Baby... I Love You

Baby... I Love You
Alasan



Sesampainya Sya di ruang kerjanya, tatapan seluruh teman di divisinya langsung tertuju padanya.


" Kalian kenapa ngeliatin aku sampe sebegitunya? Aku cantik ya hari ini, eehh tapi emang setiap hari aku selalu cantik kan ya." Sya terkekeh geli karena bertanya pada temannya namun justru menjawabnya sendiri. Terlihat jika saat Sya sedang menutupi sesuatu. Namun teman-temannya menyadari atau tidak, Sya tidak tau.


" Lo darimana aja? Kok baru masuk, kata Mbak Prita lo udah sampai kantor dari jam 7. " Dian sengaja tidak bertanya mengenai hal kemarin saat dia melihat Sya di mall bersama Kendra. Saat ini bukan waktu yang tepat jika harus bertanya masalah pribadi dihadapan teman-temannya yang lain.


" Kamu sekarang jadi sering telat Sya. Kamu nggak papa kan? Atau kamu sedang ada masalah dengan sesuatu sampai mengganggu kinerja kamu sekarang? " Tanya Tio dengan lembut.


" Eehh, enggak. Aku nggak papa kok Mas. Jadi gini Di, tadi tuh aku emang sengaja berangkat pagi karena mau sarapan dulu. Tadi aku beli bubur ayam dijalan soalnya lagi bosen sarapan sereal terus. Dan tadi aku tuh ke kamar mandi sebelum kalian dateng, biasa perut aku mules." Sya memberikan sebuah alibi palsu agar teman-temannya tidak banyak bertanya lagi.


" Tapi kok lo masih bawa tas, lo boong kan sama kita? " Leo menceletuk dari balik kubikelnya. Bisa dibilang Leo ini walaupun paling jail dan terliha cuek sebenarnya dia juga yang sangat memperhatikan hal-hal kecil disekitarnya.


" Haa? Apa... Ehhmm... Emang aku bilang kalau aku nunggu kalian disini? Enggaklah, aku tadi makan dipantry belakang bareng sama OB dan OG disana." Lagi-lagi Sya berhasil mengarang sebuah alasan untuk menghindari kecurigaan teman-temannya terhadap dirinya.


" Oo gitu. " Jawab Leo cuek.


Mereka semua percaya dengan alasan Sya karena tadi saat Pak Sean kemari beliau tidak menanyakan keberadaan Sya, itu berarti Sya memang sudah absen dari dari.


Ruangan divisi ini seketika hening dengan pekerjaan masing-masing. Mereka disibukan dengan laporan keuangan akhir tahun yang akan di dealine seminggu lagi. Begitu pula dengan Sya yang saat ini langsung mengerjakan pekerjaan bagiannya. Walaupun didalam hatinya masih ada rasa kesal kepada atasannya, yaitu Radit karena kejadian pagi ini yang sangat-sangat membuat moodnya turun drastis namun Sya harus tetap profesional. Sya tetap harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang karyawan di perusahaan ini.


Sya teringat saat tadi dirinya keluar dari ruangan Radit, di meja sekretaris itu tidak dia temukan keberadaan Lisa. Dan ini membuatnya sangat bersyukur karena dia akan terhindar dari gosip kali ini. Walaupun Sya tau, tidak akan ada karyawan yang berani menggosipkan Direktur mereka jika ingin bertahan lama bekerja di kantor bergengsi ini. Tetap saja Sya harus berjaga-jaga agar kemungkinan terburuk itu tidak akan terjadi.


Pintu terbuka, terlihat Pak Sean menyembulkan kepalanya dibalik pintu.


" Leo dan Tio, tolong kalian keruangan saya." Ujar Paling Sean mengeluarkan suaranya.


" Baik Pak." Jawab Leo dan Tio hampir bersamaan.


Setelah kedua laki-laki diruangan itu keluar, maka secara otomatis hanya tinggal 2 orang wanita saja, yaitu Sya dan Dian. Tadinya Sya hanya fokus dengan pekerjaannya tanpa mempedulikan Dian. Namun karena Dian menggeser kursinya kearah kubilel Sya, mau tidak mau Sya mengarahkan pandangannya kearah Dian.


