
Sembari menunggu Radit pulang dari kantor, Sya dan Kendra menikmati puding yang tadi dibuat Sya di taman belakang rumah. Cuaca yang masih terasa sedikit panas rasanya sangat cocok untuk menikmati dingin dan lembutnya puding ini. Sebenarnya ini sudah sore, lalu kenapa Sya baru memakan pudingnya yang sudah dia buat sejak siang tadi? Itu karena selesai membuatnya Sya ketiduran, dan dia baru bangun saat Kendra pulang sekolah. Tidur lebih dari 2 jam sudah bukan hal aneh lagi sejak Sya hamil.
" Ayah masih lama pulangnya Bunda? " Tanya Kendra kepada Sya.
" Eehhmmm, enggak. Biasanya sebentar lagi Bang. " Jawab Sya seraya melihat ke ponselnya yang saat ini menunjukkan pukul setengah 5 sore. Itu berarti Radit akan sampai rumah sekitar 30 menit lagi.
Kendra hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Sya memakan pudingnya sambil mendengarkan Kendra yang bercerita mengenai kegiatannya di sekolah.
" Bunda, tadi Abang dapet bintang 5 dari Miss Lula kalena katanya gambal Abang bagus telus mewalnainya lapi. " Ujar Kendra bercerita dengan semangat. Bintang 5 adalah sesuatu yang bisa membuat anak kecil menjadi sangat bahagia.
" Oo ya,,, waahh pinter banget sih anak Bunda ini." Sya menghadiahi sebuah ciuman di pipi Kendra. " Selamat ya Abang. " Tambah Sya lagi.
" Telima kasih Bunda, besok kalo dedek bayinya udah lahil bial Abang ajalin menggambal sama mewalnai yang bagus. " Ujar Kendra seraya tersenyum manis.
Sya tersenyum mendengar ucapan Kendra itu. Rasanya semakin tidak sabar untuk segera berkumpul berempat. Tapi kita harus sabar, masih kurang 3 bulan lagi sampai dedek bayi benar-benar siap untuk melihat dunia.
Tidak terasa sudah sampai maghrib Sya dan Kendra menunggu kepulangan Radit. Tapi tidak ada tanda-tanda kalo mobil Radit akan segera sampai ke rumah.
Apa Radit lembur? Tapi kalau memang lembur kenapa suaminya itu tidak menghubungi Sya?
" Ayah kok belum pulang juga sih Bun.. Padahal kita udah tunggu lama loh. " Kendra memanyunkan bibirnya karena merasa pengorbanannya untuk menunggu Ayahnya pulang itu tidak ada hasilnya.
" Kayaknya Ayah lembur deh Bang... Kita masuk dulu yuk. Udah Maghrib soalnya. " Ujar Sya seraya mengajak Kendra.
Pak Agus memang tidak menjemput Radit karena tadi bosnya itu meminta untuk mobilnya di bawa lagi ke kantor karena dia ada keperluan penting sehabis makan siang. Dan akhirnya Pak Agus kembali ke kantor untuk menyerahkan kunci mobil dan dia pulang menggunakan taksi.
Padahal di rumah ini ada 4 mobil, tapi Radit lebih sering di supiri oleh Pak Agus karena biasanya di perjalanan Radit sambil mengerjakan pekerjaannya.
Sya mencoba untuk menghubungi Radit, tapi ponselnya tidak aktif. Dan saat Sya mencoba untuk menghubungi Andre, ponselnya aktif tapi tidak diangkat oleh pemiliknya.
Sya mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia tidak mau membuat Kendra cemas jika Sya tidak bisa mengontrol dirinya saat ini.
" Abang sholat sama Bunda yuk. " Ajak Sya kepada Kendra.
Kendra menganggukan kepalanya menuruti ucapan sang Bunda.
Selesai sholat, Sya menemani Kendra belajar di ruang tengah. Sembari menunggu Radit juga.
Lama kelamaan Sya tidak bisa menutupi rasa gelisahnya. Sebenarnya ada apa dengan suaminya itu? Tidak biasanya Radit tidak memberikan kabar kepadanya. Padahal biasanya sesibuk apapun laki-laki itu pasti akan menyempatkan untuk mengabarinya meskipun hanya lewat pesan.
Bahkan komunikasi terakhir Sya dengan Radit adalah jam 3. Radit memberinya kabar kalau dia selesai meeting dengan koleganya.
