Baby... I Love You

Baby... I Love You
Calon Fardan



Mas, aku udah sampai kosan.


Begitu kira-kira pesan singkat yang Sya kirimkan kepada Radit. Tadi setelah menemani Dian belanja dan berakhir dengan Sya yang mentraktir Dian makanan sebagai ganti pajak jadian pizza yang didapatkan oleh Dian. Setelah itu sekitar jam 7 Sya dan Dian memutuskan untuk pulang. Tentu saja dengan Dian yang mengantarkan Sya sampai kosan karena Sya memang tidak membawa sepeda motornya.


Setelah mengirimkan pesan, Sya langsung mengambil handuk untuk mandi, tubuhnya sudah terasa sangat lengket. Cuaca yang panas membuat Sya banyak berkeringat walaupun hari sudah malam.


Rasanya Sya butuh perawatan tubuh hari ini setelah sekian lama tidak melakukannya. Perawatan tubuh yang dimaksud Sya adalah dengan mengscrub tubuhnya dan setelahnya berendam dengan air hangat. Entah kapan terakhir kali Sya melakukannya. Sya memang malas kelakuan perawatan-perawatan semacam itu. Tapi mau bagaimana lagi, sesekali memang harus dilakukan, toh dengan begini tubuh dan pikiran Sya akan menjadi lebih rileks.


Mandi kali ini memakan waktu hampir 1 jam ternyata, mandi lama yang sangat jarang Sya lakukan. Masih dengan menggunakan bathrobe dan handuk yang ada di kepalanya, Sya berjalan kearah dimana ponselnya berada untuk melihat apakah ada pesan balasan dari Radit atau tidak dan ternyata tidak ada bahkan belum dibaca sama sekali. Mungkin laki-laki itu sedang sibuk dengan pekerjaan.


Baru saja Sya akan meletakkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Mas Fardan


Ya, Mas Fardan melakukan panggilan video call kepada Sya.


" Assalamu'alaikum Mas. " Ujar Sya begitu mengangkat panggilan tersebut.


" Wa'alaikumsalam dek. Kamu lagi ngapain? Eehhh... Kok itu masih pake handuk? Kamu baru mandi? Malem-malem begini? Nanti masuk angin dek. Sana ganti baju dulu, Mas tungguin. " Belum apa-apa Fardan sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Bahkan Sya pun baru saja membuka mulutnya untuk menjawab ucapan kakaknya itu namun tidak ada kesempatan.


" Mas, dengerin dulu. Adek baru mau ngomong jangan dipotong terus dong. " Ujar Sya menjawab.


" Nanti aja, cepet ganti baju dulu. Nanti masuk angin dek. " Ujar Radit dengan tegas.


Mau tidak mau hal ini membuat Sya langsung beranjak dari duduknya dan menjalankan perintah sang kakak tercinta. Btw saat ini Fardan sudah kembali ke Bali setelah 3 hari pulang ke Jogja.


" Udah nih, liat adek udah ganti baju. " Ujar Sya kepada Fardan.


Terlihat saat ini Sya sudah memakai piyama tidur lengan dan celana pendek. Namun rambutnya masih terurai basah.


" Rambutnya sambil dikeringin pake hairdryer dek, kan kamu punya hairdryer. Nanti kepala kamu pusing loh, ini aja udah hampir jam setengah 9." Ujar Fardan saat melihat rambut basah milik adiknya ini.


" Isshh, Mas nih. Nanti aja lah, kan adek belum mau tidur. " Ujar Sya menolak, bibirnya mengerucut kedepan membuat Fardan tertawa kecil.


" Kok sekarang adek Mas ini udah gede tambah nggak nurut ya. " Ucap Fardan dengan halus. Ucapan Fardan ini seketika langsung membuat Sya menuruti perintah kakaknya. Jika sudah begini dan Sya tetap menolak, maka sudah pasti Sya akan mendapat ceramah panjang dari Fardan. Sya sudah hafal itu.


" Nah gitu kan baik, jadi anak anak manis. " Ujar Fardan tersenyum.


