Baby... I Love You

Baby... I Love You
Terpeleset



Sembari menunggu Radit yang masih dalam perjalanan pulang dari Kantor, Sya memutuskan untuk membuat pisang goreng sebagai cemilan menikmati suasana sore. Ditemani Kendra yang sedang bermain di ruang keluarga tidak jauh dari dapur tempatnya berdiri saat ini.


"Biar saya aja yang goreng Mbak Sya, Embak duduk sama Kendra saja." Ujar Mbak Tinah mendekati Sya yang sedang menuang minyak kedalam wajan.


" Enggak usah Mbak, biar saya aja. Mbak Tinah duduk disana aja temenin Kendra." Jawab Sya seraya tersenyum.


Namun tidak menuruti ucapan Sya, Mbak TInah justru duduk di kursi tidak jauh dari Sya. Dia harus memastikan kalau Sya selalu baik-baik saja. Dalam keadaan hamil sebesar ini rasanya sangat menakutkan membiarkan Sya seorang diri di dapur. Biarlah Kendra bermain di ruang keluarga bersama Mbok Inah yang menemaninya.


Setelah menuangkan minyak ke dalam wajan, tidak sengaja ada beberapa tetes minyak yang jatuh ke lantai. Sya berpikir dia akan meminta Mbak Tinah membersihkannya nanti setelah dia selesai meggoreng pisang.


Sya sudah menyelesaikan menggoreng beberapa pisang, dia meminta Mbak Tinah untuk mengantarkannya ke pos satpam, baru setelahnya Sya menggoreng lagi untuk orang rumah.


Tepat saat Sya selesai menggoreng pisangnya terdengar suara mobil Radit yang sepertinya berhenti di depan rumah. Sya beranjak dari depan kompor, namun sayangnya Sya terpeleset. Dia lupa akan minyak yang tadi menetes di lantai.


"Aawww...." Sya mengaduh kesakitan seraya memegang perutnya, dia terjatuh dalam kondisi terduduk.


Kendra dan Mbok Inah yang mendengar teriakan Sya langsung berlari menuju dapur, betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat Sya meringis kesakitan seraya memegang perutnya. Darah bersimbah dilantai tepat dibawah Sya.


"Astagfirullohal'adzim, Mbak Sya kenapa bisa sampai begini." Ujar Mbok Inah begitu melihat keadaan Sya. Buru-buru dia mendekati majikannya itu.


"Sakitt.. Mbok.." Ujar Sya seraya merintih kesakitan.


"Bunda..." Kendra terdiam mematung melihat Sya yang kondisinya begitu menakutkan karena banyaknya darah yang mengalir di lantai. Namun akal pintarnya langsung tersadar saat mengingat kalau mobil Ayahnya tadi sudah sampai rumah. Dengan kencang Kendra berlari keluar.


"Ayahhh... Ayaahhhhh....." Teriakan menggelegar Kendra langsung terdengar sampai luar.


Radit yang mendengar suara teriakan Kendra langsung buru-buru masuk kedalam rumah meninggalkan tas kerja dan ayam gorengnya di mobil.


"Abang... Kenapa teriak-teriak gitu?" Tanya Radit yang berpapasan dengan Kendra begitu dia membuka pintu rumahnya.


Radit mengernyitkan dahi saat melihat wajah Kendra yang pucat seperti sedang ketakutan.


" Bunda... di dapul... kelual dalah." Jawab Kendra dengan terbata-bata.


Radit yang mendengar ucapan Kendra langsung berlari menuju dapur, dan benar apa yang Kendra ucapkan. Istrinya itu sedang terduduk meringis kesakitan dengan darah yang bersimbah di lantai bersama Mbok Inah.


"Astagfirulloh...Sayang kamu kenapa?" Tanya Radit dengan panik.


Sya hanya terus meringis menahan sakit, ada air mata yang mengalir diwajah pucat pasi itu.


Dan untungnya otak Radit langsung kembali normal melihat Sya yang sudah sangat kesakitan. Buru-buru dia mengangkat Sya untuk membawanya ke rumah sakit.


"Mbok Inah tolong jaga Kendra di rumah, dan Mbak Tinah tolong hubungi juga Mama sama Papa." Ujar Radit berpesan kepada asisten rumah tangganya itu.


