
Hari ini Sya dan juga Radit harus kembali ke Jakarta karena libur cuti mereka sudah habis. Sesuai dengan kesepakatan, Radit masih memperbolehkan Sya bekerja selama wanita itu tidak terlalu memforsir tenaganya, dan juga Sya tidak boleh ikut lembur.
Namun sebelum itu, seperti biasa Mama Farida dan juga Ayah Dodi memberikan wejangan kepada sepasang pengantin baru itu.
" Dalam rumah tangga itu nggak akan selamanya berjalan mulus dek, pasti akan ada sedikit kerikil-kerikil masalah yang sedikit mengganggu. Namun apapun masalahnya itu, jangan pernah sekalipun adek pergi dari rumah sebelum masalah terselesaikan. " Ujar Mama Farida menasehati Sya. Karena menurutnya tidak baik jika seorang istri pergi dari rumah suaminya dengan masalah yang belum terselesaikan.
" Iya Ma, adek bakal inget pesen Mama. " Jawab Sya seraya tersenyum.
Di lain tempat, saat ini Radit sedang ada di ruangan kerja Ayah Dodi, mereka memisahkan diri dari Sya dan Mama Farida yang juga sedang saling berbicara.
" Radit bagaimana menurut kamu tentang Sya setelah menikah dengan kamu? " Tanya Ayah Dodi kepada Radit.
" Maureen istri sekaligus ibu yang baik, dia penyayang dan perhatian. Namun terkadang dia bisa menjadi sangat manja, dan Radit menyukainya. " Jawab Radit seraya tersenyum.
" Iya kamu benar, Sya itu anak yang manja. Sekarang saja Ayah masih takjub Sya bisa hidup sendiri sejak kuliah. Padahal dulu saat masih kecil hingga dia lulus dari bangku SMA, apapun itu dia selalu bergantung kepada Ayah, Mama dan Fardan. Tapi dengan tekat besarnya dia memaksakan untuk hidup mandiri jauh dari kami. Awalnya Ayah dan Mama tentu saja khawatir, tapi kekhawatiran itu menurut Ayah sangat tidak mendasar. Sebagai seorang perempuan, mereka juga akan di tuntut untuk sedikit mandiri, meskipun tetap ada masanya untuk mereka bergantung kepada seorang laki-laki. Dan ya, Sya berhasil membuktikannya dengan bisa hidup mandiri. " Ujar Ayah Dodi bercerita mengenai Sya. Sedangkan Radit hanya mendengarkan.
" Dulu saat kecil, Ayah sangat ingat betapa cengengnya Sya. Dia akan selalu mengadukan tentang apa yang dia rasakan. Ayah suka setiap Sya melakukan itu, dengan begitu Ayah bisa tau langkah apa yang harus Ayah ambil untuk membuatnya bahagia lagi. Tapi sekarang berbeda, Sya sudah tidak seterbuka dulu saat kecil. Dia tidak pernah mengadukan apa-apa lagi kepada Ayah seolah dia bisa mengatasi semuanya sendirian. Dia tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya lagi kepada Ayah, dia selalu berusaha menutupinya, dan ya tentu saja itu tidak akan berhasil di mata Ayah. Dia tidak pernah lagi bercerita siapa saja yang membuatnya sedih atau terluka. Dia terus saja menutupi segalanya. " Ayah Dodi berucap dengan sendu. Dia mengingat masa masa dimana Sya adalah gadis kecil polos tanpa sebuah beban di pundaknya.
Radit masih setia mendengar cerita Ayah Dodi.
" Radit, kamu sudah Ayah anggap sebagai anak Ayah sendiri, sama seperti Sya dan Fardan. Ayah sangat bahagia silaturahmi antara Ayah dan orang tua kamu bisa terjalin sampai sekarang. Bahkan semakin erat dikarenakan pernikahan kamu dan Sya putri bungsu Ayah. Untuk itu jika suatu hari nanti Sya membuatmu marah atau pun muak hingga menyebabkan rasa cinta yang kamu punya untuk Sya itu menghilang, tolong tetap jangan sakiti dia, demi Allah Ayah tidak akan rela. Lebih baik kamu antar Sya kembali ke Ayah selama Ayah masih hidup, dan nanti biar Ayah yang akan menjelaskan kepadanya, biar juga nanti Ayah yang akan m ngobatinya. Dengan begitu tidak akan ada kebencian yang terjadi, dan silaturahmi kita bisa akan terus berjalan. " Ujar Ayah Dodi.
