
" Wahhh ini berarti memang Sya mantu kita yang sesungguhnya." Ujar Mama Riana semakin bahagia. Papa Radit hanya tertawa.
" Ehhh, ini maksudnya gimana ya Ma? Sya kok nggak paham sih." Tanya Sya dengan raut wajah yang terlihat sedang bingung. Menantu sesungguhnya? Kapan dia jadi menantu dirumah ini? Kenal aja baru beberapa bulan yang lalu.
" Bukan apa-apa. Panjang kalo dijelasin. Eehhh ngomong-ngomong mau dong Mama video call sama orang tua kamu. " Ujar Mama Riana kepada Sya. Sedangkan Papa Riyan dan Radit hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Mama Riana sebegitu antusiasnya dengan fakta yang baru saja mereka ketahui ini.
" Video call? " Tanya Sya memastikan.
" Iya. " Jawab Mama Riana.
Radit ingat jika dulu dia pernah berlibur ke Jogja kerumah sahabat Papanya. Disana dia bertemu dengan balita kecil yang menggemaskan dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 2 tahun dibawahnya. Hanya itu yang diingat setelahnya dia lupa kapan tepatnya.
Sya mengeluarkan ponselnya dan mendial nomer Mamanya dengan ragu. Sya merasa akan ada sesuatu yang terjadi nantinya. Dan Sya juga merasa dia tidak akan punya kesempatan untuk melepaskan diri.
Tutt... tutt... tutt...
" Halo Assalamu'alaikum Dek. " Ujar Mama begitu mengangkat panggilan video call dari Sya.
" Wa'alaikumsalam Ma." Terlihat wajah Sya masih bingung dengan semua ini. Sya tidak tau akan berbicara apa kepada Mamanya.
" Kamu kenapa dek? Kok diem aja? Masmu katanya pulang hari ini kan? Nanti kira-kira sampai sini jam berapa? " Wajah bingung Sya terlihat jelas oleh Mama Farida.
" Iya, nanti sebelum dzuhur paling Mas Fardan udah sampai Ma. Oo iya, ini ada yang mau ngomong sama Mama. " Sya langsung memeberikan ponselnya kepada Mama Riana.
" Farida... " Ujar Mama Riana dengan semangat.
" Lhoo... Mbak Riana? Apa kabar mbak? Kok Sya bisa ada disana?. " Mama Farida terkejut melihat sahabat lamanya ini ada dilayar ponselnya. Dia sudah sangat lama lost kontak dengan Mama Riana dan Papa Riyan, mungkin sudah belasan tahun yang lalu.
" Hehehe.. Aku baik Far. Kamu gimana kabarnya? Ya ampun kita udah lama banget nggak kontak-kontakan gini, nomer telfon kamu tuh ilang waktu aku ikut Ma Riyan ke Medan. Aku sama Mas Riyan juga dulu sempet ke rumah kalian yang lama, ternyata kalian udah pindah rumah. " Mama Riana berbicara dengan semangatnya.
" Iya Mbak udah hampir 20 tahun malah kita nggak ke ketemu. Maaf nggak sempet ngabarin waktu aku sama Mas Dodi pindah rumah, Waktu itu buku telfon kita sempet ilang dan waktu coba ngehubungin kalian ternyata nomer kalian sudah tidak aktif. Tapi masih di Jogja kok, kapan-kapan main sini Mbak. Itu Sya kenapa bisa sama Mbak gitu ya? " Mama Farida terkejut sekaligus bingung karena Sya ada bersama mereka.
" Iya dong, anak kamu ini ternyata kerja dikantor Radit ternyata. Kita udah ketemu dari 3 bulan lalu. Tapi aku nggak tau kalau ternyata Sya itu anak kamu sama Mas Dodi. Dunia memang sempit ya, mau sejauh apapun kita terpisah kalau sudah jodohnya kita pasti ketemu lagi. " Mama Riana merasa begitu terharu bisa bertemu dengan sahabatnya lagi.
" Ya ampun Mbak, Ihhh kangen banget aku tuh sama Mbak. Begitu kita ketemu udah tua-tua begini ya Mbak. Ngomong-ngomong cucunya udah berapa? Pasti anak Mbak sudah menikah semua kan? " Tanya Mama Farida dengan antusias.
