
Setelah membuka hampir 50 paket yang Radit beli, Sya menatap ke penjuru ruangan yang menjadi sangat berantakan. Baju dan perlengkapan bayi bertumpuk sangat banyak, di tambah lagi dengan mainan dan stroler. Memang bayi mana yang saat baru lahir akan langsung bermain. Belum lagi plastik-plastik pembungkus dan juga buble wrap yang ikut berserakan.
"Capek Mas... Ini banyak banget." Ujar Sya kepada Radit, sudah hampir 2 jam dia duduk disini membuka bungkusan paket.
"Ya udah sekarang istirahat aja. Ini buat besok lagi." Ujar Radit kepada Sya, sebenarnya Radit masih sangat antusias untuk membuka paket-paket ini, tapi karena Sya sudah lelah Radit memintanya untuk melanjutkan besok saja.
"Tapi ini berantakan banget, kasian dong besok kalau Mbok Inah sama Mbak Tinah beresinnya." Ujar Sya.
Sya tidak tega kalau harus meminta kedua asisten rumah tangganya itu untuk membersihkan kekacauan yang dia dan Radit buat, pasti mereka juga sudah lelah dengan pekerjaan rumah lainnya kan.
"Ya terus mau kamu gimana sayang? Emang kamu masih kuat kalau harus beresin juga?" Tanya Radit kepada Sya.
Sya menggelengkan kepalanya, melihat ini saja sudah membuat kepalanya menjadi pusing, Sya paling tidak tahan dengan segala sesuatu yang berantakan.
"Ya enggak sih Mas, jadi gimana dong?" Tanya Sya kepada Raditt.
"Jadi kamu pengennya aku harus gimana sayang?" Tanya Radit dengan sabar, menghadapi keinginan ibu hamil memang bukan suatu hal yang mudah.
"Eemm, Mas yang beresin aja gimana?" Ujar Sya kepada Radit.
Mendengar ucapan Sya, Radit langsung menghela nafas berat.
"Kamu nggak tega kalo Mbok Inah sama Mbak Tinah yang beresin ini semua tapi kamu tega nyuruh aku yang beresin." Ujar Radit kepada Sya.
Mendengar ucapan Radit, mata Sya kmbali berkaca-kaca menahan tangis seperti tadi saat di mobil.
"Maaf Mas, sebenernya aku juga enggak tega buat nyuruh kamu yang beresin ini semua, tapi nggak tau kenapa aku pengen liat kamu beres-beres." Jawab Sya memberikan alasan kepada Radit.
Tapi Sya memang tidak berbohong, dia sangat ingin melihat Radit yang berjalan mondar-mandir seraya memegang sapu dan membersihkan ini semua.
"Huusshh, iya iya aku tau...Udah cup jangan nangis dong, ini aku bakal beresin semuanya seperti yang kamu minta." Ujar Radit seraya membawa Sya kedalam pelukannya. Tingkat kesensitifan Sya menurut Radit justru semakin bertambah seiring dengan usia kandungannya yang semakin membesar. Padahal Radit kira wanita hamil hanya akan lebih sensitif saat usia kandungannya masih trimester awal saja.
Radit mendudukan Sya di sofa setelah istrinya itu berhenti menangis. Sekarang ganti Radit yang menjalankan permintaan Sya, dimulai dari memebersihkan bungkus paket yang berserakan, Radit berjalan mondar mandir untuk membuangnya. Ini seperti yang Sya harapkan, tapi baru 5 menit Radit memulainya Sya justru merasa tidak tega.
"Mas Radit...." Panggil Sya kepada Radit.
Radit yang merasa namanya di panggil langsung menolehkan wajahnya kepada Sya.
"Hemm... Kenapa sayang?" Tanya Radit seraya menatap bingung kepada Sya.
"Udah itu buat besok aja, aku mau tidur sama kamu." Jawab Sya kepada Radit. Hal ini membuat Radit langsung mengembangkan senyum lebarnya. Apa tadi Sya bilang? Dia ingin tidur bersamanya? Radit tidak salah mendengarnya kan?
