Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ngupati



Sekarang ini orang tua Sya ada di Jakarta untuk ikut serta dalam acara 4 bulanan kehamilan Sya. Seperti tradisi, biasanya saat kandungan berusia 4 bulan akan dilakukan selamatan yang kalau orang Jawa bilang ngupati sebagai ungkapan rasa syukur. Karena disaat usia janin 4 bulan itu berarti Allah SWT sudah meniupkan ruh ke dalam jiwa sang bayi.


Acara ngupati ini tidak seperti acara tujuh bulanan yang biasanya akan melakukan berbagai adat -adat daerah. Acara ini hanya berupa pengajian yang mengundang beberapa tetangga dan seorang tokoh Agama sebagai pemimpin do'a nantinya.


Dan ya, acara ngupati ini berlangsung dengan lancar. Semua orang mendo'akan untuk keselamatan janin dan ibunya agar nantinya bisa melewati masa-masa ini dengan lancar.


" Capek Dek? " Tanya Mama Farida kepada Sya yang sedang duduk selonjoran di sofa ruang tengah. Acara pengajian memang sudah selesai sejak 30 menit yang lalu.


" Sedikit sih. Enggak banyak kok Ma. " Jawab Sya seraya tersenyum. Sya senang karena Mamanya sekarang ini ada di Jakarta menemaninya.


" Sini biar Mama pijitin. " Ujar Mama Farida. Kemudian dia meraih kaki putrinya itu.


" Enggak usah Ma, iihh nanti adek jadi nggak sopan kalo nyuruh Mama mijitin. " Ujar Sya menolak.


" Siapa yang bilang nggak sopan memangnya? Kalo kamu nyuruh Mama itu baru nggak sopan. Lah wong ini Mama sendiri yang mau mijitin kamu kok. " Jawab Mama Farida kekeh.


" Ya udah deh iya, adek mah nggak mau jadi anak durhaka. Jadi ya udah terserah Mama aja. " Ujar Sya seraya tertawa kecil.


" Kamu ini, aslinya keenakan di pijit sama Mama kan? "


" Iya dong, pijitin Mama itu paling the best. " Jawab Sya.


Lalu dimana yang lain? Seperti biasa Radit, Papa Riyan dan Ayah Dodi ada di ruang tamu sedang membicarakan sesuatu. Mereka sedang sharing banyak hal.


Sedangkan Kendra ada di kamarnya bersama Mama Riana. Bocah tampan itu mengeluh sudah mengantuk. Padahal saat acara selesai baru pukul 8 malam.


" Nggak nyangka sekarang adek udah mau jadi ibu ya. Rasanya baru kemarin Mama gendong-gendong kamu, nyuapin kamu, nganter kamu ke sekolah TK. " Ujar Mama Farida seraya tersenyum mengingat momen-momen dimana Sya masih kecil dulu.


" Tapi sekarang aja adek masih suka disuapin sama Mama. " Jawab Sya seraya tersenyum manis.


" Iya, soalnya kamu bayi besar. " Ujar Mama Farida seraya terkekeh geli.


Ya, Sya memang akan menjadi bayi lagi jika sudah bersama Mama dan Ayahnya. Sedangkan kalau disini Sya harus mengurus 2 bayi laki-laki. Tapi Sya menyukai perannya itu. Meskipun sejak kehamilannya ini tiba-tiba saja kedua bayinya sedikit merubah sikapnya menjadi lebih dewasa.


" Sayang... " Terdengar suara Radit yang memanggil Sya.


" Iya Mas, di depan TV. " Ujar Sya menjawab panggilan Radit.


Radit yang mendengar jawaban Sya langsung berjalan menujukan istrinya itu.


" Oo ada Mama. " Ujar Radit yang melihat Mama Farida sedang memijat kaki Sya.


Mama Farida hanya tersenyum melihat Radit.


" Kamu capek yank? " Tanya Radit melihat kaki istrinya itu sedang di pijat sang Mama.


" Sedikit doang Mas. "


Radit, Sya dan Mama Farida ngobrol sebentar. Sebelum akhirnya Mama Farida berpamitan untuk menemui Ayah Dodi.


" Kamu beneran nggak papa kan yank? " Tanya Radit memastikan.


