Baby... I Love You

Baby... I Love You
Perkara Mantan



" Adek nanti di Jakarta jaga kesehatan. Jangan makan sembarangan, makan tepat waktu. Dan jangan lupa sering-sering kabarin Mama. " Ujar Mama Farida memberikan wejangan kepada putrinya yang akan kembali mengais rejeki ke Ibu Kota.


Ya, hari ini seperti yang sudah di rencanakan, Sya akan kembali ke Jakarta karena libur akhir tahun yang didapatnya sudah habis. Dan saat ini Sya sudah siap dengan ransel dan juga koper yang berisi berbagai macam oleh-oleh untuk teman kantor dan juga teman kosnya. Tidak lupa juga oleh-oleh untuk Kendra seperti yang Sya sudah janjikan kepada bocah lucu itu.


" Iya Ma, adek bakal inget terus pesen Mama. Doain adek supaya sehat terus." Jawab Sya tersenyum.


Berbeda dengan Mama Farida yang terlihat selalu melow setiap keberangkatan Sya. Ayah Dodi terlihat lebih santai. Bukan tidak khawatir dengan putri satu-satunya itu, hanya saja dia percaya kalo Sya bisa menjaga dirinya dengan baik.


" Ya udah ayok berangkat. " Ujar Ayah Dodi kepada Sya.


" Ihhh Ayah mah nggak tau apa kalo Mama sedih kalo Adek berangkat ke Jakarta. " Ujar Mama Farida kesal kepada suaminya.


" Ya tapi nanti pesawatnya keburu berangkat Ma kalo Mama ngasih wejangan nggak selesai-selesai. " Ujar Ayah Dodi menjelaskan.


" Haha.. Iya Ma, nanti Adek telat. Ya udah, Adek berangkat dulu ya. Sehat-sehat di rumah. Jangan terlalu khawatir sama Adek, kan adek udah besar Ma. " Ujar Sya kepada Mama Farida.


Setelah Sya berpamitan dengan Mama Farida dan juga Mbak Sri. Sya langsung di antar ke Bandara oleh Ayah Dodi dan juga Pak Iman.


Selama perjalanan menuju Bandara, Ayah Dodi juga tidak lupa selalu mengingatkan Sya untuk selalu jaga diri dan juga jaga kesehatan. Dan tentu saja di iyakan oleh Sya.


Ting...


Direktur Ganteng


Sayang, kamu dimana, udah berangkat?


Pesan masuk dari Radit yang menanyakan keberadaan Sya.


Masih di jalan Mas, nanti take off jam 11.


Ujar Sya membalas pesan Radit.


Direktur Ganteng


Oke kalo gitu. Hati-hati ya di jalan. I Love You.


Sya tersenyum membaca pesan dari Radit. Setelah Radit mengungkapkan perasaan dia yang sebenarnya dan meminta Sya untuk memberinya kesempatan lagi, maka setiap mengirim pesan Radit selalu mengakhiri dengan kata Ini Love You di setiap akhir kalimatnya.


Sesampainya di Bandara Sya langsung berpamitan kepada Ayahnya. Alasan kenapa Mama Farida tidak ikut mengantarnya ke Bandara ya karena pasti Mamanya itu tidak akan bisa menahan tangisannya.


" Hati-hati dek. Nanti kalo udah sampai Jakarta kabarin Ayah ya. " Ujar Ayah Dodi seraya mencium puncak kepala Sya dengan sayang.


" Iya Ayah. Ayah jaga kesehatan, jangan capek-capek. Jangan telalu sering lemburin tugas mahasiswa. " Ujar Sya mengingatkan Ayahnya.


" Iya sayang. Ya udah sana masuk nanti ketinggalan pesawat loh. " Ujar Ayah Dodi kepada Sya.


Sepeninggalnya Sya, Ayah Dodi baru memperlihatkan wajah sedihnya. Putrinya sudah dewasa, dan Ayah Dodi tidak bisa melarang keinginan putrinya. Dia harus mendukungnya agar Sya bisa tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan. Toh tidak mungkin selamanya dia bisa ada untuk Sya.


.


.


.


Sesampainya di Bandara ternyata Radit sudah menjemputnya di terminal kedatangan.


" Kok Mas jemput aku sih? Emang lagi nggak sibuk? " Tanya Sya setelah dia sampai dihadapan Radit.


" Buat kamu aku nggak pernah sibuk sayang. " Jawab Radit mulai menggombal lagi.


" Alah gombal. " Ujar Sya meledek.


" Kok gombal sih, beneran sayang. Aku kangen sama kamu makanya aku jemput kamu. " Ujar Radit menjelaskan alasannya.


" Kok Kendra nggak di ajak Mas? Aku kangen deh sama Kendra. "


Ya, Radit memang menjemput Sya seorang diri.


" Sama Kendra kangen, sama aku kangen nggak? " Tanya Radit seraya menaikkan alisnya sebelah.


" Enggak. " Sya tertawa kecil saat menjawab pertanyaan Radit.


" Iya iya, aku juga kangen kok sama kamu. Jangan ngambekan gitu dong Mas, kamu jadi kayak Kendra. " Ujar Sya dengan gemas. " Oo Iya Mas kan belum jawab pertanyaan aku. Kendra kok nggak ikut jemput aku? " Tanya Sya sekali lagi.