Melihat Radit yag sepertinya salah menangkap maksud dari ucapannya, Sya langsung buru-buru menjelaskkannya.
"Ini tidur beneran tidur ya Mas, bukan tidur seperti yang ada di isi kepala kamu." Ujar Sya kepada Radit.
Mendengar penjelasan dari Sya, senyum Radit masih saja tidak luntur. Inti dari ucapan Sya yang Radit tangkap hanyalah tidur, Radit tidak peduli tidur yang seperti apa, yang penting mereka akan masuk kamar. Setelah itu biar nanti menjadi urusan belakangan.
"Ya udah ayo ke kamar." Ujar Radit kepada Sya.
Sya beranjak dari duduknya, dan dengan cepat Radit langsung membawa Sya kedalam gendongannya yang seketika membuat Sya memekik kecil.
"Mas aku bisa jalan sendiri." Ujar Sya kepada Radit.
"Aku gendong aja sayang, biar kita cepet sampai kamarnya." Jawab Radit santai.
"Tapi aku berat Mas...."
"Enggak, kamu masih terasa ringan di gendongan aku." Jawab Radit final.
Selagi menunggu Radit dan Kendra bersiap, Sya turun ke dapur untuk membuatkan Radit dan Kendra sarapan. Namun saat Sya berjalan menuju dapur, Sya mendapati kalau ruang keluarga sudah kembali rapi.
"Mbok, itu yang ngeberesin ruang keluarga siapa?" Tanya Sya kepada Mbok Inah.
"Itu Mbak Sya, saya sama Tinah yang beresin di suruh Pak Radit, katanya disuruh di simpen di kamar tamu saja." Jawab Mbok Inah menjelaskan.
Sya menganggukan kepalanya.
"Ooo, kalau gitu terimakasih ya Mbok." UJar Sya kepada Mbok Inah.
Sya sudah merasa biasa saja saat Mbok Inah bilang kalau Radit yang meminta bantuannya untuk membereskan paket-paket tadi malam, mungkin benar kalau keinginan Sya yang semalam memang keinginan dari dedek bayi yang ingin melihat Ayahnya kesusahan. Sya tersenyum mengingat betapa sensitif dirinya tadi malam. Sya tidak menyangka kalau dia bisa berubah begitu drastis. Dan untungnya Radit begitu sabar menghadapi tingkahnya yang tidak dapat di tebak ini.
Tidak lama kemudian Kendra dan Radit turun, mereka memakan sarapannya dengan tenang. Seperti biasa Sya melakukan tugasnya untuk memasangkan dasi Radit.
"Sekolah yang pinter ya Bang, nurut sama Miss dan tidak boleh nakal sama temen." Ujar Sya memberikan nasehat kepada Kendra sebelum bocah tampan itu berangkat sekolah.
"Iya Bunda, Abang bakal inget-inget telus pesen Bunda." Jawab Kendra seraya tersenyum. Setelah menciup tangan Sya dan mendapatkan ciuman dipipi dari sang Bunda, Kendra langsung berlari untuk masuk mobil meninggalkan Sya bersama Radit.
"Kamu hati-hati di rumah sayang, kalau butuh apa-apa langsung kabari aku." Ujar Radit kepada Sya.
"Iya Mas, udah sana kamu berangkat. Semangat kerjanya." Ujar Sya seraya mengepalkan tangannya kepada Radit.
Radit tersenyum melihat tingkah menggemaskan Sya ini. Setelah mencium kening Sya, Radit masuk kedalam mobil dimana Kendra sudah menunggu.
Melihat mobil yag sudah menghilang dari pandangannya, Sya masuk kedalam rumah. Seperti biasa dia akan duduk di ruang keluarga untuk memainkan ponselnya. Baru saja Sya mengaktifkan data selulernya, terlihat gambar buah strawberry muncul sebagai iklan.
Tiba-tiba keinginan untuk memakan buah strawberry di kebunnya langsung muncul di kepala Sya.
Apa dia harus menghubungi Radit? Suaminya itu bahkan baru berangkat belum ada 5 menit, dan dapat dipastikan dia belum sampai di kantor. Ujar Sya dalam hati.