" Adek udah gede ya Mas, bukan anak kecil lagi. " Jawab Sya cemberut.


" Segede apapun adek, tetep aja akan selalu jadi anak kecil dimata Mas. " Ujar Fardan mengejek.


" Mana ada begitu. " Jawab Sya tidak terima.


" Lah iya, dari dulu kan badan kamu kayak anak kecil terus. Nggak pernah lebih besar dari Mas. " Jawab Fardan tertawa. Sebenarnya maksud dari ucapan Fardan bukan itu. Dia selalu merasa jika Sya adalah sosok yang harus dia jaga dan dia lindungi seumur hidupnya. Meskipun nanti Sya sudah memiliki suami, tugas untuk melindungi Sya tidak akan pernah dia lupakan. Dan Fardan akan tetap melakukannya dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan.


" Ya Mas Fardan kan laki-laki, ya kali adek bisa lebih besar dari Mas. " Jawab Sya cemberut.


" Hahaha,, adeknya Mas kalo cemberut gitu tambah cantik deh. " Ujar Fardan menggoda Sya.


" Emang dari dulu aku tuh cantik Mas. Masa Mas baru sadar kalo punya adek secantik aku. " Ujar Sya menyombongkan dirinya sendiri.


Ya, Sya memang cantik. Dengan kulit kuning langsatnya, wajah berpipi tirus dan hidung mancung membuatnya terlihat seperti orang chinesse yang bermata besar, padahal Sya blasteran Jawa dan Sunda😂


" Sadar kok, makanya karena itu Mas jadi harus ekstra jaga kamu dari laki-laki hidung belang diluaran sana. " Ujar Fardan tertawa.


" Haha, Mas ini ada-ada aja. Sekarang adek udah gede kok, gede dalam artian dewasa loh ya. Jadi Mas jangan terlalu khawatir sama adek. Sekarang tuh waktunya Mas cari pendamping tau. Mas kan udah tua. " Ujar Sya seraya tertawa.


" Udah ada kok, adek tenang aja. " Jawab Fardan dengan santai.


" Wahhh, beneran, siapa? Kenalin dong Mas, iissh kok Mas nggak pernah cerita-cerita sama adek. Jahat banget ish. Mama sama Ayah udah tau? " Tanya Sya dengan antusias.


Pasalnya selama ini Sya tidak pernah mengetahui jika Fardan memiliki kekasih. Fardan itu salah satu laki-laki yang setipe dengan Radit, terlihat dingin namun saat bersama keluarga akan menjadi sangat hangat. Terlebih saat bersama Sya dan Mamanya. Dulu saat Sya masih kecil, Fardan bahkan rela kuku kakinya diwarnai oleh Sya dengan cat kuku warna-warni. Pernah juga Fardan menemani Sya bermain boneka Barbie. Tidak hanya itu, rambut Fardan sering dikuncir oleh Sya dan wajahnya diwarnai menggunakan make up Mamanya yang tidak Fardan ketahui namanya sampai sekarang. Tapi Fardan tidak pernah marah kepada adiknya itu. Tidak apa-apa, yang penting Sya bahagia. Karena dulu ditempat mereka tinggal belum banyak rumah seperti sekarang ini. Dulu hanya ada beberapa anak kecil namun kebanyakan laki-laki, dan Sya tentu saja tidak memiliki teman, sebenarnya ada, hanya saja karena biasanya anak laki-laki lebih aktif jadinya Sya sering kelelahan dan akan rewel malam harinya. Untuk itulah Fardan selalu menemani adiknya bermain agar tidak kesepian.


Dan saat sedang bersama Mamanya, Fardan tidak akan malu untuk tidur dipangkuan Mamanya dan makan langsung dari suapan tangan sang Mama yang sering kali membuat terjadi perselisihan dengan Sya karena adiknya itu iri. Sampai sekarang pun jika sedang dirumah Sya dan Fardan akan berlomba untuk bermanja kepada Mama Farida. Jika sudah begitu maka Fardan lah yang harus mengalah.


" Mama sama Ayah udah tau. Nanti Mas kenalin ke kamu. " Ujar Fardan tersenyum lembut.