Baby... I Love You

Baby... I Love You
Pahlawan Kendra



Tidak terasa sudah lebih dari 3 bulan usia pernikahan Radit dan Sya. Banyak hal baru yang mereka temui satu sama lain. Sebuah kebiasaan yang mana sebelumnya belum mereka ketahui sebelumnya.


Semakin hari Kendra dan Radit manjadi semakin bersaing untuk mendapatkan perhatian Sya. Dan ya, tidak akan ada salah satu diantara mereka yang akan mengalah jika bukan Sya yang memilihnya. Dan tentu saja Sya selalu berpihak kepada Kendra. Karena biar bagaimana pun Radit itu sudah terlalu tua untuk bersikap ke kanak-kanakan seperti Kendra.


Namun meski begitu, Kendra justru akan bersikap manja kepada Radit jika dia sedang sakit atau sedang merasa tidak enak badan. Kenapa begitu? itu karena Kendra terlalu menyayangi Sya hingga dia tidak ingin merepotkan Bundanya. Kendra tidak ingin melihat Bundanya sedih. Hal ini pernah terjadi saat Kendra demam tengah malam. Sya yang baru pertama kali mendapati Kendra yang sakit seperti itu begitu panik hingga tanpa sadar menangis. Dan Kendra melihat itu semua, maka dari itu Kendra tidak mau membuat Bundanya itu sedih apalagi karena dirinya.


" Bundaaaaaa...... " Teriak Kendra dari ruang keluarga.


" Ya sayang, sebentar Bunda lagi masakin buat makan siang dulu ya. " Jawab Sya dari dapur.


Ya, sekarang mereka ada di rumah karena ini adalah weekend. Dan karena mereka tidak ada rencana untuk pergi kemana-mana jadilah mereka hanya di rumah saja.


" Sayang.... " Panggil Radit kepada Sya.


Sekarang ini Radit memang ada di dapur untuk membantu istrinya itu memasak. Bukan membantu memasak yang sebenarnya, karena lebih tepatnya menempeli Sya. Dan ini tentu saja membuat ruang gerak Sya menjadi terbatas.


" Apa sih Mas, lepas dulu ihhh. Atau kalo nggak sana temenin Kendra. Biar aku sendiri aja masaknya. " Bagaimana Sya tidak kesal coba kalau Radit terus memeluknya padahal saat ini Sya sedang menggoreng tempe.


" Kok gitu sih, kamu nggak mau aku temenin? " Tanya Radit kepada Sya.


" Sebenarnya mau-mau aja, tapi nggak gini juga Mas. Kamu kan bisa duduk di sana, atau nggak bantu aku potong-potong sayur atau ayam buat bikin sop. " Jawab Sya sedikit kesal.


Dengan di temani oleh Radit ini bukannya membantu Sya meringankan pekerjaannya tapi justru semakin merepotkannya.


" Ya aku kan nggak bisa. " Ujar Radit santai seolah dia tidak memiliki dosa apapun.


Sya hanya menghela nafasnya pelan.


" Iihh kamu makin cantik deh. " Bisik Radit di telinga Sya.


" Mas, lepasin nggak. Nanti ada Mbok Inah sama Mbak Tidak loh. " Ujar Sya seraya mencoba untuk melepaskan belitan tangan Radit di pinggangnya.


" Nggak mau. "


" Beneran nggak mau? " Tanya Sya.


" Heem. " Jawab Radit seraya menganggukkan kepalanya.


" Oke, baiklah. " Sya terdiam sejenak kemudian berteriak sedikit keras " Kendra ini Ayah gangguin Bunda.. " Ujar Sya mengadu kepada Kendra. Dan benar saja, tidak sampai 10 detik Kendra datang dengan berlari.


" Ayahh, nggak boleh nakal sama Bunda. " Ujar Kendra seraya berteriak memanggil Radit. Wajah bocah cilik itu terlihat seperti akan marah.


Radit yang melihatnya seketika mengangkat kedua tangannya seperti seorang tersangka yang tertangkap polisi. Radit menyerah jika Kendra sudah seperti itu.


" Iya iya, Ayah nggak jadi gangguin Bunda. " Ujar Radit dengan pasrah.


Sya yang melihatnya seketika tertawa karena pahlawan kecilnya itu berhasil menyelamatkannya dari perangkap sang predator.


" Bunda nggak papa kan? Ayah tadi nakalin Bunda apa bial nanti Kendla bales. " Ujar Kendra menghampiri Sya.


