
Selepas acara resepsi berakhir, Sya dan Radit masuk ke kamar untuk membersihkan diri masing-masing setelah sebelumnya Sya dibantu Rida, Asti dan Mbak Arum melepas gaunnya sekaligus menghapus make up.
Sedangkan Kendra, bocah lucu itu sekarang sudah tidur di kamar Oma dan Opanya. Mungkin besok pagi akan ada keributan saat Kendra terbangun, karena sejak tadi saat acara resepsi berlangsung Kendra selalu meminta untuk malam ini tidur bersama Sya. Sya tentu saja mengiyakan permintaan bocah kecil yang saat ini sudah menjadi anaknya itu, namun Mama Riana justru membawanya ke kamarnya saat melihat Kendra yang tertidur di gendongan Papa Riyan, dengan alasan Sya dan Radit butuh waktu berdua.
Radit masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya mandi di kamar sebelah, terlihat Sya masih sibuk menghapus make up yang masih tersisa sedikit, gaunnya sudah diganti dengan kaos dan celana selutut. Sedangkan Asti dan Rida sudah keluar dari kamar mereka.
" Sayang belum selesai juga? " Tanya Radit kepada Sya.
" Belum Mas, bentar lagi. Aku nggak nyaman kalo masih ada sisa make up yang nempel. " Jawab Sya masih fokus dengan make up nya.
Radit hanya memperhatikan Sya kemudian beralih dengan memainkan ponselnya.
" Mas kalo ngantuk tidur aja, aku masih mau mandi dulu soalnya, nggak usah ditungguin. " Ujar Sya kepada Radit dengan halus.
" Enggak, aku mau nunggu kamu sayang. Masa ini malam pertama kita tapi aku tidur duluan. " Ujar Radit menggoda Sya.
Pipi Sya seketika merona mendengar ucapan Radit. Ya, ini adalah malam pertama mereka sebagai sepasang suami-istri, dan sayangnya malam ini Radit tidak bisa mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
" Tapi kan aku lagi halangan Mas. " Ujar Sya dengan malu.
" Memang kenapa sayang? Malam pertama nggak selalu mengenai 'itu' kok. Kita bisa ngobrol bercerita mengenai diri kita satu sama lain. " Ucapan Radit tambah membuat Sya merasa lalu. Bagaimana bisa dia yang perempuan justru berpikir seperti itu. Sedangkan Radit justru tidak berpikir macam-macam.
" Ya udah, aku mandi dulu. " Sya buru-buru masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa malunya sekaligus untuk mandi.
" Sayang kamu lupa bawa handuk. " Teriak Radit seraya terkekeh geli. Radit yang melihat Sya begitu terburu-buru itu menyadari jika istrinya itu tidak membawa handuk dan pakaian gantinya. Sebenarnya tidak apa-apa jika saat ini Sya tidak sedang mendapat tamunya, karena itu akan menguntungkan Radit. Berbeda dengan kenyataan saat ini yang membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Dari pada nanti dirinya yang tersiksa sepanjang malam lebih baik dia mencegahnya.
Ceklek....
Dengan malu-malu Sya keluar dari kamar mandi setelah mendengar ucapan Radit. Dia berusaha menebalkan wajahnya seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
Radit yang melihat itu hanya mengulum senyumnya, namun tetap dia tidak mengatakan apa-apa.
Sya mengambil pakaian ganti di kopernya dan juga handuk, kemudian berlalu ke kamar mandi tanpa menoleh kearah Radit.
Melihat Sya yang berlalu melewatinya begitu saja seketika Radit tertawa karena tidak bisa menahannya.
Haha, istrinya itu benar-benar lucu.
Selagi Sya mandi, Radit menunggunya dengan bermain game di ponselnya. Hingga tidak terasa sudah hampir setengah jamSya di kamar mandi. Radit melihat ke arah jamnya, kemudian beranjak dari ranjang.
Tok... tok... tok...
Radit mengetuk pintu kamar mandi yang mana Sya ada di dalamnya.
" Sayang, kamu kok mandi lama banget sih. " Ujar Radit seraya mengetuk pintu.
Tidak terdengar sahutan dari dalam, tidak juga terdengar gemericik air seperti sebelumnya, yang baru Radit sadari sudah sejak 15 menit yang lalu.
" Sayang, kamu nggak papa kan? " Ujar Radit seraya mengetuk pintu semakin keras.
Ceklek... Ceklek...
Pintu kamar mandi dikunci dari dalam.
" Maureen, kalo kamu nggak buka pintunya, aku dobrak ya. Satu.... Dua... Ti..... " Radit bersiap untuk mendobrak pintu itu, meski rasanya tidak mungkin karena pintu itu terbuat dari kayu yang pasti sangat kuat, namun setidaknya dia sudah berusaha.
" Bentar Mas, aku ketiduran. " Terdengar teriakan Sya dari dalam kamar mandi.
Mendengar itu seketika membuat Radit langsung bernapas lega karena tidak terjadi sesuatu dengan istrinya itu.
