Baby... I Love You

Baby... I Love You
Alasan tidak melihat harga



Mengenai hukuman yang Radit katakan minggu lalu, kalian bisa lupakan itu. Tentu saja hukuman yang Radit katakan hanya sebuah ancaman belaka tanpa adanya eksekusi. Radit tentu saja tidak akan tega memberikan hukuman untuk Sya yang sedang dalam keadaan hamil. Dan sebagai pengganti hukuman Sya, Radit hanya meminta wanita yang berstatus sebagai istrinya itu untuk membuatkan puding cokelat untuk dessert makan malam.


Di usia kehamilan Sya yang sudah menginjak 8 bulan ini Sya sudah tidak di perbolehkan keluar rumah lagi oleh Radit. Sebenarnya boleh, hanya saja Radit harus selalu ada di samping Sya ikut dengannya. Dan Sya memang tidak keberatan, itu semua karena memang dia juga jarang keluar rumah. Paling yang Sya lakukan di luar rumah hanya untuk berjemur dan jalan-jalan di sekitar komlplek rumahnya yang sangat sepi itu. Bertemu dengan tetangga adalah suatu hal yang sangat jarang, ya mau bagaimana lagi, rata-rata pemilik rumah di perumahan ini memang orang kaya yang sibuk. Beberapa diantaranya bahkan tidak saling mengenal.


Tidak seperti Sya yang begitu santai mendekati masa-masa melahirkan, Radit justru sangat gugup. Laki-laki itu bahkan membeli banyak buku mengenai kehamilan, buku tentang bagaimana cara merawat istri pasca melahirkan, buku mengenai metode melahirkan yang tidak terlalu sakit dan banyak buku-buku lainnya. Sedikit banyak Sya senang dengan apa yang Radit lakukan karena itu berarti Radit ingin menjadi suami dan Ayah yang siaga, tapi Sya juga tidak suka dengan rasa cemas Radir yang berlebihan itu.


Radit dan Sya juga sudah menjalani kursus mengenai cara merawat bayi yang baru lahir da melakukan pelatihan banyak hal mengenai kelahiran.


Radit bahkan sudah berencana untuk mengambil cuti 1 bulan sebelum Sya melahirkan itu berarti akan di mulai minggu depan. Sya rasa itu cukup berlebihan, menurut Sya cuti yang Radit ambil itu terlalu lama. Bahkan wanita yang akan melahirkan saja biasanya mulai cuti 2 minggu sebelum jadwal melahirkannya.


Tapi seperti biasa Sya tidak bisa protes. Karena apa yang dilakukan Radit hanya ingin menjadi suami dan juga Ayah yang siaga.


Hari ini Sya di temani oleh Mama Riana. Sekarang ini beliau datang ke rumah dengan membawa banyak perlengkapan bayi, mulai dari baju-baju, pompa asi, set bantal dan guling, bahkan sampai mainan untuk bayi yang akan tumbuh gigi pun Mama Riana juga membelikannya. Dan untungnya apa yang Mama Riana belikan itu belum sempat Sya membelinya.


Yang sedikit berlebihan adalah baju bayi, baik Radit, Mama Riana, Mama Farida dan juga Rida tidak hentinya membelikan untuk baby yang belum lahir ini. Rida dan Mama Farida yang berbeda kota dengannya itu mengirimkan baju-baju itu dengan alasan tidak tahan saat melihat baju yang lucu. Tapi meski begitu Sya sangat berterima kasih dengan kebaikan mereka semua.


"Ini banyak banget Ma." Ujar Sya saat Mama Riana membongkar barang belanjaannya. Beliau memang pulang dari Mall dan langsung kesini membawa barang-barang hasil buruannya selama 3 jam.


"Enggak sayang, ini nanti juga pasti bakalan kurang. Apalagi kan bayi itu pasti sering ganti baju." Ujar Mama Riana.


"Masih ada yang kurang nggak barangnya?" Tanya Mama Riana kepada Sya.


