
Shubuh-shubuh begini Sya dan Fardan sudah ada di Bandara, saat ini mereka duduk diterminal keberangkatan. Bukan Sya yang akan pergi, melainkan Fardan yang memang akan pulang ke Jogja terlebih dahulu seperti yang sudah direncanakan. Sedangkan Sya hanya mengantarkan kakaknya itu.
" Adek tadi harusnya dirumah aja nggak usah nganter Mas segala. Masih ngantuk kan kamu? " Ujar Fardan kepada Sya. Saat ini pukul setengah 5 pagi, dan pesawat akan lepas landas sekitar 45 menit lagi. Fardan tadi sudah menolak untuk diantarkan oleh Sya sampai Bandara. Tapi seperti yang sudah kita duga, gadis itu tentu saja menolak usulan kakaknya dan ngotot untuk mengantarkan sampai Bandara.
" Kata siapa, adek nggak ngantuk kok. " Jawab Sya seraya menguap.
" Nggak ngantuk tapi nguap terus." Ujar Fardan mengusap rambut adik kesayangannya itu. " Kamu disini jaga diri baik-baik. Jangan gampang percaya sama orang asing tapi nggak boleh curigaan juga. " Selalu kakaknya itu memberikan petuah kepada Sya setiap kali mereka akan berpisah tempat.
" Iya, Mas tenang aja. Adek bisa jaga diri kok, kan adek udah besar. Lagian kayak yang baru pertama kali aja adek ditinggal sendiri. Kan emang dari dulu adek tinggal di kota orang." Jawab Sya menenangkan kakaknya.
" Kalo ada apa-apa langsung kabarin Mas, Ayah sama Mama. " Ujar Fardan lagi.
" Iya Mas iya, adek paham. " Jawab Sya.
" Good." Sekali lagi Fardan mengusap kepala Sya dengan sayang.
" Nanti titip salam buat Mama sama Ayah ya, nanti adek pulang sebulan lagi pas cuti tahun baru. " Ujar Sya kepada kakaknya.
Tidak lama kemudian pengumuman keberangkatan arah Jakarta-Jogja terdengar. Fardan langsung masuk untuk naik setelah berpamitan kepada Sya.
Sya masih terduduk di kursinya. Sebenarnya dia juga ingin pulang ke Jogja tapi apa daya, dia harus bekerja. Lagi pula keputusan untuk bekerja di Jakarta merupakan sesuatu yang sudah dipilihnya. Jadi dia harus tetap pada konsekuensinya dengan harus berjauhan dari keluarga. Toh sebentar lagi juga libur cuti tahun baru, jadi dia bisa pulang ke Jogja.
.
.
Setelah mengantarkan kakaknya ke Bandara, Sya kembali kekosannya untuk melanjutkan tidurnya lagi. Tadi sebelum ke Bandara dia memang sudah sholat shubuh terlebih dahulu. Rasanya baru saja dia terlelap beberapa menit. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.
" Haloo Assalamu'alaikum." Ujar Sya dengan suara yang masih terdengar seperti orang setengah sadar.
" Wa'alaikumsalam, saya sudah ada didepan bersama Kendra. Cepetan kamu keluar. " Suara berat ini rasanya sangat familiar di telinga Sya. Dilihatnya nama kontak yang tertera dilayar panggilan Direktur Galak. Ini orang kurang kerjaan banget ya pagi-pagi udah kesini aja, karena dilihatnya jam masih menunjukkan pukul setengah 8, Sya hanya menggerutu dalam hati. Eehhh tapi tunggu-tunggu tadi Pak Radit bilang apa? Dia sama Kendra?
" Maureen, kamu sudah bangun kan? Atau masih ada di alam mimpi? Apa perlu saya kesana untuk membangunkan kamu? " Ucapan Radit ini ternyata dapat membuat Sya sadar sepenuhnya.
" Iya Pak saya sudah bangun, bentar saya cuci muka dulu." Sya mematikan ponselnya sepihak kemudian berlari menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan gosok gigi agar wajahnya terlihat lebih segar.