" Pak Agus....Pak Aguss... Kita ke rumah sakit sekarang." Ujar Radit berteriak kepada Pak Agus. Untung saja supir pribadinya itu belum memasukan mobil ke garasi.


Karena rasa cemasnya kepada Sya, Radit sampai tidak menyadari keadaan Kendra yang tubuhnya sedang gemetar ketakutan melihat ke arah Sya. Bocah tampan itu berdiri di sudut dapur dengan tatapan sedih, mungkin karena terlalu syok sampai tidak ada air mata yang mengalir dari mata bulatnya itu.


Dipikirannya dia merutuki kesalahannya yang memilih untuk bermain. Seharusnya dia menemani Bundanya memasak di dapur. Kalau tadi dia bersama Bunda, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.


Kendra terus menyalahnkan dirinya.


"Mbok, dedek bayi sama Bunda bakalan baik-baik aja kan?" Tanya kendra seraya menatap nanar punggung Radit yang pergi dengan membawa tubuh Sya.


"Iya, kita berdoa ya semoga Bunda dan dedek bayi enggak papa." Jawab Mbok Inah seraya membawa Kendra kedalam pelukannya.


Begitu di peluk, Kendra langsung menangis dengan keras menumpahkan rasa marah kepada dirinya sendiri dan juga rasa sedihnya.





Begitu masuk mobil Radit langsung meminta Pak Agus untuk segera mempercepat laju mobilnya.



"Sabar ya sayang, kita ke rumah sakit sekarang. Kamu harus bertahan." Ujar Radit kepada Sya.



"Sakittt ... Mas ... sakit bangettt..." Sya terus merintih kesakitan. Tapi meski begitu dia harus tetap tenang, karena kalau dia ikut panik nanti siapa yang akan menguatkan Sya?



"Iya sayang... Mas ngerti...Kamu harus kuat." Ujar Radit mencoba untuk terus menyemangati Sya.



Dengan tenang Radit mencoba untuk menghubungi Dokter Llilis yang merupakan dokter kandungan Sya.



Setelah menghubungi Dokter Llilis, Radit sangat terkejut saat mendapati mata Sya terpejam.



"Sayang..Heyy... buka matanya..." Ujar Radit seraya menepuk-nepuk pipi Sya pelan, tapi tetap saja tidak ada respon yang dia dapatkan.



Ketenangan yang sedari tadi Radit bangun langsung runtuh seketika saat merasakan tubuh Sya yang terasa dingin. Radit memegang pergelangan tangan Sya untuk mencari denyut nadi istrinya itu, dan syukurnya Radit masih bisa merasakannya.



"Pakk Agusss.... percepat laju mobilnya." Ujar Radit berteriak kepada supirnya.



Pak Agus yang mendengar teriakan Radit langsung menambah laju kecepatan mobil. Tidak dia pedulikan lampu merah yang menghadang, biarlah, saat ini kondisi sedang darurat. Pak Agus hanya harus menambah konsentrasinya lebih tinggi lagi.



Hati Radit semakin terasa tidak karuan, Bayang-bayang akan mimpi yang datang dalam tidurnya sebulan yang lalu tiba-tiba muncul lagi di kepalanya. Tidak, Sya tidak akan pergi meninggalkannya, begitu juga anak yang ada di dalam kandungan Sya.



"Kamu harus bertahan sayang, aku akan sangat marah kalau kamu sampai berani meninggalkan aku dan Kendra. Dengar, aku tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi dariku." Radit seolah lupa jika Allah SWT lah yang mengatur hidup dan mati hambanya.



Radit sudah tidak bisa lagi membendung air mata untuk menetes membasahi pipinya. Tidak ada lagi rasa malu saat dia menangis dihadapan supirnya itu.



Setelah menempuh perjalanan 15 menit dengan laju normal yang seharusnya 30 menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit.



Terlihat Dokter Lilis dan beberapa perawat sudah menyiapkan brangkar tepat di depan pintu masuk. Radit segera menggendong Sya dan menidurkannya di brangkar. Saat ini tidak ada yang Radit inginkan selain keselamatan istri dan anaknya.