
Karena mereka sedang ada di Bali, Sya dan Radit memutuskan untuk menemui Fardan dan Asti yang memang sedang tinggal di Bali di karenakan pekerjaan Fardan.
Kendra yang tau jika mereka akan bertemu dengan Shanum sangat bahagia. Pasalnya sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan bayi gemoy itu. Mungkin saat ini usia Shanum sudah hampir 1 tahun.
"Bunda, Abang pengen beliin adek Shanum hadiah." Kendra terdiam beberapa saat. "Eehmm, Bunda punya uang enggak buat beli hadiahnya?" Tanya Kendra dengan hati-hati.
Sya dan Radit yang mendengar ucapan Kendra tersenyum.
"Punya, Bunda punya uang kok. Abang pengen kasih hadiah apa buat adek Shanum?"
"Enggak tau, tapi Abang pengen beliin hadiah." Pasalnya Kendra memang tidak tau harus membeli hadiah apa untuk Shanum.
"Ya udah nanti Abang beli hadiahnya sama Ayah ya." Sya ingin membuat Kendra kembali seperti dulu lagi. Agar Kendra percaya bahwa keuangan Radit baik-baik saja dan putra sulungnya itu tidak lagi menahan apa yang menjadi keinginannya.
Kendra menatap Ayahnya ragu. Yang ada dipikiran Kendra adalah bahwa Radit sibuk kerja karena mencari uang untuknya membeli mainan. Sedangkan Sya tidak bekerja karena Bundanya itu memiliki banyak uang. Entah pikiran darimana, tapi itulah yang ada dipikiran Kendra.
"Tenang aja Bang, Ayah kan udah bilang kalau uang Ayah udah banyak lagi. Janji Ayah enggak akan kerja lama lagi." Ujar Radit kepada Kendra. Kerja lama yang dimaksud oleh Radit adalah istilah lembur yang Kendra berikan untuk Radit.
"Benelan?" Kendra masih terlihat tidak yakin.
Radit dengan semangat menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Kendra.
"Iya, Abang belinya sama Ayah, eemmm... Abang boleh sekalian beli? Satu aja." Ya seperti anak kecil pada umumnya, mereka akan melupakan apa yang mengganggu pikiran mereka jika masalahnya sudah teratasi.
"Boleh dong, beli 2 juga boleh." Jawab Radit seraya tersenyum.
Seperti yang sudah direncanakan, Radit dan Kendra pergi ke mall membeli hadiah untuk Shanum. Kendra terlihat sangat bahagia, pasalnya sudah lama dari terakhir kali dia ke tempat seperti ini dan membeli mainan bersama Radit. Disaat Radit sibuk dengan pekerjaannya kemarin, yang sering membelikan Kendra mainan adalah sang Oma.
"Abang mau beli apa buat adek Shanum?" Tanya Radit kepada Kendra. Saat ini mereka memang hanya berdua saja. Sya ada di villa bersama baby Rendra dan juga orang tua Radit. Mereka membiarkan Radit dan Kendra untuk menikmati quality time sepasang Ayah dan anak itu.
"Abang enggak tau Yah, Abang bingung."
Saat ini Radit dan Kendra sudah ada si sebuah toko mainan. Ada banyak mainan yang berjejer rapi disana.
"Ini." Kendra mengambil sebuah boneka Barbie. Kendra ingat kalau teman perempuan di sekolahnya banyak dari mereka yang sering membawa boneka seperti ini. Dan Kendra ingin memberikannya kepada Shanum.
"Oke, kita ambil yang ini." Ujar Radit seraya memasukkannya ke dalam troli. "Ada lagi?"
"Sebental, Abang cali lagi. Kalau cuma satu nanti kulang. Punya Abang juga belum beli mainannya." Jawab Kendra. Bocah tampan itu kembali menyusuri rak demi rak tempat mainan.
Radit dengan sabar mengikuti kemanapun langkah Kendra tertuju. Biarlah Kendra menikmati waktunya bersenang-senang. Radit hanya ingin menebus rasa bersalahnya karena sebelumnya sudah mengabaikan putranya itu.
Setelah 1 jam berkeliling di toko mainan, akhirnya Kendra membawa pulang 2 mobil-mobilan, boneka Barbie dan boneka kelinci untuk Shanum. Tidak lupa baby Rendra juga dibelikan mainan oleh Kendra.
