
Sesampainya di parkiran Kantor, Sya berpamitan kepada Radit.
" Mas aku masuk dulu ya. " Ujar Sya kepada Radit seraya mengambil tangan Radit untuk diciumnya.
Namun Radit justru menahannya.
" Bareng aja. " Jawab Radit pendek.
" Tapi kan lift yang kita pake beda Mas. " Ujar Sya memberikan argumennya.
Radit hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Sya. Dia membuka pintu mobil kemudian berputar arah untuk membukakan pintu Sya.
Sya yang bingung masih terdiam di tempat tidak tau mau apa.
" Ayo sayang. " Ujar Radit seraya meraih tangan Sya dan menggandengnya. Dan seperti biasa Sya hanya mengikuti kemana langkah Radit tanpa berkata apapun.
" Ini kan lift buat ke ruangan kamu Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
" Iya, aku mau kamu ikut aku sebentar. Lagian jam kantor juga belum di mulai kan? " Ujar Radit dengan santai.
" Tapi aku harus absen dulu absen dulu Mas. " Ya setiap karyawan memang diwajibkan untuk absen berangkat dan pulang kantor menggunakan ID card mereka.
"Nanti aku yang absenin kamu sayang. Nggak usah khawatir. Lagian kamu nggak absen pun juga nggak akan ada yang bisa pecat kamu selain aku kan. " Jawab Radit dengan sombongnya. Dia terkekeh kecil melihat raut wajah Sya yang sudah di lipat mendengar ucapannya barusan.
" Dih, sombong. " Ujar Sya jutek.
" Di depan kamu emang harus sombong. " Jawab Radit seraya tertawa. " Jangan cemberut ah, masa suaminya dijutekin gitu. Dosa loh kalo membuat hati suami tidak senang. " Ya, jurus terkahir lagi-lagi Radit keluarkan untuk membuat Sya menuruti perkataannya dengan ikhlas..
" Iya Mas suami, maafkeun istrimu yang kadang membuat hatimu tidak senang wahai suami. " Ucap Sya dengan memaksakan senyumnya sekaligus nada suara yang dia rubah menjadi seceria mungkin.
"Nah gitu dong, kan Mas suami jadi tambah sayang. " Ujar Radit seraya mencuri ciuman kilat dari bibir Sya.
" Ihh, pagi-pagi udah mesum aja Mas Radit. " Sya menepuk dada bidang Radit dengan pelan.
" Kalo udah sah mah mau mesum pagi, siang, sore, atau malam juga nggak ada larangannya sayang. " Radit dengan cepat meraih pinggang Sya kemudian menghujani Sya dengan beberapa kecupan di area wajahnya.
" Mas ihh maluuu. " Teriak Sya dengan wajah memerah menahan malu.
" Kamu tuh malu-malu terus deh yank, udah sah juga. Padahal banyak tuh anak muda jaman sekarang yang kalo pacaran malah nggak tau malu, udah gitu di depan umum lagi. " Jawab Radit dengan santainya.
Sya tertawa mendengar ucapan Radit yang secara tidak langsung menyindir kehidupan asmara anak muda jaman sekarang yang kadang terlalu intim.
" Emang Mas dulu kalo pacaran nggak gitu? " Tanya Sya kepada Radit.
" Ya kayak gitu, makanya aku tau. " Kan kan, jangan lupakan kalau dulu sewaktu muda kehidupan Radit itu sudah lekat dengan dunia malam. Meskipun untuk masalah hubungan asmara dia tidak pernah melewati batasnya sampai benar-benar melakukan zina. Radit tidak memungkirinya karena itu merupakan bagian dari masa lalunya.
" Dasar Mas ini. " Sya tidak pernah mempermasalahkan semua ini, karena Radit pun sudah menceritakan semua masa lalunya tanpa terkecuali, begitulah yang Sya tau.
ting...
Pintu lift berdenting dan secara perlahan terbuka, sekarang Sya dan Radit sudah ada di lantai dimana ruangan Radit berada.
" Selamat pagi Pak Radit dan Bu Sya. " Sapa Lisa, yang merupakan sekretaris Radit saat melihat bos dan istrinya datang dan melewati mejanya. FYI, Lisa adalah salah satu orang yang datang di hari pernikahan Sya dan Radit. Bahkan dia juga yang menjadi salah satu saksi bisu selain Andre dan teman satu divisi Sya yang mengetahui bagaimana hubungan backstreet antara Direktur dan karyawan itu terjalin.
