
Setelah tadi malam begadang membantu mengerjakan tugas milik Dita hingga pukul 1 malam, Sya terbangun pagi harinya agak sedikit terlambat. Untung saja tadi malam sebelum tidur Sya sudah menyetel alarm di jam wekernya dan di ponselnya.
Hari sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan pesawat Fardan akan landing sekitar pukul setengah 7. Sudah tidak ada waktu lagi untuk Sya bersiap. Karena memang jarak antara kosannya dengan Bandara butuh waktu sekitar 20 menit jika menggunakan sepeda motor.
Tanpa mandi terlebih dahulu, Sya hanya membasuh mukanya dan gosok gigi. Mengganti piyama tidurnya dengan kaos lengan pendek dipadu celana kulot hitam dan cardigan juga hitam, tidak lupa juga mengikat rambutnya menjadi satu. Sya keluar kamar dengan sling bag yang tergantung di bahunya dan helm di tangannya.
" Lho Mbak Sya pagi-pagi begini mau kemana Mbak? Bukannya hari ini kantor Mba Sya libur ya? " Tanya Pak Didin yang melihat Sya pagi-pagi seperti ini sudah memanaskan sepeda motornya.
" Mau jemput Mas Fardan di Bandara Pak, saya duluan ya, Assalamu'alaikum." Jawab Sya dengan buru-buru. Sya takut jika nanti Masnya itu menunggu terlalu lama di Bandara.
" Oalahh, Mas Fardan pulang tho." Ujar Pak Didin pelan. " Wa'alaikumsalam Mbak, hati-hati bawa motornya. Jangan ngebut." Teriak Pak Didin agak kencang yang masih bisa didengar oleh Sya.
Sya langsung memelankan laju motornya mendengar ucapan Pak Didin. Biar bagaimana pun dia harus lebih mengutamakan keselamatan. Apapun keadaannya dia tidak boleh tergesa-gesa. Bagaimana kalau tiba-tiba kita sedang apesnya dan ada kejadian tidak terduga nantinya. Lebih baik pelan dan berhati-hati agar selamat sampai tujuan.
Pagi ini tidak terlalu ramai seperti hari biasanya karena memang weekend. Karena mungkin kebanyakan ada beberapa sekolah dan pegawai kantoran yang libur di hari ini. Sya menjalankan motornya dengan kecepatan sedang sambil menikmati semilir angin pagi yang sekarang jarang dia nikmati karena biasanya Sya berangkat ke kantor agak lebih siang dari ini.
Dan benar, Sya sampai di Bandara lebih dari 20 menit. Sekarang sudah pukul setengah 7 lebih 5 menit. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Sya engkau menunggu Fardan diterminal kedatangan. Bandara pagi ini tetap saja ramai seperti hari sebelum-sebelumnya. Sya memilih menunggu Fardan sambil memainkan ponselnya. Hingga tidak lama kemudian ada notif pesan masuk di ponselnya.
ting....
Mas Fardan
Adek dimana? Mas udah diterminal kedatangan.
Tanpa berlama-lama, segera Sya balas pesan dari Fardan.
Adek duduk didekat pintu masuk, pake cardigan item.
Tidak lama kemudian, berdirilah sosok tinggi menjulang dihadapannya. Lelaki berkulit coklat berkaos hitam dengan celana jeans hitam panjang, ransel besar yang ada di punggungnya dan juga lengan menenteng jaket.
" Adek. " Panggil suara itu.
Sya segera mendongakkan kepalanya, kemudian tersenyum cerah seperti anak kecil yang bertemu dengan Ayahnya.
" Iihh Mas, kok sekarang ganteng banget sih." Ujar Sya memeluk tubuh Fardan.
" Apaan kamu muji-muji begitu, pasti ada maunya kan? Lagian kita nggak ketemu baru 3 bulan lalu." Ujar Fardan seraya memeluk dan mencium kening adiknya itu.
" Mas tau aja deh." Ujar Sya terkekeh kecil.
" Adek Mas yang manja ini mau minta apa hem? " Ujar Fardan melepaskan pelukannya.
" Ada deh, pokoknya nanti siang kita ke mall." Ujar Sya tersenyum.
" Eehh... Foto dulu dong Mas." Ujar Sya menghentikan langkah Fardan.
