Baby... I Love You

Baby... I Love You
Duda kaya



Sejak kejadian di kantor siang tadi Sya masih mendiamkan Radit. Namun setiap Radit bertanya kepadanya Sya masih mau menjawab walaupun hanya jawaban singkat. Meski begitu Radit merasa sangat tidak nyaman. Bisanya Sya tidak seperti ini saat marah kepadanya tapi kali ini sepertinya berbeda.


Sepulang dari Kantor Radit mencoba untuk terus mendekati Sya. Tapi usahanya itu selalu di gagalkan oleh Kendra yang terus menempel kepada Sya hingga membuat Radit tidak memiliki celah untuk mendekati Sya. Bahkan saat Kendra agak sedikit melonggarkan lemnya kepada Sya pun Radit masih tidak bisa mendekatinya karena selalu ada saja alasan Sya untuk menghindarinya.


Dan sekarang, Radit sedang bersandar di kamarnya seorang diri. Sya sedang menemani Kendra tidur di kamarnya. Namun sampai hampir tengah malam Radit tidak mendapati tanda-tanda jika Sya akan segera kembali ke kamar.


" Udah jam 11 malem, kenapa Maureen nggak masuk-masuk ya. " Ujar Radit bermonolog dengan dirinya sendiri.


Dengan perlahan Radit beranjak dari ranjang dan berjalan menghampiri connecting door. Tanpa menimbulkan suara di bukanya pintu itu. Suasana temaram langsung masuk kedalam. indra penglihatan Radit. Terlihat Kendra yang tertidur seraya memeluk Sya seolah dia sedang menggunakan guling.


Radit tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Dia menghampiri kedua orang tercintanya. Dengan perlahan menyingkirkan belitan kaki Kendra dari tubuh Sya. Setelah itu menggantinya dengan sebuah boneka kucing di pelukan Kendra.


" Maaf nak, tapi Ayah butuh Bunda. Kalau Bunda nggak ada disamping Ayah bisa-bisa malam ini Ayah nggak bisa tidur sampai pagi. " Ucap Radit dengan suara lirih. Setelah memastikan jika posisi Kendra sudah nyaman dan mencium dahi Kendra, Radit mulai menggendong Sya dan membawanya ke kamar mereka dengan hati-hati.


Ditidurkannya Sya dengan perlahan, dan untung saja Sya tertidur nyenyak hingga membuatnya tidak terbangun. Kemudian Radit kembali ke kamar Kendra untuk memasang pembatas ranjang agar Kendra tidak akan terjatuh. Setelah itu barulah Radit kembali ke kamarnya dan menutup connecting door.


Radit naik keranjang dan masuk kedalam selimut yang sama dengan Sya. Dipeluknya Sya dengan erat dari belakang, dan hal ini membuat Sya terbangun karena sepertinya pelukan Radit terlalu erat.


" Mass, lepasin. Aku engap. " Ujar Sya dengan suara parau khas orang yang bangun tidur yang masih mengantuk.


" Nggak mau, mau peluk kamu terus. " Jawab Radit dengan manja. Namun meski begitu Radit sedikit melonggarkan pelukannya kepada Sya.


" Massss ihhh. " Lama-lama Sya merasa kesal juga karena Radit melonggarkan pelukannya itu hanya sedikit saja. Benar-benar sangat sedikit. Dan itu membuatnya Sya tetap saja merasa sesak.


" Kamu masih marah kan sama aku? " Tanya Radit tiba-tiba.


Sya terdiam sejenak.


" Enggak, emang kenapa aku harus marah? " Tanya Sya kepada Radit. Matanya masih terpejam karena memang Sya merasa masih sangat mengantuk.


" Kamu dari tadi siang nggak mau ngomong sama aku. Kamu diemin aku terus. " Ujar Radit dengan suara seperti anak kecil yang tengah mengadu karena telah di nakali temannya.


" Bukannya kamu duluan yang diemin aku. " Jawab Sya. Mendengar ucapan dari Radit itu seketika membuat rasa mengantuk Sya entah menguap kemana.


" Ya kan aku nggak bener-bener berniat buat diemin kamu. Aku cuma lagi cemburu aja. " Ujar Radit memberikan alasan.


" Alasan kamu nggak masuk akal Mas. " Jawab Sya santai.


" Kok gitu? Nggak masuk akal gimana. " Tanya Radit tidak paham. Radit membalikkan badan Sya agar menghadap kearahnya.


