Baby... I Love You

Baby... I Love You
Sya Diam



Saat melihat pada CC TV yang mana memperlihatkan Kendra, Sya dan teman-temannya sebenarnya Radit biasa saja, dia masih bisa fokus dengan pekerjaannya. Bahkan saat Kendra mulai akrab dengan Tio pun Radit biasa saja, namun saat melihat interaksi Sya dan Tio yang sepertinya dekat dan bahkan saling melempar senyum satu sama lain hati Radit menjadi sedikit terusik. Tadinya dia tidak ingin mempermasalahkannya karena menurutnya akan sangat berlebihan jika Radit cemburu hanya karena Sya tersenyum kepada laki-laki yang dia tau menyukaimu istrinya itu. Tapi, Radit tidak bisa lagi menahan rasa cemburunya saat melihat Tio yang terlihat menghampiri kubikel Sya dan mereka saling berbicara dengan begitu akrab. Radit merasa seolah dirinya sedang terancam.


Padahal jika dipikir-pikir Radit bahkan lebih segalanya di banding Tio. Dia kaya, sukses, dan tampan. Tapi kenapa Radit selalu merasa rendah diri jika itu menyangkut setiap orang yang menyukai Sya.


" Pak Radit.... " Panggil Lisa kepada Radit. Sedari tadi laki-laki itu memperhatikan layar Laptop tapi dengan pandangan yang seperti sedang menahan sesuatu.


Tidak ada jawaban dari Radit. Sepertinya laki-laki itu benar-benar tidak mendengarkan panggilannya sama sekali.


Tatapan Lisa dan Andre bertabrakan. Lisa menatap Andre seolah bertanya ada apa dengan Radit. Namun Andre hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.


Dan tiba-tiba saja Andre berdiri dari duduknya. Dia berjalan kearah Radit dan berdiri tepat di samping laki-laki yang masih tidak menyadari kehadirannya itu.


Bibir Andre terangkat satu menunjukkan senyum mengejeknya. Terkadang bosnya itu bisa menjadi orang yang mendadak bodoh jika itu tentang Sya, istrinya. Andre memberikan kode kepada Lisa agar keluar dari ruangan ini. Dan untungnya Lisa segera menyadarinya, gadis itu keluar ruangan Radit segera.


" Ekhemm... Pak... " Ucap Andre dengan suara sedikit keras.


Sebenarnya Radit sedikit terkejut tapi dia bisa menutupinya dengan sangat baik.


" Hhmmm... "


" Bapak ini memang senang mencari perkara sendiri ya. " Ujar Andre tanpa tedeng aling-aling. Tentu saja ini membuat Radit mengerutkan dahinya bisa bingung.


" Maksud kamu apa? " Tanya Radit dengan suara dingin.


" Nggak ada maksud sih Pak. Oo iya, sehabis makan siang nanti ada meeting bulanan. Apa mau di batalkan saja? Sepertinya suasana hati Anda sedang tidak baik. " Jawab Andre dengan santai.


Radit semakin bingung dengan ucapan Andre. Kenapa bisa asistennya itu menyimpulkan seperti itu.


" Biar nanti setelah makan siang saya konfirmasikan ke kamu. " Jawab Radit. Laki-laki itu mulai mencoba untuk fokus ke pekerjaannya lagi setelah mengeluarkan dari CC TV ruangan Sya.


" Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu. " Ujar Andre yang langsung mendapat anggukan dari bosnya itu. Radit bahkan tidak menyadari jika Lisa sudah keluar dari tadi.


Andre membuka pintu ruangan Radit untuk keluar, namun sebelum itu dia memanggil Radit lagi.


" Pak Radit... " Panggil Andre yang membuat Radit langsung menatap ke arahnya.


" Cobalah untuk percaya sama Mbak Sya. Jangan buat pikitan negatif Pak Radit menjadi boomerang suatu hari nanti. " Ujar Andre, kemudian dia menutup pintunya meninggalkan Radit dengan pikirannya sendiri.


...***...


Radit memutuskan untuk menghampiri Sya meskipun ini belum waktunya untuk makan siang. Dia merasa harus bertemu dengan Sya sekarang juga.


Radit memutuskan untuk mengajak Kendra dan Sya untuk makan siang di KFC atau biasa Kendra sebut dengan ayam goreng kakek yang merupakan makanan favorit Kendra.