Ucapan Ayah Dodi ini benar-benar mengagetkan Radit, dia sampai spechles tidak tau harus menjawab apa perkataan Ayah mertuanya itu. Tapi dia sadar jika ini ada suatu wujud cinta seorang Ayah untuk anak perempuannya.
" Tidak, jangan salah paham dulu. " Ujar Ayah Dodi yang melihat wajah menegang Radit. " Bukan Ayah mendoakan kalian akan berpisah, hanya saja Ayah ingin mengantisipasi jika kemungkinan itu terjadi. Ayah akan selalu mendoakan agar pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan. " Ujar Ayah Dodi seraya tersenyum.
" Radit paham dengan maksud ucapan Ayah. " Jawab Radit seraya tersenyum menatap Ayah Dodi. " Tapi inshaAllah Radit akan sebaik mungkin menjaga rumah tangga ini, dan menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kami. Radit minta doanya Ayah. Dan jika suatu saat nanti Radit berbuat salah, tolong beri tau Radit hal yang benar, jangan biarkan Radit telalu lama tersesat pada hal yang salah. " Ujar Radit dengan suara lembutnya.
" Ayah percaya sama kamu. " Ucap Ayah Dodi menatap hangat Radit.
" Terima kasih Ayah, Radit akan menjaga Maureen sebaik mungkin. Tidak akan Radit biarkan hal buruk terjadi padanya. " Ucap Radit tegas.
...~~~...
" Yah, Ma. Radit sama Sya pamit dulu ya. " Ujar Radit berpamitan kepada Ayah Dodi dan Mama Farida.
" Iya Ma, nanti inshaAllah Radit sampein. " Jawab Radit seraya tersenyum.
Sebagai informasi, Fardan dan Asti sudah berangkat ke Bali 3 hari yang lalu karena pekerjaan Fardan yang menuntut kehadirannya disana.
" Cah ganteng, sekolahnya yang rajin ya, biar pinter. Besok kalo besar katanya Kendra pengen jadi Astronot kan? " Ujar Mama Farida kepada Kendra.
Darimana Kendra tau mengenai Astronot? Ternyata dari sebuah kartun anak-anak yang tokohnya 2 orang anak kecil tanpa rambut dari negeri tetangga.
" Iya Uti, Kendla besok bakal lajin sekolah. " Jawab Kendra seraya tersenyum manis.
" Bagus, kalo gitu sayang dulu Uti. " Ujar Mama Farida mensejajarkan tinggi badan nya dengan Kendra.
Seketika Kendra langsung memeluk Mama Farida dan mencium pipinya.
" Embah enggak dicium juga nih? " Ujar Ayah Dodi kepada Kendra.
Kendra menolehkan wajahnya dan langsung melakukan hal yang sama juga kepada Ayah Dodi.
Selesai berpamitan seperti biasa mereka diantar oleh Pak Iman ke Bandara. Kendra duduk di tengah-tengah antara Sya dan Radit. Seperti biasa bocah kecil itu tidak mau lepas dari Bundanya.
Hanya terjadi obrolan singkat selama perjalanan.
Tiba di Bandara, mereka langsung melakukan pengecekan, baru setelahnya menunggu di Boarding Room sampai tiba waktunya untuk masuk ke pesawat.
Di dalam pesawat, tiba-tiba saja Radit menggenggam tangan Sya.
" Kenapa Mas? " Tanya Sya kepada Radit. Sedangkan Kendra saat ini sudah tertidur nyenyak di kursinya.
" Sayang, jika suatu saat nanti aku membuat kesalahan yang fatal. Jangan pernah menyerah akan rumah tangga kita ya, jangan tinggalin aku. Beritahu aku jika aku melakukan kesalahan. " Ujar Radit yang membuat Sya mengerutkan dahinya bingung, kenapa Radit tiba-tiba berbicara seperti ini. Tanpa sepengetahuan Sya, saat ini Radit sedang memikirkan ucapan Ayah Dodi, dia merasa takut jika Sya akan meninggalkannya.
" Kamu kenapa Mas? " Tanya Sya menatap lembut kepada Radit.
" Aku cinta kamu. Jangan pernah berniat untuk meninggalkan aku. Karena aku nggak akan biarin itu terjadi sayang. " Bisik Radit lembut di telinga Sya.