" Enggak Mas, tadi Mama cuma pengen pijitin kaki aku aja kok. " Jawab Sya seraya tersenyum.


" Aku laper, temenin makan yuk. " Ujar Radit mengajak Sya.


" Mas belum makan? "Tanya Sya kepada Radit dan mendapat gelengan kepala dari sang suami.


" Ya udah ayo. " Sya beranjak dari duduknya dibantu oleh Radit.


Sebenarnya Sya bisa sendiri karena kehamilannya belum terlalu besar, tapi Radit selalu memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Sya tidak keberatan sih, karena ini adalah bentuk perhatian dari Radit untuk dirinya dan juga calon bayi mereka.


" Kamu duduk aja, biar aku ambil sendiri. " Ujar Radit kepada Sya.


Sya menganggukkan kepalanya.


" Mau? " Tanya Radit kepada Sya.


" Enggak Mas, aku udah makan tadi. " Jawab Sya menolak.


" Disuapin Mama ya? " Tanya Radit setengah meledek sang istri.


" Haha... Iya dong. " Jawab Sya dengan bangga.


Radit hanya tertawa mendengar jawaban Sya.


Namun, melihat Radit yang makan dengan lahap membuat dia merasa ingin makan juga.


" Mas, aku mau... " Ujar Sya kepada Radit.


Radit menoleh kearah Sya yang sedang menatap minat kearahnya.


" Mau apa sayang? " Tanya Radit tidak paham.


" Mau makan juga, liat Mas makan jadi pengen lagi. " Jawab Sya dengan wajah polosnya.


" Haha... ya udah ini.. aaa.. " Samudera menyuapi Sya dengan tangannya.


Karena mereka makan berdua tentu saja lebih cepat habis.


" Mau lagi? " Tanya Radit kepada Sya.


" Boleh. " Jawab Sya.


Radit tersenyum karena nafsu makan Sya yang bagus itu. Jika di luar sana banyak ibu hamil yang bahkan sampai tidak mau makan. Tapi Radit bersyukur karena Sya justru tidak pernah menolak makanan yang masuk kedalam perutnya.


Radit mengambil nasi dan lauk lagi, kemudian menyuapi Sya.


" Ternyata makan disuapin Mas enak ya. " Ujar Sya seru tertawa kecil.


" Jelas dong, aku suapin kamu itu pake cinta juga soalnya. " Jawab Radit juga tertawa.


...***...


" Mas, kamu pengennya dedek bayi cewek atau cowok? " Tanya Sya kepada Radit.


Saat ini mereka sudah ada di kamar. Setelah membersihkan diri tadi Sya dan Radit sedang duduk di ranjang.


" Aku cewek atau cowok nggak masalah sayang. Yang penting kamu dan dedek bayi nantinya sehat. " Jawab Radit seraya menciumi puncak kepala Sya. Ya, Sya memang sedang bersandar di dada Radit.


" Iya kalau itu aku juga Mas. Tapi kalo bisa memilih kamu maunya apa? " Sya masih tidak puas dengan jawaban yang Radit berikan.


" Eehhmm, perempuan boleh juga. Karena Kendra kan cowok biar nantinya jadi sepasang kalo adeknya cewek kan. " Jawab Radit.


" Terus kalo dedeknya udah lahir, Mas mau buatin berapa adek lagi buat Kendra? " Tanya Sya kepada Radit.


" 4 lagi boleh, tapi aku nggak mau maksa kamu. Karena kan yang ngerasain hamil dan melahirkan sayang. Jadi sekuatnya kamu aja. " Ujar Radit seraya tersenyum. Ya, Radit tidak mau menuntut Sya untuk memberikan berapa anak untuknya. Karena dengan adanya Sya dan kedua anak mereka nantinya saja sudah lebih dari cukup untuknya. Radit sadar kalo hamil dan melahirkan itu bukan perkara yang mudah.


" Iihh, Mas kok so sweet banget sih. " Ujar Sya menggoda Radit.


" Kamu baru tau sayang? Selama ini kemana aja? " Tanya Radit dengan gemas.


" Enggak kemana-mana. Kan aku selalu ada di hatimu Mas. " Jawab Sya seraya tertawa.


" Ooo sekarang udah mulai pinter gombal ya. " Ujar Radit menciumi wajah Sya.


" Kan di ajarin sama kamu. "