Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kembali bersama



"Biar Sya aja Ma." Ujar Sya kepada Mama Riana.


Dan saat pintu terbuka....


"Haiii...." Ujar orang itu menyapa Sya. Raut wajah bahagia benar-benar terpancar di wajahnya.


Sya terdiam sejenak karena dia benar-benar terkejut dengan kedatangan orang itu.


"Kok kamu kayaknya kaget banget sih sayang liat aku ada disini?" Radit maju selangkah untuk masuk agar lebih dekat dengan Sya. Tangannya terulur mengelus dengan lembut pipi wanita yang sangat dia cintai itu.


"Mas Radit... " Saking terkejutnya Sya bahkan tidak bisa mengatakan apapun selain menyebut nama Radit. Dia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya itu ada dihadapannya. Baru saja Sya berbicara kepada Mama Riana kalau dia ingin pulang lebih dulu karena Kendra merindukan ayahnya, dan sekarang ayah dari anak-anaknya itu sekarang tepat ada di depannya.


"Iya, ini aku sayang, Radit. Suami kamu kan cuma aku." Ujar Radit seraya mencubit pipi Sya dengan gemas. Ya, Sya memang sangat menggemaskan saat ini.


"Kok kamu bisa sampai sini Mas?" Tanya Sya kepada Radit.


"Bisa dong, kan aku naik pesawat." Jawab Radit seraya tersenyum manis. Jujur, dia sangat-sangat merindukan Sya saat ini.


"Kalau itu aku juga tau Mas kalau kamu naik pesawat. Maksud aku, kok bisa kamu tau aku dan Mama ada disini. Mama kasih tau kamu kalau kita nginep di villa ini?" Tanya Sya. Memang itu yang menjadi pertanyaan Sya saat ini.


"Oo itu, jadi... "


Flashback


Begitu pekerjaannya di kantor selesai, Radit langsung bergegas untuk pulang ke rumah dan bersiap terbang ke Bali untuk menemui istri dan anak-anaknya. Rasanya Radit sudah tidak tahan lagi menanggung rasa rindu karena sudah hampir 1 minggu dia tidak bertemu dengan Sya, Kendra, dan baby Rendra.


Radit rindu dengan pipi Sya yang akan memerah setiap kali dia menggodanya. Rindu dengan perhatian Sya yang dengan suara lembut selalu menawari menu apa yang Radit ingin makan hari ini dan memasakkannya. Rindu dengan manjanya Sya jika dia pulang dari kantor dan saat anak-anak sudah tidur.


Radit juga merindukan ocehan Kendra yang semakin hari semakin kristis. Putra sulungnya itu terlalu pintar sampai kadang membuat baik Radit maupun Sya bingung memberikan jawaban dari pertanyaan Kendra. Radit rindu saat Kendra merajuk kepadanya untuk di belikan ayam goreng kakek.


Jangan lupakan juga si baby gemoy Rendra, meskipun kerjaannya hanya tidur dan menyusu saja, tapi wajah imutnya membuat setiap orang merasa gemas. Radit rindu saat dia harus terbangun karena tangisan putra bungsunya itu. Dan rindu saat menidurkan baby Rendra di gendongan tangannya.


Radit langsung mengambil koper kecil dan memasukkan beberapa pasang pakaian. Dia berencana untuk beberapa hari tinggal di Bali. Dan kalau nanti baju yang dia bawa kurang, maka tenang saja, dia bisa beli lagi kan?


Karena Radit tidak bisa melipat baju dengan baik dan benar, jadi dia memasukkan baju-baju itu seadanya. Hal ini tentu saja membuat isi koper benar-benar berantakan.


Rasanya Radit benar-benar tidak sabar menunggu waktu menunjukkan pukul 7 malam. Dia harus bersabar, masih kurang 2 jam lagi.


