
Seperti yang sudah Radit katakan, mulai hari ini Sya sudah tidak boleh lagi bekerja. Langsung saja Radit memberitahu kepada HRD kalau Sya mengundurkan diri, dan surat pengunduran diri Sya sudah Radit buat dan dia titipkan kepada Andre untuk memberikannya kepada bagian HRD. Karena meskipun Radit sudah memberitahu HRD dan Radit juga pemilik perusahaan, tetap saja Radit menaati aturan perusahaan sebagaimana mestinya.
" Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu jangan capek-capek di rumah. Jangan naik turun tangga terlalu sering. Kalau bisa kamu di kamar aja, atau nggak berjemur di balkon biar sehat. " Ujar Radit mengingatkan sang istri yang sedang duduk di sofa kamar. Radit melarang Sya untuk ikut mengantarnya ke depan.
Sedangkan Kendra saat ini sudah ada di ruang makan bersama Mbak Tinah. Radit hari ini memutuskan untuk sarapan di kantor, karena sebenarnya Radit sedang ingin makan masakan Sya. Hanya saja karena keadaan Sya yang belum memungkinkan untuk memasak Radit menahan keinginannya itu.
" Ini aku beneran nggak boleh kerja lagi Mas? " Tanya Sya kepada Radit. Jujur saja sangat berat untuk Sya berdiam di rumah tanpa ada kegiatan seperti. Di tambah ruang geraknya sekarang terbatas. Sepertinya Sya harus mencari kegiatan yang nantinya bisa menghilangkan rasa bosannya sekaligus tidak membuatnya capek.
" Sayang.... " Ucap Radit dengan suara lembutnya.
Radit masih akan mengatakan sesuatu saat tiba-tiba saja Kendra masuk ke dalam kamar.
" Bunda.... " Panggil Kendra kepada Sya.
" Iya sayang. Abang udah selesai sarapannya? " Tanya Sya kepada Kendra.
" Udah dong. Sekalang Kendra sudah semangat buat belangkat sekolah. " Jawab Kendra tersenyum senang. Kendra menghampiri Sya dan mencium perut Bundanya yang masih datar itu.
" Dedek, Abang sekolah dulu ya. Dedek di lumah aja, jangan nakal-nakal oke. Nanti siang pulang sekolah Abang beliin dedek es klim stobeli ya. " Ujar Kendra mengajak dedek bayi yang ada di dalam perut Sya itu berbicara.
" Emang Ayah ijinin Abang beli es krim? " Tanya Radit kepada Kendra.
" Enggak, tapi Abang enggak beli es klim buat sendili. Abang beli es klimnya buat dedek kok. Nanti Abang cuma minta dikit doang. Iya kan Bunda? " Jawab Kendra dengan polosnya.
Benar yang Kendra katakan, Radit memang melarangnya terlalu banyak makan es krim. Tapi kan ini bukan buat dirinya sendiri, ini untuk calon adiknya.
Radit dan Sya yang mendengar jawaban Kendra itu seketika tertawa. Benar-benar, sekarang Kendra sudah besar, dia sudah bisa memberikan sebuah alasan dan mendebatkan sesuatu yang sekiranya tidak pas dimata anak itu.
" Kendra bisa aja deh, anak siapa sih ini kok pinter banget. " Ujar Sya seraya mencium pipi gembul Kendra.
" No Bunda, jangan panggil Kendla itu Kendla. Sekalang Bunda panggil Kendla itu Abang. " Ujar Kendra kepada Sya.
" Iya Abang, Abang anak tampannya Bunda. " Ujar Sya dengan gemas. " Ya udah, Abang sekarang berangkat sekolah sama Ayh ya. " Tambah Sya yang mendapat anggukan dari bocah tampannya itu.
Sekali lagi Sya mencium pipi dan dahi Kendra. Begitu juga dengan Kendra yang membalas ciuman ke pipi Sya. Tidak lupa juga mencium tangan sang Bunda.
" Inget sayang.... " Belum selesai Radit menyelesaikan kalimatnya, Sya langsung mengambil tangan Radit dan menciumnya.
" Iya iya, aku inget semua kata-kata Mas kok. Ya udah sana kamu berangkat. Nanti kesiangan loh. " Ujar Sya kepada Radit.
