
Sya menatap ke arah Radit dengan pandangan iba. Hanya dengan mendengar cerita Radit saja dia sudah bisa merasakan bagaimana sakitnya. Rasa sakit karena penghianatan dari seseorang yang kita cintai. Tapi meski begitu, tetap saja Radit tidak boleh seperti itu, dia tidak boleh melampiaskan rasa trauma nya dengan mempermainkan perasaan Sya.
Selama ini Sya mencintai Radit dan Kendra dengan tulus. Tidak munafik jika Sya pun menginginkan balasan yang sama. Menginginkan seseorang yang dicintai juga mencintainya.
" Jadi apa selama ini Mas hanya mempermainkan perasaan aku? " Tanya Sya dengan wajah sedih dan suara sendunya. Sya mencoba untuk menahan air mata yang ingin menetes. Tidak, Sya tidak boleh menangis di depan Radit. Dia harus kuat, apapun jawaban Radit dia harus menerimanya.
Seketika Radit menolehkan pandangan kearah Sya. Betapa kagetnya saat Radit melihat wajah kecewa dan terluka dari gadis yang ada di depannya. Radit dapat merasakan rasa kecewa Sya lebih besar dari saat dia meminta Sya menjadi ibu untuk Kendra dulu. Yang jelas-jelas kalau dulu memang hanya sekedar pelampiasan.
" Tidak Maureen... Bukan seperti itu... Aku hanya... aku.... hanya.... " Radit tidak tau harus berbicara apa. Semuanya terasa kalut saat ini. Sungguh Radit tidak berniat membuat Sya kecewa lagi. Tidak sedikitpun ada niatan itu dipikirannya. Hanya saja Radit bingung bagaimana cara menjelaskan agar Sya tidak lagi bertambah kecewa.
" Apa Mas? Kamu bisa katakan semuanya. Selagi hubungan kita belum terlalu jauh. Jika memang kamu tidak nyaman dan ingin mengakhirinya aku siap. " Ujar Sya dengan lembut.
" Demi Allah Maureen. Jangan katakan itu. Sejak awal aku bilang ingin menjalin hubungan dengan kamu, aku serius. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku karena aku tau laki-laki yang dipegang adalah ucapannya. Saat aku mengucapkan I Love You, aku serius. Aku mengatakan itu dengan sepenuh hatiku. Tapi... tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku belum memaafkan Audrey, dan ini juga yang membuatku tanpa sadar seringkali membandingkan kamu dengan dia. Aku tau aku salah, aku mengakuinya. " Ujar Radit dengan wajah sedihnya.
" Itu berarti Mas tidak percaya sama aku. " Sya tidak kalah sedihnya saat mengucapkan itu. Bagaimana bisa laki-laki yang dia cintai meragukan ketulusannya, meragukan cintanya.
" Bukan seperti itu Maureen, aku percaya sama kamu, sangat percaya. Justru akulah yang tidak percaya dengan diriku sendiri. " Radit mencoba untuk menggenggam jemari Sya namun ditolak halus oleh gadis itu.
" Sebenarnya apa arti aku dihidup kamu Mas? " Tanya Sya dengan tegas.
" Kamu... kamu...." Radit tidak tidak tau harus menjawab apa. Dia ragu dengan jawabannya sendiri. Hal ini membuat Radit menjadi semakin merasa bersalah.
" Sudah tidak usah di jawab jika Mas memang tidak mau. Aku cukup tau dengan arti kehadiran aku dihidup kamu. Tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah. Lebih baik kita break dulu. Dan pikirkan apa aku memang penting dihidup kamu. " Ujar Sya menatap lembut kearah Radit. Semua rasa sedih yang muncul coba untuk dia tutupi serapat mungkin.
" Maureen, jangan seperti itu. Aku butuh kamu. Aku ingin kamu temani untuk menghilangkan rasa trauma ini. " Radit tidak suka dengan keputusan Sya yang meminta mereka untuk break dulu. Tidak, Radit tidak bisa membayangkannya. Saat dia bilang cinta, memang rasa cinta yang dia rasakan. Dan saat dia bilang cemburu, memang Radit cemburu. Hanya saja semua rasa yang ada tertutupi oleh keraguan di hatinya.