" Iya Mas, bentar aku bilas dulu. " Jawab Sya dari dalam.
Setelahnya Radit duduk kembali di ranjang, namun tatapan tidak beralih sedikitpun dari pintu menunggu Sya keluar.
Hingga 5 menit kemudian pintu terbuka. Sya keluar dari kamar mandi menggunakan piyama berkancing lengan pendek dan celana panjang. Sebenarnya Sya biasa menggunakan kaos dan hotpants saja, namun tidak berani melakukannya untuk saat ini. Masih dengan rambut basah yang tergulung handuk, Sya tersenyum kepada Radit.
" Hehe, maaf ya Mas. Aku ketiduran. " Ujar Sya kepada Radit.
" Kamu kenapa bisa sampe tidur di kamar mandi? " Tanya Radit dengan lembut.
" Tadi sih niatnya cuma mandi sebentar, tapi begitu liat bathup terus air hangat ditambah lilin aroma terapi, aku jadi pengen berendam sebentar. Tapi ternyata malah ketiduran karena terlalu nyaman. " Ujar Sya menjelaskan.
Radit hanya menggelengkan kepalanya, ada-ada saja tingkah istrinya itu.
" Ya udah, sekarang duduk sini. Aku keringin rambut kamu dulu. Nanti kamu pusing kalo tidur rambutnya basah. " Radit beranjak dari duduknya dan menuntun Sya agar duduk di depan meja rias. Sedangkan dia mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Sya.
" Aku aja Mas, kamu kan capek. Kamu istirahat aja. " Ujar Sya kepada Radit.
" Husshhh, udah nurut aja. Aku suka kok ngelakuin ini. Kalo aku aja capek kamu pasti juga lebih capek sayang. Gaun kamu kan berat. Maaf ya karena itu pilihan aku. " Ujar Radit menatap mesra Sya.
" Nggak papa Mas, aku suka kok. Kenapa harus minta maaf? " Ujar Sya seraya tersenyum manis.
Radit menyelesaikan pekerjaannya mengeringkan rambut Sya. Dengan telaten sampai rambut Sya benar-benar kering.
" Udah yuk, tidur. Atau kamu perlu apa lagi? " Tanya Radit kepada Sya.
" Nggak Mas, aku juga udah capek mau tidur aja. "
Radit dan Sya naik ke atas ranjang, mereka berbaring bersebelahan namun masih dibatasi oleh guling. Dengan tiba-tiba Radit membuang guling itu ke lantai.
" Kok di lempar gulingnya? " Tanya Sya dengan bingung.
" Aku nggak suka ada sesuatu diantara kita. " Jawab Radit dengan santai. Tiba-tiba saja Radit menarik Sya untuk lebih mendekat kearahnya, dan saat ini tubuh Sya sudah berada dalam pelukan Radit.
" Mas, lepasin ih. Sesek ini. " Ujar Sya sedikit meronta. Dia masih belum terbiasa terlalu berdekatan dengan Radit secara fisik. Karena sejak mereka pacaran saja mereka tidak pernah lebih dari sekedar saling menggenggam tangan.
" Sebentar aja sayang, aku nyaman. " Ujar Radit dengan lirih.
Beberapa menit Sya membiarkan Radit melakukan itu. Mereka hanya terdiam dengan posisi Sya yang berada di pelukan Radit.
" Terima kasih sudah mau menerima aku sebagai suami kamu. Padahal jika dipikir-pikir pasti banyak laki-laki yang lebih baik dari aku untuk menjadi pendamping kamu. Tapi tidak apa-apa, setidaknya ini membuktikan bahwa aku lah pemenangnya, aku lah laki-laki beruntung yang mendapatkan cinta kamu. " Ujar Radit di telinga Sya.
Sya yang mendengarnya hanya tersenyum simpul.
" Di kemudian hari, tolong terus bersama aku. Jangan lelah untuk selalu mengingatkan aku jika aku salah. Dan seberat apapun masalah yang akan kita hadapi nanti, tolong jangan meminta untuk berpisah dariku. " Ujar Radit dengan suara sendu.
" Kita perbaiki diri sama-sama Mas, Terima kasih kamu mau menerima segala kekurangan dan kelebihan aku. Terima kasih sudah hadir di hidup aku dan membuat aku yakin jika kamu adalah pilihan terbaik yang pernah aku putuskan. " Ujar Sya kepada Radit.
Sepanjang malam, mereka tidur saling berpelukan. Tidak ada batas diantara mereka selain kain yang membalut tubuh mereka dan sebuah selimut yang memberikan kenyamanan. Namun kenyamanan itu berakhir dengan sebuah keributan di pagi hari.
dok... dok... dok...
" Bunda..... Huwaaaa..... Kendla mau masuk Bunda... Kendla mau bobok sama Bunda..." Terdengar tangisan dari Kendra dan sebuah gedoran kasar pada pintu kamarnya.
Hal ini membuat Sya langsung beranjak dari tidurnya meninggalkan Radit yang hanya bisa mendengus kesal karena pagi harinya diganggu oleh makhluk kecil yang merupakan putranya sendiri.