asisten rumah tangga yang itu.
Dan tidak menunggu lama Mbak Tinah langsung datang menghampiri Radit dan Sya.
"Tolong jagain Kendra sama Rendra ya Mbak, nanti kalau Rendra bangun terus minta susu, ambil aja ASI yang sudah Maureen pompa. Saya ada urusan dengan Maureen soalnya." Ujar Radit berpesan kepada Mbak Tinah.
Setelah memastikan semuanya aman, Radit membawa Sya ke kamar mereka. Sya cukup terkejut saat Radit mengunci kamar mereka, padahal tidak biasanya Radit melakukan itu. Biasanya mereka hanya akan mengunci pintu kamar kalau tidur di malam hari.
"Sekarang jelasin, kamu kenapa? Aku buat salah apa?" Tanya Radit dengan wajah dan suara yang terdengar sangat serius.
Sya tergagap mendengar pertanyaan Radit. Sya bingung juga harus menjawab apa karena setelah dipikir-pikir rasanya sangat berlebihan karena dia cemburu kepada wanita yang bahkan tidak dikenalnya.
"Enggak Mas, kamu enggak salah apa-apa kok. Aku cuma... cuma.... " Sya tidak tau harus mengatakan apa.
"Cuma apa?" Tanya Radit seraya menatap Sya dalam.
Hening, Sya belum juga menjawab pertanyaan Radit.
"Cuma apa Maureen?" Tanya Radit sekali lagi.
"Cemburu." Jawab Sya singkat seraya menundukkan kepalanya.