"Sya enggak tau Ma, kayaknya udah semua deh. Mas Radit, Mama Farida sama Rida juga udah beliin banyak." Jawab Sya. Ya, saking banyaknya Sya bahkan tidak tau barang apa yang masih belum terbeli.


Semua barang-barang untuk baby ini memang baru, tidak ada bekas dari Kendra satu pun. Alasannya karena semua barang-barang miliki Kendra dulu sudah di sumbangkan ke beberapa panti asuhan. Jangan berpikir kalau barang yang di sumbangkan itu sudah jelek, tidak sama sekali. Bahkan banyak baju-baju kendra dulu yang masih baru dan belum terpakai atau hanya sempat di pakai beberapa kali saja.


"Ya udah ayo di cek dulu." Ujar Mama Riana kepada Sya.


Sya dan Mama Riana naik ke lantai 2 dimana barang-barang bayi berada. Semua sudah Radit siapkan sedemikian rupa untuk kamar baby, hanya saja karena masih bayi, ranjang untuk bayi di letakkan di kamar Radit dan Sya.


"Wah ini mah udah lengkap baget." Ujar Mama Riana mengecek satu persatu barang-barang yang ada di kamar. Untuk perlengkapan bayi yang baru lahir, rasanya ini sudah sangat banyak. Sepatu-sepatu couple antara baby, Kendra dan Radit pun sudah ada beberapa pasang. Memang penyambutan anggota baru terniat.


"Kursi menyusui?" Tanya Sya tidak paham. Untuk apa kursi menyusui? Apa itu di butuhkan?


"Iya, biar kamu kalau menyusui baby nanti nyaman." Jawab Mama Riana.


" Emang harus banget ya Ma ada kursi buat nyusuin?" Tanya Sya kepada Mama Riana.


"Harus dong sayang. Ya udah cari dulu, kamu mau yang mana? Biar nanti orangnya kirim ke sini." Ujar Mama Riana memberikan ponselnya yang terdapat foto-foto kursi.


Sya melihat foto-foto kursi yang ada di ponsel Mama Riana, apa ini yang namanya kursi untuk menyusui? Sya pikir ini tidak ada bedanya dengan kursi-kursi biasanya. Namun meski begitu Sya tetap memilih salah satu foto kursi yang terdapat di ponsel Mama Riana.


"Kayaknya ini aja deh Ma, nyesuain sama kamar baby." Ujar Sya menunjuk kursi menyusui berwarna abu-abu.


Mama Riana melihat kursi yang di tunjuk oleh Sya.


"Bagus kok sayang." Ujar Mama Riana.


"Ehhmm, itu harganya berapa Ma?" Tanya Sya kepada Mama Riana.


"Kenapa? Kok kamu tanya harga?" Bukannya menjawab pertanyaan Sya, Mama Riana justru balik bertanya.


"Hehe... Sya takut harganya kemahalan Ma." Jawab Sya dengan polosnya. Yang Mama Riana perlihatkan memang fotoya saja, tidak ada harga yang tertera di sana. Jadi Sya takut kalau harganya akan sangat mahal nantinya.


Mendengar ucapan Sya itu seketika Mama Riana langsung tertawa kecil.


"Sayang, kamu kalo belanja jangan lihat harga. Mama juga enggak pernah lihat harga kalau belanja. Bukannya gimana-gimana, tapi kalau kita belanja terus tau harga barang yang kita beli, tidak di pungkiri kalau harga barang yang mahal juga membuat Mama menjadi merasa sedikit bersalah karena sudah menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang kadang orang pikir tidak ada gunanya." Jawab Mama Riana."Makanya Mama enggak pernah liat harga kalau belanja, biar enggak tau sekalian berapa uang yang Mama habiskan untuk belanja. Toh uang yang di belanjakan juga uang yang memang khusus untuk belanja, bukan uang yang di gunain buat kebutuhan sehari-hari." Tambah Mama Riana seraya tersenyum.


Sya tercengang mendengar alasan Mama Riana ini, dia bahkan tidak tau harus menjawab apa. Berbeda dengan Mama Riana, Sya justru sangat cemas kalau membeli barang tetapi tidak tau harganya.