Baby... I Love You

Baby... I Love You
Tagihan "itu"



"Kenapa? Kamu masih trauma dengan apa yang terjadi kepada Sya?" Tanya Mama Riana kepada Radit.


Radit terdiam tidak menjawab pertanyaan Mama Riana. Radit merasa... Entahlah, apa benar dia merasa trauma?


"Ma..." Sya menggelengkan kepalanya kepada Mama Riana sebagai kode agar tidak lagi membahas mengenai anak. Sya tau kalau Radit masih trauma dengan insiden beberapa bula yang lalu disaat dia terpeleset di dapur dan mengalami pendarahan. Lagi pula usia baby Rendra masih terlalu kecil untuk mulai membahas mengenai adik. Sya akan membicarakan mengenai masalah ini nanti, disaat Radit sudah terlihat lebih siap.Lagi pula Sya berencana untuk hamil lagi saat usia baby Rendra kurang lebih 3-4 tahun, sama dengan jarak antara Kendra dengan baby Rendra.


Mama Riana yang melihat kode yang di berikan Sya seketika langsung terdiam. Dia paham sekali kalau Sya sangat memahami kondisi Radit.


"Ayah, Abang pengen jagung bakar." Ujar Kendra tiba-tiba. Karena posisi Restoran yang langsung menghadap ke pantai membuat Kendra dapat melihat penjual-penjual yang ada di sekitar pantai.


"Ya udah ayo kita beli." Ujar Radit kepada Kendra.




Malam ini Kendra tidur bersama Mama Riana dan Papa Riyan. Jadilah di kamar hanya ada Radit dan Sya, tentunya juga bersama baby Rendra yang sudah tidur dengan nyenyak.



Sya duduk bersandar dipelukan Radit, sedangkan suaminya itu sibuk memainkan rambut Sya yang terurai panjang. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Radit dan Sya hanya diam saling menikmati kebersamaan mereka.



"Yank... " Ujar Radit memanggil Sya. Laki-laki itu dengan halus mengusap lengan halus Sya.



"Hmmm, kenapa Mas?" Tanya Sya kepada Radit. Biasanya jika sudah seperti ini akan ada hal penting yang Radit bicarakan dengannya.



"Kamu beneran pengen punya anak lagi?" Tanya Radit kepada Sya. Entah kenapa Radit merasa kalau dia harus membahas hal ini. Radit juga tidak mau egois dengan melarang Sya untuk hamil lagi sedangkan istrinya itu terlihat begitu menginginkannya.



"Kenapa Mas tanya gitu? Jangan pikirin omongan Mama. Kalau Mas enggak pengen punya anak lagi aku juga enggak papa." Ujar Sya dengan suara lirih. Karena jujur saja, berat untuk Sya bisa mengatakan ini. Tapi Sya juga tidak mau kalau Radit akan dibayang-bayangi dengan ketakutannya jika Sya hamil nanti. Lagi pula dialah yang menyebabkan Radit sampai mengalami trauma seperti ini.



"Aku tanya kamu sayang. Jujur sama aku, kamu pengen punya anak lagi?" Radit tidak menanggapi ucapan Sya, karena yang dia butuhkan saat ini adalah jawaban Sya atas pertanyaannya.



Sya terdiam beberapa saat.


"Ya pengen Mas, aku pengen punya anak perempuan kalau bisa. " Jawab Sya. "Tapi itu enggak usah kamu pikirin Mas, kalau memang kamu enggak mau juga enggak papa kok." Ujar Sya menenangkan Radit.



Radit tersenyum mendengar jawaban Sya.


"Aku juga pengen." Jawab Radit.



Sya yang mendengar jawaban dari Radit seketika beranjak dari dada Radit dan menatap suaminya dalam.


"Maksud Mas?" Tanya Sya kepada Radit.



"Aku juga pengen, aku pengen punya anak lagi dari kamu. Tapi bukan sekarang, karena untuk saat ini aku belum siap." Ujar Radit seraya menghela nafas berat. "Jadi kamu mau kan sedikit bersabar sampai aku siap?" Tanya Radit kepada Sya.



Sya tertawa kecil mendengar ucapan Radit. Apa suaminya itu berpikir kalau Sya ingin hamil sekarang? Hey, tentu saja tidak. Baby Rendra bahkan usianya masih 4 bulan. Ditambah Sya melahirkan secara caesar, tentu butuh waktu lebih lama untuk membuat rahimnya siap kembali.


