Baby... I Love You

Baby... I Love You
Misi membujuk Istri



Jujur sebenarnya Radit tidak ingin mengekang Sya dengan menyuruhnya untuk selalu di rumah dan bisa keluar hanya disaat dia bersama istrinya itu. Hanya saja rasa takut Radit akan kehilangan Sya sangat besar. Radit bukan tidak percaya dengan istrinya sendiri, justru dia sangat mempercayai istrinya itu. Radit tidak percaya dengan orang-orang diluaran sana, terlebih makhluk bernama laki-laki.


Jika tadi Sya bertanya secantik apa sebenarnya dirinya sampai bisa membuat laki-laki langsung terpesona dengannya, maka Radit dengan tegas menjawab kalau Sya memang sangat cantik untuknya. Tidak ada wanita di luar sana yang lebih cantik dari istrinya itu.


Dan sekarang, istrinya itu sedang merajuk karena tidak di perbolehkan pergi ke taman komplek. Bukan apa-apa, sebenarnya kalau saat ini Radit tidak ada agenda lembur dia akan dengan senang hati menemani Sya dan anak-anak bermain di taman komplek. Radit tidak bisa membiarkan Sya kesana hanya bersama asisten rumah tangga dan anak-anak saja, di tempat itu banyak laki-laki muda yang pasti baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi pasti akan menatap Sya. Dan Radit tidak bisa membayangkan istrinya ditatap banyak laki-laki di luar sana.


"Masih jam 6, aku harus menunggu setidaknya 2 jam lagi untuk bisa pulang." Radit menatap jam yang terpasang di ruangannya. Kemudian tatapannya beralih ke sebuah bingkai yang terdapat foto dirinya, Sya, dan anak-anak. Hanya dengan melihat itu saja Radit sudah merasa hidupnya begitu sempurna. Radit sangat bersyukur akan kehadiran mereka di hidupnya.


"Fokus ayo fokus, selesai lebih cepat maka kamu bisa pulang lebih cepat juga Radit." Ujar Radit menyemangati dirinya sendiri.


Padahal sebelumnya Radit sangat menikmati dirinya lembur di kantor mengerjakan berkas-berkas dari klien. Tapi sejak kejadian Sya kabur beberapa minggu kemarin membuat Radit menjadi tidak terlalu menyukai yang namanya lembur. Radit lebih senang bekerja dan pulang lebih awal agar dia bisa menemani anak-anaknya dan juga istrinya.


Dan ya, akhirnya kesabaran Radit membuahkan hasil. Dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya setengah jam lebih awal dari perkiraan. Sekarang masih pukul setengah 8, dan paling tidak dia akan sampai rumah jam 8.


"Oke waktunya kita pulang."


Sebenarnya ini adalah malam sabtu, besok Radit libur bekerja. Radit memiliki banyak rencana untuk menikmati weekendnya bersama keluarga kecilnya. Sepertinya camping tidak buruk. Ya, nanti Radit akan mencoba untuk membicarakan dengan Sya.




Sesampainya di rumah Radit mendapati Sya yang menunggunya di ruang tamu. Meski terlihat ada sedikit raut kesal diwajah istrinya itu, tapi Sya tetap menyambutnya dengan baik. Seperti biasa istrinya itu akan mencium tangannya dan Radit mencium kening Sya.



"Masih ngambek nih cintanya Mas." Ujar Radit seraya mencubit lembut hidung Sya.



"Masih." Jawab Sya merajuk.



Radit semakin tersenyum melihat Sya yang merajuk seperti Kendra itu.


"Terus biar nggak ngambek lagi sayangnya Mas mau apa?" Tanya Radit kepada Sya. Dibawanya wanita berstatus sebagai istrinya itu kedalam pelukannya.



"Pengen makan pecel Lele." Mendadak Sya menginginkan makanan itu. Padahal sebelum Radit menawarinya Sya sama sekali tidak memikirkan pecel Lele.



