Baby... I Love You

Baby... I Love You
Yeyy.. Lepas Segel!!!



Sejak mendengar permintaan Kendra yang menginginkan dedek bayi, Radit menjadi selalu menempel kepada Sya. Entah itu saat Sya sedang makan atau bahkan saat Sya sedang mandi, Radit menunggunya tepat di depan pintu.


" Mas kenapa sih ngikutin aku terus? " Ujar Sya kesal.


" Ayolah sayang... " Ujar Radit dengan manja.


Ya Tuhan, sejak kapan suami dinginnya ini berubah menjadi seperti anak kucing? Benar-benar sulit dimengerti. Mungkin jika karyawan Radit melihat Direktur mereka sedang merajuk seperti ini akan sangat lucu. Popularitas Radit sebagai laki-laki cool akan runtuh seketika.


" Ayo apaan sih Mas? Awas durian sanaan, aku mau keringin rambut. " Ujar Sya mendorong pelan bahu Radit.


" Ayo buat dedek bayi pesenan Kendra. " Jawab Radit dengan wajah yang di buat polos seperti Kendra.


" Mass, ihhh kok kamu jadi mesum begini sih. " Ujar Sya kesal seraya menahan malu.


" Ya normal kan kalo aku mesum. Apalagi mesumnya sama kamu, istri sah aku sendiri. " Jawab Radit santai.


" Ya iya tapi kan.... " Ucapan Sya langsung dipotong secara sepihak oleh Radit.


" Tapi apa? Hayo loohhh, nolak permintaan suami itu dosa. " Radit mengatakan itu seraya menaikan satu alisnya menggoda Sya.


Sya terdiam beberapa saat, memang yang Radit ucapkan itu benar. Menolak permintaan suami mengenai hal itu maka dia akan berdosa, para malaikat akan melaknatnya.


" Ya udah iya, tapi nanti malam aja. " Jawab Sya menyerah pada akhirnya.


Ini masih jam 9 pagi, tidak mungkin bukan jika mereka melakukannya sekarang?


" Yess, makasih sayang. Muach... muach... muach... Akhirnya nanti malam aku bisa lepas segel kamu. " Ujar Radit seraya menciumi seluruh wajah Sya.


" Mas ihh, malu... " Ujar Sya kepada Radit.


" Malu sama siapa? di kamar ini cuma ada kamu sama aku aja loh. " Jawab Radit santai. " Ya udah, aku mau ke tempat Kendra dulu. Mau ajak dia mandi bareng. " Ujar Radit seraya mencium kening Sya kemudian keluar dari kamar mencari Kendra yang saat ini sedang bermain bersama Ayah Dodi. Memang sejak dia selesai berolahraga dan bernegosiasi masalah dedek bayi dengan Kendra, Radit belum mandi.


Sya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Radit.


...~~~...


Sejak kejadian tadi mendadak Kendra menjadi sangat lengket dengan Ayah Dodi. Dia selalu berkata jika dia ingin tidur bersama Mbah Kakung dan Mbah Utinya itu agar cepat mendapat dedek bayi.


" Nanti Kendla mau bobok sama Mbah sama Uti. " Ujar Kendra kepada Ayah Dodi.


" Oo iya? Kok tumben Kendra mau bobok sama Embah. Biasanya nggak mau jauh-jauh dari Bunda. " Ujar Ayah Dodi, karena tidak biasanya Kendra seperti ini.


" Kendla mau punya dedek bayi, jadi disuluh Ayah buat bobok sama Embah. " Jawab Kendra dengan polosnya.


Ayah Dodi yang mendengar ucapan Kendra ini langsung tertawa. Cucunya ini sangat polos, mudah sekali di bujuk jika itu sesuai dengan keinginannya.


" Ooh ya, jadi Kendra udah siap punya dedek bayi? Udah siap Kendra berbagi Bunda sama dedek bayinya? " Tanya Ayah Dodi menggoda Kendra.


Bukannya tidak setuju jika Sya dan Radit berencana langsung mempunyai bayi. Hanya saja Ayah Dodi rasa mereka harus memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada Kendra agar nantinya Kendra tidak merasa kehilangan kasih sayang orang tuanya, terlebih kasih sayang dari Sya. Meskipun Ayah Dodi yakin jika nantinya Sya tidak akan membedakan antara Kendra dan anak kandungnya nanti, tapi lebih baik menyiapkan mental Kendra lebih dulu.