" Cucu aku udah 2 Far, dari pernikahan Radit 1 dan dari Rida anak bungsuku satu. Laki-laki dan perempuan." Jawab Mama Riana. Terlihat kebahagiaan terpancar di wajahnya.
Perlu diketahui jika Radit dan Rida itu hanya terpaut usia 2 tahun, makanya Mama Farida bisa menebak jika kedua anak sahabatnya itu pasti sudah menikah.
" Kita bahas masalah jodoh nanti saja Mbak. Dan ngomongΒ² Radit itu sekarang duda Far. " Mama Riana terkekeh kecil melihat wajah Mama Farida yang begitu terkejut itu.
Radit mendengus kesal mendengar ucapan Mamanya itu. Untuk apa juga Mama Riana memberitahukan status duda nya diawal pertemuan mereka setelah belasan tahun lamanya, udah gitu lewat video call lagi. Memang nggak ada pembahasan yang lebih penting apa.
Sedangkan Papa Riyan hanya menyimak pembicaraan antara istri dan istri sahabatnya itu tanpa menginterupsinya. Biarkan saja mereka saling melepas rindu. Dia akan menghubungi Dodi secara pribadi nanti.
" Duda? Kok bisa jadi Duda sih anakmu Mbak? " Mama Farida terkejut dengan fakta baru ini. Mengetahui anak sahabatnya sudah menikah saja baru hari ini, tiba-tiba dia sudah mendapatkan fakta baru jika anak sahabatnya ini sudah menjadi duda saja.
" Mantan istrinya meninggal, panjang kalau diceritakan ditelfon. Nanti kalau kita ketemu saja aku ceritakan. Yang pasti kalo sekarang, aku pengen Sya jadi mantuku. "
Sekarang bukan hanya Mama Farida yang terkejut. Sya dan Radit pun sama terkejutnya. Radit tidak menyangka jika Mama Riana akan mengambil startnya lebih dahulu. Harusnya dia yang berbicara langsung kepada Mama Farida kalau dia ingin menikahi Sya. Sekarang dia merasa seperti laki-laki anak Mama karena apa-apa Mama Riana yang mengambil alih.
Sedangkan Sya terkejut karena dia tidak memiliki perasaan apapun kepada Radit, lalu bagaimana mungkin dia menikah dengan laki-laki itu. Ditambah dia memang belum ada target untuk menikah dalam waktu dekat. Dia masih ingin bekerja dan menyenangkan orang tuanya, walaupun dia tau kalau orang tuanya tidak menginginkan apa-apa dari anak-anaknya. Dan lagi, dia tidak ingin melangkahi Fardan, dia ingin kakanya itu menikah terlebih dahulu.
" Lho lho, ini maksudnya opo tho Mbak? Sya jadi mantu Mbak? Terus Sya nikah sama siapa? " Mama Farida tidak paham dengan ucapan sahabatnya itu. Sampai-sampai tanpa sengaja logat Jawanya keluar dengan sendirinya.
" Iya, tapi udah jangan kamu pikirkan dulu. Biar nanti aku jelaskan kalau kita ketemu nantinya. Udah dulu ya, kamu sehat-sehat disana, salam buat Mas Dodi. Nanti aku hubungi kamu secara pribadi. " Ujar Mama Riana tersenyum penuh makna.
" Oo gitu ya Mbak. " Mama Farida menjawab dengan bingung.
.
.
.
Happy New Year πΊ ππ
Semoga tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin. Dan semoga harapan-harapan kalian ditahun 2020 yang belum terwujud akan segera terwujud ditahun ini. Semoga Corona juga cepat menghilang ππ
Maaf ya telat buat ngucapin tahun barunya, aku sendiri sebenarnya emang nggak pernah ngerayain tahun baru yang bagaimana ( Karena jam 9 selalu udah tidur dan bangun udah pagi aja, begitu juga malem tahun baru ini π )
Terimakasih juga buat dukungan kalian selama ini, jangan lupa untuk selalu memberikan kritik dan saran agar aku bisa lebih baik lagi dalam menulis π
Btw mengenai tulisan aku yang seiprit ini, aku minta maaf banget. Karena setiap aku nulis sampe 1000 kata tuh langsung buntu aja idenyaπ. Makanya gak aku paksain buat nulis banyak-banyak karena takut nantinya jadi malah gak nyambung jalan ceritanya ππ
Terimakasih