
"MAUREEENN.... MAUREEENNN...." Radit berteriak memanggil nama Sya.
Sya terbangun dari tidurnya saat mendengar Radit berteriak memanggil namanya. Terlihat Radit sangat ketakutan di dalam tidurnya, bahkan tubuhnya sudah di banjiri oleh keringat, tubuh yang tidak di lapisi dengan piyama itu juga bergetar dengan hebat.
"Mas.... Mas Radit... Bangun Mas istighfar, itu cuma mimpi buruk." Sya mencoba untuk membangunkan Radit yang masih memejamkan matanya.
Entah kenapa bagai sebuah mantra setelah mendengar suara Sya, Radit langsung membuka matanya. Ada kelegaan di wajahnya setelah melihat Sya ada di hadapannya.
Radit langsung bangun dari tidurnya dan menarik Sya kedalam pelukannya.
"Jangan tinggalin aku sama anak-anak. Aku nggak mau kalau sampai harus mengurus mereka sendirian. Aku butuh kamu, mereka juga butuh kamu." Ujar Radit bergumam seraya menangis. Dapat Sya rasakan lelehan air mata Radit yang mengalir di ceruk lehernya.
"Kamu ngomong apa sih Mas? Aku ngga kan ninggalin kamu." Jawab Sya mencoba untuk menenangkan Radit. Sya tidak tau sebenarnya apa yang Radit mimpikan itu, tapi Sya dapat menyimpulkan kalau di dalam mimpi Radit dia pergi meninggalkan Radit bersama anak-anak mereka.
"Kamu bikin aku takut. Kamu ninggalin aku cuma bertiga sama Kendra dan baby. Aku nggak mau kamu ninggalin aku, jangan tinggalin aku. Aku nggak sanggup kalau harus hidup tanpa kamu." Ujar Radit masih dengan tangisannya.
"Aku nggak akan ninggalin kamu sama anak-anak Mas, aku akan terus ada di samping kamu." Jawab Sya tetap mencoba untuk membuat Radit tenang.
"Ucapan kamu tadi malem bikin aku takut, jangan ngomong begitu lagi." Ujar Radit seraya mengangkat kepalanya. Radit menatap dalam kearah Sya yang masih terlihat begitu tenang namun terlihat ada rasa bingung di matanya.
"Memangnya aku tadi malem ngomong apa Mas? Bahkan tadi malem kita nggak sempet ngobrol, aku setelah habis makan langsung tidur kan?" Ujar Sya bertanya kepada Radit. Pasalnya Sya merasa tidak membicarakan apapun yang berpotensi membuat Radit menjadi mimpi buruk seperti ini.
Mendengar pertanyaan Sya, Radit langsung mengerutkan dahinya? Apa Sya amnesia sampai melupakan ucapannya tadi malam? Atau tadi malam Sya mengucapkannya dalam keadaan tidak sadar?
" Tadi malam kamu bilang kalau aku harus siap kalau saat melahirkan nanti kamu tidak selamat, kamu nyuruh aku bua didik abang dan adek supaya jadi anak yang sholeh. Kamu ninggalin aku. Aku nggak siap kamu tinggalin, jangan pernah lakukan itu. Aku bahkan tidak bisa tidur sampai menjelang shubuh tadi." Ujar Radit mengadu kepada Sya.
Sya tersenyum mendengar ucapan Radit. Dengan lembut di usapnya kepala sang suami.
" Sekarang coba Mas lihat jam yang ada di dinding?" Ucap Sya dengan lembut. Sekarang gantian Radit yang bingung, kenapa Sya justru memintanya untuk melihat jam? Memang apa manfaatnya melihat jam untuk sekarang, ini bukan solusi yang Radit inginkan. Namun tetap saja Radit menuruti ucapan Sya. Radit melihat kearah jam yang saat ini menunjukkan pukul 23.00.
" Kenapa?" Tanya Radit dengan biingung masih belum paham dengan maksud ucapan Sya mengenai jam.