" Belbagi? " Tanya Kendra tidak paham.


" Heem, berbagi. Seperti Kendra sharing mainan sama dedek Aurel. " Jawab Ayah Dodi seraya memberikan pemahaman yang lebih mudah di mengerti anak seusia Kendra.


Kendra tampak terdiam memikirkan ucapan dari Mbah Kakungnya itu. Dia membayangkan jika nantinya benar-benar harus berbagi Bundanya seperti dia sharing mainan dengan Aurel. Sepertinya itu bukan ide yang buruk, rasanya akan sangat menyenangkan jika dia dan dedek bayi nanti bisa bermain bersama Ayah dan Bundanya.


" Nggak papa, Kendla mau kok shaling Bunda sama dedek bayi nanti kita bisa main baleng. " Ujar Kendra menunjukkan rasa bahagianya.


" Oo iya? Wahhh, hebat dong cucu Mbah Kakung, udah pinter nih berarti. " Ujar Ayah Dodi dengan bangga. Dia tidak menyangka jika Kendra akan menjawab seperti itu. Dia pikir Kendra akan menolak berbagi Sya dengan adiknya nanti, ternyata jiwa ke abangan bocah kecil itu sudah ada sejak dini. Mungkin sejak kelahiran Aurel dan Kendra diberikan pengertian jika dia adalah abang yang harus menjaga adiknya dan harus sharing dengan apa yang dia miliki.


Tanpa sepengetahuan Kendra dan Ayah Dodi, ternyata ada seseorang yang sangat bahagia mendengar obrolan mereka, ya siapa lagi kalo bukan Radit. Dibelakang pintu dapur dia bisa mendengar pembicaraan Kendra dan Ayah mertuanya itu. Ternyata lampu hijau benar-benar dia dapatkan dari Kendra.


...~~~...


Benar saja, malam harinya Kendra tidur bersama Ayah Dodi dan Mama Farida. Padahal diam-diam tanpa sepenuhnya Radit, Sya membujuk Kendra agar mau tidur bersamanya seperti biasanya, dia bahkan sudah memberikan berbagai penawaran untuk bocah menggemaskan itu. Dan hasilnya tetap saja nihil, dia menolak dengan tegas setiap penawaran yang Sya berikan. Kendra masih kekeh jika dia akan tidur bersama Mbah Kakung dan Mbah Uti nya karena dia ingin secepatnya mempunyai dedek bayi di perut Sya seperti dedek bayi yang ada di perut Asti.


" Beneran Kendra nggak mau bobok sama Bunda? Yakin nih nanti malem nggak kangen Bunda. Iihh Bunda sedih loh kalo nggk bobok sama Kendra. " Ujar Sya dengan wajah memelasnya.


" No, Kendla mau bobok sama Embah sama Uti aja. " Jawab Kendra kekeh.


Baiklah, Sya sudah kalah. Dia tidak akan berhasil membujuk Kendra untuk tidur bersamanya.


Setelah mempersiapkan Kendra sebelum tidur, Sya naik ke lantai 2 menuju kamarnya dengan gugup. Rasanya dia tidak sanggup untuk bertemu dengan Radit malam ini. Sya ingin tidur bersama orang tuanya saja, berada di tengah-tengah mereka bersama Kendra.


Ceklek...


Dengan perlahan Sya membuka pintu kamarnya. Terlihat Radit yang sedang memainkan ponselnya, namun pandangannya langsung beralih saat mengetahui Sya masuk ke kamar.


" Kendra udah tidur yank? " Tanya Radit kepada Sya.


" Udah Mas, tadi Mama sama Ayah juga udah mau tidur kayaknya. " Jawab Sya gugup.


" Siap-siap buat apa Mas? " Tanya Sya pura-pura tidak tau.


" Buka segel lah. " Jawab Radit dengan santai.


" Mas... " Ujar Sya saat mendengar kata-kata Radit yang begitu frontal.