" Gue tau, lo dari tadi boong kan. Jujur aja, lo tadi darimana? " Tanya Dian to the point.


Awalnya Sya hanya diam saja. Setelah melihat kearah Dian yang terlihat kesal karena dia yang tidak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaannya.


" Aku tadi dari ruangan Pak Radit." Jawab Sya jujur pada akhirnya.


" Pak Radit direktur kita? " Tanya Dian spechles.


" Hmmmm." Jawab Sya datar.


" Kok bisa lo sampe keruangan Pak Radit. Lo ada hubungan apa sama dia? " Tanya Dian kepo.


" Hubungan antara karyawan dan bosnya. Tidak lebih dari itu." Jawab Sya.


" Tunggu-tunggu. Gue sekarang inget apa yang mau gue tanyakan ke lo. Lo tadi dari ruangan Pak Radit, dan kemaren lo jalan ke mall sama putra direktur kita itu kan. Satu lagi, dapat gue tebak kalau ibu-ibu tampilan sosialita yang bareng lo itu pasti Mamanya Pak Radit kan? Ibu Riana. Yakin lo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Radit selain karyawan dan atasan." Ujar Dian berapi-api. Pasalnya Dian tidak percaya jika Sya tidak ada hubungan apapun dengan atasannya ini. Bukankah sangat langka seorang karyawan biasa bisa sangat akrab sampai hangout bersama dengan anak dan Ibu bosnya? Walaupun jika itu benar Dian akan tetap mendukung Sya selama itu yang terbaik.


" Aku nggak ada hubungan apa pun sama Pak Radit Di. Dan ya bener yang kamu lihat kemarin. Aku ke mall sama Kendra dan Ibu Riana. Itu pun karena aku dijemput di kosan sama Ibu Riana. Aku diminta buat nemenin beliau ke acara arisannya, dan tugas aku disana untuk menjaga Kendra." Yang Sya katakan memang benar. Meski seperti yang kalian tau, Sya tidak menceritakan detailnya. Bagaimana Mama Riana yang meminta Sya memanggilnya dengan panggilan Mama seperti seorang anak kepada Ibunya.


" Yakin cuma itu? " Tanya Dian masih sedikit merasa aneh dengan sikap Sya hari ini. Sya terlihat sedikit tidak suka saat nama Pak Radit disebutkan.


" Iya, emang apa lagi. Kamu aneh deh." Ujar Sya santai seraya terkekeh kecil.


" Ya udah deh." Dian memutuskan untuk tidak lagi bertanya walau sebenarnya dia merasa penasaran. Dian tau jika Sya belum siap untuk menceritakan semuanya saat ini kepada dirinya, dan Dian menghargai itu. Dian kembali lagi ke kubikelnya untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


Ucapan Radit tadi pagi masih terngiang-ngiang dikepala Sya. Sya merasa dirinya tidak ada harga dirinya sebagai seorang wanita dimata Radit. Bagaimana bisa seorang laki-laki meminta untuk menikahi seorang wanita tanpa adanya rasa cinta. Menurut Sya ini sangatlah tidak masuk akal. Yang ada dibayangan Sya tentang sebuah pernikahan adalah gambaran kehidupan rumah tangga orang tuanya. Dimana mereka berdua saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Menghargai posisi masing-masing sebagai kepala rumah tangga dan pengurus rumah tangga. Sya tidak menginginkan banyak hal dihidupnya. Begitu pula tentang masalah pasangan nantinya. Sya tidak menginginkan pasangan yang kaya raya atau sebagainya. Sya hanya ingin memiliki pasangan yang bisa mencintai dan menghargai dirinya. Hidup biasa saja namun berkecukupan, itu sudah membuatnya sangat bahagia. Dan masalah Kendra, Sya memang menyayangi bocah kecil itu. Namun Kendra saja belum cukup untuk dia jadikan sebagai alasan untuk menerima permintaan Radit untuk menikah dengannya.