
Pagi hari ini Sya di sibukkan dengan kegiatan barunya, yaitu memasak untuk sarapan pagi mereka.
Tadi setelah selesai sholat shubuh, Kendra masuk ke kamarnya melalui connecting door yang memang sengaja Sya buka agar saat terbangun nanti Kendra tidak ngambek seperti kejadian di hotel. Kendra langsung tidur bersama Radit yang baru saja selesai sholat shubuh, sementara Sya tidak bisa tidur lagi karena rambutnya yang masih basah.
Hari ini Sya masak menu simpel saja, nasi goreng dengan telur ceplok diatasnya. Baru saja akan meletakkan nasi goreng ke dalam, tiba-tiba saja ada sepasang tangan memeluk pinggangnya.
" Astagfirullah. " Kaget Sya, hampir saja Sya menjatuhkan penggorengan yang sedang dia pegang.
" Selamat pagi istri Mas yang cantik. Cuppp." Ucap Radit seraya mengecup kepala bagian belakang Sya.
" Mas, ngagetin aja sih. " Ujar Sya kepada Radit. " Lepas dulu, aku mau pindahin nasi goreng ke piring. " Ujar Sya berusaha melepaskan belitan tangan Radit dari pinggangnya.
" Nggak mau, aku mau begini sebentar lagi. " Jawab Radit tetap pada sikapnya.
" Mas... Nanti diliat Mbok Inah sama Mbak Tinah loh. Malu Mas. " Ujar Sya kepada Radit, namun tetap saja tidak berhasil.
" Nggak papa sayang, mereka pasti ngerti kok, kan kita pasangan bar...... " Belum selesai Radit menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja sebuah suara kecil yang sangat dia kenal menginterupsinya.
" Ayahh.... " Panggil Kendra.
Seketika Radit melepaskan pelukannya kepada Sya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah asal suara, begitu juga dengan Sya.
" Kendra udah bangun sayang. " Ujar Radit kepada Kendra.
Tadi saat Radit bangun padahal Kendra masih tertidur pulas, tapi kenapa begitu dia turun bahkan belum ada 10 menit menikmati waktu berdua bersama Sya tiba-tiba saja Kendra sudah ada disini.
Sya langsung saja menghampiri Kendra, kemudian meraihnya kedalam gendonganya.
" Gantengnya Bunda udah bangun, mau mimik susu dulu apa mau ikut sarapan sama Bunda dan Ayah. " Ujar Sya seraya menciumi kedua pipi gembul milik Kendra yang menjadi favorit Sya. Meskipun baru bangun tidur tapi aroma wangi tubuh Kendra sangat menyenangkan.
" Mau maem seleal terlus mimik susu stlobeli. " Jawab Kendra tersenyum.
" Giliran Kendra aja langsung dapet ciuman di pipi, sedangkan aku yang suaminya tidak sama sekali. " Gumam Radit dengan sedikit keras, memang sengaja agar istrinya itu mendengar ucapannya.
Sya yang tentu saja mendengar hanya tersenyum kepada Radit.
" Kendra duduk sini, biar Bunda buatin dulu ya. " Ujar Sya seraya menurunkan Kendra di baby cahir nya. Kemudian beralih kepada Radit yang masih berdiri diam di tempat.
" Mas mau aku buatin kopi? " Tanya Sya dengan lembut, yang tentu saja membuat Radit langsung terpesona. Memang siapa laki-laki yang tidak akan terpesona dengan senyuman yang Sya berikan, terlebih dia adalah istrinya, tentu saja Radit bahagia.
" Mau, gulanya jangan terlalu banyak ya sayang. Terima kasih. " Tidak lupa Radit akhiri dengan sebuah kecupan di dahi Sya. Setelahnya dia duduk di meja makan bersama Kendra yang sedang bermain dengan sendok.
Sarapan pagi ini di isi dengan tawa ceria dari Kendra, saat ini mood Kendra sedang baik hingga dia mau bercanda dengan Radit.
Selesai sarapan Sya baru saja akan mencuci piring bekas makan mereka.
" Mbak Sya biar mbok saja yang nyuci piring. " Ujar Mbok inah kepada Sya.
" Nggak papa mbok, Sya aja. Mbok sama Mbak Tidak udah sarapan belum? Itu tadi Sya masakin nasi goreng. " Ujar Sya seraya tersenyum. Tadi sebenarnya Sya sudah mengajak Mbok Inah dan Mbak Tinah agar sarapan bersama, tapi keduanya menolak dengan alasan akan mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu.
