Baby... I Love You

Baby... I Love You
Menjelang hari-H



Hari ini adalah persiapan untuk pengajian sebelum besok akad Sya dan Radit dilaksanakan. Pengajian dilakukan di kediaman Sya. Para orang tua begitu semangat mempersiapkan segala sesuatunya. Rumah Sya juga sudah di hias dengan cantik, sedangkan besok akad akan dilaksanakan di sebuah hotel bintang 5. Tentu saja ini semua keinginan Radit yang menginginkan pernikahan dilaksanakan dengan mewah.


" MashaAllah Putri Mama cantik sekali. " Ujar Mama Farida kepada Sya yang saat ini memakai gamish dan menutup rambutnya dengan jilbab.



...photo by Google...


"Iiihhh Mama, adek kan jadi malu. " Jawab Sya tersenyum.


Sya turun ke bawah bersama, disana sudah ramai baik dari keluarganya maupun keluarga Radit. Karena semua dilakukan di Jogja maka segala sesuatu mengenai pernikahan dilakukan di rumah orang tua Sya.


" Bunda cantik. " Ucap Kendra kepada Sya. Begitu melihat Sya turun dari kamarnya, Kendra langsung mendekati Sya. Bocah tampan itu minta di pangku olehnya.


" Terima kasih. Kendra juga ganteng. " Jawab Sya seraya mencium pipi gembul Kendra.


Setelah selesai pengajian, tibalah Radit melamar Sya secara resmi di hadapan orang tua Radit dan orang tua Sya, ada juga para tetua di tempat tinggal Sya.


" Dihadapan Ayah Dodi, Radit akan menyampaikan maksud dan tujuan datang ke rumah ini. Namun sebelumnya Radit ucapkan terima kasih karena sudah menerima kedatangan keluarga Radit. Mungkin akan Radit ceritakan sedikit, bagaimana saat pertama kali Radit berkenalan dengan putri Ayah Dodi dan Mama Farida yang bernama Maureen Calisya Putri. " Radit menceritakan secara singkat bagaimana awal bertemunya dia dengan Sya dan sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.


" Mungkin Radit bukan laki-laki yang sempurna. Tapi inshaAllah dengan Maureen maka kekurangan Radit ini akan terisi hingga menjadi sempurna. Seperti yang kalian ketahui, disini status Radit adalah seorang duda yang memiliki 1 orang putra, tidak di pungkiri jika Radit juga membutuhkan Maureen untuk menjadi seorang Ibu untuk Kendra. Dan sejauh ini Radit merasa bahwa Maureen merupakan wanita yang tepat. Dia wanita baik, sabar, penyayang dan inshaAllah juga sholehah. " Ucap Radit seraya menatap mata Sya yang sudah berkaca-kaca. Ini merupakan kali pertama Radit melakukan ini. Sebelumnya saat bersama Audrey dia tidak melakukannya karena semua dilakukan dengan tema modern.


" Kepada Ayah Dodi dan Mama Farida." Radit berhenti sejenak sambi memandang kedua orang tua Sya. " Dengan mengucap Bismillahirrahmaannirahim pada hari ini Radit berniat untuk melamar putri Ayah dan Mama yang bernama Maureen Calisya Putri untuk menjadi istri Radit. Semoga Ayah dan Mama berkenan memberikan izin dan restu kepada Radit atas lamaran yang Radit ajukan ini." Kembali Radit berhenti sejenak, tatapannya beralih kepada Sya yang sudah meneteskan air mata. " Kepada Maureen Calisya Putri, maukah kamu menjadi pendamping hidup saya dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kita? Menjadi ibu untuk Kendra dan juga calon anak-anak kita? Menjadi ratu dalam rumah tangga kita? Saat ini saya tidak bisa menjanjikan apapun, tapi saya berjanji dengan sekuat tenaga berusaha untuk membuat kamu bahagia baik lahir maupun batin. Saya akan berusaha menjadi Imam yang baik untuk kamu dan calon anak-anak kita. " Ucap Radit dengan lembut. " Radit kira hanya ini yang bisa Radit sampaikan, Radit berharap jika lamaran Radit ini bisa di terima oleh Maureen, Ayah dan Mama, dan juga semua keluarga besar. " Radit mengakhiri kata-katanya dengan menyerahkan segala keputusan kepada keluarga Sya.


