Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kelahiran ponakan



" Whaaa... Selamat Mas Fardan buat kelahiran dedek bayinya. MashaAllah dedeknya lucu banget, ihh pengen gendong. " Sya menatap gemas ponakan barunya itu. " Ya ampun, nggak nyangka banget Mas udah jadi Papa. Eehh panggilannya mau apa nih? " Ujar Sya dengan antusias.


Tadi pagi Fardan mengabari Sya kalau Asti sudah melahirkan melalui operasi caesar dan bayi mereka berjenis kelamin perempuan.Dan Alhamdulillah baik ibu maupun bayinya sehat tanpa kurang suatu apapun. Asti dan Fardan sekarang ini ada di Jogja, karena memang mereka sudah merencanakan untuk kelahiran anak mereka disana.


Saat ini Sya baru bisa video call dengan Fardan karena Asti masih dalam proses pemulihan pasca operasi. Fardan yang ada di kamar bayi menunjukkan bayi lucu itu kepada Sya. Terlihat menggemaskan dengan pipi merahnya.


" Makasih dek, Mas juga nggak nyangka banget sekarang udah punya anak. " Jawab Fardan dengan senyuman di bibirnya. " Eehmm, mengenai panggilan, Mas pengennya di panggil Ayah aja lah, biar samaan kayak panggilan kita ke Ayah. " Tambah Fardan.


" Sekali lagi selamat Mas, semoga dedek bisa jadi anak yang sholehah, berbakti sama orang tua, dan pinter. Pokoknya semua yang baik-baik. " Ujar Sya mendoakan keponakan kecilnya itu.


" Aamiin, makasih dek. " Jawab Fardan mengaminkan ucapan Sya. " Oo iya, adek mau ngomong sama Mama Ayah nggak? " Tanya Fardan kepada Sya.


" Boleh Mas, Mama sama Ayah di situ? "


Fardan memberikan ponselnya kepada Mama Farida dan Ayah Dodi.


" Assalamu'alaikum Dek. " Ujar Mama Farida memberikan salam. Terlihat ada Ayah Dodi di sampingnya. Wajah bahagiakan begitu terpancar di wajah sepasang suami-istri paruh baya itu. Mendapat cucu pertama adalah sebuah kebahagiaan yang tiada tara.


" Wa'alaikumsalam Mama, Ayah. " Jawab Sya. " Cie dapet cucu pertama. " Juara Sya menggoda orang tuanya.


" Cucu ke dua Dek, kan cucu pertamanya Kendra. " Jawab Ayah Dodi seraya tersenyum, begitu pula dengan Mama Farida.


" Oo iya, Astagfirullah adek lupa. "Jawab Sya. Bagaimana bisa dia melupakan Kendra si bocah tampan itu.


" Adek gimana kabarnya? Radit sama Kendra juga. Sehat kan kalian? " Tanya Mama Farida.


" Alhamdulillah semua sehat Mas. Seperti biasa Mas Radit sibuk di kantor kalau Kendra sekarang lagi sekolah. " Jawab Sya.


Jika kalian bertanya kenapa saat ini Sya tidak ikut Radit ke kantor, itu karena Sya sedang ingin istirahat di rumah. Ternyata tidak seperti yang Sya bayangkan pada awalnya, di kantor terlalu lama dan hanya makan tidur itu terasa membosankan jika dilakukan setiap hari. Dan syukurnya Radit mengerti perasaan Sya.


" Usia kandungan adek udah 6 bulan kan ya? " Tanya Mama Farida.


" Iya Ma, emang kenapa? " Tanya Sya kepada Mamanya itu.


" Nanti kalau 7 bulanan adain syukurannya di Jogja aja ya Dek. " Ujar Mama Farida.


" InshaAllah ya Ma, adek nanti bilang dulu sama Mas Radit. " Jawab Sya seraya tersenyum. Sya tidak keberatan di manapun acara 7 bulanan itu akan di adakan, karena yang terpenting adalah kesehatannya dan juga si jabang bayi. Tapi meski begitu Sya juga harus berdiskusi mengenai keputusan yang akan di ambilnya.