" Ya iya. Kamu cemburu sama Mas Tio. Padahal aku aja udah sepenuhnya milik kamu. Yang bahkan orang tua aku juga udah nggak ada hak atas aku. Lalu apa yang kamu cemburuin dari Mas Tio Mas? Aku tau dan sangat sadar kalo aku udah bersuami. Dan aku sangat menghargai kamu. " Ujar Sya kepada Radit. Rasanya Sya marah karena ini adalah masalah yang sudah berulang kali terjadi dalam hubungannya dengan Radit. Perihal kecemburuan Radit yang menurut Sya sangat tidak masuk akal. " Dan kalau yang kamu permasalahkan adalah karena aku berbicara dengan Mas Tio itu juga berlebihan Mas. Aku dan Mas Tio adalah partner kerja, sudah sangat umum jika kami akan terlibat pembicaraan. Dan bahkan aku tidak berdua aja sama Mas Tio, ada juga Dian dan Leo. Dan yang paling penting adalah ada Kendra, anak kita disana tadi Mas. Sekarang aja semua orang di kantor tau kalo aku adalah istri kamu. Lalu apa lagi yang membuat kamu cemburu Mas? " Tanya Sya kepada Radit.


Radit terdiam mendengar ucapan Sya. Semua yang Sya katakan benar. Radit itu cemburu tanpa alasan.


" Aku merasa nggak percaya diri karena aku sebelumnya duda, bahkan aku udah punya anak. " Jawanya Radit.


Sya menggelengkan kepalanya.


" Kok kamu malah ketawain aku? " Ujar Radit bingung karena Sya malah tertawa setelah mendengar jawaban darinya.


" Ya lagian kami sih lucu. Mas nggak tau ya istilah kalo Duda itu sekarang lebih menggoda dan mempesona? bahkan bujangan aja kalah saing sama duda. Dan Mas nggak sadar kalo di kantor itu banyak cewek-cewek yang mengidam-idamkan untuk bisa menjadi istri Mas Radit? " Tanya Sya kepada Radit.


" Ya aku tau, aku sadar kok kalo banyak karyawan wanita yang suka sama aku. Tapi kan aku nggak suka sama mereka. " Jawa Radit santai.


" Lah itu Mas tau. Dan ya, kata cewek-cewek jaman sekarang itu pesona seorang duda itu sulit di kalahin, apalagi yang hot daddy kayak Mas Radit. "


" Jadi kamu suka sama aku? "Tanya Radit dengan bodohnya.


" Kalo aku nggak suka sama kamu, nggak mungkin aku mau kamu nikahin Mas. " Jawab Sya seraya memutar bola matanya malas.


" Kamu suka aku karena aku duda dan juga hot daddy ya? Berarti kalo aku bukan duda kamu nggak bakalan suka sama aku dong? " Tanya Radit kepada Sya.


" Ya nggak juga sih. Aku suka kamu bukan karena kamu duda atau bukan. Aku suka sama kamu awalnya emang karena Kendra. " Jawab Sya dengan jujur.


" Kok gitu sih? " Ujar Radit tidak terima dengan jawaban yang Sya berikan.


" Ya emang kenyataannya gitu, mau gimana lagi. " Jawab Sya cuek.


" Terus apa lagi yang buat kamu suka sama aku? " Ujar Radit masih bertanya.


" Karena kamu kaya dan ganteng. Jadi aku bisa puas belanja ngabisin duit kamu. " Jawab Sya seraya tertawa.


Radit ikut tertawa mendengar jawaban dari Sya. Ditariknya Sya ke pelukannya.


" Kamu suka karena aku kaya tapi kenyataannya setiap aku suruh kamu buat ngabisin duit aku kamu nggak pernah mau. " Ujar Radit seraya menciumi wajah Sya.


" Tunggu aja tanggal mainnya, nanti akan ada saatnya aku bakalan abisin duit kamu Mas. " Ujar Sya seraya terkekeh geli.


" Jadi sekarang aku udah dimaafin kan? " Tanya Radit kepada Sya.


" Males ah, minta maaf tapi nanti diulangi lagi. " Jawab Sya.


" Nggak sayang. Janji nggak akan kayak gitu lagi. " Ujar Radit memohon.


" Oke... " Jawab Sya singkat.


" Berarti boleh dong sekarang buat dedek bayi? " Tanya Radit dengan semangat empat lima.


" No, hari ini libur dulu. " Jawab Sya seraya menyingkirkan tangan Radit dari pinggangnya.


" Sayang jangan gitu lah.... " Dengan cepat Radit menyambar badan Sya kembali.


" Massss................ "