Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kejutan



Selama hampir 1 minggu ini Sya dan anak-anak masih ada di Bali, tentu saja bersama Mama Riana dan Papa Riyan. Dan selama itu pula hampir setiap 1 jam sekali Radit menelpon Sya melalui ponsel Mama Riana.


Setelah Radit mengungkapkan penyesalannya, hubungan antara dirinya dan Radit sudah mulai membaik lagi.


Seperti sekarang, saat ini Radit dan Sya sedang teleponan.


"Mas, jangan telpon terus, aku enggak enak sama Mama kalau kamu setiap 1 jam sekali selalu telpon." Ujar Sya kepada Radit. Pasalnya Sya juga kesal dengan Radit yang seperti ini.


"Ya salahnya kamu juga kenapa HPnya di tinggal. Kalau kamu bawa HP sendiri kan aku jadi enggak usah hubungi kamu lewat HP Mama." Jawab Radit santai. Benar kan apa yang dia katakan?


"Aku bukan sengaja ninggalin HP Mas, emang enggak sengaja ketinggalan." Jawab Laras menyangkal tuduhan Radit.


"Ya udah tinggal beli aja sayang. Uang aku masih banyak kalau cuma buat kamu beli HP lagi." Ujar Radit membujuk Sya agar istrinya itu mau membeli ponsel lagi. Pasalnya Radit juga merasa sulit sendiri karena harus telpon melalui ponsel Mama Riana. Terkadang Mama Riana menjadi sangat tega dan lebih memilih untuk mematikan panggilan darinya.


"Enggak ah, HP yang di rumah aja masih bagus. Itu kan Mas baru beliin 3 bulan yang lalu." Jawab Sya menolak. Karena memang benar ponsel Sya masih baru. Ponsel lamanya tanpa sengaja di cuci oleh Kendra karena ketumpahan sereal. "Udah dulu ya Mas, udah 10 menit nih. Assalamu'alaikum." Tanpa menunggu Radit membalas salamnya, Sya langsung mematikan sambungan telfonnya. Entah kenapa Radit menjadi terlalu banyak waktu sampai bisa telpon setiap 1 jam sekali.


Sya segera memberikan ponselnya kepada Mama Riana, kemudian dia menemani Kendra yang sedang asik bermain puzzle.


Mereka memang tidak bisa turun ke pantai karena sedang hujan deras diluar sana. Jadi Sya memutuskan untuk mengajak Kendra bermain di dalam rumah.


"Bunda, Abang kangen sama Ayah. Ayah masih sibuk ya?" Tanya Kendra tiba-tiba.


"Abang pengen kita pulang buat ketemu Ayah?" Ujar Sya kepada Kendra. Jujur saja Sya juga merasa tidak tega membuat Kendra dan Radit harus terpisah seperti ini.


"Iya, tapi habis itu kita kesini lagi ajak Ayah juga." Jawab Kendra seraya menatap Sya dengan penuh harap.


Sya terdiam sejenak.


"Ya udah, Bunda bilang ke Oma sama Opa ya." Ujar Sya seraya mengusap sayang kepala Kendra.


Kendra mengangguk bahagia mendengar ucapan Sya. Dia benar-benar merasa rindu dengan Ayahnya.



Sejujurnya, meskipun Radit selalu menghubungi Sya setiap 1 jam sekali dia benar-benar sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi Radit tidak ingin dia mengulangi lagi kesalahan yang sama. Radit tidak ingin karena pekerjaannya dia kembali mengabaikan keluarganya.



"Pak, ini makan siangnya." Andre datang dengan membawa makanan untuk Radit.



"Taruh disitu saja Ndre." Ujar Radit tanpa menoleh kearah Radit.



"Pak... " Andre memanggil Radit.



Hal ini membuat Radit langsung mengangkat kepalanya.



"Kenapa?" Tanya Radit kepada Asisten pribadinya itu.



"Apa tidak sebaiknya Pak Radit ke Bali menjemput Mbak Sya?" Ujar Andre kepada Radit. Jujur saja Andre merasa kasihan kepada bosnya itu. Sejak Sya pergi dari rumah, Radit menjadi jarang makan, dan juga seperti semakin mengabaikan kesehatannya. Andre tau kalau sudah beberapa hari ini Radit selalu tidur di kantor dan sibuk dengan pekerjaannya.



