
Pagi hari setelah Sya dan Radit selesai sholat shubuh, Kendra terbangun. Bocah kecil itu mengetuk pintu yang terhubung langsung ke kamar orang tuanya. Tidak, bukan mengetuk namun lebih tepat disebut menggedor pintu karena suaranya yang terlalu keras.
" Ayaahhh... Buka pintunya, Abang mau bobok sama Bunda. " Teriakan Kendra yang disertai gedoran itu membuat Radit menghela nafas pelan. Untung saja Kendra bangun saat dia dan Sya sudah selesai sholat shubuh.
" Cepet bukain pintunya Mas, nanti tangan Kendra sakit kalo gedor pintu keras begitu. " Ujar Sya kepada Radit. Bukannya terganggu dengan suara keras yang dibuat oleh Kendra, Sya justru menghawatirkan tangan Kendra ya nantinya bisa sakit.
Radit turun dari tempat tidur dan membuka pintunya.
Kendra langsung merentangkan tangannya kearah Radit.
" Ayah gendong... " Rupanya Kendra masih sangat mengantuk.
Radit terkekeh geli saat meraih Kendra kedalam gendongannya.
" Kalau masih kenapa bangun Bang. " Ujar Radit kepada Kendra.
" Abang mau bobok sama Bunda. " Jawab Kendra masih dengan suara seraknya.
Radit menurunkan Kendra di ranjang dimana Sya sedang berbaring.
" Pelan-pelan peluk Bundanya Bang. " Ujar Radit mengingatkan Kendra.
Kendra langsung masuk ke pelukan Sya.
" Udah bobok lagi, Abang masih ngantuk kan. " Ujar Sya seraya menepuk-nepuk punggung Kendra agar bocah itu bisa tidur lahir. Saat ini masih jam 5 pagi, setidaknya Kendra bisa tidur sampai jam setengah 7 nanti untuk bersiap berangkat sekolah.
Radit juga ikut membaringkan dirinya di samping Kendra. Hari ini Radit masih ambil cuti, jadi bisa tidur sampai agak siang nanti.
...***...
" Abang, bangun yuk. Udah siang loh, ayo siap-siap. Hari ini Abang sekolah kan? " Sya membangunkan Kendra dengan halus.
" Bental Bunda, Abang masih ngantuk. 5 menit lagi. " Ujar Kendra tampa membuka matanya.
Sya tersenyum melihat Kendra yang terlihat sangat lucu itu. Kebiasaan Radit yang setiap dibangunkan selalu minta 5 menit lagi ternyata menurut kepada Kendra.
" Ayo Bang, udah mau siang loh ini. Nanti kalo Abang terlambat gimana? " Sya masih mencoba untuk membangunkan Kendra. Namun sekali lagi hanya gumaman yang Kendra berikan sebagai jawaban.
" Kenapa yank? Abang nggak mau bangun. " Tanya Radit seraya mengusap matanya.
" Iya ini Yah, Abang nggak mau bangun. " Jawab Sya. Niatnya agar Kendra bangun, tapi ternyata tidak. Ternyata Sya lupa kalau Kendra bahkan lebih nurut kepada Sya di bandingkan kepada Radit. Tentu saja itu tidak akan mempan untuk Kendra.
Radit bangun dari tidurnya, kemudian dengan perlahan mengangkat Kendra ke gendongannya. Radit membawa Kendra ke kamar mandi, diikuti oleh Sya.
" Jangan banyak-banyak airnya Mas. Kasian dingin nanti. " Ujar Sya kepada Radit
Radit hanya tersenyum mendengar ucapan Sya. Kemudian Radit membahasi tangannya dengan air dan mengucapkannya di wajah Kendra.
Dan ya, Kendra langsung bangun dari tidurnya.
" Seger nggak Bang? " Tanya Radit kepada Kendra. Dan langsung saja dijawab dengan anggukan oleh bocah tampan itu.
" Heem, segel Ayah. " Jawab Kendra dengan polosnya.
Tentu saja Sya dan Radit tertawa melihat respon yang Kendra berikan itu.
" Ya udah Abang mandi sama Ayah ya, biar Bunda siapin bajunya. " Ujar Sya kepada Kendra.
Kemudian Sya keluar dari kamar mandi dan mulai membereskan tempat tidurnya. Tidak lupa juga menyiapkan baju seragam sekolah untuk Kendra.
" Sayang, tolong ambilin handuknya, tadi aku lupa bawa." Teriak Radit dari kamar mandi.