"Mas bilang nggak bisa tidur sampai hampir shubuh karena pembicaraan kita kan? Tapi sekarang masih jam 11 malem." Ujar Sya memberikan clue, namun Radit masih saja belum memahaminya. "Dan bukannya tadi sehabis aku makan Mas turun lagi ke bawah karena di panggil sama Ayah dan Papa ya? Lalu kapan kita ngobrolnya?" Tanya Sya kepada Radit.
Radit terdiam untuk mencerna ucapan Sya. Mencoba untuk memutar kembali memorinya untuk mengingat kejadian semalam. Dan ya, sekarang Radit ingat. Yang Sya ucapkan itu benar, tadi setelah Sya menghabiskan makanannya Radit turun ke bawah karena Fardan memanggilnya dan mengatakan kalau dia sudah di tunggu oleh Ayah dan Papa.
" Jadi itu tadi mimpi di dalam mimpi?" Tanya Radit kepada dirinya sendiri. "Tapi kenapa terasa sangat nyata."
"Sekarang aku tanya, Mas sudah sholat isya belum?" Tanya Sya kepada Radit. Sebelum tidur tadi Sya memang sholat isya sendiri tanpa Radit.
Radit mnggelengkan kepalanya.
"Belum." Jawab Radit lirih. Dia lupa kalau belum sholat isya dan malah langsung tidur. Padahal Radit kembali ke kamarnya saat jam masih menunjukkan pukul 9 malam, tapi melihat Sya yang sudah tertidur pulas membuatnya ikut serta bergabung ke alam mimpi melupakaan fakta kalau dia melupakan kewajibannya untuk menjalankan sholat. Dan akhirnya mimpi yang dia dapatkan sangatlah buruk menurutnya, bahkan ini adalah mimpi terburuk yang pernah dia alami sepanjang hidupnya.
Sembari menunggu Radit menyelesaikan wudhunya di kamar mandi, Sya memilih untuk keluar menyiapkan tempat untuk sholat Radit, mengambilkan kemeja dan juga sarung dari dalam lemari.
Keluar dari kamar mandi Radit langsung menjalankan sholat isya.
Sedangkan Sya kembali duduk di ranjang sembari menunggu Radit menyelesaikan sholatnya.
Selesai sholat Radit langsung beranjak dan duduk di hadapan Sya.
"Jadi tadi semua itu cuma mimpi?" Tanya Radit kepada Sya.
Sya tersenyum mendengar pertanyaan Radit, sepertinya Radit masih ketakutan mengenai mimpinya itu.
"Iya Mas, itu cuma mimpi karena kamu melupakan sholat. Aku nggak akan ninggalin Mas dan Kendra." Jawab Sya dengan lembut.
"Kamu akan terus bertahan demi aku dan anak-anak kita kan sayang?" Tanya Radit lagi.
"Iya sayang, aku akan bertahan sekuat yang aku bisa untuk bisa terus bertahan sama kamu." Jawab Sya menenangkan Radit. "Sekarang tidur lagi yuk, udah malem kan?" Ujar Sya membujuk Radit.
Radit menggelengkan kepalanya.
"Aku takut kalau sampai mimpi itu lagi." Jawab Radit seraya memperlihatkan wajah memelasnya.
"Kamu kan udah sholat isya Mas, dan nanti sebelum tidur kita baca doa dulu. Pasti mimpi itu nggak akan dateng lagi kok, percaya sama aku." Sya seperti sedang membujuk seorang anak kecil yang sedang merajuk karena tidak mau tidur.
Dan akhirnya Radit menuruti ucapan Sya lagi, dia tertidur di pelukan Sya. Sedangkan Sya terus mengelus punggung Radit agar suaminya itu menjadi lebih tenang.
Hingga tidak lama kemudian Radit bisa tertidur dengan pulas.
Sekarang justru Sya yang menjadi tidak bisa tidur, bukannya Sya tidak cemas mengenai mimpi yang Radit ceritakan itu. Tapi Sya memang sudah memasrahkan hidup dan matinya kepada sang maha kuasa. Sya percaya apapun yang terjadi pada dirinya nanti pasti kehendak Allah SWT.
.
.
.......
*Maafkan karena sudah membuat temen-temen khawatir, aku nggak bermaksud kok 😂
Jangan lupa kritik dan sarannya 😊🤗*
Terima kasih🙏💕