"Kamu kan tau sendiri kalau Mama melarangku untuk datang menemui Maureen sampai pembukaan cabang perusahaan selesai." Jawab Radit seraya menghela nafas lelah. Radit sangat takut kalau dia tidak menuruti ucapan Mama Riana, maka Mamanya itu akan benar-benar membuat Sya pergi jauh darinya.



"Memangnya sejak kapan Pak Radit begitu penurut kepada Ibu Riana?" Tanya Andre dengan berani.



Radit terdiam sejenak, benar juga apa yang Andre katakan. Selama ini dia tidak pernah benar-benar menjadi seorang yang penurut. Lalu kenapa dia tiba-tiba menjadi takut untuk membangkang? Alasannya tentu saja karena Sya, dia takut kehilangan Sya.




"Memangnya Ibu Riana tega memisahkan cucu-cucunya dengan Ayah mereka sendiri? Ibu Riana melakukan ini pasti hanya untuk mengancam anda Pak. Tidak mungkin beliau sampai tega melakukan itu kalau memang Pak Radit sudah meminta maaf dan menyesali perbuatan anda. Dan lagi, bukankah Ibu Riana memperbolehkan Pak Radit kalau Anda sudah menyelesaikan urusan perusahaan?" Ujar Andre kepada Radit.



Radit menganggukan kepala membenarkan ucapan asisten pribadinya itu.



"Dan bukankah Pak Radit sudah menyelesaikan semuanya? Saya tau Pak Radit beberapa hari ini selalu lembur sampai tidur di kantor. Sekarang istirahatlah sampai pembukaan cabang perusahaan tiba. Biar sisanya saya yang menyelesaikan." Ujar Andre kepada Radit.



Radit berpikir apa yang Andre katakan itu memang benar. Bukankah Mama Riana mengizinkan dia datang menemui istri dan anak-anaknya kalau urusan perusahaan sudah selesai? Dan ya, Tadi malam Radit memang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Yang seharusnya selesai kurang lebih dalam waktu 2 minggu, Radit sudah menyelesaikannya dalam waktu 1 minggu. Dan sekarang Radit sudah bebas dari tumpukan pekerjaan-pekerjaan itu.



"Kamu benar Ndre, kenapa aku tidak berpikir seperti itu dari tadi. Tidqk sia-sia aku menjadikan kamu sebagai asisten pribadiku. Kamu sangat bisa diandalkan dalam setiap situasi apapun. Kamu bulan ini naik gaji." Ujar Radit dengan bahagia.



Radit beranjak dari kursinya dan menuju kamar pribadi di ruangannya.



"Tolong kamu pesankan tiket pesawat ke Bali untuk malam ini." Ujar Radit kepada Andre sebelum dia benar-benar menghilang dari balik pintu.



Sya saat ini sedang duduk bersama Mama Riana dan Papa Riyan. Sedangkan Kendra dan baby Rendra sudah tertidur pulas di kamar mereka karena sejak siang turun hujan menjadikan suasana menjadi terasa dingin.


"Ma, Pa, Sya mau bicara." Ujar Sya membuka pembicaraan.


"Iya kenapa Sya?" Tanya Mama Riana.


Papa Riyan menatap Sya untuk mendengar apa yang akan menantunya itu bicarakan.


"Kendra tadi bilang sama Sya kalau dia rindu sama Ayahnya. Apa boleh kalau besok Sya dan anak-anak pulang lebih dulu?" Tanya Sya.


"Tentu saja boleh sayang, Mama tidak pernah melarang kamu untuk bertemu dengan Radit lagi, karena biar bagaimana pun dia suami kamu. Mama mengatakan larangan itu hanya untuk membuat Radit jera, dan biasanya dia tidak pernah menuruti ucapan Mama. Tapi kenapa kali ini dia penurut sekali ya." Jawab Mama Riana seraya terkekeh geli.


"Jadi Sya boleh.... "


Tok.. tok... tok...


Terdengar suara pintu villa yang di ketuk.


"Siapa sih malem-malem, perasaan Mama enggak pesen apa-apa." Ujar Mama Riana beranjak untuk membukakan pintu.


"Biar Sya aja Ma." Ujar Sya kepada Mama Riana.


Dan saat pintu terbuka....


.


.


.


Maaf ya upnya telat, 🙃


Jangan lupa kritik dan sarannya, kasih tau ya kalau ada typo 😁


Jangan lupa juga baca *Laras for Dani**😂*


Terima kasih juga buat dukungan temen-temen semua 🤗


*Terima Kasih**😘💕*