Radit memutuskan untuk merebahkan dirinya sejenak karena dia benar-benar mengantuk saat ini setelah hampir 1 minggu ini sibuk sampai tidur di kantor. Toh saat ini Andre belum datang untuk membawakan tiket pesawatnya. Dan lagi, Radit harus terlihat segar di depan Sya nanti. Dia tidak mau kalau sampai Sya marah lagi kepadanya jika sampai tau Radit bekerja sampai tidak ingat waktu.


Radit terbangun setelah setengah jam lamanya tertidur. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus kepikiran Sya. Daripada terus seperti ini, Radit memutuskan untuk membersihkan badannya saja. Dia akan dengan sabar menunggu jam dimana dia harus berangkat ke Bali tiba.


Tepat jam 6, Andre datang membawa tiket Radit untuk ke Bali.


"Pak Radit sudah tau Mbak Sya saat ini ada dimana?" Tanya Andre kepada Radit. Pasalnya percuma saja kan kalau Radit terbang ke Bali tapi tidak mengetahui keberadaan orang-orang yang dicarinya.


"Tentu saja tau, dari pantainya saja aku sangat hafal mereka saat ini menginap dimana." Jawab Radit santai.


Dari mana Radit tau? Tentu saja dari postingan Mama Riana yang memperlihatkan menantu dan cucunya sedang bermain air di pantai. Sepertinya Mama Riana lupa memprivasinya, atau justru memang sengaja agar dia tau keberadaan Sya?


Flashback off


"Sya... Siapa yang dat... ang?" Mama Riana datang menghampiri Sya setelah cukup lama menantunya itu tidak kunjung kembali masuk. "Ternyata kamu dit? Hhmmm, sudah Mama duga kamu pasti tidak akan benar-benar menurut kepada Mama." Tambah Mama Riana.


Radit yang melihat Mama Riana hanya memperlihatkan senyumnya.


"Hehehe, yang penting kan semua pekerjaan udah selesai. Mama juga bilangnya gitu katanya aku boleh menemui Maureen dan anak-anak kalau semua pekerjaan sudah selesai." Jawab Radit santai.


"Cukup hebat juga kamu bisa bertahan sampai 1 minggu tanpa Sya." Mama Riana masih terdengar sedikit sinis kepada Radit. Setelah mengatakan itu kmudian Mama Riana kembali masuk.


"Mas beneran udah selesai pekerjaannya? Bukannya pembukaan cabang masih 1 minggu lagi?" Tanya Sya kepada Radit.


"Iya, tapi semua sudah aku selesaikan. Andre yang akan membantu selebihnya sayang. Aku mana bisa bertahan lebih dari 1 minggu tanpa kamu. Ini saja rasanya sudah tidak karuan" Jawab Radit dengan nada memelas.


Tanpa sadar mereka masih berdiri di depan pintu. Karena terlalu kaget dengan kedatangan Radit, Sya sampai lupa untuk mempersilahkan suaminya untuk masuk. Padahal di luar sedang hujan dan angin cukup kencang saat ini. Sya baru menyadari kalau tubuh Radit sedikit basah.


"Ya ampun aku sampai lupa nyuruh kamu masuk Mas. Kamu pasti kedinginan ya, baju kamu basah begini." Sya terlihat cemas melihat keadaan Radit. "Kamu kok juga kurusan Mas? Ini juga, tumben jenggot kamu enggak dicukur?" Tanya Sya kepada Radit. Tapi suaminya itu hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.


Sya membuka pintu lebih lebar dan menyingkir dadi pintu agar Radit bisa masuk. Dan begitu Radit masuk...


"Maafkan aku sayang, aku udah bikin kamu dan anak-anak sedih karena terlalu sibuk bekerja. Aku menyesal." Ujar Radit seraya memeluk tubuh Sya. Rasanya Radit begitu lega saat ini karena bisa kembali memeluk orang yang begitu dia rindukan.


"Aku juga minta maaf Mas, aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Harusnya aku tidak pergi dari rumah." Ujar Sya membalas pelukan Radit.


"Tidak sayang, yang kamu lakukan sudah benar. Jika kamu tidak melakukan itu, aku tidak yakin aku bisa menyadari kesalahanku atau tidak."