
Sya berhasil melewati masa kehamilan trimester awalnya dengan baik. Disamping Radit yang selalu menjaga dan memperhatikan kesehatannya, juga keluarga yang selalu memberikan suport mereka, Kendra juga menjadi sosok Abang yang begitu menyayangi adiknya meskipun masih ada di dalam perut Sya.
Setelah kemarin Sya kembali melakukan kontrol kandungan rutin setiap bulan, akhirnya kandungan Sya dinyatakan sudah kuat. Disamping Sya yang juga bahagia, maka orang yang paling bahagia adalah Radit. Kenapa? Karena Dokter Lilis sudah memperbolehkan mereka melakukan aktivitas malamnya.
*flashback
" Jadi Bu Sya, Perkembangan janin pada usia 4 bulan, atau lebih tepatnya usia 20 minggu pada masa ini janin sudah sebesar buah pisang. Janin sudah memiliki berat 290 gram dan panjang 16,5 cm. Dan pada usia ini janin sudah tumbuh semakin besar sehingga tekanan pada perut, paru, hingga kandung kemih akan Ibu Sya rasakan. Yang paling terasa adalah akan membuat Ibu Sya menjadi lebih sering buang air kecil karena kandung kemih Ibu tertekan oleh janin. " Ujar Dokter Lilis memberikan penjelasan kepada sepasang suami-istri istri yang sebentar lagi akan memiliki anak kedua mereka itu.
Sya dan Radit mengangguk.
" Sekarang kondisi kesehatan baik Ibu Sya dan janin sudah stabil dan kuat. " Ujar Dokter Lilis menambahkan.
" Jadi sekarang saya sama istri saya sudah boleh melakukan hubungan suami istri kan Dok? " Tanya Radit kepada Dokter Lilis. Pertanyaan frontal Radit ini membuat Sya sangat malu. Refleks saja Sya mencubit paha Radit.
" Masss.... " Panggil Sya dengan penuh peringatan.
" Apa sih sayang, ini pertanyaan wajar kok. Iya kan Dok? " Ujar Radit meminta pembenaran dari Dokter Lilis.
" Iya Bu Sya. Setiap pasangan suami istri akan sangat wajar menanyakan hal ini. Karena biar bagaimanapun ini demi kebaikan janin dan juga bapak dan Ibu sendiri. " Ujar Dokter Lilis membenarkan perkataan Radit dan memberikan penjelasan kepada Sya.
Pipi Sya semakin memerah karena pembahasan ini.
" Tuh kan bener, lagian aku harus tau mana yang baik buat aku dan juga dedek bayi. Aku juga nggak mau rugi dong. " Ucap Radit yang lagi-lagi membuatnya mendapatkan cubitan dari Sya.
" Aww, sakit sayang. KDRT ini namanya. " Ujar Radit kepada Sya.
" Bodo amat. " Jawab Sya jutek.
Sedangkan Dokter Lilis hanya tersenyum melihat kelucuan pasangan ini yang membuatnya justru terlihat romantis.
flashback off*
Dan hari ini Sya meminta izin kepada Radit agar di bolehkan untuk ikut ke kantor. Sya merasa sangat bosan setelah 3 bulan lamanya hanya berdiam diri di rumah. Sya ingin bertemu dengan teman-temannya, setelah Sya dinyatakan hamil mereka hanya berhubungan melalui ponsel saja.
" Mas, boleh ya aku ikut kamu ke kantor. Aku di rumah kesepian kalo Kendra lagi sekolah. Ditambah selama 3 bulan ini aku udah bosen banget cuma nonton drama Korea. " Ujar Sya dengan manja. Padahal sebelumnya Sya pernah membayangkan jika hidupnya hanya untuk menonton drama Korea maka itu akan sangat menyenangkan. Tapi baru 2 minggu Sya melakukan kegiatan rutin itu dia sudah sangat kebosanan. Ternyata aktivitas monoton itu tidak menyenangkan. Berbeda dengan bekerja, dia akan menemui banyak teman dengan sifat-sifat berbeda di kantor.
Radit terlihat berpikir apakah dia akan mengijinkan Sya untuk ikut dengannya ke kantor atau tidak. Dan karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Radit, mata Sya mulai berkaca-kaca.