Sya segera mengambil handuk yang diminta oleh Radit.
" Udah selesai? " Tanya Sya
" Udah. "
Radit menggendong Kendra kembali ke kamar untuk menyerahkan tugas menggantikan pakaian Kendra kepada Sya, sedangkan dia kembali ke kamar mandi untuk mandi karena bajunya yang sudah terlanjur basah saat memandikan Kendra tadi.
Kendra mengiyakan setiap perkataan yang Sya ucapkan untuknya.
" Nah, udah ganteng nih anak Bunda. " Ujar Sya setelah selesai menyisir rambut Kendra.
" Abang kan emang ganteng Bunda, soalnya Abang laki-laki kayak Ayah. " Ujar Kendra kepada Sya.
" Oo gitu, berarti kalo kayak Bunda itu namanya apa? " Ujar Sya bertanya kepada Kendra.
" Kalau Bunda itu cantik. " Jawab Kendra seraya tersenyum.
" Jadi Bunda cantik ya? "
" He.em... Bunda itu Bunda telcantik di dunia. " Jawab Kendra seraya tersenyum.
" Hahaha, Abang ini. Di ajarin siapa sih kok pinter gombal begini? " Tanya Sya dengan gemas.
" Diajalin Ayah dong. " Ujar Kendra seraya terkekeh geli.
" Ini lagi bahas apa kok bawa-bawa Ayah. " Tanya Radit begitu keluar dari kamar mandi. Tentu saja masih dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Sya dan Kendra saling bertatap kemudian tersenyum penuh arti.
" Rahasia. "
" Lahasia. "
Sya dan Kendra menjawab dengan kompak ucapan Radit. Setelahnya mereka tertawa bersama.
" Dih main rahasia-rahasiaan, nggak asik nih. " Ujar Radit berpura-pura cemberut.
" Udah sana Mas ganti baju. Aku sama Abang ke bawah dulu mau nyiapin sarapan. Bajunya udah aku siapin. " Ujar Sya kepada Radit.
Berhubung Radit tidak pergi ke kantor, Sya hanya menyiapkan baju rumahan biasa, Kaos dan celana bahan selutut.
Kemudian Sya dan Kendra turun ke lantai satu untuk sarapan. Ternyata disana ada Mama Farida yang sedang memasak bersama Mbok Inah.
Tadi malam selesai acara, Mama Riana dan Papa Riyan berpamitan untuk langsung pulang, jadilah sekarang hanya ada Mama Farida dan Ayah Dodi saja.
" Selamat pagi Mbah Uti. " Sapa Kendra dengan semangat.
" Selamat pagi cucu Uti yang ganteng. Mau sarapan ya? " Jawab Mama Farida sekaligus bertanya.
" Mama masak apa? " Tanya Sya kepada Mama Farida.
" Masak Ayam kecap dek, kemarin katanya kamu kangen Ayam kecap buatan Mama. " Jawab Mama Farida.
" Iih, Mama inget aja deh. " Ujar Sya tertawa kecil. Ya beginilah kalau Sya sudah bersama Mama, Ayah atau Fardan. Dia akan menjadi sangat manja. Mama Farida hanya tersenyum menanggapi kemanjaan putrinya itu.
" Terus Ayah kemana? " Tanya Sya seraya membuatkan sereal dan susu strawberry untuk Kendra sarapan. Sekarang bocah tampan itu sudah duduk di kursinya menunggu makanan datang.
" Di depan, palingan lagi olahraga atau lagi ngobrol-ngobrol sama Mang Mamat dan Eko. " Ujar Mama Farida.
Tidak berapa lama kemudian Radit turun ke bawah bersamaan dengan Ayah Dodi yang juga masuk.
" Darimana Ya" Tanya Radit kepada Ayah Dodi.
" Biasa, olahraga bentar biar badan nggak pegel. " Jawab Ayah Dodi.
Radit dan Ayah Dodi ke ruang makan bersama.
" Wahhh, cucu kakung udah lagi sarapan aja nih. " Ujar Ayah Dodi yang melihat Kendra sedang menikmati serealnya.
Kendra hanya tersenyum tidak menjawab.
" Ayok sarapan dulu, mumpung udah siap semua. " Ujar Mama Farida.
Jika hari-hari biasa sarapan Radit dan Sya sangat simpel, seperti nasi goreng atau roti panggang. Maka pagi ini Mama Farida memasakkan Ayam kecap, Sop jagung, dan Perkedel. Memang sudah menjadi kebiasaan Mama Farida memasak banyak menu setiap pagi.