
" Mas, kamu harus bisa mengikhlaskan semuanya. Mbak Audrey juga udah tenang di alam sana. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mendoakan agar dia di tempatkan di tempat yang terbaik oleh Allah SWT. Selain mencoba untuk memaafkan kesalahan Mbak Audrey dulu, Mas juga harus bisa memaafkan diri Mas sendiri. Karena dengan begitu Mas pasti akan merasa lebih lega di bandingkan sebelumnya. Dan yang bisa melakukan itu semua adalah Mas. " Ujar Sya memberikan nasihatnya.
" Aku tidak melihat semua kejadian yang sebenarnya dengan mata kepala sendiri. Jadi yang bisa aku bantu sekarang hanya ini. Aku berjanji akan selalu berada di samping Mas selama Allah SWT mengijinkan dan Mas tidak memintaku untuk pergi. Mas tidak perlu takut mengenai masa lalu itu. Aku dan Mbak Audrey adalah orang yang berbeda. Mas harus bisa percaya sama aku. " Sya memeluk Radit yang saat ini terlihat begitu rapuh itu.
" Aku tidak akan pernah meminta mu untuk pergi dariku sayang, tidak akan pernah. Bahkan jika kamu yang meminta pun aku tidak akan mengijinkannya. Aku butuh kamu, dan Kendra juga butuh kamu. Aku dan Kendra membutuhkan kamu untuk selalu ada di samping kami. " Tiba-tiba saja Radit terisak pelan di bahu Sya. Radit mengeratkan pelukannya kepada tubuh Sya, namun tidak sampai membuat perut Sya terjepit. " Bantu aku untuk bisa melalui ini semua. Ini terasa sangat menyakitkan setiap mimpi itu datang. Dan sekarang mimpi itu justru berubah menjadi kamu yang meninggalkan aku. " Tambah Radit.
" Apa perlu kita menemui psikiater Mas? " Sya rasa Radit memang harus menemui seseorang yang ahli dalam bidang ini. Mengenai gangguan kesehatan mental seseorang bukanlah sesuatu yang bisa di remehkan. Sya ingin Radit bisa lepas dari rasa amarah dan rasa bersalahnya di masa lalu. Ini bukanlah sepenuhnya salah Audrey ataupun Radit. Mereka sama-sama salah karena ini semua bisa terjadi karena kurangnya komunikasi di antara mereka. Dan Sya juga tidak menyalahkan salah satunya.
" Tidak, aku hanya butuh kamu untuk terus ada di sampingku. Itu sudah lebih dari cukup. " Jawab Radit menolak usulan Sya. Sepertinya laki-laki itu belum berani untuk menceritakan kejadian itu kepada orang lain selain Sya. Dan ya, Sya tidak mungkin memaksakannya. Jika memang yang Radit butuhkan adalah dirinya untuk terus ada di samping laki-laki itu. Maka Sya akan melakukannya.
" Baiklah, aku tidak akan memaksa Mas. " Jawab Sya pada akhirnya.
Sya dan Radit terus berpelukan menciptakan suasana hening di kamar tamu dimana Kendra sedang tertidur pulas di ranjangnya.
" Apa Mas lelah? " Ujar Sya mencoba untuk membuka pembicaraan.
" Sedikit. " Jawab Radit pendek.
" Mas ingin tidur lagi? " Tanya Sya kepada Radit.
Hening, laki-laki itu terdiam beberapa saat setelah pertanyaan dari Sya. Sebenarnya Radit juga ingin kembali tidur, tapi Radit terlalu takut jika mimpi itu datang lagi dan saat dia terbangun dari tidurnya Sya tidak lagi bersamanya.
" Jangan takut, aku akan selalu ada di samping Mas. Percaya padaku, mimpi itu tidak akan datang lagi jika Mas berusaha untuk memaafkan masalalu Mas. " Ujar Sya kepada Radit. Wanita itu seolah tau apa yang ada di pikiran suaminya itu.
Sya turun dari pangkuan Radit dan menuntun laki-laki itu untuk berbaring di samping Kendra. Sedangkan Sya duduk di sebelahnya.
