Baby... I Love You

Baby... I Love You
Sya tau...



Setelah selesai menghabiskan makan siangnya, Radit langsung berpamitan kepada semua orang untuk pergi ke kamarnya. Saat ini hatinya benar-benar sedang merasa tidak nyaman setelah mendengar dan mengetahui fakta jika Raga yang merupakan adik iparnya sendiri merupakan salah satu laki-laki yang pernah dekat dengan Sya. Radit berusaha untuk tidak cemburu berlebihan seperti ini karena bisa saja Sya tidak nyaman dengan sikapnya ini. Ditambah lagi respon Rida yang sepertinya biasa saja saat tau Sya adalah orang yang disukai suaminya dulu. Kenapa dia tidak bisa seperti Rida yang berpikir rasional bahwa ini semua hanya masa lalu. Kenapa dia menjadi terus memikirkan hal ini? Dan fakta bahwa Sya juga disukai banyak laki-laki membuat Radit merasa posisinya tidak aman.


Tanpa sadar karena terus memikirkan Sya, Radit lupa mengunci pintu kamarnya. Dan tanpa sadar juga saat ini Radit sudah menghisap batang rokok yang sudah dinyalakan. Entah keberanian dari mana sampai Radit berani merokok saat Sya ada dirumah yang sama dengannya, Radit juga tidak tau.


Saat Radit tengah berkelana bersama pikiran dan juga rokoknya, tiba-tiba saja pintu kamarnya di ketuk.


Tok... tok... tok...


" Mas, kamu di dalem kan? Aku masuk ya. " Itu suara Sya.


Radit yang mendengar langsung buru-buru mematikan batang rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah.


Ceklek...


Sya masuk kedalam saat tidak terdengar jawaban dari Radit. Dan secara kebetulan juga ternyata pintu kamar Radit tidak di kunci.


" Mas.... " Panggil Sya pelan.


" Ya. " Jawab Radit pendek.


Radit bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa sebelum Sya masuk ke kamarnya.


Sya yang mendengar jawaban Radit langsung menuju ke arah asal suara. Terlihat Radit sedang duduk di kursinya.


" Mas kamu lagi... " Sya terdiam sejenak.


Radit yang melihatnya langsung merasa was-was karena Sya tida melanjutkan ucapannya.


" Iya, kenapa? " Tanya Radit berusaha sesantai mungkin.


" Nanti setelah kamu selesai lamgsung mandi, jangan deket-deket sama Kendra dan Aurel. Bahaya buat anak kecil. " Sya berbicara dengan suara dinginnya, setelah itu langsung pergi dari hadapan Radit tanpa mengatakan apa pun lagi.


Radit yang melihat Sya pergi begitu saja seketika langsung panik sendiri.


" Sayang dengerin aku dulu. Aku minta maaf. " Ucapan Radit tentu saja langsung menghentikan langkah Sya yang baru saja sampai di depan pintu kamar Radit.


Sya menolehkan badannya menatap Radit yang berdiri tepat di pintu balkonnya.


" Kenapa Mas Radit harus minta maaf? Ini semua hak kamu. Hanya saja aku minta kamu jangan dekat-dekat anak kecil sehabis merokok, nggak baik buat kesehatan mereka. Toh Mas Radit juga udah besar, pasti tau dong mana yang baik dan mana yang enggak. Ya udah aku keluar ya, mau nemenin Kendra sama Aurel main. " Setelahnya Sya benar-benar keluar dari kamar Radit.


Radit terdiam di tempatnya, saat ini dia tidak bisa membaca bagaimana perasaan Sya saat ini. Wajah Sya terlihat biasa saja, tapi caranya bicara terlihat betapa gadis itu terkejut saat tau ternyata dirinya merokok.


Sebenarnya Radit ingin mengejar Sya keluar dan memberikan penjelasan kepada gadis itu. Hanya saja Radit teringat ucapan Sya jika dia harus mandi terlebih dahulu sebelum turun dan bertemu dengan Kendra dan juga Aurel.


.


.


.


