
Hari ini Sya dan Radit sedang ada di rumah orang tua Radit karena kebetulan sekarang tanggal merah dan Kendra sedang merindukan si Grey.
Disaat Radit sedang berbincang dengan Papanya, saat ini Sya sedang membuat kue brownies cokelat favorit keluarga ini bersama Mama Riana.
" Ma, jadi ini mana dulu yang di masukin? " Tanya Sya kepada Mama Riana. Dihadapannya saat ini ada macam-macam bahan kue untuk membuat brownies.
" Telur, gula sama mentega dulu sayang. " Jawab Mama Riana.
" Oke Ma. "
Sya mengikuti semua intruksi dari Mama Riana. Dengan sabar Mama Riana mengajari anak menantunya tersebut. Dan ya, akhirnya Sya berhasil membuat brownies dengan sukses.
" Ya ampun, aku bisa buat brownies akhirnya. Makasih Mama udah ajarin Sya dengan sabar. " Ujar Sya seraya tersenyum kepada Mama Riana. Hati Sya bahagia karena 1 jam waktu yang di pakai untuk memasak ini semua berhasil dengan maksimal.
" Sama-sama sayang. Mama seneng banget malah kita bisa bikin kue bareng begini. Sering-sering ya, soalnya sama Rida Mama nggak pernah, dia anaknya ngga suka masak. " Ujar Mama Riana.
" Ini cantik banget Ma. " Ujar Sya menatap browniesnya dengan tatapan takjub. Agak lebay memang karena ini hanya brownies biasa, tapi berhubung ini adalah hasilnya sendiri tentu saja Sya sangat bangga bukan.
" Iya dong, tapi itu masih kurang siraman lelehan coklat sayang. " Ujar Mama Riana memberitahu.
" Oo ya, jadi kita harus buat dulu Ma? " Tanya Sya kepada Mama Riana.
" Iya, gampang kok buatnya, nggak lama juga. " Jawab Mama Riana.
Mama Riana segera membuat lelehan cokelat untuk menyiram brownies mereka.
" Nah, sekarang tinggal di taruh di kulkas dulu. Biar rasanya lebih enak. " Ujar Mama Riana.
Sembari menunggu browniesnya lebih mengeset. Sya dan Mama Riana duduk di kursi dapur untuk saling bercerita.
" Kamu tau Sya, Mama dulu pertama kali bisa buat kue ya brownies ini. Mama dapet resepnya dari Almarhumah Mamanya Papa, eyangnya Radit sama Rida. " Ujar Mama Riana kepada Sya. " Dan sekarang Mama bisa sharing resepnya ke kamu. Mama bahagia banget tau. " Tambah Mama Riana.
" Sya juga seneng Ma bisa belajar bikin kue, apalagi ini resep warisan. Rasanya kayak waow gitu. " Jawab Sya seraya tertawa kecil.
" Kamu ini bisa aja. " Ujar Mama Riana juga tertawa.
Pembicaraan mereka diinterupsi oleh panggilan dari sang bayi kecil.
" Bundaaaa..... " Teriak Kendra dari ruang keluarga.
" Bunda di dapur sayang. " Ujar Sya menjawab panggilan Kendra.
Kendra datang bersama Grey yang mengikutinya selalu.
" Bunda... " Panggil Kendra dengan suara imutnya. " Blowniesnya mana? Kendla udah lapel nih. " Ujar Kendra mengusap perutnya yang gembul itu.
" Masih di kulkas sayang, mau Bunda potongin sekarang aja? " Ujar Sya menawarkan kepada Kendra.
" Heem. " Ucap Kendra seraya menganggukan kepalanya.
Sya pun beranjak dari duduknya untuk memotongkan brownies permintaan Kendra.
Lagi-lagi Mama Riana yang melihat itu semua menjadi terharu. Entah kenapa setiap melihat perhatian Sya kepada Kendra membuat hatinya terasa hangat. Mama Riana merasa jika perhatian Sya kepada cucunya itu seperti seorang ibu kandung sesungguhnya. Kasih sayang yang Sya berikan sangat tulus, dan Mama Riana sangat bersyukur akan hal itu.
...***...
" Ini brownies buatan Sya loh. Ayo di coba dulu. " Ujar Mama Riana kepada Radit dan Papa Riyan.
" Oo Iya? Wahh pasti enak nih. " Papa Riyan menanggapi ucapan Mama Riana dengan antusias.
" Hehe.. Itu Sya baru pertama kali buat brownies Pa, dan kalo nggak seenak buatan Mama mohon di maklumin ya. " Ujar Sya merendahkan diri. Sya tersenyum tidak sabar dengan penilaian Radit dan Papa Riyan.