"Mas dengerin aku. Aku emang pengen hamil lagi, tapi memang bukan sekarang. Kalau untuk sekarang pun aku juga belum siap. Abang dan adek masih terlalu kecil untuk diberi adek lagi." Ujar Sya kepada Radit.



"Jadi bukan sekarang?" Tanya Radit memastikan. Ada sedikit perasaan lega saat mendengar Sya mengatakan kalau bukan saat ini Sya berniat untuk hamil lagi.



Sya terkekeh geli melihat reaksi Radit yang sepertinya lega luar biasa.


"Enggak, mungkin 3 atau 4 tahun lagi. Boleh kan Mas?" Ujar Sya kepada Radit.



"Boleh, kalau itu boleh kok." Jawab Radit seraya menciumi puncak kepala Sya. "Kamu pasang KB yank?" Tanya Radit tiba-tiba.



"Pasanglah, aku juga enggak mau kalau sampai kebobolan." Jawab Sya santai.



"Kamu pasang kapan? Kok aku enggak tau?" Radit memang tidak tau kalau Sya sudah memasang pencegah kehamilan.




Radit menganggukkan kepalanya paham. Waktu itu Radit memang tidak menemani Sya dan baby Rendra karena sedang ada rapat, dan saat itu juga awal-awal Radit mulai sibuk dengan pekerjaannya.



"Jadi kalau kita melakukan *itu* kamu enggak akan hamil kan yank?" Pembahasan Radit tiba-tiba saja berubah haluan. Bagaimana bisa setelah melewati drama melow mengenai kehamilan tiba-tiba Radit justru membicarakan mengenai *itu*.



"Kok jadi bahas *itu* sih Mas." Ujar Sya seraya menekuk wajahnya.



"Jawab dulu sayang, kalau aku sama kamu sekarang melakukan proses pembuatan anak, kamu enggak akan hamil kan?" Radit kekeh menuntut jawaban dari Sya.



"Ya kemungkinan besar enggak, kan aku pake kontrasepsi." Jawab Sya. Dia sudah tau kemana arah pembicaraan Radit.



"Aku mau." Ujar Radit kepada Sya. Ada sebuah seringai yang terpasang di bibirnya.



Sya memelototi Radit begitu dia mendengar ucapan suaminya itu.


"Mau apa?" Tanya Sya berpura-pura bodoh.



"Mau bikin anak tapi yang enggak jadi anak sama kamu." Jawab Radit santai.



"Tapi Mas, disini ada adek loh. Kita tidur seranjang sama dia." Ujar Sya.



"Emangnya kenapa? Toh adek enggak bakal bangun juga. Adek kan jam tidurnya udah mulai teratur." Ujar Radit kepada Sya. Radit begitu menyukai saat dengan perlahan wajah istrinya itu mulai memerah menahan malu.



"Tapi Mas... " Sya masih berusaha menolak permintaan Radit. Bukan apa-apa, Sya benar-benar merasa tidak nyaman jika harus melakukan *itu* di samping putranya.



"Tapi apa sayang. Kita udah lama loh enggak ngelakuin *ibadah itu*. Emangnya kamu enggak pengen?" Radit masih terus berusaha untuk membujuk Sya.



"Ehhmm..."



"Kalau kamu nggak nyaman di ranjang karena ada adek, ya udah kita lakuin disini aja. Kayaknya sofa ini muat buat kita berdua." Ujar Radit menggoda Sya.



"Kamu lupa ya sama apa yang sering aku bilang ke kamu?" Tanya Radit kepada Sya.



"Apa? Emang Mas bilang apa?" Sya benar-benar tidak tau apa yang dimaksud oleh Radit.



"Menolak suami itu dosa." Bisik Radit di telinga Sya.


.


.


.


*Kenapa aku jadi malu sendiri ya nulis part ini🤣*



*Intinya selamat membaca ya temen-temen😂*


*Jangan lupa kritik dan sarannya, kasih tau aku juga kalau ada typo ☺*



*Jangan lupa juga baca* ***Laras for Dani***. *Konflik-konflik disana juga ringan kok😂*



***Terima Kasih*** *😘💕*