Sya terdiam di sofa menemani Kendra dan Aurel yang sedang bermain. Dia masih syok dengan sesuatu yang baru saja dia ketahui tadi. Saat masuk ke kamar Radit, Sya tidak memikirkan apa pun. Namun begitu sampai di balkon dimana Radit duduk, Sya langsung dapat mencium aroma yang sangat dia tidak sukai, yaitu asap rokok.


Niat hati ingin menjelaskan mengenai kejadian tadi Sya urungkan karena dia tidak nyaman dengan bau rokok yang ada di badan Radit. Sya tidak marah, sungguh. Untuk apa dia marah, semua orang memiliki hak masing-masing. Dan jika Radit merokok, maka itu adalah pilihannya. Sya tidak akan melarang, hantu saja Sya tidak mau berdekatan dengan Radit jika laki-laki itu bau rokok.


" Hey, jangan bengong entar kesambet. " Raga datang dengan Rida yang ada di sampingnya.


" Enggak bengong Mas, cuma lagi memikirkan sesuatu. " Jawab Sya santai.


" Kamu apa sih yang dipikirin Sya? Oo iya, bukannya tadi kamu mau ke kamar Mas Radit, nggak jadi? " Tanya Rida kepada Sya.


" Tadi aku udah kesana kok Mbak, Mas Raditnya kayaknya mau istirahat. " Jawab Sya berbohong. Tentu saja dia merasa tidak enak jika harus mengatakan yang sejujurnya.


" Mas Radit masih marah ya? Masih cemburu sama Raga? Ya ampun itu laki kayak bocah aja sih. Cemburu tuh ya liat-liat. Masa sama adik ipar sendiri cemburu sih. " Ujar Rida dengan heran.


" Bang Radit cemburuan, sedangkan kamu nggak pernah cemburuin aku sama sekali. " Ujar Raga kesal.


" Lah aku harus cemburu sama siapa? Temen bisnis kamu aja hampir semua laki-laki semua. Kalau pun aku harus cemburu ya liat-liat juga orangnya, masa sama adik ipar sendiri cemburu. Nggak banget. Emang sih dulu kamu punya cerita masa lalu sama Sya, tapi itu kan dulu banget. " Ujar Rida memberikan alasan.


" Hahaha... Kamu ini, aku tuh pengen sekali-kali di cemburuin sama kamu sayang. " Ujar Raga mengelus kepala Rida pelan.


Sya yang melihatnya hanya bisa tersenyum malu dan mengutuk dalam hati Rida dan Raga yang dengan seenaknya bermesraan di hadapan Sya. Sya memutuskan untuk tidak lagi bergabung dengan pembicaraan ini dan memfokuskan dirinya ke ponsel.


" Kamu nggak akan suka kalo liat gimana aku kalo cemburu. Bakal lebih parah dari Mas Radit. Lagian kamu aja bucin setengah mati ke aku. Aku percaya kamu nggak akan ada main sama wanita lain yank. " Ujar Rida seraya tersenyum lembut.


" Ekhemm... Jangan mesra-mesraan di depan calon istri aku. Pergi sana ke kamar. " Suara dingin itu tiba-tiba terdengar dan mengganggu moment romantis antara sepasang suami-istri itu. Entah dari mana datangnya Radit sampai tiba-tiba sudah ada di belakang Rida dan Raga. Sedangkan Sya masih berpura-pura fokus dengan ponselnya.


" Ihhh, Mas ganggu aja sih. Yuk yank kita pergi aja. " Ujar Rida kepada Raga.


Sepeninggalnya Rida dan Raga, Radit duduk mendekati Sya.


" Sayang, aku minta maaf. Aku bisa jelasin kok kenapa aku ngerokok. " Ujar Radit dengan suara lirih, pasalnya dia takut ucapannya ini terdengar oleh Kendra yang sedang bermain tepat di depan mereka. Mungkin untuk Aurel bayi gemoy itu tidak akan paham. Tapi kalau Kendra, dia sudah mulai paham dan kritis menanyakan sesuatu yang dia dengar dan juga lihat.


" Ya udah, jangan disini. Kita pindah ke depan aja. " Ujar Sya seraya beranjak dari duduknya.


Radit menganggukan kepalanya kemudian mengikuti kemana langkah Sya tertuju.