" Mbak Sya, ini makan malam sudah siap. " Ujar Mbok Inah kepada Sya.
" Oo iya mbok, sebentar ya. " Jawab Sya seraya tersenyum kecil.
Jemarinya masih sibuk memainkan ponselnya berusaha untuk menghubungi Radit dan Andre. Tapi tetap saja nihil. Tidak ada jawaban dari keduanya.
" Abang, maem dulu yuk. " Ajak Sya kepada Kendra yang masih fokus dengan pensil warnanya.
" Ayukk Bunda. " Jawab Kendra dengan semangat. Bocah tampan itu langsung membereskan alat sekolahnya. Sepertinya Kendra memang sudah lapar dari tadi, tapi menunggu Sya untuk mengajaknya. Dan ini membuat Sya menjadi merasa bersalah.
Sya menyuapi Kendra dengan ayam kecap dan nasi.
Sesekali Kendra menatapnya dengan pandangan bertanya.
" Kenapa Bang? Kok liatin Bunda gitu? " Tanya Sya setelah dia sadar jika Kendra sedang menatapnya begitu intens. Jika sedang seperti ini bocah tampan itu terlihat begitu mirip dengan Radit.
" Bunda kenapa? " Tanya Kendra langsung to the point.
" Kenapa? Bunda nggak papa Bang. " Jawab Sya seraya tersenyum simpul meskipun pada awalnya dia cukup terkejut dengan pertanyaan Kendra.
" Bunda sedih ya Ayah belum pulang? Nggak papa, kan ada Abang disini yang temenin. Nanti juga Ayah pulang. " Ujar Kendra kepada Sya.
Apa raut wajah Sya terlihat begitu jelas? Kenapa putranya itu bisa berkata layaknya orang dewasa seperti ini?
" Enggak kok, mana mungkin Bunda sedih kalau Abang ada disini sama Bunda. " Jawab Sya menampilkan senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.
Kendra mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban Sya.
" Bunda enggak maem? " Tanya Kendra sekali lagi.
Sya menggelengkan kepalanya pelan.
" Nanti, soalnya Bunda masih kenyang tadi makan puding banyak. " Jawab Sya memberikan alasan.
Disisi lain Mbok Inah dan Mbak Tinah memperhatikan Sya yang sedang berusaha untuk menutupi wajah sedih dan cemasnya. Mereka saling berpandangan kemudian mengangkat bahu tanda tidak tau dengan apa yang terjadi.
Selesai makan, Sya menemani Kendra untuk bermain di kamarnya. Kenapa di kamar? Agar saat Kendra mengantuk nanti Sya tidak usah menggendongnya. Biar bagaimana pun Sya tidak sanggup kalau harus menggendong Kendra dalam keadaan hamil seperti ini.
Dan benar, tepat jam 9 Kendra sudah tertidur pulas di ranjangnya. Setelah mencium kening Kendra dan mematikan lampu utama kamar, Sya kembali turun ke lantai satu untuk duduk di ruang tamu sembari menunggu Radit pulang. Perasaannya semakin tidak enak karena masih belum ada kabar dari Radit. Bahkan tadi Sya juga menghubungi Lisa sekretaris Radit, tapi perempuan itu bilang Radit sudah pulang dari jam 4 sore. Lalu kenapa sampai sekarang belum juga sampai rumah?
" Mbak Sya, ini susunya di minum dulu. Dari tadi sore Mbak belum makan apa-apa selain puding kan? " Ujar Mbak Tinah mendatangi Sya seraya memberikan segelas susu hamil.
" Terima kasih ya Mbak. " Jawab Sya seraya tersenyum paksa.
Sya meminum susu hamilnya sedikit untuk menghargai Mbak Tinah yang sudah membuatkan susu untuknya. Meskipun sebenarnya Sya sangat tidak bernafsu untuk memakan apapun.
15 menit menunggu, tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Sya bergegas untuk membuka pintu berharap Radit yang datang.
Sya terkejut saat mendapati Andre turun sembari memapah Radit yang kepalanya berbalut perban.
" Astagfirullah... Mas... Kamu kenapa? " Sya tidak bisa lagi membendung air matanya yang memang sedari tadi dia tahan karena cemas memikirkan Radit yang tidak ada kabar.