Baby... I Love You

Baby... I Love You
Gimana kalo...?



Direktur Ganteng


Sayang, aku tunggu diparkiran. 10 menit kamu nggak kesini, biar nanti aku yang akan samperin kamu: D


Sya sedang membereskan pekerjaannya dan secara bersamaan ada pesan masuk dari Radit.


" Ayo Sya. Udah jam istirahat. " Ujar Dian kepada Sya.


" Mmmm... " Sya bingung harus mencari alasan apa.


" Kenapa Sya? " Tanya Tio yang memang sedang menunggu Sya.


" Aku ada urusan diluar, kayaknya nggak bisa makan bareng kalian deh. " Ujar Sya seraya tanpa sadar menggigit bibirnya.


" Oo gitu, ya udah sih nggak papa kali Sya. Kok lo ngomongnya kayak takut gitu sih. " Ujar Dian tertawa kecil. Pasalnya aneh saja melihat Sya yang seperti itu. Kalau memang ada urusan dan tidak bisa makan bareng ya nggak papa, toh ini cuma makan di kafetaria Kantor, dan hampir setiap hari mereka lakukan.


" Hehehe... " Ujar Sya seraya menggaruk kepalanya. " Kalo gitu aku pamit duluan ya, bye... " Sya langsung berjalan keluar dari ruangannya.


" Bye Sya. " Jawab Dian.


" Sya kok kayaknya aneh begitu sih, kayak ada sesuatu yang dia sembunyiin. " Ujar Tio bergumam lirih, namun tetap saja terdengar oleh Leo dan Dian yang memang ada di dekatnya.


" Ya udah sih, biarin aja, privasi kali. " Jawab Leo cuek. " Udah yok kita ke cafetaria, udah laper ini. " Tambah Leo.


Dian, Tio, dan Leo berjalan keluar dari ruangan mereka untuk menghampiri Prita terlebih dahulu untuk makan siang bersama di cafetaria.


Sedangkan Sya saat ini sedang di lift, dia menghembuskan nafasnya lega karena berhasil mencari alasan. Sebenarnya Sya tidak nyaman jika harus berbohong kepada teman-temannya. Tapi dari pada nantinya Radit yang turun tangan langsung, lebih baik dia melakukan sedikit kebohongan untuk menutupinya.


Direktur Ganteng


Sayang, ini udah lebih dari 5 menit. Apa harus aku yang kesana?


Sya mendengus sebal membaca pesan dari Radit. Benar-benar sangat tidak sabaran jadi manusia.


Sabar Pak. Saya sedang di lift. Lagian perjanjian awal kan 10 menit.


Karena kesal Sya membalas pesan Radit menggunakan bahasa formalnya.


Radit yang membaca balasan pesan dari Sya tanpa sadar tertawa geli. Dia bisa membayangkan wajah Sya yang pastinya sedang cemberut saat ini.


Dan benar saja, tidak lama terlihat seorang wanita dengan pakaian kantor dan rambut yang diikat satu seperti biasa berjalan kearahnya dengan wajah cemberut.


" Kok mukanya gitu sih sayang. " Ujar Radit begitu Sya sampai di depannya.


" Males. " Jawab Sya pendek.


" Iihhh kalo cemberut gini jadi makin cantik deh. " Goda Radit kepada Sya.


" Nggak usah gombal. Aku lagi nggak mood sama Pak Radit. " Jawab Sya kesal.


" Kok Pak Radit sih, sekarang kan kita lagi berdua aja. " Ujar Radit memprotes ucapan Sya.


" Iya, abis Mas tuh nyebelin kayak Pak Radit, Direktur aku di kantor ini. " Jawab Sya yang seketika membuat Radit tertawa.


" Oo jadi Pak Radit itu nyebelin ya. Aku baru tau lho. "


" Iya pokoknya nyebelin banget. Masa di kantor panggil-panggil aku sayang. Kalau ada yang denger gimana coba. "


" Nanti aku bilangin ke Direktur kamu supaya nggak nyebelin lagi. Sekarang ayo kita masuk mobil." Ujar Radit geli bagaimana bisa dia berbicara dengan Direktur Sya kalo orang itu adalah dirinya sendiri. Lagian Sya ada-ada aja, ngambeknya lucu.


" Isshh... Mas tuh emang nggak peka ya. " Ujar Sya tambah cemberut.


