Baby... I Love You

Baby... I Love You
Bahagia bersama



Sudah beberapa hari ini Radit sibuk dengan perusahaannya hingga membuatnya selalu pulang malam. Dan itu membuat Sya menghawatirkan kesehatan Radit, karena dari penuturan Andre, suaminya itu jarang makan. Sebenarnya jika sempat Sya akan mengirimkan makan siang ke kantor Radit, tapi posisinya sekarang sebagai ibu yang memiliki bayi membuat Sya tidak selalu bisa melakukan itu.


Seperti sekarang ini, setelah menidurkan Kendra dan baby Rendra Sya duduk di kursi menyusui seraya membaca novel sembari menunggu Radit pulang.


Sya melihat jam yang ada di ponselnya, sudah jam 11 tapi Radit belum juga pulang. Hal ini membuat Sya hanya bisa menghela nafas panjang.


^^^^^^Direktur Ganteng^^^^^^


^^^^^^Mas pulang jam berapa? Ini udah malem loh. ^^^^^^


Sya memutuskan untuk mengirim pesan kepada suaminya itu.


5 menit berlalu... 15 menit berlalu... Hingga 30 menit berlalu barulah Sya mendapatkan balasan dari Radit yang mengatakan kalau dia akan pulang sebentar lagi.


Menunggu Radit pulang membuat Sya tertidur di kursi menyusui karena sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi.


Hingga tidak terasa 1 jam berlalu, Sya merasakan ada seseorang yang mengangkat tubuhnya. Hal ini membuat Sya seketika langsung terbangun.


"Masss..." Panggil Laras dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Heemm, bobok lagi sayang... Udah malem." Jawab Radit seraya menidurkan Sya di ranjang dengan lembut.


"Kok pulangnya malem banget?" Tanya Sya kepada Radit. Bukannya tidur lagi mata Sya justru semakin terbuka lebar begitu tau kalau Radit sudah ada di sampingnya.


"Mas lembur sayang, kamu kan tau kalau 1 bulan lagi kita bakal buka cabang lagi." Jawab Radit seraya mengecup tangan Sya.


Saat ini posisi Radit memang sedang jongkok di samping ranjang yang Sya tiduri karena dia belum membersihkan tubuhnya.


"Ya udah bobok lagi ya, Mas mau mandi dulu." Ujar Radit kepada Sya.


Setelah Radit berlalu ke kamar mandi Sya beranjak dari tidurnya untuk menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Radit menyelesaikan acara mandinya. Sebenarnya tidak baik mandi di jam tengah malam seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, Radit merasa tubuhnya sangat lengket. Di tambah kalau Radit tidak mandi, dia takut akan membawa virus dari luar yang akan membuat anak-anaknya sakit nantinya. Dan Radit tidak mau kalau sampai itu terjadi.


"Kok belum bobok lagi?" Tanya Radit kepada Sya.


Sya tersenyum kepada Radit.


"Nunggu Mas Radit." Jawab Sya.


Radit tersenyum melihat tingkah Sya yang saat ini terlihat sangat imut itu.


"Terima kasih." Ucap Radit saat menerima setelan piyama dari Sya.


"Mas mau makan, aku tadi masak sup ayam." Ujar Sya kepada Radit.


"Boleh." Jawab Radit.


Sebenarnya Radit tidak sedang lapar, tapi saat Sya menawarkan makanan kepadanya mendadak membuat cacing-cacing di perutnya seketika berbunyi. Radit ingat kalau untuk makan malam tadi dia hanya meminta Andre untuk memesankannua pizza.


Radit dan Sya bergandengan turun ke dapur. Terlebih dahulu Sya memanaskan sup ayam buatannya.


Dengan sabar Radit menunggu Sya menyiapkan makanannya.


"Ini Mas." Ujar Sya seraya memberikan semangkuk sup dan sepiring nasi. Memang sengaja di susun terpisah agar Radit bisa mengukur sendiri seberapa banyak yang ingin dia makan.


"Kamu enggak ikut makan?" Tanya Radit kepada Sya.