Dan entah bagaimana ceritanya Radit justru mendiamkan Sya. Radit pikir Sya akan seperti biasa yang akan bertanya kepadanya jika Radit mendiamkan wanita itu. Namun untuk kali ini justru berbeda, Sya terlihat cuek seolah tidak menyadari jika Radit sedang mendiamkannya. Bahkan istrinya itu terlihat seperti sedang mendiamkannya juga. Sedari mereka keluar hingga sekarang mereka kembali ke kantor Sya bahkan tidak bertanya apapun kepadanya. Hanya sebuah penolakan saat Radit mencoba untuk menggendong Kendra yang tertidur di pangkuan Sya.


Saat Sya sudah menidurkan Kendra di kamar yang ada diruang kerjanya. Radit sudah tidak tahan dengan keterdiaman Sya.


" Sayang, maafkan aku. Aku cemburu. " Ujar Radit dengan suara sendunya.


Sya terdiam di tempatnya. Dia tidak membalas ucapan dari Radit namun juga tidak menolak pelukan dari laki-laki yang merupakan suaminya itu.


Karena tidak ada respon apapun dari Sya, secara perlahan Radit melepaskan pelukannya.


" Sayang, kamu marah? " Tanya Radit seolah bukan dia penyebab utama suasana tidak mengenakan ini tercipta.


" Enggak, siapa yang marah. " Jawab Sya dengan santai namun wajahnya terlihat datar. Dan ini adalah kedua kalinya Radit melihat wajah Sya yang seperti itu.


" Kamu pasti marah kan tadi aku diemin kamu nggak jelas alasannya. " Ujar Radit kepada Sya.


" Emang tadi kamu diemin aku? " Tanya Sya seolah dia memang tidak tau apapun.


" Aki tau kok kalo kamu peka waktu aku diemin kamu. "


" Ya terus? " Tanya Sya dengan datar.


" Sayang, aku cemburu karena kamu tadi deket-deket sama Tio. Kamu kan tau sendiri kalo Tio itu suka sama kamu. " Ujar Radit memberikan penjelasan kenapa dia cemburu sampai mendiamkan Sya. " Sebenarnya aku nggak berniat nyuekin kamu, tapi ya gitu.... aku cemburu makanya jadi males ngomong sama kamu. " Tambah Radit seraya menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal sama sekali. Dia hanya bingung bagaimana memberikan penjelasan yang baik agar Sya mau berbicara lagi dengannya. Meskipun tadi Sya bilang kalau dia tidak merasa jika Radit mendiamkan Sya, tapi Radit tau jika Sya berbohong. Bagaimana bisa Sya yang sangat peka itu tidak merasakan perubahan didalam dirinya. yang bahkan Radit tunjukkan secara terang-terangan.


" Ooo. " Jawab Sya cuek.


" Say..... " Bahkan Radit belum sempat menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba saja pintu ruangannya di ketuk.


tok... tok... tok...


Ceklek...


" Permisi Pak..... " Lisa menghentikan ucapannya saat melihat ternyata ada Sya di dalam. Sya melihat kearah Lisa seraya menampilkan senyum ramahnya, berbeda dengan Radit yang tetap dengan wajah kusutnya karena merasa terganggu dengan kedatangan Lisa. " Oohh ada Bu Sya ya, maaf Pak, saya cuma mau ngingetin kalo rapat akan di mulai 10 menit lagi. " Ujar Lisa kepada Radit.


" Kamu bilang sama Andre suruh tunda dulu 30 menit. Saya masih ada urusan. " Ujar Radit datar.


" Emang Mas ada urusan apa? Kalo gitu aku balik keruangan aku aja ya. Soalnya pasti yang lain udah nungguin. Nggak enak kalo aku telat masuk terus kan. " Ujar Sya yang justru menimpali ucapan Radit kepada Lisa.


" Bukan gitu sayang, urusan aku kan sama... " Radit belum menyelesaikan ucapan lagi-lagi kembali terpotong, namun kali ini oleh Sya.


" Eemm, Mas kayaknya aku harus balik sekarang deh. " Sya meraih tangan Radit dan menciumnya sebelum akhirnya berlalu dari ruangan Radit meninggalkan laki-laki itu yang masih tetap diam di tempatnya dan Lisa yang berdiri di depan pintu tanpa tau harus berbuat apa.


" Arghhhh,... " Radit meremas rambutnya setelah menyadari jika Sya sudah pergi dari ruangannya meninggalkan permasalahan mereka yang belum selesai. Lagian ini juga salahnya sendiri, Radit tidak bisa menyalahkan Sya.


" Eemm, jadi gimana Pak? " Tanya Lisa dengan takut-takut.


" Bilang ke Andre suruh dia mengundurkan jadwal rapat menjadi besok pagi jam 9." Jawab Radit datar kemudian berlalu ke kamar mandi.