Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kata Dita sok miskin



Di kantor sebenarnya Radit sedikit kesal karena Sya yang pergi tanpa memintan izin terlebih dahulu kepadanya, tapi setelah Sya mengatakan kalimat 'I LOVE YOU' seketika rasa kesalnya langsung hilang. Entah kenapa sejak dia bersama dengan Sya, hal simpel seperti ini sudah membuatnya sangat bahagia. Kalau sudah begini bagaimana caranya Radit untuk bisa marah kepada istrinya itu.


Bersama Sya jugalah Radit merasa semakin memiliki tujuan hidup. Radit bekerja tidak lagi karena dia mencari pelarian, tapi karena dia memiliki sebuah tanggung jawab yang harus dia penuhi kebutuhannya. Radit juga ingin hidup lebih lama bersama Sya dan menyaksikan anak-anak mereka besar dan sukses dengan kehidupannya masing-masing.




Sya dan Dita sekarang sudah ada di Mall. Sya mengajak Dita untuk menemaninya mencari beberapa baju hamil karena beberapa bajunya ada yang sudah kesempitan.



"Temenin Mbak cari baju ya Dit." Ujar Sya kepada Dita.



"Ayo aja aku mah, aku ngikut kemanapun kamu pergi Mbak." Jawab Dita antusias. Bisa jalan-jalan dan istirahat sejenak dari kesibukannya akan tugas kuliah saja sudah membuatnya sangat bahagia.



Sya dan Dita berjalan untuk mencari toko pakaian yang sekiranya menarik perhatian nantinya. Sebenarnya Sya juga ingin hunting perlengkapan bayi, tapi mau bagaimana lagi, Radit sudah membelikannya sangat banyak. Jadi sya menahan diri agar tidak membelinya, takutnya kalau Sya beli nantinya justru akan menjadi mubazir. Nanti saja kalau memang ada yang di butuhkan.



"Kesana dulu aja kali ya Dit." Ujar Sya kepada Dita saat mereka melewati sebuah toko yang menjual berbagai pakaian wanita.



"Yukk, emang Mbak Sya mau cari baju yang kaya gimana?" Tanya Dita kepada Sya.



"Belum tau aku juga, yang penting cukup aja lah di badan aku." Jawab Sya.



"Kamu ngomongnya seolah-olah badan kamu tuh besar banget Mbak, padahal enggak sebesar itu kok. Emang naik berapa kilo sih?" Tanya Dita. Memang yang Dita liat perubahan pada tubuh Sya tidak terlalu mencolok, memang sedikit lebih berisi, tapi itu hal wajar untuk seseorang yang sedang hamil.



"Berapa ya, terakhir aku timbang sih hampir 15 kg." Jawab Sya.



"Banyak juga ya Mbak, tapi enggak terlalu kelihatan kok."



Sya tersenyum mendengar perkataan Dita, setidaknya dia bahagia saat Ditaa mengatakan kalau tubuhnya tidak sebesar yang dia perkirakaan. Ahhhh, moodnya menjadi semakin membaik hanya karena mendengar berat badannya yang sangat naik ini tidak terlalu terlihat mencolok.



Sya dan Dita memasuki toko yang tadi di tunjuk Sya. Ternyata banyak juga jenis-jenis pakaian yang dijual di toko ini, tidak hanya baju hamil.



"Kamu sekalian cari-cari yang cocok aja Dit, siapa tau ada yang kamu suka. Tenang hari ini aku teraktir." Ujar Sya kepada Dita.



Mendengar itu Dita langsung mengulum senyum.



"Apaan sih enggak enak segala, enggak papa kali kayak yang sama siapa aja. Pokoknya kamu juga harus beli, kalau enggak aku bilangin ke Mas Radit nih." Ujar Sya mengancam Dita, sebenarnya Sya tidak mau menggunakan ancaman seperti ini, tapi karena Sya tau kalau Dita takut kepada Radit ya beginilah jadinya.