" Nak Radit, Ayah tau kamu orang yang baik dan inshaAllah juga mampu menjadi imam yang baik. Namun segala keputusan akan tetap di tangan putri Ayah, bagaimana Sya? " Tanya Ayah Dodi kepada Sya yang tengah menundukkan kepalanya.


Sya mendongakkan kepalanya, dia menatap kearah Ayah Dodi dan juga Radit yang sedang menunggu jawaban darinya.


" Iya, Sya mau. " Jawab Sya pelan.


Semua mengucap syukur mendengar jawaban dari Sya.


Pengajian dan lamaran resmi malam ini berlangsung dengan lancar. Pengajian sebelum akad memang sudah menjadi tradisi. Sedangkan acara lamaran malam ini untuk memperjelas status lamaran kemarin malam meskipun besok sudah akad.


Saat ini Radit dan Sya sedang duduk berbincang berdua. Radit menatap kagum kepada Sya yang saat ini masih menggunakan jilbabnya.


" Mas jangan ngeliatin kayak gitu, aku jadi grogi kan. " Ujar Sya menunduk seraya memainkan kuku jarinya.


" Kamu cantik sekali. Lebih cantik dari kemarin sayang. Aku suka kamu pake jilbab. " Ujar Radit kepada Sya.


" Mas ingin aku berjilbab? " Sya mengangkat kepalanya dan bertanya kepada Radit.


" Ingin, tapi aku tidak mau memaksanya. Perlahan saja sampai kamu siap. " Jawab Radit seraya tersenyum menenangkan. Sungguh Radit tidak akan memaksa Sya menggunakan jilbab, namun jika harus menuruti egonya dia sangat menginginkan Sya memakai jilbab karena dia tidak ingin laki-laki lain melihat keindahan tubuh Sya, meski Sya memang tidak pernah menggunakan pakaian terbuka, namun pikiran laki-laki siapa yang tau bukan? Namun Radit sadar diri, dia juga belum menjadi laki-laki yang baik, terkadang dia masih minum alkohol meski tau itu di larang oleh agama. Jadi semua dia serahkan kepada Sya.


" Tunggu aku siap ya Mas. " Ujar Sya kepada Radit.


Mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal sampai tidak terasa waktu semakin larut.


" Loh, calon penganten kok belum tidur? " Tanya salah seorang bude Sya.


" Hehe, iya bentar lagi Bude. " Jawab Sya tersenyum.


" Jangan malem-malem tidurnya, besok akad jam 10 loh nduk. "


" Iya Bude, ini cuma nemenin Mas Radit sebentar sambil nunggu yang lain. "


Ya, saat ini Radit memang menunggu keluarganya yang entah sedang apa di dalam untuk kembali ke hotel.


.


.


.


Jam menunjukkan pukul setengah 5 pagi, Sya di bangunkan oleh Asti yang memang menemaninya tidur malam ini.


" Sya bangun, udah jam 4. Bentar lagi MUA kamu dateng loh. Cepet mandi, abis itu sholat shubuh dulu. " Ujar Asti menggoyangkan badan Sya.


" Hemm, udah pagi ya? " Sya membuka matanya perlahan.


" Iya, cepet siap-siap dulu. Aku balik ke kamar dulu mau nemuin Mas Fardan. " Asti beranjak dari tidurnya untuk kembali ke kamar Fardan yang saat ini sedang tidur seorang diri karena tadi malam istrinya itu di culik oleh adiknya sendiri untuk menemani tidur.


Sepeninggalnya Asti, Sya segera bangun dari tidurnya untuk mandi sekaligus mengambil wudhu namun tidak menunaikan sholat shubuh karena sedang berhalangan.


Sya berdo'a memohon kepada Allah SWT agar memberikan kelancaran untuk hari ini dan seterusnya. Semoga saja keputusan Sya memilih Radit sebagai calon imamnya adalah keputusan yang tepat. Dan semoga saja mereka nantinya akan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.


Sya terduduk di ranjangnya sambil membaca novel tentang kehidupan pernikahan. Hingga tidak beberapa lama kemudian pintu kamarnya di ketuk.


Tok... tok... tok...


" Mbak Sya... " Panggil seseorang dari luar.


" Iya masuk aja Mbak. " Jawab Sya seraya meletakkan novelnya nya.


Seseorang itu membuka pintu kamarnya dan tersenyum.


" Sudah siap Mbak? "