Di pos satpam Radit dan Kendra sedang duduk bersama Pak Didin. Setelah permusuhan yang dikibarkan Kendra kepada Radit kemarin, pada akhirnya dia luluh saat Radit berjanji akan mengajak Kendra ke kosan Sya. Dan jadilah mereka disini setelah pagi tadi Kendra terus merengek dan membangunkannya saat shubuh. Mereka datang agak siang setelah memberi pengertian kepada Kendra jika Sya belum bangun jika terlalu pagi.
" Mbak Sya biasanya bangun pagi sekali, tapi mungkin karena habis mengantarkan Masnya ke Bandara tadi waktu shubuh jadinya tidur lagi kali Mas. " Ujar Pak Didin kepada Radit.
" Masnya nginep disini Pak? Bukannya ini kosan khusus perempuan ya." Tanya Radit heran.
" Iya kosan perempuan Pak, tapi kalo keluarga yang datang sih boleh-boleh aja kalo nginep. " Jawab Pak Didin.
" Waktu mereka akan kos disini kan kita mintai kartu keluarga Pak, sama foto copy anggota keluarga. Jadi selain mereka kalo laki-laki tidak diperbolehkan masuk kamar dan nginep disini. Kalo bawa temen perempuan sih boleh-boleh aja. Tapi jarang kok penghuni kos yang bawa keluarga atau temen nginep disini. Paling Mbak Sya sama Mbak Dita doang yang kadang sering dijenguk keluarganya, dan kita juga sudah saling mengenal." Ujar Pak Didin memberikan penjelasan.
Ternyata kosan Sya sangat ketat penjagaannya. Setidaknya ini membuat Radit sedikit lega karena Sya tinggal di lingkungan yang cukup aman dan terjaga.
Tidak lama terlihat Sya keluar dengan training hitam dan kaos hitam oversize, rambutnya diikat menjadi satu. Dimata Radit dia terlihat seperti anak gadis yang masih SMA. Siapa yang akan mengira jika gadis didepannya ini ternyata sudah berusia hampir seperempat abad.
" Kendra... " Panggil Sya kepada Kendra yang sedari tadi duduk anteng dipangkuan Ayahnya sambil bermain game.
" Dunda... " Anak itu langsung turun dari pangkuan Radit seraya meletakkan tabletnya asal dan berlari ke arah Sya.
" Jangan lari Ken." Ujar Radit mengingatkan putranya yang tampak bahagia begitu melihat Sya.
Sya meraih Kendra kedalam gendongannya begitu balita itu ada didepannya.
" Iishh tambah gembul aja sih Kendra. Pipinya kayak bakpao, badannya juga udah tambah berat. Bentar lagi pasti Dunda nggak bakal kuat gendong kamu. " Ujar Sya menciumi pipi Kendra yang menggembung putih dengan sedikit rona merah di pipinya.
" Oma masaknya enak-enak. Jadi Kendla maemnya banyak deh." Ujar Kendra tersenyum malu.
Sya hanya tertawa mendengar ucapan Kendra. Kemudian tatapannya beralih kearah Radit yang sedari tadi menatapnya.
" Selamat pagi Pak, tumben pagi-pagi sudah kesini." Ujar Sya basa basi. Pak Didin sedang ke toilet, maka dari itu Sya tidak menyapa Pak Didin.
" Kendra pengen ketemu sama kamu. Dari tadi shubuh dia sudah merengek minta dianter kekosan kamu." Jawab Radit singkat.
" Oo gitu, tadi pagi saya abis nganter kakaknya saya ke Bandara. " Ucap Sya tiba-tiba. Padahal Radit tidak menanyakannya. Entah kenapa Sya merasa jika Radit harus tau saja.
" Itu yang dipostingan story kamu itu kakak kamu? " Tanya Radit tiba-tiba.
" Iya itu kakak saya, namanya Fardan. Dia kerja di Bali sebagai arsitek." Jawab Sya.
" Wahh boleh dong kapan-kapan kita kerjasama, saya butuh arsitek buat bangun villa di Bali. " Ujar Radit antusias.
" Kalo itu Pak Radit tanyakan langsung saja sama Mas Fardan. Nanti saya kasih nomernya." Jawab Sya tersenyum.
Radit terdiam cukup lama.
" Kalo kamu panggil saya Mas juga mau nggak? " Tanya Radit yang berhasil membuat Sya terkejut karenanya.
" Eehhh...? "