Baby... I Love You

Baby... I Love You
Sama-sama posesif



Lain dari biasanya, Kendra pagi ini menolak untuk berangkat sekolah. Balita itu terus merengek minta di gendong oleh Sya. Padahal tadi malam Kendra masih seperti biasanya.


Sya pegang dahi Kendra pun suhunya normal, tidak demam. Badannya juga tidak hangat. Dan Kendra juga tidak terlihat pucat.


" Kendra kenapa nggak mau sekolah? Pasti ada alasannya kan, coba cerita sama Bunda. Apa ada yang nakal sama Kendra? " Tanya Sya dengan lembut kepada Kendra yang sekarang ada di gendongannya. Kendra menyerukan wajahnya di leher Sya menolak untuk menatap sang Bunda.


Kendra tetap diam menolak untuk bercerita. Sya hanya bisa menghela nafas mencoba untuk tetap bersabar. Mungkin Kendra sedang ada di fase jenuh seperti anak kecil kebanyakan.


" Sayang.... " Terdengar suara bayi besar memanggilnya. Memang tadi setelah selesai mandi dan sekaligus membangunkan Radit untuk bersiap ke kantor Sya langsung ke kamar Kendra untuk membangunkan bayi kecilnya itu. Dan sampai sekarang Sya masih ada di kamar Kendra. Untung saja tadi pakaian kerja Radit sudah Sya siapkan di atas ranjang.


" Iya Mas.... " Ujar Sya menjawab panggilan dari Radit.


" Sini dong, bantuin aku pake dasi. " Ujar Radit sedikit berteriak.


" Iya sebentar. " Jawab Sya.


Lagi-lagi Sya menghela nafas pelan.


" Jadi Kendra beneran nggak mau berangkat sekolah? " Tanya Sya lembut.


Kendra tetap menggeleng di ceruk leher Sya.


" Bunda tanya loh, nggak baik kalau nggak jawab pertanyaan orang tua, sekarang liat mata Bunda. " Ujar Sya tegas namun tetap lembut. Ini bukan waktunya untuk Sya marah kan. Lagian untuk anak seusia Kendra memang lebih baik banyak diberikan pengertian dan pemahaman dari pada harus di marahi.


Kendra mengangkat kepalanya menatap Sya.


" Kendla hali ini nggak mau belangkat sekolah Bunda, Kendla mau sama Bunda aja. " Jawab Kendra lirih.


" Kendra mau ikut Bunda ke kantor? " Tanya Sya seraya tersenyum manis. Itu dia lakukan agar Kendra tau bahwa dia tidak sedang di marahi. Sehingga nantinya Kendra mau terbuka dan bercerita kepada. Sya.


" Boleh Kendla ikut ke kantol? " Tanya Kendra seraya menatap penuh minat kearah Sya.


" Boleh, tapi sekarang Kendra mandi dulu oke. " Ucap Sya seraya tersenyum.


" Oke.. " Kendra menjawab ajakan Sya itu dengan cerita.


Setelahnya Sya langsung ke kamar mandi untuk memandikan Kendra. Dia lupa jika 10 menit yang lalu Radit memanggilnya untuk membantu laki-laki itu memakai dasinya.


Dan tanpa sepengetahuan Sya, karena terlalu lama menunggu Radit berniat untuk menghampiri Sya, dan sekarang dia berdiri tepat di depan connecting door. Radit mendengar semua percakapan Sya dan Kendra. Dan itu membuat Radit semakin jatuh cinta kepada wanita yang sudah dia nikahi itu. Radit merasa dia sangat beruntung mendapatkan Sya. Wanita itu sangat membawa pengaruh positif di hidupnya.


Disaat Sya yang berstatus sebagai ibu sambung untuk Kendra, wanita itu tidak pernah berlaku buruk kepada anaknya itu. Tidak di pungkiri jika sekarang Kendra jauh lebih dekat dengan Sya di bandingkan dengan dirinya, sampai-sampai kemana pun yang Kendra cari adalah Sya, meskipun Sya hanya ke kamar mandi maka jika Kendra tidak melihatnya dia akan terus mencari.