" Biar surprise aja. Kamu kalau langsung ke rumah Mama mau nggak? Kendra aku titipin disana. Sekalian kita makan siang di rumah Mama. Kamu nggak capek kan? " Tanya Radit kepada Sya.


Sebenarnya alasan Radit menitipkan Kendra di rumah orang tuanya bukan hanya untuk surprise. Tapi Radit ingin menikmati waktu berdua bersama Sya sebelum gadis itu nantinya akan di ambil alih kepemilikannya oleh Kendra. Walaupun hanya sebentar tapi tidak apa-apa.


" Iya nggak papa kok. Ya udah yuk. " Jawab Sya seraya tersenyum.


Radit segera mengambil alih barang bawaan Sya. Koper di tangan kiri, ransel di pundaknya dan tangan Sya dalam genggaman tangan kanan Radit.


" Mas, biar aku aja yang bawa ranselnya. Aku bisa kok. " Ujar Sya merasa tidak enak hati.


" Nggak usah sayang, ranselnya berat biar aku aja yang gendong. Badan kamu udah kecil, nanti kalo bawa yang berat-berat kamu malah tambah kecil. " Radit tertawa saat mengatakannya.


" Badan aku nggak kecil Mas, tapi langsing. Aku juga nggak pendek-pendek banget kok. Buat ukuran perempuan Indonesia 160 cm itu udah termasuk tinggi. " Ujar Sya merajuk.


" Hahaha... Iya sayang Iya. Jangan marah dong, kamu jadi tambah lucu soalnya. "


Sesampainya di parkiran Radit membukakan pintu untuk Sya, kemudian membuka bagasi untuk menyimpan koper dan juga ranselnya.


Sepanjang perjalanan Radit banyak bertanya mengenai Sya.


" Aku mau tanya sama kamu boleh? " Tanya Radit meminta izin. " Agak pribadi sih. " Tambah Radit. Sebenarnya dia tidak ingin menanyakan kepada Sya, hanya saja Radit terlalu penasaran dengan itu.


" Iya boleh. Kamu mau tanya apa Mas? " Jawab Sya dengan santai.


" Kamu pernah pacaran? " Tanya Radit langsung.


" Pernah. " Jawab Sya masih santai.


" Kapan? "


" Dulu waktu masih SMA, kenapa? "


" Mantan kamu berapa? " Tanya Radit semakin dalam.


" Satu doang. "


" Satu? " Tanya Radit memastikan.


" Iya cuma satu. Kenapa emangnya? " Jawab Sya dengan bingung.


" Kamu cinta banget ya sama dia? " Pertanyaan Radit tidak masuk akal menurut Sya. Kalau dia cinta banget sama mantannya itu, nggak mungkin kan dulu dia yang minta putus?


" Hah? Kok kamu bisa nyimpulin begitu kalo aku cinta cinta banget sama dia? " Tanya Sya dengan bingung.


" Ya kamu mantannya cuma satu doang abis itu kamu nggak pacaran lagi. " Jawab Radit.


" Ya ampun Mas, aku aja pacaran cuma coba-coba biar kayak temen-temen. Dan ternyata setelah aku pacaran aku lebih nyaman sendiri. Itu alasan kenapa aku putus. Isshh kamu mah kalo tanya tapi ujung-ujungnya kamu juga yang ngambek mending nggak usah tanya Mas. Mending nggak usah tau sekalian. Jadinya kamu nggak bakal kepikiran. " Sya kesal karena sejak dia menjawab kalau dia punya mantan Radit justru terlihat tidak terima dengan jawabannya itu.


" Ya nggak gitu, aku cuma pengen tau aja kok. Jangan marah sayang. " Radit mencoba membujuk Sya. Sebenarnya salahnya juga, pengen tau masa lalu Sya tapi dia justru merasa sangat cemburu saat tau ternyata Sya memiliki mantan.


" Kalo kamu cuma penasaran tapi nggak mau terima jawaban dari aku mending jangan tanyain Mas. Kamu sendiri yang nantinya justru merasa nggak nyaman. Itu juga salah satu alasan kenapa aku tidak pernah menanyakan masa lalu kamu sama mendiang mantan istri kamu. Aku takut nantinya malah nggak bisa nerima masa lalu kamu." Ujar Sya kepada Radit.


" Iya maaf, aku nggak bakal ngulangin lagi. "


Setelah pembahasan itu selesai, akhirnya Radit lebih memilih untuk menanyakan keseharian Sya selama dia Jogja.


Hingga akhirnya mereka sampai di halaman rumah Orang tua Radit.


" Kok kayaknya rame banget Mas, ada siapa? " Tanya Sya kepada Radit. Pasalnya Sya melihat ada mobil lain yang sepertinya bukan milik keluarga Radit. Dan terdengar juga suara Kendra yang sedang tertawa bersama seorang bayi saat Sya sudah memasuki rumah Mama Riana.


" Ada Rida sama suami dan anaknya. " Jawab Radit santai.


Ini adalah kali pertama Sya akan bertemu dengan adik Radit.


" Assalamu'alaikum. " Salam Sya setelah dia sampai di ruang keluarga.


" Bundaaaaaa...... " Ya sudah bisa ditebak, itu adalah suara teriakan dari Kendra.