Baby... I Love You

Baby... I Love You
Radit Manja



Setelah sholat shubuh, Radit kembali tidur karena merasa tubuhnya sedang tidak enak, mohon mungkin efek kejadian semalam. Sedangkan Sya saat ini tidak lagi tidur, dia hanya menatap Radit yang sudah kembali pulas itu. Setelah 10 bulan pernikahan mereka, baru kali ini Sya mendapati Radit yang seperti ini. Biasanya hanya pusing biasa yang akan segera sembuh jika sudah minum susu jahe.


Sembari menunggu mentari terbit menampakkan cahayanya, Sya memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca sebuah buku mengenai parenting. Karena biar bagaimana pun teori-teori yang diajarkan di buku pasti sedikit banyaknya akan berguna nantinya.


Hingga tepat pukul 6 pagi, Kendra terbangun dan masuk ke kamar Sya dan Radit. Sya memang sengaja membuka connecting door agar saat terbangun nanti bocah tampannya itu tidak menggedor pintu yang nantinya akan membuat istirahat Radit terganggu.


" Bunda... " Panggil Kendra masih dengan mata setengah memejam dan mulut menguap. Rambutnya yang sudah mulai panjang itu juga terlihat berantakan. Tapi meski begitu Kendra justru terlihat semakin menggemaskan.


" Anak Bunda udah bangun, sini sayang. " Ujar Sya begitu melihat Kendra. Sya langsung turun dari ranjang untuk menghampiri Kendra.


Kendra menatap ke arah ranjang dimana Radit terbaring dengan kepala yang masih berbalut perban. Bocah tampan itu menatap Radit bingung. Kemudian tatapannya beralih kepada Sya yang berdiri di sampingnya.


" Ayah kenapa Bunda kok kepalanya di pelban? Ayah sakit ya? " Tanya Kendra kepada Sya.


" Iya, Ayah lagi sakit Bang. Kemaren ada sesuatu yang bikin Ayah kebentur kepalanya. Tapi udah nggak papa kok, cuma harus istirahat banyak supaya cepet sembuh. " Ujar Sya kepada Kendra. Sya juga tidak ingin jika harus berbohong kepada Kendra akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Radit.


" Mau ke Ayah. " Ujar Kendra kepada Sya.


Sya menuntun Kendra mendekat kearah ranjang dimana Radit masih tidur, dan membantu bocah tampan itu untuk naik ke ranjang.


" Boleh cium? " Tanya Kendra meminta ijin sang Bunda.


Sya mengangguk kepalanya.


" Boleh dong Bang. " Jawab Sya seraya tersenyum manis.


Kendra langsung mencium dahi Radit yang masih berbalut perban. Dan ini membuat Radit terbangun dari tidurnya.


" Selamat pagi Ayah. " Sapa Kendra begitu melihat Radit membuka matanya.


Radit yang melihat Kendra ada di depannya langsung memperlihatkan senyumnya.


" Selamat pagi juga Bang. " Jawab Radit membalas sapaan Kendra.


Sebenarnya tadi malam sakit di badannya tidak Radit rasakan. Tapi sejak dia bangun untuk sholat shubuh, badannya terasa sakit semua seperti habis di pukuli.


" Ayah istilahat lagi aja. Abang mau mandi sama Bunda kalena hali ini halus berlangkat sekolah. " Ujar Kendra seperti orang dewasa. Radit tersenyum mendengar ucapan Kendra itu. Ya karena biasanya mereka lebih sering bertengkar untuk memperebutkan Sya, tapi sekarang ini Kendra justru begitu manis kepadanya.


" Iya Abang. " Jawab Radit.


" Ayah nggak usah kelja dulu. Kan uangnya masih banyak. Nanti kalo uangnya udah habis balu Ayah boleh kelja lagi. " Ujar Kendra dengan polosnya. Radit dan Sya tentu saja tertawa mendengar ucapan Kendra itu. Darimana Kendra tau kalo uang Radit banyak coba?


" Emang Abang tau dari mana uang Ayah banyak? " Tanya Sya seraya terkekeh geli.