" Makasih Mbak Sya, nanti pasti mbok dan Tinah makan. " Jawab Mbok Inah.
Mengenai panggilan Mbak kepada Sya, itu memang Sya yang memintanya. Dia merasa tidak nyaman jika harus di panggil ibu oleh Mbok Inah dan Mbak Tinah. Awalnya mereka menolak, tapi setelah Sya memohon mereka menyetujuinya.
Sya tau kalo keduanya masih merasa canggung dengannya, untuk itu Sya segera menyelesaikan cuci piringnya dan menemui Kendra dan Radit yang saat ini sedang bermain di ruang keluarga agar Mbok Inah dan Mbak Tinah bisa makan dengan nyaman.
" Kendra mandi dulu yuk, udah siang loh. " Ujar Sya saat melihat Kendra sedang mewarnai masih dengan piyama tidurnya.
" Sebental Bunda, 5 menit lagi. Kendla lagi mewalnai halimau bental lagi selesai kok. " Jawab Kendra kepada Sya.
" Oke kalo gitu, 5 menit ya. " Ujar Sya kepada Kendra.
Sya duduk di samping Radit yang saat ini sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu terlihat sedang sangat serius, wajahnya yang terkesan dingin itu terlihat sangat mempesona. Dan ya, Inilah pesona dari seorang Direktur dari perusahaan ternama yang membuat kaum hawa langsung jatuh cinta kepadanya.
" Mas lagi banyak kerjaan ya. " Tanya Sya kepada Radit.
" Hemm? " Radit menurunkan kacamata yang dia pakai dan menatap ke arah Sya. " Kamu tanya apa tadi sayang? " Tanya Radit kepada Sya.
" Kerjaan Mas lagi banyak? " Ujar Sya mengulangi pertanyaannya.
" Enggak kok, ini cuma ngecek-ngecek laporan sama kirim beberapa e-mail ke Andre. " Jawab Radit seraya tersenyum.
Ngomong-ngomong tentang Andre, ternyata laki-laki itulah yang selama ini sibuk membantu Radit menyiapkan pernikahan mereka. Pantas saja beberapa hari sebelum pernikahan mereka dia tidak pernah melihat Andre di kantor Radit, ternyata dia lebih dulu pergi ke Jogja mengurus semua yang berhubungan dengan pernikahan Sya dan Radit.
Radit meraih jari tangan Sya dan menciumnya.
" Semakin hari kayaknya rasa cinta aku ke kamu semakin besar deh yank. " Ujar Radit kepada Sya.
" Pagi-pagi nggak usah gombal Mas, lagian nggak mempan juga buat aku. " Meskipun berkata seperti itu pada faktanya pipi Sya akan memerah setiap dia mendapat gombalan dari Radit.
" Aku nggak lagi gombal loh, aku serius sayang. " Ujar Radit kepada Sya. " Emang kamu nggak cinta sama aku? " Tanya Radit.
" Sembarangan kalo ngomong, kalo aku nggak cinta sama kamu nggak mungkin aku mau kamu nikahin Mas. " Ujar Sya menjawab pertanyaan Radit.
" Iya juga ya. " Ujar Radit seraya terkekeh kecil.
" Jangan pernah raguin perasaan aku Mas. " Ujar Sya menatap lembut Radit.
" Aku jadi pengen cium kamu. " Jawab Radit menatap dalam Sya.
" Jangan aneh-aneh, ada Kendra disini Mas. " Ujar Sya mengingatkan Radit.
" Nggak aneh-aneh kok sayang. Satu kecupan aja deh, boleh ya boleh. Kan Kendra juga nggak bakal liat sayang. " Ujar Radit memelas.
" Ya udah boleh. " Bisik Sya lirih seraya melirik ke arah Kendra yang sedang mewarnai menghadap ke arah TV.
" Yesss. " Baru saja Radit akan memulai aksinya...
" Bunda Kendla udah selesai mewalnainya, ayo sekalang kita mandi. " Ujar Kendra seraya beranjak dari duduknya dan menoleh ke belakang.
Refleks saja Sya mendorong dada Radit ke belakang agar menjauh darinya.
Sedangkan Radit hanya bisa menatap kesal ke arah Kendra yang lagi-lagi menggagalkan aksinya. Bocah laki-laki yang merupakan anaknya sendiri itu saat ini sedang menatap polos ke arah Sya yang tampak sedikit salah tingkah.