" Mas pasti bisa kok. " Ujar Sya halus.
" Bagaimana dengan Kendra? " Radit mencoba untuk menyentuh sisi sentimental Sya kepada Radit.
" Kita akan tetap berhubungan baik seperti biasa. Aku akan sering main kerumah Mama Riana atau sekedar mengajak Kendra bermain ke kosan aku. Jadi Mas tidak perlu khawatir. " Ujar Sya menjelaskan.
" Lalu bagaimana denganku? "
" Apa yang bagaimana? Hubungan kita akan kembali ke awal lagi seperti biasa. Aku akan tetap menjadi karyawan kamu dan kamu akan tetap menjadi bos aku. " Sya mencoba untuk tegar saat mengatakannya. Bagaimana bisa dia memasang senyum palsu seperti ini?
" Jangan seperti itu Mas. Nanti aku berpikir kalau kamu beneran cinta sama aku. Kan aku jadi GR. " Ujar Sya terkekeh kecil berusaha untuk mencairkan suasana dan bersikap seolah dia baik-baik saja. Seperti keadaan saat ini adalah hal biasa dan tidak akan berefek besar di hidupnya.
" Aku cinta sama kamu. Aku tidak pernah berbohong soal itu. " Ujar Radit tegas.
" Iya kamu cinta aku tapi juga ragu sama aku. " Balas Sya santai.
" Maureen... " Belum sempat Radit menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Sya sudah memotongnya.
" Mas kita sudah terlalu lama keluar, Kendra pasti sedang menunggu sate taichan nya. Kasian loh Kendra pasti udah kelaperan. Kita udah keluar hampir satu jam dan belum dapet pesenannya Kendra. " Ujar Sya kepada Radit.
" Tapi.... "
" Kita bahas ini lain waktu aja ya, kasian Kendra Mas. " Ujar Sya lagi-lagi memotong ucapan Radit.
" Baiklah, kali ini aku akan menuruti ucapan kamu. Tapi secepatnya kita harus menyelesaikannya. Aku tidak mau kamu berpikir kalau aku nggak cinta sama kamu. " Ujar Radit menatap lembut kearah Sya.
Sya hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum kearah Radit. Sebisa mungkin dia harus terlihat baik-baik saja di depan Radit.
Radit kembali menyalakan mobilnya dan menyetir untuk membeli sate taichan permintaan Kendra. Meski sebenarnya Radit sangat ingin menyelesaikan masalahnya dengan Sya. Radit tidak mau Sya berpikir jika dia meragukan gadis itu. Tidak sama sekali. Justru Radit sendirilah yang ragu dengan dirinya.
Dalam perjalanan lagi-lagi hanya ada keheningan. Radit fokus menyetir mobil dan Sya fokus dengan ponselnya. Radit berpikir jika Sya memang baik-baik saja. Tapi sebenarnya salah besar, Sya bermain ponsel untuk menghilangkan rasa sesak didadanya. Rasa ingin menangis begitu besar saat ini. Sya tidak baik-baik saja. Dia hanya sedang mencoba untuk menutupi sakitnya.
" Aku tunggu dimobil aja ya Mas. " Ujar Sya kepada Radit begitu sampai di rumah makan yang memang menjual Sate taichan.
" Kenapa? " Tanya Radit dengan tatapan memyelidiknya. Radit takut jika tiba-tiba Sya memutuskan untuk pulang sendiri. Tapi Radit yakin Sya tidak sekekanakan itu. Sya yang Radit kenal adalah gadis yang dewasa dan selalu berpikir panjang. Tidak mungkin Sya melakukan itu.
" Aku ngantuk Mas. Aku istirahat bentar ya. " Ujar Sya memberi alasan. Memang Sya hanya ingin istirahat saat ini, hatinya terasa sangat lelah.
" Ya udah, aku pesan dulu ya. Sebentar doang kok. Tidak sampai setengah jam. Setelah itu kita bisa langsung pulang. " Ujar Radit halus seraya mengusap lembut rambut Sya.
" Iya Mas. "
Perlakuan Radit yang seperti ini justru semakin membuat Sya semakin merasa ingin menangis. Bagaimana pun saat ini Sya tau dengan jelas jika Radit belum sepenuhnya mencintai dia.