" Di dompet Ayah uangnya banyak kok. Waktu itu Abang liat. Yang melah-melah walnanya. " Jawab Kendra seraya menampilkan wajah polosnya.


Radit dan Sya kembali tertawa karena jawaban yang Kendra berikan. Uang di dompet Radit itu tidak seberapa, bahkan hanya sebuah recehan bagi suaminya itu. Tidak tau saja kalau yang banyak adalah yang tersimpan di kartu-kartu milik Radit. Ujar Sya dalam hati.


...***...


Saat ini Kendra sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


" Abang di antaer Pak Agus aja nggak papa kan? " Tanya Radit kepada Kendra.


Kendra menganggukkan kepalanya.


" Iya enggak papa kok. Abang kan sudah besal. " Jawab Kendra seraya tersenyum menampilkan gigi-gigi susunya yang berderet rapi itu.


" Ya udah, kalau gitu aku anter Abang ke bawah dulu ya Mas. Nanti sarapan kamu aku bawain kesini. Kamu kan juga harus minum obat, jangan sampai lupa kayak tadi malem. " Ujar Sya kepada Radit. Pasalnya tadi malam Radit melupakan obat yang Dokter berikan kepadanya. Obat itu di tinggal di mobil.


Radit yang mendengar ucapan Sya itu langsung menolak. Mana mungkin Radit membiarkan Sya naik turun tangga untuk membawakan nampan berisi makanan untuknya dengan keadaan perut buncit seperti itu. Radit juga tidak selemah itu sebenarnya, dia masih bisa berjalan walaupun agak sedikit pusing dan badannya sakit.


" No, aku ikut kamu ke bawah aja. Aku sarapan di bawah. " Ujar Radit kepada Sya.


" Tapi.... " Sya ingin memprotes ucapan Radit. Namun urung dia lakukan saat melihat Radit yang menggelengkan kepalanya.


Pada akhirnya Sya hanya bisa menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Radit.


" Ya udah ayo. " Ajak Sya kepada Radit.


Radit segera bangun dari ranjangnya.


Mereka bertiga turun ke bawah untuk sarapan. Kendra lebih dulu berjalan di depan. Sedangkan Sya dan Radit berjalan di belakangnya. Dapat Radit lihat bagaimana sulitnya Sya turun tangga dengan perut besar itu. Sya harus ekstra hati-hati karena langkahnya tertutupi dengan perutnya yang buncit. Radit pikir sudah saatnya mereka untuk pindah ke kamar bawah agar lebih memudahkan aktivitas Sya. Baiklah akan dia bicarakan nanti dengan Sya.


Seperti biasa jika sehabis shubuh Sya tidak turun ke dapur, itu berarti Mbok Inah dan Mbak Tinah yang akan memasak. Tadi sehabis shubuh Sya sudah menghubungi Mbak Tinah untuk membuat Radit bubur sebagai sarapannya. Sedangkan Kendra tentu saja tetap setia dengan sereal dan juga susu strawberry nya.


Radit yang melihat bubur sebagai menu sarapannya itu langsung melayangkan tatapan protesnya kepada Sya. Bukannya merasa bersalah, istrinya itu malah tersenyum melihatnya.


Dengan telaten Sya membantu Kendra menghabiskan sarapannya karena jam sudah semakin siang. Baru setelah Kendra menghabiskan sereal dan susunya, Sya dan Radit mengantarkan Kendra ke depan. Memberinya dukungan agar Kendra semangat bersekolah.


Setelahnya Radit dan Sya kembali ke meja makan.


" Sayang, emang nggak ada makanan lagi selain bubur ya? Aku nasi goreng aja deh, kalo nggak roti tawar pake nutella. ' Ujar Radit dengan tatapan memelasnya. Mirip seperti Kendra saat bocah tampan itu menolak untuk makan.


Sya menggelengkan kepalanya.


" Kamu harus makan bubur biar cepet sembuh Mas. Aku suapin ya? " Ujar Sya menawarkan diri.


Dengan semangat Radit menganggukkan kepalanya.


" Iya aku mau. "