" Apa sayang, kita udah sama-sama dewasa. Ini bukan hal tabu lagi. Apalagi kita sudah menikah. " Ujar Radit menggoda Sya. " Sini sayang, sini duduk di samping aku. " Ujar Radit seraya menatap Sya.


" Mass.... " Ucap Sya lirih, saat ini dia merasa sangat gugup sekaligus takut.


" Nggak papa, sini duduk aja. Kita cerita-cerita, sebenarnya apa yang membuat kamu takut? " Tanya Radit kepada istrinya. Dengan perlahan dia beranjak dari ranjang dan menggandeng tangan Sya agar duduk bersamanya.


" Hemm? " Tanya Radit memastikan.


" Aku takut sakit, aku juga malu. " Ujar Sya berterus terang.


" Sakit? " Tanya Radit tidak paham.


" Kata Asti malam pertama itu sakit, aku jadi takut Mas. " Jawab Sya seraya menunduk.


" Hahaha... " Radit tertawa mendengar ucapan polos Sya.


" Kamu percaya kan kalo aku nggak akan pernah dengan sengaja nyakitin kamu? " Ucap Radit dengan lembut.


" Iya. " Jawab Sya lirih.


" Aku nggak akan memaksa kamu kalo kamu belum siap. Dan sebenarnya aku nggak terlalu terburu-buru mengenai hal itu. " Ujar Radit menatap Sya. " Aku mengatakan itu kepada Kendra karena aku ingin berdua dengan kamu, selama kita menikah kita tidak pernah berdua seperti ini selain waktu malam pernikahan kita kan? " Ujar Radit memberikan penjelasan.


" Jadi Mas nggak pengen itu? " Tanya Sya kepada Radit.


" Tentu saja aku pengen sayang, tapi sama kamu. Aku laki-laki normal yang pernah menikah dan melakukan hal itu. Tapi jika kamu belum siap tidak apa-apa kalau aku menunggunya sedikit lebih lama lagi. " Jawab Radit lembut.


Sya terdiam beberapa saat, jika dia menolak keinginan Radit dia akan merasa sangat berdosa. Lalu sekarang apa yang harus dia lakukan? Ini adalah hak Radit, dan dia sebagai seorang istri memang berkewajiban melayani suaminya.


" Aku siap Mas? " Jawab Sya pada akhirnya.


Radit yang mendengar ucapan Sya seketika terkejut.


" Apa? Kamu bilang apa sayang? " Tanya Radit memastikan pendengarannya.


" Aku siap memenuhi kewajiban sebagai istri kamu Mas. " Jawab Sya seraya menunduk.


" Sayang, aku tidak mau jika kamu terpaksa. Kita bisa lakukan itu sampai kamu siap nanti. " Ujar Radit memegang wajah Sya dan menatapnya dalam.


" Aku siap Mas, tapi kalo Mas nggak mau ya udah nggak papa. " Ujar Sya seraya naik ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Radit terdiam ditempatnya memikirkan ucapan Sya.


Dan saat tersadar...


" Aku mau sayang, mana mungkin aku nolak. " Ujar Radit naik keranjang juga. Namun sebelumnya dia sudah melepas kaos yang dia pakai.


" Tapi pelan-pelan Mas. " Ujar Sya merajuk.


" Aku usahain pelan-pelan sayang. " Jawab Radit memulai aksinya.


" Lampunya matiin. " Ujar Sya mengingatkan Radit.


" Nggak usah, begini aja. " Jawab Radit santai.


Dan malam ini Sya secara resmi melepas sesuatu yang sudah dia jaga selama 23 tahun ini dan memberikannya kepada laki-laki yang dia cintai, yaitu Raditya Diko Santoso, suaminya.


.


.


.


Whaaaa.... Aku malu banget nulis part ini🤣


Sampai sini aja ya malam pertama Radit dan Sya, selanjutnya biar mereka saja yang tau. Aku cukup nulis sampai sini😂


Kakak-kakak yang udah menikah pasti tau bagaimana kelanjutannya, aku tidak tau, aku masih polos kakak☺🤣


Terima kasih sudah selalu suport cerita ini☺


Jangan lupa kasih kritik dan sarannya ya🤗😍


Terima kasih 🙏💕