Baby... I Love You

Baby... I Love You
Pipi Merah



" Baby... I Love You. "


Sya terdiam kaku ditempatnya tidak tau harus menjawab apa, rasanya sungguh tidak bisa dia jelaskan. Matanya terus terpaku kearah Radit yang duduk di depannya. Ruangan yang memang sudah sempit ini terasa semakin sempit menurut Sya.


" Sayang. " Panggil Radit dengan suara lembutnya. Radit memegang tangan Sya yang sedang mendekap Kendra itu. Tangannya terasa sangat dingin.


" Kamu dari tadi kedinginan? Kok nggak bilang aku. Tau gitu kita beli jaket yang lebih tebel dari cardigan kamu ini. " Radit memegang salah satu tangan Sya dengan kedua tangannya yang hangat itu.


Masih tidak ada respon dari Sya. Gadis itu hanya diam terpaku di tempatnya.


" Maureen... "


" Mas... " Panggil Sya seraya menatap wajah Radit.


" Hmmm... Kenapa? " Jawab Radit dengan lembut.


" Aku baru tau kalo Mas Radit ternyata orangnya romantis. Aku kira kamu tuh orangnya dingin, nggak peka, dan tukang ngambekan. " Ujar Sya memberitahukan penilaiannya tentang Radit selama ini. Radit yang mendengar pernyataan Sya ini hanya tersenyum. Sebenarnya dia juga mengakui semua sifat yang disebutkan oleh Sya, dan Radit tidak akan marah karena hal itu karena semuanya memang benar adanya.


" Aku lagi romantis begini kok kamu malah nyebelin sih sayang. " Ujar Radit seraya mencubit pelan hidung Sya.


" Sakit Mas... " Jawab Sya dengan manja.


" Apaan, orang aku cuma pelan pegangnya. Boong nih. " Radit gemas melihat wajah lucu Sya. Rasanya dia tidak sabar untuk menghalalkan gadis di depannya ini. Agar saat gemas seperti ini Radit bisa mencium pipi tembem Sya yang bulan itu.


" Hahaha... " Sya justru tertawa kecil menanggapi kata-kata Radit. Memang Sya hanya berbohong saat berkata sakit waktu hidungnya dicubit pelan oleh Radit. Hal ini tentu saja dia lakukan untuk menutupi rasa malunya.


" Malah ketawa. Jawab dulu, kan aku tadi bilang I Love You. Kamu nggak ada niat buat bales ungkapan hati aku? " Tanya Radit menggoda Sya. Radit suka saat melihat pipi Sya yang sedang merah merona menahan malu seperti sekarang ini.


" Akuu... Mmmm... Aku... " Sya langsung gelagapan diberi pertanyaan seperti itu.


" Apa sayang? Aku apa? Kok muka kamu merah gitu. " Radit masih saja menggoda Sya.


" Aku gerah Mas, iya gerah. " Jawab Sya berbohong.


" Tangan kamu aja dingin sayang. Mana mungkin kamu gerah. " Radit menatap Sya masih dengan tatapan lembut dan dalamnya.


" Mas.. Jangan gitu. " Sya mulai memperlihatkan wajah merajuknya.


" Kenapa? "


" Aku malu. Mas ngeliatin akunya jangan begitu. " Jawab Sya menundukkan wajahnya.


" Emang aku ngeliatin kamu gimana? Jangan nunduk gitu dong sayang." Ucap Radit dengan pelan.


" Mass... "


Baru saja Sya akan menjawabnya, ternyata waktu putar mereka sudah habis. Saat ini ruangan yang mirip dengan sangkar burung ini sudah ada dibawah dan dibuka oleh petugas. Hal ini membuat Sya menghela nafas lega.


" Kali ini kamu lolos. Tapi tidak ada lagi kata lain kali. " Bisik Radit lirih yang hanya didengar oleh Sya.


Radit turun lebih dahulu karena dia harus menggendong Kendra. Bagaimana pun Kendra berat karena badannya yang gembul itu. Dan Radit tidak ingin membuat Sya kelelahan karena harus menggendong anaknya ini.


" Kamu nggak ada mau beli sesuatu sayang? " Tanya Radit kepada Sya yang ada disampingnya. Tangan Sya ada disaku hoodienya karena Radit tidak bisa menggandeng dengan tangannya yang saat ini sedang menggendong Kendra.


" Enggak Mas, pulang aja yuk. Kasian Kendra, pasti dia sudah capek. " Jawab Sya dengan halus.


Radit hanya menganggukan kepalanya dan mereka meneruskan jalan kearah parkiran dimana mobil Radit berada.