Kendra lagi-lagi terlihat terdiam memikirkan tawaran Radit.
"Ayam goleng kakek boleh?" Kendra menatap Radit penuh harap. Sungguh dia benar-benar menginginkannya sekarang. Bahkan Kendra mau kalau harus menukarkan mainan yang baru saja dia beli dengan seember ayam goreng kakek. Kenapa dia tidak mengingatnya sejak awal? Bagaimana kalau uang ayahnya sudah habis untuk membeli mainannya?
"Tentu saja boleh, ayo kita beli ayam goreng kakek."
Radit tersenyum melihat wajah bahagia Kendra setelah mendapatkan seember ayam goreng kakek di tangannya.
"Nanti Abang mau maem sama ayam goleng kakeknya 2 ya Ayah." Ucap Kendra dengan wajah ceria.
Jika biasanya Radit hanya akan memberikan 1 potong saja kepada Kendra, maka baiklah untuk hari ini saja Radit akan memberikan Kendra kelonggaran dengan memperbolehkan putranya itu memakan 2 potong ayam goreng kakek.
"Assalamu'alaikum, Adek Shanum.... " Kendra langsung berteriak begitu mereka sampai di rumah Fardan dan Asti.
"Husst, Abang jangan teriak-teriak nanti ganggu yang lain." Radit menegur putranya.
Kendra yang mendapat teguran dari Radit hanya bisa membalas dengan senyuman sedikit merasa bersalah. Sya mengusap kepala putranya itu dengan gemas. Segala tingkah lakunya Kendra memang selalu menggemaskan.
Pintu langsung terbuka, seorang wanita cantik dengan anak perempuan yang dia gendong datang menyambut kedatangan Radit dan keluarganya.
Asti tersenyum melihat kedatangan keluarga dari sahabat yang juga merupakan adik iparnya itu.
"Haii...ayo masuk-masuk di luar panas." Ujar Asti kepada Sya dan Radit.
Sya masuk ke rumah bersama Kendra di ikuti oleh Radit yang menggendong baby Rendra.
"Kamu apa kabar As? Aku kangen banget tau sama kamu sama Mas Fardan dan pastinya sama ponakan gemoy aku ini." Sya langung duduk di samping Asti. Hampir tidak ada batasan diantara mereka. Tapi tenang, untuk masalah rumah tangganya Sya dan Asti tidak pernah saling bercerita. Karena bagaimana pun baik Asti maupun Sya tidak ingin sampai masalah mereka terdengar oleh orang lain. Seperti yang kita tau, Sya sama sekali tidak menceritakan mengenai masalahnya dengan Mama Riana tapi dia mengetahuinya sendiri.
"Alhamdulillah aku sehat. Maaf ya waktu kamu lahiran aku sama Mas Fardan enggak nengokin. Soalnya pekerjaan Mas Fardan juga enggak bisa di tinggal waktu itu." Asti benar-benar merasa bersalah, apalagi Sya melahirkan secara caesar dan sempat tidak sadarkan diri. Waktu itu Asti dan Fardan berencana untuk langsung terbang ke Jakarta, tapi surat ijin cuti Fardan tidak disetujui karena pembangunan villa harus dilakukannya segera dan harus ada Fardan disana. Tapi mereka langsung bersyukur saat mendapat kabar dari Mama Farida kalau Sya sudah baik-baik saja. Dan jadilah karena kesibukan Fardan ini membuat mereka belum bisa ke Jakarta maupun pulang ke Jogja.
"Enggak papa santai aja As, lagian aku juga enggak papa kok." Jawab Sya.
"Ekhhmm, ngomong-ngomong Fardan dimana?" Tanya Radit kepada Asti.
"Mas Fardan lagi mandi Mas, baru pulang soalnya." Jawab Asti.
"Tante Asti..." Kendra tiba-tiba memanggil Asti.
"Iya sayang, ada apa?"
"Kendla haus, boleh minta minum enggak?" Tanya Kendra dengan polos.
Asti terdiam sesaat.
"Ya ampun, maaf ya tante sampai lupa buatin kalian minum. Sya tolong gendong Shanum sebentar aku mau bikin minum."