
" Assalamu'alaikum. " Salam Sya setelah dia sampai di ruang keluarga.
" Bundaaaaaa...... " Ya sudah bisa ditebak, itu adalah suara teriakan dari Kendra.
Semua orang langsung menatap kearah Sya dan Radit.
" Alhamdulillah udah sampe, sini sayang. Kenalin ini Rida adiknya Radit. Kamu baru ketemu kan sama putri Mama ini. " Ujar Mama Riana kepada Sya. Radit yang ada dibelakangnya hanya mengekori langkah kemana langkah Sya.
" Haii, kenalin aku Rida, adeknya Mas Radit. Dan ini anak aku namanya Aurel. " Ujar Rida dengan ceria. Ya, Rida memang memiliki sifat riang seperti Mama Riana. Jadi dia sangat mudah akrab dengan seseorang.
" Haii Mbak, aku Sya. " Jawab Sya tersenyum seraya menjabat tangan Rida.
" Jangan panggil Mbak dong, aku kan jadi ngerasa tua. Panggil Rida aja, walaupun aku tau kamu lebih muda dari aku, tapi kan kamu bakal jadi kakak ipar aku. " Ujar Rida seraya tertawa kecil dan membuat pipi Sya menjadi merah.
Radit yang duduk di sebelah Sya tentu saja ikut tersenyum melihat Sya yang sepertinya sedang malu itu.
" Hehehe... Kan belum pasti Mbak. " Jawab Sya tanpa sadar.
" Belum pasti apaan. Setelah Fardan lamar pacarnya, sesuai kesepakatan kita aku juga bakal lamar kamu sayang. " Ujar Radit tidak terima mendengar jawaban dari Sya.
" Hahaha... kamu udah nggak sabar banget sih Mas. " Ejek Rida kepada Radit.
" Bukan gitu, asal kamu tau aja. Saingan aku banyak, muda-muda lagi. " Ujar Radit kesal.
" Iyalah, secara Sya cantik. "
Sya yang mendengar percakapan adik dan kakak itu menjadi bingung sendiri. Lah emang saingan Radit siapa? Setaunya tidak ada yang sedang melakukan pendekatan sama dia selain selain Radit.
" Bunda... " Kendra mendudukkan dirinya dipangkuan Sya meninggalkan Aurel yang sedang bermain dengan bonekanya. " Kendla kangen sama Bunda, nanti Bunda bobok sini lagi ya sama Kendla. " Kendra memeluk leher Sya dengan sedikit erat.
" Abang jangan kenceng-kenceng peluknya, nanti Bunda sesek nggak bisa nafas. " Ujar Radit kepada Kendra. Selama ada Aurel maka semua orang akan memanggil Kendra dengan sebutan Abang agar Aurel juga mengikuti memanggil Kendra Abang. Karena dulu saat baru belajar berbicara Aurel pernah memanggil Kendra dengan nama.
" Iya, Bunda juga kangen kok sama Kendra. Tapi kayaknya nanti Bunda nggak bisa nginep sini, soalnya Bunda harus pulang dulu. " Ujar Sya menjelaskan.
" Tapi Kendla mau bobok sama Bunda. " Jawab Kendra memelas.
" Iya nanti Bunda bobok sini. " Ujar Radit menimpali.
" Mas... " Seru Sya tidak terima mendengar ucapan Radit.
Radit hanya mengedipkan matanya.
" Iya kan Bunda? " Ujar Radit kepada Sya.
" Iya. " Jawab Sya setelah mengerti kode yang Radit berikan.
" Holeee.... Ya sudah Kendla mau main sama dedek Ulel lagi. " Ujar Kendra seraya turun dari pangkuan Sya, namun sebelum itu tidak lupa dia mencium pipi Sya.
Rida melihat interaksi itu tersenyum haru. Setelah sekian lamanya Kendra tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, ternyata ada perempuan yang begitu baik hatinya mau menyayangi Kendra. Walaupun baru saja mengenal Sya dan hanya mendengar tentang Sya melalui Mama Riana, tapi Rida yakin jika Sya orang yang baik dan dia pantas mendampingi Radit dan menjadi ibu untuk Kendra.
" Mas, kok kamu bohong sih sama Kendra. Aku kan nggak bisa nginep. " Ujar Sya kepada Radit.
" Aku nggak bohong kok. Kendra kan mintanya tidur sama kamu. Nanti kalo udah Kendranya udah tidur, baru aku anter kamu ke kosan. Kamu cuma perlu nemenin Kendra sampe tidur doang kok sayang. Toh Kendra biasanya jam 8 udah tidur." Ujar Radit tersenyum memberikan alasan.
" Kalo Kendra boboknya malem gimana? " Tanya Sya kepada Radit.
" Ya udah, berarti kamu emang harus nginep disini. " Jawab Radit santai.