" Tidurlah, aku akan selalu ada di samping Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
Seolah ucapan Sya itu adalah lagu pengantar tidur, Radit memejamkan matanya dan mulai terlelap tidur dengan nyenyak.
Sya menatap 2 laki-laki berbeda generasi yang saat ini terlihat nyaman di tidurnya setelah tadi ada sedikit keributan yang terjadi.
Bahkan saat tidurpun Radit masih menggenggam tangan Sya.
Karena merasa lelah juga, Sya pun ikut merebahkan dirinya di ranjang. Meski tidak terlalu luas, tapi ranjang di kamar tamu ini masih cukup untuk mereka bertiga. Kendra ada di ujung ranjang dekat tembok, Radit di tengah, sedangkan Sya di pinggir.
...***...
Menjelang siang, Kendra terbangun lebih dulu. Dengan sekuat tenaganya bocah tampan itu menggeser tubuh Radit ke ujung tembok dimana tempatnya tidur tadi dan menggantikan posisi Radit dengan dirinya sendiri.
Kendra memeluk tubuh Sya, kemudian berbisik lirih di telinga Sya.
" Hemmm? " Sya membuka matanya dan bergumam tidak jelas.
" Abang lapel Bunda, mau susu stlobeli sama nasi goreng telulll.... " Ujar Kendra memperjelas ucapannya agar Sya paham apa yang di inginkan olehnya.
Sya tertawa kecil karena bisikan Kendra yang terasa geli di telinganya.
" Boleh, tapi cium dulu Bunda. " Ujar Sya kepada Kendra.
Tentu saja dengan senang hati bocah tampan itu mengabulkan permintaan Sya. Bahkan sebenarnya tanpa di suruh pun Kendra pasti akan melakukannya.
" Cup... cup... cup... " Sebuah kecupan basah menempel di kedua pipi Sya dan dahinya.
" Hahaha... Terima kasih Abang. Ya udah ayo kita buat susu sama nasi telur. Tapi pelan-pelan ya turunnya, soalnya. Ayah masih bobok, lagi kecapean. " Ujar Sya memberitahu Kendra.
Kendra yang merupakan anak patuh tentu saja melakukan apa yang Sya perintahkan.
Sya dan Kendra keluar dari kamar tamu dan menuju dapur. Tidak ada Mbok Inah maupun Mbak Tinah. Sepertinya 2 asisten rumah tangganya sedang melakukan pekerjaan yang lain.
Pertama Sya membuatkan Kendra susu strawberry terlebih dahulu. Ini sudah hampir pukul 10 dan Kendra belum minum susu sejak pagi tadi.
Setelah membuatkan Kendra susu, seperti yang di reques oleh putranya itu, Sya membuatkan nasi telur. Sederhana saja, hanya telur yang di goreng orak-arik dengan butter dan sedikit garam kemudian di campur dengan nasi.
Sya meletakkan nasi telur pesanan Kendra di meja tepat di depan bocah tampan itu. Kendra tentu saja sangat senang saat melihat Sya membuatkan makanan yang di inginkannya.
" Telima kasih Bunda. " Ujar Kendra seraya menampilkan senyumnya
" Sama-sama sayang. Habis maem kita mandi dulu ya. " Ujar Sya kepada Kendra.
Kendra menganggukkan kepalanya, sedangkan Sya kembali ke mejan dapur untuk membuat susu hamilnya, karena sejak pagi Sya belum meminumnya.
" Bunda enggak maem juga? " Tanya Kendra kepada Sya. Kendra pikir Sya akan makan bersamanya, ternyata Sya hanya membuat susu hamil saja.
" Enggak, Bunda tadi udah maem kok. Sekarang Abang yang maem, di habisin ya biar nanti tambah kuat. " Jawab Sya. Memang tadi Sya sudah makan di suapi bubur ayam oleh Radit.
Tiba-tiba....
" Sayang..... " Terdengar suara Radit yang sepertinya memanggil Sya.
" Iya Mas, aku di dapur... " Ujar Sya menimpali panggilan dari Radit.