Mendengar kata seafood, wajah Sya seketika menjadi cerah. Senyumnya kembali terlihat dibibir merahnya itu.


" Beneran Mas? " Tanya Sya senang.


" Beneran, makanya udahan dong ngambeknya. " Jawab Radit.


" Ini udah nggak ngambek kok. " Sya menampilkan senyum lebarnya.


" Ya udah, ayo silahkan masuk tuan putri, pangeran siap mengantar anda ke tempat seafood. " Ujar Radit membukakan pintu mobil seraya menampilkan senyum jenakanya.


" Terimakasih pangeran kodok. " Jawab Sya seraya masuk mobil.


Radit hanya tertawa geli dengan adegan yang dia lakukan tadi. Tidak apa-apa terlihat alay, yang penting Sya tidak lagi ngambek kepadanya.


" Kita makan dimana Mas? " Tanya Sya kepada Radit.


" Nanti kamu juga tau, dan aku pastikan kamu bakal suka. "


Radit menjalankan mobilnya keluar dari parkiran basement. Dapat Sya lihat teman-temannya, Dian, Prita, Leo, dan Tio sedang berjalan kearah dimana cafetaria berada. Hal ini membuat Sya secara refleks menundukkan kepalanya.


" Kamu ngapain sayang? " Tanya Radit heran.


" Itu ada temen-temen aku. Tadi aku tuh nolak ajakan makan siang bareng mereka dengan alasan ada urusan keluarga, kalau ketahuan ternyata aku pergi sama kamu kan jadi nggak lucu Mas. " Jawab Sya yang saat ini sudah menaikkan lagi kepalanya.


" Hahaha.... " Radit justru tertawa mendengar alasan Sya.


" Kok Mas malah ketawa sih, aku serius Mas. Aku belum siap kalo sampe temen-temen kantor tau kalo kita ada hubungan lebih. "


" Ya kamu lucu banget sih, kaca mobil aku kan gelap. Jadi nggak bakal kelihatan dari luar sayang. " Ujar Radit masih tertawa kecil.


Sya langsung melihat sekelilingnya, dan benar saja, kaca mobil Radit memang gelap. Jadi tidak akan mungkin terlihat dari luar.


" Ya aku kan nggak tau, jadi refleks aja. " Jawab Sya merasa sedikit malu.


" Emang kenapa kalo mereka tau? Di kantor kan nggak ada larangan buat menjalin hubungan sesama karyawan. Kecuali kalo mereka sampai ke jenjang pernikahan, maka salah satu dari mereka harus resign." Ujar Radit kepada Sya.


" Kan Mas bukan karyawan. "


" Justru karena aku bukan karyawan. Kan yang buat peraturan aku. Ya suka-suka aku dong mau menjalin hubungan sama siapa. " Jawab Radit dengan santai.


" Sombong amat Pak. " Ujar Sya dengan nada mengejek.


" Lho harus kalo itu. Selama ada yang bisa disombongin kenapa enggak yak kan. Beda lagi kalo nggak punya apa-apa tapi sombong. " Jawaban Radit ini membuat Sya langsung memutar bola matanya malas.


" Iyalah terserah Mas aja." Jawab Say. " Ngomong-ngomong Mas, kalo misal aku beneran nikah sama Mas, aku harus resign dari kantor dong? " Tanya Sya kepada Radit.


" Harusnya sih gitu. Tapi ya terserah kamu aja. Asal kamu bisa membagi waktu antara rumah dan kantor sih aku bakal ijinin kamu tetep kerja, yang penting kamu nyaman dan bahagia. " Jawab Radit seraya tersenyum tulus.


" Tapi kalo Mas sendiri maunya aku gimana? "


" Kalo aku jelas pengennya kamu nggak usah kerja lagi, toh uang aku masih cukup banyak buat menuhin semua kebutuhan sampai anak cucu kita nantinya. Tapi ya aku juga nggak mau kalo kamu dirumah terus. "


" Lah terus gimana coba? " Tanya Sya karena tidak paham dengan maksud ucapan Radit.


" Aku pengen kamu ikut terus ke kantor, tapi bukan buat kerja. Buat nemenin aku aja selama kerja. " Jawab Radit tersenyum lebar.


" Itu mah aku bakal mati kebosanan Mas. " Ujar Sya dengan kesal.