Radit yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal. Memangnya nakalin Bunda yang Kendra maksud itu apa? Nggak mungkin lah dia menyakiti Sya sedangkan wanita itu sudah seperti separuh jiwanya. Ujar Radit dalam hati.


" Enggak sayang. Ayah tadi belum sempet nakalin Bunda kok. Kan Kendra tadi cepet datengnya. " Ujar Sya seraya tersenyum manis.


" Nanti malem kamu nggak bakal aku lepasin. Dan saat itu Kendra juga nggak akan bisa nyelametin kamu dari aku. " Bisik Radit ditelinga Sya. Baru setelahnya Radit duduk di kursinya tidak lupa dengan sebuah senyum kemenangan di wajahnya.


Sya yang mendengar ucapan Radit itu merasa sedikit merinding. Tapi biarlah, yang penting sekarang dia terlepas dari Radit.


Jadilah sekarang Kendra ikut menemani Sya memasak karena dia takut Ayahnya itu akan mengganggu sang Bunda.


...***...


" Bunda, dedek bayi udah ada di pelut Bunda belum? " Tanya Kendra kepada Sya. Saat ini Sya sedang menemani Kendra tidur seperti biasa.


" Hmm? Kayaknya belum deh, Kendra sabar ya, dan jangan lupa harus lebih banyak berdoa juga biar dedek bayi cepet-cepet ada di perut Bunda. " Jawab Sya seraya mengusap lembut rambut halus Kendra.


" Emang dedeknya belum mau dateng ke pelut Bunda? " Tanya Kendra lagi. Sya bingung harus menjawab apa. Bukannya Sya dan Radit sengaja menunda untuk memiliki momongan. Tapi memang belum di berikan oleh Allah SWT.


" Iya, karena Allah belum mengijinkan. " Jawab Sya dengan lembut.


Kendra menganggukkan kepalanya paham. Bocah cilik itu tidak bertanya apa-apa lagi karena memang sudah mengantuk.


" Ya udah, yukk bobok. " Ujar Sya kepada Kendra. Dengan cepat Kendra memeluk Sya seperti dia memeluk sebuah bantal guling.


Dan lagi-lagi Sya tertidur di kamar Kendra melupakan Radit yang sedang menunggunya di kamar mereka.


...***...


Seperti malam-malam sebelumnya Radit harus memindahkan Sya ke kamar mereka.


" Kamu tuh kebiasaan, nggak inget kalo suami lagi nungguin di kamar sendirian plus kedinginan. Memang istri nggak peka. Tapi kenapa aku malah jatuh cinta setiap hari ke kamu ya. " Ujar Radit berbicara sendiri seraya mengusap rambut Sya dengan lembut.


" Sayang, beneran kamu nggak mau bangun nih? " Ujar Radit pelan. Sebenarnya dia ingin membangunkan Sya tapi tidak tega. Namun tetap saja Radit ingin Sya membuka matanya. Jadi sekarang apa yang harus Radit lakukan?


Radit mencolek kedua pipi Sya pelan. Dan sentuhan itu ternyata berhasil membangunkan Sya dari tidurnya.


" Eehmmm... Mass, kenapa sih? Aku ngantuk. "Ujar Sya dengan suara khas orang bangun tidur.


" Maaf ya, aku bangunin kamu yah? " Tanya Radit seolah itu semua memang tidak disengaja.


" Ya menurut kamu aja gimana. " Jawab Sya kesal, namun matanya tetap menutup rapat seolah ada seseorang yang merekatkan lem di matanya.


" Ya maaf, abis kamu tidur duluan sih nggak pernah inget aku. " Ujar Radit merajuk.


Sya membuka matanya.


" Terus Mas maunya gimana? " Tanya Sya menatap Radit sayu.


" Maunya aku tidur dipelukan kamu terus kamu usap-usap rambut aku kayak waktu kamu nidurin Kendra. " Jawab Radit seraya tersenyum.


Rupanya bayi besar Sya ini sedang dalam mode manjanya.


" Ya udah, sini bayi besar biar Bunda usap rambut sama puk-puk punggungnya. " Ujar Sya kepada Radit.


Dengan senang hati Radit masuk kedalam pelukan Sya. Namun saat pagi menjelang posisi itu tentu saja berubah dengan sebaliknya. Sya menjadi ada di dalam pelukan sang suami.