Mendengar ancaman Sya seketika Dita langsung menciut. Sebenarnya Radit bukan orang yang jahat sampai membuatnya ketakutan. Hanya saja wajah dingin yang selalu dia tampilkan saat mereka bertemu selalu saja membuat Dita merasa terintimidasi, padahal Radit hanya menatapnya, dan juga kalau dipikir-pikir wajah Radit juga tampan. Tapi ya sudahlah namanya juga takut mau bagaimana lagi.


"Ya jangan dong Mbak, aku tuh takut sama suami kamu, walaupun ganteng tapi tetep aja auranya itu menyeramkan." Jawab Dita.



Sya yang mendengarnya hanya terkekeh geli.


"Ya makanya kamu pilih aja." Ujarr Sya.



"Ya udahlah, mumpung geratis gak jadi nolak deh." Jawab Dita pada akhirnya.



"Lagian sok banget nolak, dulu aja setiap aku gajian kamu selalu minta traktiran. Terus waktu aku masih pacaran sama mas Radit kamu juga kesenengan karena nantinya bakal lebih sering dapet traktiran. Tapi sekarang apa malu-malu kucing begini." Ujar Sya menyindir Dita.



"Hehe, ya kan jual mahal dikit, biar nggak terlalu keliatan murahan gitu maunya yang geratisan terus." Jawab Dita memberikan alasan.



Setelah perdebatan yang cukup panjang terjadi, akhirnya mereka mulai fokus untuk mencari baju, terutama untuk Sya.



Sya sebenarnya juga tidak tau mau mencari baju yang seperti apa karena Sya sangat jarang berbelanja. Sewaktu belum menikah dulu Sya hanya akan belanja baju kalau memang dia butuh untuk suatu hal saja. Dan sekarang sejak menikah, Sya juga sangat jarang belanja baju, atau bahkan tidak pernah? Sya sendiri sudah lupa kapan dia membeli baju untuk dirinya sendiri. Kenapa demikian? Tentu saja karena Radit sudah membelikan untuknya bahkan sebelum Sya meminta. Yang lebih memalukan lagi, Radit juga lah yang selalu membelikan pakaian dalam untuknya. Saat awal Radit melakukan itu, Sya tidak tau bagaimana dia harus mengatasi rasa malunya. Sya pernah melarang saat pertama kali Radit melakukan itu, tapi dengan santainya Radit berkata 'Tidak ada yang salah dengan membelikan pakaian dalam untuk istri sendiri, terlebih aku sudah mengetahui ukurannya.' Sudahlah, Sya memang tidak akan bisa kalau disuruh melawan Radit karena sudah pasti dia yang akan kalah.



"Mbak, ini kayaknya lucu deh buat kamu. Mbak Sya suka yang simpel-simpel kan, nah ini simpel tapi keliatan mahal." Ujar Dita seraya menunjuk gaun selutut berwarna baby pink. Memang gaun itu sepertinya di design untuk seorang ibu hamil.



Sya melihat kearah gaun yang terpasang di sebuah manekin. Memang terlihat lucu. Tapi tunggu sebentar, kita lihat dulu harganya. 593 ribu, cukup mahal menurut Sya.



"Mahal Dit, masa baju doang sampe segini. Lebih dari setengah juta loh ini." Ujar Sya berbisik kepada Dita.



Dita memutar bola matanya malas.


"Enggak usah sok miskin deh Mbak, aku juga tau kalau baju, tas, sama sendal yang kamu pake sekarang ini harganya udah puluhan juta. 500 ribu mah enggak ada apa-apanya buat suami kamu Mbak." Ujar Dita kepada Sya, bagaimana bisa setelah bersuamikan seorang sultan Sya masih merasa kalau uang 500 ribu itu jumlah yang besar untuk sebuah baju.



Yang Dita katakan itu memang benar adanya. Sya bukan wanita yang tidak tau merk barang-barang branded, tapi Sya memang tidak pernah mencari tau harga setiap barang yang Radit belikan untuknya. Cukup sudah Sya dikagetkan dengan harga sebuah jam tangan yang Radit belikan untuknya, bagaiman Sya tidak kaget kalau harganya mencapai 1,2 milyar. Itu jam tangan apa coba, sampai sekarang bahkan Sya takut memakainya. Dia takut kalau tiba-tiba saja jam itu sampai lecet atau terjatuh.