" Nanti aja dek, disini rame." Jawab Fardan.
" Masss. " Kembali Sya mengeluarkan rengekan manjanya.
" Ya udah ayo, sekali aja ya. " Jawab Fardan pada akhirnya mengalah dan memenuhi permintaan adik tersayangnya itu.
Setelah berselfie ria, Sya memposting foto mereka di story whatsappnya dengan caption Welcome my hero yang ditambahkan dengan emoticon cium.
Setelahnya mereka berdua menuju ke parkiran.
" Nggak papa Mas, biar lebih cepet." Jawab Sya santai.
Fardan hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak bisa memarahi adiknya itu.
" Mas, Adek laper, nanti mampir di rumah makan padang ya." Ujar Sya dari belakang.
" Lho adek belum sarapan waktu tadi jemput Mas? " Tanya Fardan.
" Belum, makanya sekarang laper." Jawab Sya santai.
Ditengah perjalanan mereka berhenti untuk mampir di rumah makan Padang.
" Adek aja yang turun, Mas mau makan pake lauk apa? " Tanya Sya kepada Fardan.
" Ayam bakar aja kaya biasa, tapi porsi double ya." Jawab Fardan seraya mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan. " Nih uangnya."
" Mas mah makan banyak aja nggak gendut-gendut." Ujar Sya meledek.
" Kayak kamu enggak aja, kita kan satu gen." Jawab Fardan terkekeh kecil.
" Tapi kan aku makannya nggak sebanyak Mas." Jawab Sya.
Memang gen di keluarganya tidak ada yang gemuk. Tubuh Mama dan Ayah mereka juga masih tetap terjaga sampai sekarang. Walaupun tidak six pack seperti Fardan, setidaknya perut Ayah mereka tidaklah buncit. Begitu juga dengan Mama mereka, tidak terlihat seperti ibu-ibu pada umumnya.
Setelah menerima uang dari Fardan, Sya segera masuk membeli makanan untuk sarapan dirinya dan kakaknya. Tidak lupa juga membelikan untuk Pak Didin.
Setelah menerima makanannya, segera mereka melanjutkan perjalanan ke kosan Sya yang masih sekitar 15 menit perjalanan.
Setibanya dikosan, sudah ada Pak Didin yang menanti mereka di gerbang. Sebenarnya bukan sengaja, karena memang pos satpam bersebelahan dengan pintu gerbang masuk.
" Assalamu'alaikum Pak Didin, gimana kabarnya? Makin bugar aja nih kayaknya." Sapa Fardan kepada Pak Didin yang membukakan pintu gerbang.
" Wa'alaikumsalam, Mas Fardan bisa aja nih. Alhamdulillah mas saya sehat. Liat nih perut bapak malah makin buncit aja." Ujar Pak Didin seraya tertawa kecil.
Fardan dan Sya hanya tertawa mendengar ucapan Pak Didin.
" Oo iya, ini nasi padang buat sarapan Pak." Ujar Sya kepada Pak Didin.
" Oalahh, terimakasih lho Mbak Sya, ngrepotin terus ini. " Ujar Pak Didin menerima bungkusan berisi nasi Padang itu.
" Kalau gitu saya masuk dulu ya Pak, selamat makan." Ujar Sya kepada Pak Didin.
" Saya juga masuk dulu ya Pak. " Ujar Fardan tersenyum ramah.
Dapat Sya lihat jika pintu kamar Dita sudah terkunci dari luar, itu artinya gadis itu sudah berangkat ke kampus. Padahal masih pukul 9 pagi.
" Dek tolong ambilin piring." Ujar Fardan yang sudah kelaparan.
" Iya ini. Cuci muka dulu sana, bersih-bersih. Biar adek yang siapin." Ujar Sya kepada Fardan.
Segera Sya beranjak ke kamar mandi.
Berbeda dengan Sya yang sedang bahagia karena kedatangan kakaknya yang sangat dia rindukan setelah 3 bulan lebih tidak bertemu. Disana ada seorang laki-laki yang sedang berusaha menahan emosinya setelah tadi dia melihat ada sesuatu yang seperti mengusik dirinya di ponsel yang saat ini dia genggam dengan sangat erat.