" Mass.... " Panggil Sya dengan suara serak menahan tangis. Ya, seperti ibu hamil pada umumnya sekarang ini Sya terkena hormon ibu hamil yang membuatnya mudah sekali menangis bahkan hanya karena hal-hal sepele. Contohnya saja ya seperti sekarang ini.
" Ayah.... " Panggilan itu berasal dari putra pertamanya. Sang Abang yang begitu posesif kepada Bunda dan adiknya.
" Kena lagi deh. " Ujar Radit dalam hati.
" Bunda kenapa nangis? Pasti Ayah nakalin Bunda ya? Cup... cup... cup... Jangan nangis lagi ya, nanti bial Abang jewel telinga Ayah. " Ujar Kendra menenangkan Sya yang sedang menangis sesenggukan.
" Iya kamu boleh ikut aku ke kantor. " Ujar Radit pada akhirnya mengalah. Jika tidak seperti ini maka Radit akan mendapatkan amukan dari anaknya itu. Tenaga Kendra memang kecil, tapi tetap saja ada beberapa pukulannya yang sedikit terasa sakit.
Seketika Sya menghentikan tangisnya, padahal sudah sejak Kendra bilang akan menjewer telinga Radit dia sudah ingin tertawa.
" Beneran? " Tanya Sya memastikan.
" Iya sayang. " Jawab Radit yang membuat Sya merasa senang.
" Abang, Ayah nggak jadi nakalin Bunda kok. Jadi enggak usah di jewer ya telinganya. " Ujar Sya kepada Kendra.
" Benelan Ayah nggak nakalin Bunda? Tapi tadi Bunda nangis. " Ucap Kendra kurang percaya dengan apa yang Sya katakan.
" He.emm... Sekarang turun yuk, kita sarapan sekarang. " Ujar Sya mengajak Kendra untuk turun ke meja makan.
" Ayo Mas... " Panggil Sya kepada Radit. Setelah drama menangis tadi, sekarang Sya terlihat seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Dan ini hanya bisa membuat Radit menghela nafas pelan. Untung cinta, ujar Radit dalam hati. Kemudian dia turun mengikuti anak dan istrinya yang lebih dulu turun untuk sarapan.
Berbeda dengan saat kehamilan trimester pertama yang membuat Sya begitu tidak menyukai nasi karena membuatnya mual dan hanya ingin makan buah-buahan saja. Sekarang di trimester kedua ini Sya menjadi pemakan segalanya. Segala jenis makanan selama itu halal maka Sya dapat memakannya. Dan jadilah sekarang berat badan Sya sudah naik hampir 6 kg. Namun meski begitu justru membuat Sya terlihat lebih cantik dan fresh. Pada awalnya Sya merasa sangat tidak percaya diri dengan bentuk badannya, tapi Radit selalu membuat Sya kembali percaya diri lagi. Radit bahkan terus-menerus memuji badan Sya yang sekarang ini. Radit mengatakan jika Sya tidak perlu diet setelah melahirkan nanti karena Radit menyukainya. Memang benar yang orang katakan, aura Ibu hamil itu tidak bisa diremehkan.
" Mas mau sarapan nasi goreng atau roti? " Tanya Sya kepada Radit yang sudah duduk di kursinya. Sedangkan Kendra sudah dengan tenang menikmati semangkuk sereal dan segelas susu strawberry.
" Nasi goreng aja sayang. " Jawab Radit dengan lembut.
Dan dengan sigap Sya mengambilkan semua yang di butuhkan oleh suaminya itu.
" Kamu juga makan sayang. " Ujar Radit kepada Sya.
" Iya Mas. " Sya menyendok nasi goreng untuknya. Di sampingnya juga sudah ada segelas susu untuk ibu hamil rasa coklat dan juga vitamin yang di siapkan oleh Mbak Tinah. Sejauh masa kehamilan ini Sya hanya merasa mual saja namun tidak sampai muntah. Dan Radit mensyukuri itu. Setidaknya Sya tidak membuat Radit terlalu cemas dengan keadaannya.
" Nanti vitamin sama susu hamilnya jangan lupa dibawa sayang. " Ujar Radit mengingatkan Sya.
" Iya Mas Radit sayang. " Jawab Sya menuruti perintah Radit.