Sya memotongkan brownies untuk Radit dan Papa Riyan.
" Kendra nggak makan? " Tanya Papa Riyan.
" Kendra udah duluan Pa, ini aja bekas potongan punya Kendra. " Jawab Mama Riana.
" Terus Kendra nya mana? " Tanya Radit kepada Sya.
" Kendra lagi main sama Grey, tadi ke depan sama Mbak Iin. " Jawab Sya.
" Oalahh, ternyata Kendra udah duluan nyobain. " Ujar Papa Riyan.
Sya menatap Radit antusias saat suaminya itu menyiapkan brownies buatannya.
" Gimana Mas? " Tanya Sya kepada Radit.
Radit terdiam sejenak sambil menatap Sya yang wajahnya sangat imut itu. Untung saja di sini ada orang tuanya, kalau tidak pasti sudah Radit cium bibir merah muda milik istrinya itu.
" Enak. " Jawab Radit seraya tersenyum.
Sya menghembuskan nafasnya lega setelah mendengar jawaban yang Radit berikan.
" Kalo menurut Papa gimana? Enak nggak? Kurang apa brownies buatan Sya? " Tanya Sya kepada Papa Riyan.
Papa Riyan dan Mama Riana tertawa kecil melihat tingkah Sya yang sekarang ini terlihat sangat lucu.
" Enak sayang. Nggak kalah dari buatan Mama kok. " Jawab Papa Riyan seraya tersenyum lembut. Begitu pula dengan Mama Riana.
" Iya dong, kan Sya buatnya diajarin Mama." Ujar Sya seraya tertawa kecil. " Duh, mau juga ah. Tadi Sya belum cobain. Tunggu Papa sama Mas Radit nyobain dulu. " Ujar Sya seraya memotong browniesnya." Eehmmmm, enak banget Ma. Kapan-kapan ajarin Sya bikin resep yang baru ya. " Ujar Sya kepada Mama Riana.
" Iya dong, kamu sering-sering kesini ya. Nanti Mama ajarin bikin kue yang lain. " Jawab Mama Riana seraya tersenyum.
Sembari menikmati brownies buatan Sya. Mereka berempat saling berbincang.
" Jadi kalian kan udah nikah lebih dari 3 bulan? Memang nggak ada niatan gitu buat bulan madu? " Tanya Mama Riana kepada Sya dan Radit. " Jangan terlalu fokus kerja terus. Kerjaan itu pasti bakal ada terus. Sekali-kali pergilah kalian liburan berdua. Urusan Kendra nanti serahin aja ke Mama. " Ujar Mama Riana.
Sya menjadi salah tingkah setiap pertanyaan bulan madu Mama Riana berikan kepadanya.
" Kalo nunggu libur tuh masih lama, kalian pergi aja kalo emang mau bulan madu. Kalian nggak usah mikirin tentang perusahaan biar nanti Papa yang gantiin sementara. " Ujar Papa Riyan menambahkan ucapan Mama Riana.
" Gimana sayang? " Tanya Radit kepada Sya. Wajahnya memperlihatkan senyum untuk menggoda Sya. Karena memang setiap Radit mengajak Sya untuk pergi bulan madu istrinya itu selalu menolak dengan alasan tidak tega meninggalkan Kendra.
" Eehmm, Kendra nggak ikut ya? " Tanya Sya dengan polos.
" Enggaklah sayang. Yang namanya bulan madu ya berdua aja. " Jawab Mama Riana seraya tertawa.
" Ya udah deh, aku nurut aja sama kamu Mas. " Jawab Sya pada akhirnya.
" Oke kalau gitu kalian mau kemana? Biar Mama sama Papa yang siapin tiketnya. Itung-itung sebagai hadiah pernikahan kalian. " Ujar Mama Riana.
" Maureen pengennya ke Jepang Ma. " Ujar Radit menjawab pertanyaan Mama Riana.
" Oke kalo gitu secepatnya Mama akan cariin tiket ke Jepang. " Ujar Mama Riana seraya tersenyum.
Tanpa mereka sadari ada seorang anak kecil yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan orang dewasa tersebut. Yang dia tangkap hanyalah Bundanya akan pergi dan meninggalkan dirinya di sini bersama sang Oma.
" Hikss, Bunda mau tinggalin Kendla? " Tanya Kendra seraya menangis. Para orang tua menatap kaget mendapati bocah kecil itu tiba-tiba datang sambil menangis.