" Iihh, kamu mah gitu. " Ujar Sya cemberut.
Lagi-lagi Rida tersenyum melihat interaksi antara kakaknya dan calon kakak iparnya itu. Mereka sangat cute menurut Rida. Ternyata Sya bisa melelehkan sifat dingin Radit. Padahal dulu saat bersama Audrey Radit tidak sehangat ini. Dia masih terlihat cuek dan masa bodo.
" Makan dulu yuk, udah siang. Mama sama Mbok Inah udah masak banyak. " Ujar Mama Riana keluar dari pintu dapur. " Oo iya, Rida tolong Papa sama suami kamu di panggil. Mereka ada di taman belakang. " Ujar Mama Riana menambahkan.
" Yuk ke ruang makan, kita tunggu disana. " Ujar Radit kepada Sya.
" Tunggu dulu Mas. "
Sya beranjak ke arah Kendra dan Aurel yang sedang bermain. Kendra dengan robot-robotannya sedangkan Aurel masih dengan bonekanya.
" Isshh dedek embul cantik banget sih sayang. Namanya siapa? " Sya mendekat duduk disamping Aurel. Sedangkan Aurel yang merasa ada seseorang disampingnya mendongakkan kepala dan tersenyum memamerkan giginya yang masih sedikit itu.
" Dedek Ulel ini Bundanya Abang Kendra. " Ujar Kendra memperkenalkan Sya kepada Aurel.
" Nda.. Ndana Bang Enda. " Ujar Aurel dengan ucapan yang tidak jelas. Ya, karena usia Aurel baru 1 setengah tahun.
" Ihhh, Bunda gemes sama kamu. " Ujar Sya menciumi pipi gembul Aurel.
" Nanti kita buat yang lebih lucu dari Aurel kalo udah halal ya sayang. " Bisik Radit di telinga Sya. Sejak kapan Radit ikut duduk di belakang Sya?
" Iihh, Mas apaan sih. Mesum. " Ujar Sya cemberut. Tidak lupa tangannya ikut mencubit lengan Radit.
" Hahaha... " Radit justru tertawa melihat wajah Sya yang memerah lagi. " Bukan mesum sayang. "
" Bunda Abang Kendla juga mau dicium. " Sepertinya Kendra iri melihat Sya yang mencium pipi Aurel.
" Cup.. " Sya menuruti permintaan Kendra.
" Ayah juga mau di cium dong. " Ujar Radit dengan suara yang sengaja dia keraskan agar Kendra juga mendengarnya.
" Noo, Bunda punya Abang Kendla. Bunda nggak boleh cium-cium Ayah. " Kendra langsung beranjak dari duduknya dan merentangkan tangannya menghalau Radit yang akan menyodorkan pipinya kearah Sya.
" Hahaha.... " Sya tertawa melihat aksi Kendra. Sukurin tuh, makanya jangan suka mesum. Ujar Sya dalam hati.
" Ihh, pelit nih Abang. " Ujar Radit memanyunkan bibirnya.
Aurel yang melihat Sya tertawa juga ikut tertawa seperti sedang meledek Radit yang sedang galau karena tidak mendapat ciuman di pipinya.
" Hihihi.... " Suara tawa Aurel membuat Radit menolehkan perhatiannya ke bayi gembul itu.
" Ini kenapa bayi bakpao ikut ngetawain Ayah hemmm.... Kamu ngejek Ayah yah. " Ujar Radit menciumi pipi Aurel bertubi-tubi. Tentu saja Aurel semakin tertawa karena perlakuan Radit yang membuatnya geli itu.
Ya, Aurel memang memanggil Radit dengan sebutan Ayah karena memang Radit yang mengajarkannya. Aurel sudah seperti putrinya sendiri. Kasih sayang yang dia berikan kepada Kendra maupun Aurel sama besarnya.
" Yah... yah.... " Aurel berbicara dengan tidak jelas.
" Kenapa hem? Mau ngomong apa? Coba yang jelas biar Ayah bisa tau Aurel pengen apa? " Ujar Radit meledek bayi gembul itu.
"Hihi...Yah.. Bang... Ndaa..." Ujar Aurel tekikik sendiri.
" Ini kenapa malah ketawa sih, bikin Ayah tambah gemes aja. " Ujar Radit menciumi pipi Aurel.
" Pipi anak gue lama-lama kempes kalo lo ciumin terus Mas. " Ujar seorang laki-laki dari belakang Sya.
" Biarin. " Jawab Radit santai.
Sya menolehkan kepala kearah sumber suara.
" Loh Mas Raga? " Ucap Sya dengan antusias.
" Sya? Kok kamu disini? " Raga bingung dengan kehadiran Sya di rumah mertuanya ini.
" Kalian saling kenal? " Tanya Radit bingung.