Radit yang notabene adalah Ayah kandung Kendra saja kadang masih hilang kendali jika Kendra sedang rewel. Tapi Sya yang sebelumnya belum pernah punya anak dan bahkan merupakan anak bungsu di keluarganya yang selalu memanjakannya justru bisa sangat sabar menghadapi Kendra. Sya selalu bisa membuat Kendra menurut kepadanya tanpa sekali saja memarahi putranya.


Seperti biasa jika memandikan Kendra maka baju Sya akan basah. Itu sebabnya Sya tidak pernah langsung menggunakan pakaian kerjanya.


" Loh Mas... " Sya kaget dengan kehadiran Radit di kamar Kendra. " Kok disini? " Tanya Sya kepada Radit.


" Emang kenapa kalau aku disini, aku cuma mau minta tolong kamu buat pakein dasi. " Jawab Radit seraya memperlihatkan dasi yang ada di tangannya.


" Oo iya, aku lupa Mas, maaf ya. Bentar, aku gantiin baju Kendra dulu. " Ujar Sya kepada Radit.


Dengan cekatan Sya memakaikan semuanya kepada Kendra. Dan ya, Kendra sudah semakin tampan sekarang. Wanginya yang candu itu membuat Sya senang sekali menciumi aroma tubuh Kendra.


" Nah udah selesai. " Ujar Sya mengakhiri pekerjaannya dengan menyisir rambut Kendra.


Radit yang melihatnya tanpa sadar mengulum senyumnya.


Radit mendekat ke arah 2 orang tercintanya itu.


" Kendra kenapa nggak mau sekolah hhmm? " Tanya Radit kepada putranya.


" Kendla mau ikut Bunda kelja ke kantol. " Jawab Kendra seraya tersenyum. Ternyata dia lebih takut jika Sya yang marah daripada Radit.


" Kok gitu? "


" Soalnya Kendra mau sama Bunda. " Jawab Kendra polos.


Sya hanya tertawa mendengar jawaban yang Kendra berikan kepada Radit.


" Ya sudah, sini Ayah Bunda bantu pakein dasinya. " Ujar Sya kepada Radit.


Radit terkejut mendengar panggilan Sya untuknya. Ayah? Sya memanggilnya Ayah dan memyebut dirinya sendiri Bunda. Kenapa Radit menjadi merasa sangat bahagia.


' Kamu tadi panggil aku apa sayang? " Tanya Radit kepada Sya.


" Apa? Emang tadi aku panggil apa? " Ujar Sya tidak paham.


" Kamu tadi panggil aku Ayah. " Jawab Radit lirih di telinga Sya.


Sya menjadi gugup karena merasa posisi mereka terlalu dekat.


" Biar Kendra nggak ikut-ikutan Mas, kemarin aja dia panggil aku sayang. Terus manggil kamu Mas. Jadi kalau di depan Kendra aku panggil kamu Ayah aja biar Kendra ngikutin yang bener. " Bisik Sya.


" Udah lepas Mas, ada Kendra loh. " Ujar Sya seraya mendorong pelan dada Radit.


Radit menolehkan kepalanya, terlihat Kendra menatap ke arahnya dengan bibir yang mengerucut. Pertanda jika bocah tampan itu sedang kesal. Radit hanya tersenyum melihatnya. Benar-benar putranya itu sangat posesif jika menyangkut Sya.


" Ayah suka sama panggilan dari Bunda. " Bisik Radit lirih dengan senyum tengil di bibirnya.


Sya segera menjauh dari Radit.


" Sekarang Kendra turun dulu sana sama Ayah, Bunda mau ganti baju dulu siap-siap. " Ujar Sya kepada Kendra. Tidak lupa senyuman manis dia perlihatkan.


" Yukk... " Radit meraih Kendra kedalam gendongan. Dia tidak lagi bertanya mengapa Kendra tidak mau berangkat sekolah. Mungkin untuk kali ini akan Radit berikan sedikit kelonggaran kepada Kendra. Tapi tidak untuk lain waktu, Kendra harus mulai belajar disiplin dan bertanggung jawab dengan pilihannya. Karena sekolah merupakan permintaan dari Kendra sendiri.


" Pake celana panjang aja sayang, dan juga rambutnya jangan di iket ya. " Radit mengingatkan Sya sebelum dia keluar dari kamar Kendra.


Sya memutar bola matanya malas, tidak Ayahnya tidak anaknya semua sama-sama posesif kepadanya.