Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ayah dan Anak



Radit terbangun dengan mendapati Kendra sudah tertidur disampingnya, padahal saat dia dan Sya bangun untuk sholat Subuh tadi putra sulungnya itu belum ada di sini. Kemudian tatapan Radit langsung melihat kearah tempat yang biasa Sya tiduri, tidak dia dapati istrinya disana. Sepertinya Sya sudah bangun, saat melihat ke box bayi pun dia tidak mendapati putra ke 2nya di sana.


Dengan perlahan Radit bangkit dari tidurnya, mengecup dahi Kendra kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mengosongkan kantung kemihnya sekaligus mencuci wajahnya.


Dengan santai dia turun ke bawah untuk mencari keberadaan istri dan anaknya.


"Maureen sama Rendra dimana Mbok?" Tanya Radit kepada Mbok Inah saat dia tidak mendapati keduanya di ruang tengah maupun dapur.


"Di teras depan Mas." Jawab Mbok Inah.


Radit keluar rumah dan menemukan Sya dan Rendra yang sedang berjemur di strollernya.


"Aku cariin kamu dimana-mana ternyata disini." Ujar Radit seraya memeluk Sya dari belakang.


"Mas... kaget aku tuh." Sya sedikit tersentak saat merasakan ada orang yang memeluknya.


"Jangan kaget dong, selain aku sama Kendra kan nggak ada lagi yang boleh peluk kamu." Bisik Radit di telinga Sya. "Kamu bangun dari tadi yank?" Tanya Radit kepada Sya.


"Aku bangun 1 jam yang lalu. Kalau adek baru 15 menit yang lalu, karena cuaca cerah ya udah aku ajak berjemur aja biar dapet vitamin D" Jawab Sya.


Radit beralih ke baby Rendra, bayi gembul itu seolah sedang senang karena terus menghentakkan kakinya.


"Uluhh, anak Ayah sekarang udah lincah banget sih. Udah gitu gembul banget nih sampe kaki dan tangannya kayak roti sobek semua." Ujar Radit seraya menciumi wajah baby Rendra.


"Sekarang boleh gembul, entar 20 tahun lagi Ayah udah kalah sixpacknya. Ya kan dek." Ujar Sya menyahuti ucapan Radit.


Radit tertawa mendengar ucapan Sya.


"20 tahun lagi aku juga pasti masih sixpack kok." Ujar Radit tidak terima Sya mengatakan dirinya akan kalah sixpack dari putranya itu.


"Mana ada, 20 tahun lagi palingan perut Mas udah buncit kayak bapak-bapak diluaran sana." Ujar Sya seraya terkekeh geli.


"Tidak akan, aku akan selalu sixpack. Aku akan mempertahankannya. Kamu suka kan perut aku yang kotak-kotak ini." Ujar Radit seraya menaik-turunkan alisnya.


"Enggak, biasa aja." Jawab Sya santai.


"Mana ada biasa aja, setiap malem aja kalau kita tidur kamu suka elus-elus perut aku yang kotak ini." Ujar Radit menggoda Sya. Dan benar saja, pipi istrinya itu sudah memerah seperti tomat.


"Husshh, jangan keras-keras nanti ada yang denger." Jawab Sya.


"Emangnya kenapa kalau ada yang denger? Kamu malu? Aku aja yang kamu elusin nggak malu." Radit benar-benar suka kalau wajah Sya sudah memerah seperti ini. Ingin rasanya membawa istrinya itu ke kamar lagi. Tapi untuk apa? saat ini tidak ada yang bisa Radit lakukan selain hanya bisa memeluknya, tidak lebih dari itu.


"Bundaaa...Bunda dimana..." Terdengar suara Kendra memanggil Sya.


"Di depan Bang." Jawab Sya menyahuti Kendra.


Tidak lama kemudian muncul Kendra masih dengan wajah mengantuk dan rambut yang berantakan.


"Anak Bunda udah bangun ya, sini sayang." Ujar Sya meminta Kendra untuk mendekat kearahnya.


Tanpa diminta pun Kendra akan langsung menghampiri Bundanya terlebih dahulu.


"Eehh, udah besar loh Bang, kok masih minta gendong." Tentu itu bukan suara dari Sya, melainkan dari sang ayah, yaitu Radit.