" Selamat pagi juga Mbak Lisa. " Jawab Sya dengan ramah. Sebenarnya Sya ingin sedikit berbincang dengan Lisa, tapi tangannya yang di genggam oleh Radit memaksanya untuk terus melangkah mengikuti langkah kaki laki-laki itu.
" Mas di sapa Mbak Lisa kok jawabnya gitu, nggak sopan tau Mas. " Ujar Sya begitu mereka sudah masuk ke dalam ruangan kerja Radit.
" Itu sebagai tanda kalo tidak ada kesempatan untuk wanita lain bisa menjalin hubungan denganku dan menyusup diantara kita. Kalo aku tersenyum ramah dan mereka nantinya malah salah mengartikannya aku juga yang repot. Ditambah kalo tiba-tiba kamu cemburu gimana? " Tanya Radit seraya menatap lembut Sya
Mendengar jawaban dari bibir Radit yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya itu seketika membuat Sya tersenyum bahagia. Sya merasa menjadi sosok yang spesial untuk Radit.
" Jangan senyum-senyum aja. Kamu juga harus kurang-kurangin senyum dan sikap humble kamu itu sama lawan jenis sayang. Biar mereka nggak salah mengartikan. Banyak kan laki-laki yang baper sama kamu hanya karena kamu bersikap humble. " Ucap Radit kepada Sya.
" Setau aku cuma 1 deh Mas. " Jawab Sya dengan polosnya.
" Yang kamu tau cuma si Tio Tio itu doang kan? Temen satu divisi kamu. " Ucap Radit dengan datar.
" Loh kok Mas tau tentang perasaan Mas Tio krn aku sih? " Tanya Sya kepada Radit, seingatnya dia tidak pernah menceritakan kepada siapapun kalo Tio menyukainya.
" Jelas aku tau semuanya, mata aku kan ada dimana-mana. " Jawab Radit santai.
" Jadi Mas sewa orang buat mata-matain aku? " Tanya Sya dengan kagetnya. Dia tidak menyangka jika Radit benar melakukan itu.
" Enggaklah, mana ada aku sewa-sewaan kayak gitu cuma buat mata-matain kamu. Aku sendiri juga bisa kok. " Jawab Radit seraya duduk di kursinya, kemudian menarik Sya agar duduk dioangkuannya.
" Lah kalo nggak sewa begituan Mas tau darimana dong? Boong nih pasti kamu. " Ujar Sya tidak percaya dengan jawaban Radit.
" Beneran lah, orang aku awasin kamu cuma pake CC tv. " Radit keceplosan dengan mengungkapkan rahasianya ini.
" CC tv? Kok bisa. " Ucap Sya spechles.
" Bisa lah, gampang. " Jawab Radit dengan santai. Mau mengelak pun dia sudah tertangkap basah. Mana bisa berbohong.
" Ya ampun Mas. " Sya menggelengkan kepalanya tidak percaya.
" Oke pembahasan ini selesai. " Putus final Radit.
" Nih. " Radit menyerahkan sebuah dasi berwarna hitam kepada Sya.
" Apa? " Tanya Sya bingung, namun dia tetap meraih dasi di tangan Radit.
" Pakein dong sayang. " Jawab Radit sedikit merajuk karena ketidak pekaan Sya.
" Ooo. " Sya mulai memasangkan dasi di kerah leher baju Radit.
" Udah Mas. " Ujar Sya seraya bangkit dari pangkuan Radit.
" Terima kasih sayang, ya udah kalo gitu semangat kerjanya. " Ucap Radja seraya mencium dahi, pipi, hidung dan bibir Sya.
" Jadi tujuan Mas ajak aku ke sini itu apa? " Tanya Sya kepada Radit. Pasalnya Sya kira Radit akan membicarakan suatu hal penting dengannya.
" Cuma buat pasangin dasi aku aja. " Jawab Radit dengan santainya. Tentu saja ini membuat Sya hanya bisa mendesah kesal mencoba untuk bersabar dengan tingkah absurd suaminya itu.