Radit tersenyum mendengar jawaban dari Sya yang memuaskan telinga dan hatinya.
" Oke, hati-hati di rumah. Kalau kamu perlu apa langsung kabarin aku aja. Kalau enggak kasih tau aja ke Mbok Inah atau Mbak Tinah.
" Iya Mas. "
" Nakal. " Ucap Sya lirih seraya mencubit pelan pinggang Radit.
Sedangkan Radit hanya tertawa kecil. Setelahnya dia benar-benar pergi ke luar dari kamar mereka untuk berangkat kerja sekaligus mengantarkan Kendra ke sekolah terlebih dahulu.
" Assalamu'alaikum, dadahh Bunda. " Ujar Kendra yang berada dalam gendongan Radit.
" Wa'alaikumsalam, " Jawab Sya seraya tersenyum lembut.
Sya merebahkan dirinya di sofa sambil menikmati hangatnya sinar matahari yang menembus dari kaca jendela yang saat ini sudah tidak tertutup gorden.
tok... tok... tok...
" Mbak Sya... " Terdengar suara dari Mbak Tinah.
" Iya masuk Mbak. Pintunya nggak aku kunci kok. " Jawab Sya dari dalam.
Mbak Tinah membuka pintu kamar Sya.
" Mbak Sya mau saya buatkan sarapan apa? " Tanya Mbak Tinah kepada Sya.
" Apa ya mbak, aku juga bingung nih. " Jawab Sya kebingungan. " Roti panggang pake coklat aja deh Mbak, sama tolong buatin jus alpukat kayak kemarin ya. " Ujar Sya kepada Mbak Tinah. Rasanya jika harus makan nasi Sya belum bisa. Terlalu membuat perutnya mual.
" Baik Mbak, ditunggu ya 15 menit lagi semua sudah siap. " Ujar Mbak Tinah kepada Sya.
" Siyap Mbak, tapi maaf ya aku jadi ngrepotin Mbak Tinah. " Ujar Sya tidak enak hati. Kalau bukan Radit yang melarangnya untuk turun, sudah pasti Sya akan membuat sarapannya sendiri.
" Ngrepotin apa sih Mbak, saya malah seneng loh. Di tambah bentar lagi bakal ada calon keluarga baru di rumah ini. " Jawab Mbak Tinah. Setelahnya Mbak Tinah keluar dari kamar Sya untuk membuatkan sarapan permintaan ibu bosnya itu. Bahkan untuk hal seperti ini yang sebenarnya memang tugasnya saja, Sya selalu mengucapkan tolong dan maaf setiap memintanya melakukan sesuatu.
Seperti yang Mbak Tinah katakan, 15 menit kemudian dia datang dengan membawa pesanan Sya. Namun tentu saja ada tambahan susu, vitamin, dan buah. Semua itu adalah perintah dari Radit agar Sya tidak kekurangan gizi.
" Ini Mbak Sya, silahkan di nikmati. Semoga dedeknya nggak rewel ya mbak. " Ujar Mbak Tinah seraya menata makanan ke meja yang ada di depan Sya.
" Aamiin Mbak, terima kasih yang udah dibawain kesini sarapan aku. " Ujar Sya seraya menerima mengambil roti panggang permintaannya tadi.
" Saya mau lanjut kerja dulu ya Mbak, kalau ada perlu bisa langsung panggil aja. Atau kalo saya nggak dengar, Mbak Sya langsung telefon ke telfon rumah aja Mbak. " Ujar Mbak Tinah.
Setelah mendapat jawaban dari Sya, Mbak Tinah keluar dari kamar Sya untuk mengerjakan tugasnya.
Sedangkan pagi ini Sya tidak mendapat kendala mengenai makanan. Sya bisa menghabiskan 2 tangkup roti panggang dan segelas susu. Tidak lupa juga dengan beberapa butir vitamin yang di berikan oleh Dokter Lilis. Sedangkan jus alpukat dan buahnya belum bisa Sya makan karena dia sudah merasa kekenyangan.
Untuk mengusir rasa bosannya, Sya memutuskan untuk menonton drama Korea yang sebelumnya belum Sya selesaikan. Setidaknya dengan ini Sya bisa membunuh waktu yang begitu membosankan ini.