" Iya, kamu diskusiin dulu sama Radit dan keluarganya. " Ujar Mama Farida. Beliau paham karena bagaimana pun mereka berdua sudah bersatu menjadi sebuah keluarga. Jadi apapun keputusan yang di ambil harus hasil dari keputusan kedua belah pihak.


Hampir 1 jam Sya berbicara sama Mama Farida dan Ayah Dodi, akhirnya panggilan video call diakhiri karena mendadak Sya ingin membuat puding. Bayangan puding cokelat dengan siraman fla dan irisan strawberry sebagai toping tiba-tiba membuat lidahnya begitu ingin memakannya.


" Adek mau puding ya? " Ujar Sya seraya mengelus perut buncitnya.


Sya memutuskan untuk turun ke dapur untuk melihat apakah ada bahan-bahan untuk membuatnya atau tidak. Dan ternyata tidak ada. Hanya ada strawberry di kulkas, itu pun hanya tersisa 4 biji saja.


Permasalahannya adalah pasti Radit tidak akan mengijinkan Sya menaiki sepeda motor, apalagi ini menyetirnya sendiri.


Ini masih pukul setengah 9, dan Pak Agus belum juga kembali dari kantor Radit. Lalu dia harus bagaimana? Mau meminta tolong Mbak Tinah dan Mbok Inah pun Sya tidak tega, karena mereka pasti juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Meminta tolong satpam juga Sya merasa tidak enak.


Tapi bayangan lembutnya puding dan segarnya buah strawberry rasanya sangat sulit untuk di tahan. Apa dia harus menghubungi Radit? Tapi bagaimana kalau suaminya itu juga sedang sibuk? Sya takut mengganggu pekerjaan Radit.


Akhirnya Sya memutuskan untuk membeli bahan-bahan yang dia butuhkan lewat online. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi ya? Entahlah, yang penting sekarang Sya bisa membuat puding yang di inginkan dedek bayi.


Namun terlebih dahulu Sya memberitahu Radit.


^^^Direktur Ganteng ❤^^^


^^^Mas....^^^


Baru saja pesan terkirim, hanya hitungan detik saja sudah dibaca oleh suaminya itu. Apa Radit tidak sedang sibuk?


Bukannya dibalas, Radit justru melakukan panggilan video call kepadanya.


" Kenapa sayang? " Baru saja Sya mengangkat, Radit lebih dulu bertanya kepada Sya yang bahkan belum membuka mulutnya sama sekali.


" Hehehe, enggak Mas... Cuma mau minta ijin buat bikin puding. " Ujar Sya memberitahukan maksud dan tujuannya menghubungi Radit.


Ya, Radit melarang Sya untuk melakukan hal yang membuatnya lelah. Sedikit lebay memang, tapi Sya harus menuruti ucapan suaminya itu.


" Kenapa nggak beli aja sayang? " Tanya Radit dengan lembut. Kan, seperti yang sudah Sya duga, Radit pasti akan merasa keberatan dengan permintaannya ini.


" Enggak mau, pengen bikin sendiri. " Jawab Sya lirih. Membayangkan jika Radit akan melarangnya membuat puding membuat sisi sentimentil Sya keluar. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dan tentu saja Radit menyadari itu.


" Mas bukan bilang enggak boleh sayang, Mas cuma memberikan ide biar kamu nggak usah capek-capek buat bikin sendiri. Siapa tau kamu mau. " Ujar Radit dengan selembut mungkin agar Sya tidak jadi meneteskan air matanya.


" Jadi gimana? Boleh enggak? " Tanya Sya langsung pada intinya.


" Iya boleh. Tapi udah ada bahan-bahannya kan di rumah? " Tanya Radit. Pasalnya Radit ngeri jika memikirkan kalau Sya akan membelinya sendiri menaiki motor sendirian. Sedangkan saat ini Pak Agus pasti masih ada di jalan setelah tadi mengantarnya dan Kendra.


" Enggak, aku lagi beli online. Tau kok kalau Mas pasti ngelarang aku buat bawa motor. " Jawab Sya. " Jadi boleh kan? " Tanya Sya sekali lagi memastikan.


" Iya boleh sayang. "


" Yeayyy, Makasih Mas... I love you. " Ujar Sya dengan sangat bahagia karena Radit yang memberikan ijinnya.


" I love you to sayang. " Balas Radit seraya tersenyum.