"Ya udah, sekarang kita beli. Tapi sebelum itu Mas mau mandi dulu. Tunggu sebentar oke. " Jawab Radit seraya tersenyum manis. Lihat bukan? Istrinya ini memang mempesona. Jika wanita lain kebanyakan harus dibujuk dengan barang-barang mahal dan mewah, tapi untuk Sya tidak. Istrinya itu dapat dibujuk dengan hal-hal sederhana, seperti contohnya ya ini. Untuk meredakan amarahnya Radit hanya perlu membawa Sya ke tempat pecel Lele yang istrinya itu inginkan. Setelah itu Radit jamin mood Sya akan kembali baik seperti semula.



"Iya." Sya menganggukkan kepalanya dengan semangat. Tapi tunggu dulu, jangan kalian pikir hanya karena Sya ingin makan pecel Lele maka kalian akan berasumsi kalau Sya sedang hamil. Tidak, itu sama sekali tidak benar, Sya hanya sedang ingin makan pecel Lele saja tidak lebih. Lagi pula sudah 2 hari ini jadwal tamu bulanan Sya sedang datang. Mungkin itu pula yang membuat mood Sya sejak tadi berantakan hanya karena Radit melarangnya untuk pergi ke taman komplek.



Radit dan Sya berjalan bersama menuju kamar mereka. Meskipun masih jam 8 tapi sudah sepi, itu karena Kendra dan baby Rendra sudah tidur dari setengah jam yang lalu. Sedangkan Mbak Tinah dan Mbok Inah biasanya sedang menonton TV di kamar mereka, karena mereka kadang malu untuk menonton TV bersama Sya dan Radit akhirnya Sya meminta suaminya itu untuk membelikan TV baru dan dipasang di kamar Mbok Inah dan Mbak Tinah.




"Iya sayang." Radit hanya bisa pasrah dengan perintah Sya.



Tapi memang apa yang istrinya katakan itu untuk kebaikan mereka. Bisa saja Radit pulang dari kantor membawa virus yang bisa membahayakan anak-anak mereka. Setidaknya kalau sudah mandi Radit sudah kembali seteril lagi.



Sya menunggu Radit mandi seraya memainkan ponselnya. Tidak lama, hanya 15 menit Radit sudah selesai mandi.



"Pilihin baju sayang." Ujar Radit kepada Sya. Jadi mau tidak mau Sya mengikuti suaminya itu ke walk in closet.



Sudah menjadi kebiasaan kalau Sya harus menyiapkan segala kebutuhan Radit dari laki-laki itu bangun sampai tidur lagi. Dan selama Sya bisa dia akan melakukannya. Meskipun sebenarnya Radit tidak pernah memerintahnya melakukan itu semua, tapi karena sudah kebiasaan membuat Radit menjadi bergantung dengan Sya.



"Nanti naik motor aja ya Mas." Ujar Sya kepada Radit.



Mendengar itu Radit seketika mengerutkan dahinya.


"Motor? Kenapa harus pakai motor. Kita pakai mobil aja deh. Udah malem, anginnya nggak baik buat kesehatan kamu sayang." Jawab Radit.



"Tapi pengen naik motor Mas, kan kalau naik motor aku bisa peluk kamu, kalau naik mobil kan nggak bisa." Ujar Sya merayu Radit.



Jika sudah seperti ini maka Radit lagi-lagi hanya bisa menuruti permintaan Sya. Dari pada nanti istrinya itu ngambek lagi kan. Ini saja masih dalam misi membuat mood Sya kembali lagi.


" Ya udah kita naik motor. Tapi kamu pakai jaket dulu, kalau nggak mau mending kita naik mobil aja." Ujar Radit kepada Sya.



Sya menganggukan kepalanya setuju.


"Iya."



"Ya udah, Mas mau cium adek sama Abang dulu. Kangen sama mereka. Kamu tolong bilangin ke Mbak Tinah sama Mbok Inah ya sayang. Suruh mereka jaga anak-anak sampai kita pulang." Ujar Radit kepada Sya.



Setelah semuanya beres Sya dan Radit langsung melajukan motornya ke tempat pecel Lele yang Sya inginkan.