Di dalam mobil hanya ada keheningan. Radit fokus menyetir mobil, Kendra tertidur dengan pulas dibelakang, dan Sya yang sedang berusaha menahan kantuknya.


" Beneran nggak papa Mas? Tapi nanti Mas nyetir sendirian. " Sya tidak enak untuk tidur saat ini. Biar bagaimana pun disini yang lebih lelah adalah Radit. Karena dari tadi memang laki-laki itu yang menyetirnya saat berangkat dan pulang.


" Nggak papa. Mumpung masih ada waktu 20 menit, kamu tidur dulu aja. " Radit mengelus pelan Rambut Sya.


Sya yang mendengar ucapan Radit seketika langsung mencari posisi nyaman. Mungkin karena memang sudah benar-benar mengantuk, tidak butuh waktu lama Sya langsung tertidur lelap. Radit yang melihatnya hanya tersenyum sendiri. Saat tidur seperti ini, Sya terlihat seperti Kendra, seorang anak kecil yang tidak berdosa. Berbeda saat sedang terbangun, sikap dewasanya justru lebih baik dari pada dirinya yang masih sering labil dan ngambekan. Radit bahkan tidak pernah melihat Sya ngambek kecuali saat dia datang bulan beberapa hari ini, dan menurutnya itu wajar. Walaupun dibeberapa kesempatan Sya memang terlihat bersikap manja, mungkin hal itu karena memang Sya anak bungsu di rumahnya dan begitu dimanja oleh orang tua dan kakaknya. Dan Radit menyukai sifat manja Sya itu.


" Sayang... " Panggil Radit seraya mengelus rambut Sya pelan. Rambut panjangnya ini menutupi bagian depan wajahnya. Hal ini karena Radit yang tadi melepaskan ikat rambut milik Sya.


Tidak ada jawaban ataupun pergerakan dari Sya. Ternyata Sya memang tertidur sangat lelap. Sebenarnya Radit tidak tega untuk membangunkannya, tapi mau bagimana lagi. Tidak mungkin kan dia membawa Sya pulang kerumahnya? Mereka belum muhrim dan Sya pasti juga tidak akan setuju nantinya.


" Maureen.. " Panggil Radit dengan sedikit agak keras.


Dan benar, Sya perlahan membuka matanya.


" Hmmm... kenapa Mas? " Gumam Sya lirih.


" Sudah sampai dikosan kamu." Jawab Radit dengan lembut. Sebenarnya masih pukul setengah 10 tapi mungkin Sya sangat kelelahan setelah tadi memutari pasar malam dan mencoba beberapa wahana disana.


" Oohh udah sampe ya. " Sya menatap kesekitar, dan benar sekarang mereka ada didepan gerbang kosannya.


Sya membuka sabuk pengamannya.


" Masih bisa jalan kan? " Tanya Radit kepada Sya.


" Masih lah Mas, kaki aku kan nggak kenapa-kenapa. Cuma akunya ngantuk doang. " Jawab Sya pelan.


" Pak Didin mana ya? Kok nggak ada sih. " Sedari tadi mobil Radit sampai didepan pintu gerbang, tidak terlihat tanda-tanda jika ada Pak Didin di pos.


" Paling lagi ke kamar mandi kali Mas, ya udah aku turun dulu. Kamu hati-hati dijalan, nggak usah ngebut-ngebut. Pelan aja asal selamat sampai rumah. Jangan lupa kalau udah sampai kabarin aku ya. " Ucap Sya panjang lebar.


" Iya sayang. Kamu juga langsung tidur kalau aku udah kabarin kamu. " Jawab Radit seraya tersenyum.


" Iya, ya udah aku turun. Selamat malam Mas. " Ucap Sya kepada Radit.


" Selamat malam juga sayang. "


Setelah Sya turun, mobil Radit langsung berputar arah untuk pulang. Sya membuka gerbang yang tidak terkunci.


" Loh udah pulang Mbak Sya? Maaf saya dari kamar mandi jadinya nggak denger kalo Mbak udah pulang. " Ucap Pak Didin dari belakang Sya.


" Eehh iya Pak Didin. "


" Mas Radit nggak ikut mampir tho? " Tanya Pak Didin.


" Engga Pak, udah malem soalnya. Kalau gitu saya masuk dulu ya Pak. Selamat malam. " Ucap Sya dengan ramah.


" Selamat malam juga Mbak. "


Sembari menunggu Radit mengirimkannya pesan, Sya memutuskan untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Cuci muka dan cuci kaki, gosok gigi dan tidak lupa mengganti bajunya dengan baju tidur.


Ting...


Direktur Ganteng


Sayang, aku udah sampai rumah. Kamu selamat tidur, semoga mimpi indah. Love You.