"Enggak Mas, aku udah makan tadi sama Abang." Jawab Sya.


"Seperti biasa masakan kamu memang selalu enak sayang." Ujar Radit memuji masakan Sya.


Hal ini membuat Sya tersenyum malu.


Radit terkekeh geli melihat wajah Sya yang sedikit memerah.


"Kenapa masih malu-malu setiap Mas puji kamu? Padahal kita sudah menikah hampir 1 tahun." Ujar Radit kepada Sya.


Setelah menghabiskan makanannya Radit dan Sya kembali ke kamar mereka. Dan tepat saat mereka membuka pintu kamarnya tiba-tiba saja baby Rendra menangis. Dengan sigap Sya langsung menyusui putra bungsunya itu.


"Haus ya sayangnya Ayah." Ujar Radit seraya mengusap kepala baby Rendra.


Entah bagaimana tapi setelah mendengar itu baby Rendra langsung melepaskan hisapan dari sumber ASI nya kemudian menatap ke arah Radit.


"Kok di lepas dek, adek udah kenyang emangnya?" Tanya Radit kepada baby Rendra.


Tentunya tidak ada jawaban dari bayi mungil yang semakin hari bertambah gembul itu.


Sya mencoba untuk menidurkan baby Rendra kembali, tapi sepertinya bayi itu menolak untuk tidur karena terlihat dari matanya yang justru semakin lebar itu.


"Sini biar Mas aja yang boboin adek." Ujar Radit seraya mengambil alih baby Rendra dari gendongan Sya.


"Mas tidur aja, biar aku yang boboin adek. Mas pasti udah capek kan seharian kerja di kantor." Ujar Sya kepada Radit.


Radit tersenyum mendengar ucapan Sya.


"Enggak papa sayang, kita juga harus gantian. Mas tau kamu juga pasti capek kan di rumah ngurus Abang dan adek. Kalau malem seperti ini biar Mas yang gantiin kamu, Mas kan beberapa hari ini juga jarang ada waktu buat anak-anak jadinya kangen." Jawab Radit.


Tidak sampai 10 menit Radit mengayun-ayun baby Rendra, bayi itu sekarang sudah terlelap lagi dengan nyenyak.


"Kayaknya adek emang maunya di boboin sama Ayahnya." Ujar Sya kepada Radit.


"Iya sama kayak Bundanya, maunya juga di boboin sama Ayah." Jawab Radit seraya tersenyum menggoda Sya yang lagi-lagi langsung membuat pipi wanita yang sudah melahirkn anaknya itu seketika memerah.


Radit menidurkan babu Rendra di box bayinya sebelum dia naik ke ranjang dimana Sya sudah berbaring di atasnya.


"Sini dong jangan jauh-jauhan kayak orang lagi musuhan gini. Mas seharian nahan rindu di kantor ke kamu loh." Ujar Radit seraya menarik Sya untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Gombalin aja terus istrinya." Ujar Sya seraya memukul dada Radit pelan.


"Pengennya juga terus gombalin istri, tapi kasian kalau nanti pipinya merah terus." Jawab Radit seraya mencium kedua pipi Sya.


"Udah ayo bobok, udah jam satu." Ujar Sya kepada Radit.


"Nanti sayang sebentar lagi, aku mau kangen-kangenan dulu sama kamu." Ujar Radit seraya mengeratkan pelukannya kepada Sya. "Tenang aja, malem ini Mas enggak bakal minta jatah Mas kok. Mas takut kurang memuaskan kalau dalam kondisi capek seperti ini." Bisik Radit di telinga Sya.


Kali ini Sya benar-benar memukul Radit dengan lebih keras.


"Mass ihhh, ngomong apaan sih. Malu tau." Ujar Sya kepada Radit. Kali ini wajahnya benar-benar merah semua tidak hanya pipinya saja.


"Apa sih sayang, aku kan ngomong bener." Jawab Radit seraya terkekeh geli.


"Udah ahhh diem, sekarang tidur." Sya membungkam mulut Radit dengan tangannya.