"Eeuhhmm, gendong Bunda." Sepertinya Kendra benar-benar dalam mode manja saat ini.


Sya tersenyum melihat putranya itu, dengan sigap dia membawa Kendra kedalam gendongannya. Karena tubuh Kendra sudah semakin berat, jadi Sya memutuskan untuk duduk dengan Kendra di pangkuannya. Bocah tampan itu dengan segera menyelusupkan wajahnya di leher Sya. Hal itu membuat Radit memelototkan matanya.


"Itu tempat Ayah Bang." Ujar Radit kepada Kendra. Tapi sepertinya sama sekali tidak Kendra hiraukan. Bocah tampan itu memejamkan matanya seraya mencari posisi nyaman.


Sya terkekeh geli melihat wajah Radit yang seperti tidak ikhlas saat melihat Kendra.


"Apa sih Mas, sama anak sendiri juga." Sya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Radit.


Pada akhirnya Radit tetap hanya bisa pasrah Sya di kuasai oleh Kendra saat ini.


"Abang mau bobok lagi?" Tanya Sya seraya mengusap lembut punggung Kendra.


"Enggak, Abang cuma mau mejemin mata doang." Jawab Kendra yang membuat Sya tertawa kecil.


"Mejemin mata itu namanya tidur Bang." Ujar Radit kepada Kendra.


"Enggak, Abang nggak tidul kok. Abang cuma mejemin mata doang nggak mau tidul lagi." Jawab Kendra kekeh.


Biarlah, biar Kendra berpendapat sesuka hatinya, toh Radit juga tidak bisa menang kalau harus beradu argumen dengan Kendra. Secara sudah jelas putranya itu mendapat dukungan dari Sya yang sudah pasti membuat Radit langsung kalah telak.


"Suka-suka Abang lah." Jawab Radit pasrah.


"Emang Abang sukanya sama Bunda." Ujar Kendra seraya mengangkat kepalanya. "Iya kan Bunda? Bunda juga sukanya sama Abang?" Ujar Kendra bertanya kepada Sya.


Sya menganggukkan kepalanya.


Baru saja Radit akan berbicara, melalui tatapannya Sya menyuruh Radit untuk diam. Pasalnya jika diteruskan maka adu argumen antara Radit dan Kendra tidak selesai-selesai. Ayah dan anak ini memang sama-sama tidak mau mengalah.


"Abang tadi malem boboknya nyenyak nggak?" Tanya Sya mengalihkan pembicaraan.


Kendra menggelengkan kepalanya.


"Enggak nyenyak, soalnya Abang boboknya enggak sama Bunda." Jawab Kendra.


"Bohong, kata siapa tidurnya nggak nyenyak. Jelas-jelas baru pindah kamar pagi tadi." Ujar Radit dalam hati. Jujur saja terkadang Radit sedikit kesal kalau Kendra sudah mencari perhatian Sya. Tapi Radit tidak bisa apa-apa, Sya adalah pilihan Kendra, tanpa Kendra pasti dirinya juga tidak akan bertemu dengan Sya. Tapi kalian jangan berpikir macam-macam, meskipun Radit sering kesal tapi dia tetap menyayangi dan mencintai Kendra.


"Ya udah, nanti malem bobok sama Bunda sama Ayah ya." Ujar Sya dengan lembut.


Dengan semangat Kendra menganggukkan kepalanya. Dan tanpa sepengetahuan Sya bocah itu menjulurkan lidahnya kepada sang Ayah seolah meledek. Pasalnya Kendra sudah tau kalau selama ini yang sering memindahkan dirinya dari kamar Bundanya adalah Radit.


Setiap Kendra kesal karena terbangun di kamarnya, Radit selalu beralasan kalau Kendra bangun dan berjalan ke kamarnya sendiri.


"Abang tuh udah gede, Ayah nggak bisa boongin Abang lagi. Emang Ayah tuh suka nakal sama Abang." Ujar Kendra dalam hati.


Radit menghela nafas pasrah. Jika Kendra ikut tidur bersamanya sudah dapat dipastikan semalaman Radit tidak bisa memeluk tubuh Sya.