
Setelah Kendra tidur di kamarnya, Sya dan Radit kembali ke kamar mereka. Seperti biasa, saat menjelang tidur mereka akan bercerita satu sama lain mengenai kegiatan mereka hari ini.
Dan seperti yang sudah dikatakan oleh Radit siang tadi mengenai kenapa mood Sya memburuk sejak wanita itu menjemput Kendra sekolah pun akan dia tanyakan.
" Jadi kenapa dari tadi siang mood kamu sepertinya sedang buruk yank? Padahal pagi tadi masih baik-baik saja kan? " Tanya Radit dengan lembut. Pasalnya sampai tadi pun Sya seperti masih enggan untuk bercerita kepada Radit. Setiap ditanyai istrinya itu selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan.
Sya terdiam mendengar pertanyaan Radit. Tapi tangannya masih sibuk memainkan kancing piyama tidur suaminya itu.
" Kenapa sayang? " Tanya Radit sekali lagi, dia mencoba untuk menghentikan tangan Sya yang sedang memainkan kancing piyamanya dengan menggenggam lembut tangan istrinya itu. " Jawab dulu sayang. Aku nggak suka kalo kamu memikirkan sesuatu tanpa memberitahu aku apa itu. Aku nggak mau nantinya itu malah jadi beban pikiran yang menyebabkan pengaruh buruk untuk kamu dan juga dedek bayi. " Ujar Radit menambahkan. Padahal sebelum hamil dulu biasanya Sya selalu mengungkapkan apapun yang ada dipikirannya jika itu sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Tapi sekarang Radit harus lebih peka untuk bisa menyadari mood Sya yang sekarang ini lebih cepat naik turunnya.
" Mas... " Akhirnya Sya mau membuka suaranya.
" Hem? Kenapa? Ngomong aja sayang. " Ujar Radit berusaha agar Sya nyaman dan mau bercerita.
" Aku cemburu. " Jawab Sya singkat, padat, dan jelas.
Mendengar ucapan Sya yang sama sekali tidak diduga nya itu, Radit seketika terdiam, dia mencoba untuk mencerna ucapan Sya yang padahal dari kalimatnya saja sudah sangat jelas. Dan ya, ini adalah pertama kalinya Sya mengatakan kalau dia cemburu. Bahkan sejak mereka jadian sampai sekarang ini, Radit lah yang selalu cemburuan. Kira-kira siapa yang berhasil membuat istri tercintanya yang tidak pernah cemburuan ini tiba-tiba menjadi cemburu kepadanya? Apa Radit perlu berterima kasih kepada orang itu? Ya karena secara tidak langsung karena dialah Radit bisa merasakan di cemburui oleh Sya.
" Cemburu? Kenapa kamu bisa cemburu? " Ujar Radit bertanya kepada Sya setelah dia bisa menguasai dirinya untuk tidak menampilkan senyum lebarnya.
" Mas kenal sama Mamanya Seril nggak? " Sya justru balik bertanya kepada Radit.
" Mamanya Seril? Seril siapa? " Tanya Radit bingung. Pasalnya Radit memang tidak mengenal perempuan yang bernama Seril.
" Seril itu temen sekelasnya Kendra. Nah dia itu punya Mama. Tiba-tiba aja dengan enggak tau malunya dia cerita sama aku. " Sya menjeda ucapannya.
" Cerita apa? " Tanya Radit penasaran. Seril? Sepertinya Kendra pernah menyebutkan nama anak itu saat Radit mengantarkannya ke sekolah. Atau malah dia sebenarnya pernah bertemu dengan Seril? Entahlah, Radit sendiri sepertinya lupa. Lalu sekarang apa hubungannya dengan mamanya Seril?
" Waktu aku berdiri di samping dia dan dia tanya aku kesini mau jemput siapa, ya aku jawab mau jemput Kendra dong, Eehh tiba-tiba dia cerita Sebenarnya saya tuh janda, anak saya cewek seusia Kendra. Pengen gitu punya suami kayak Ayahnya Kendra. Kalau ada kesempatan, bisa kali ya pdkt sama dia. Orangnya cool begitu bikin saya penasaran. Lah nggak tau malu banget sama orang yang bahkan dia nggak kenal tiba-tiba dia ngomong gitu. Aku kan jadi kesel Mas. " Sya menceritakan dengan berapi-api saking kesalnya. Mengingat kejadian tadi siang membuat mood Sya kembali memburuk.
" Hushhhhh, jangan cemberut gitu dong istrinya Radit. Nanti dedeknya tau kalau Bundanya lagi kesel. Jadi, kamu jawab gimana itu omongan Mamanya Seril? Emang dia enggak tau kalau Mas udah nikah lagi? Padahal setau Mas, Mas nggak pernah tuh bilang sama orang-orang di sekolahan Kendra kalau waktu itu Mas duda. " Radit mencoba untuk menenangkan Sya.
" Tadinya aku nggak mau jawab atau nanggepin omongan dia Mas. Karena menurut aku ya udah biarin aja dia dengan kehaluannya. " Jawab Sya sudah dengan lebih tenang.
" Kok gitu? Emang kamu mau kalo itu si Mamanya Seril terus berharap sama aku? " Tanya Radit kepada Sya. Yang benar saja istrinya itu mau membiarkan seorang janda menjadikan suaminya sendiri sebagai bahan halunya dia.
" Ya enggak lah Mas. Inikan aku belum selesai ceritanya. " Jawab Sya dengan kesal. Mana mungkin dia rela suami menjadi bahan halu wanita itu.
" Oke oke maaf. Terus gimana? " Tanya Radit lagi.
" Terus reaksi dia gimana waktu tau kamu istrinya Mas? " Tanya Radit penasaran.
" Tadinya dia kaget, tapi tiba-tiba aja dia justru malah. ngomong sesuatu yang bikin aku semakin kesel. Katanya mana mungkin perempuan muda kayak aku mau nikah sama Duda, aku dituduh sama dia kalau aku mau nikah sama kamu itu karena kamu kaya. Ya aku jawab iya lah, secara siapa yang mau nolak buat nikah sama duda yang kaya udah gitu ganteng. " Ujar Sya santai. Biarlah dia di cap matre oleh wanita itu, toh Sya juga tidak peduli.
Mendengar jawaban yang Sya berikan kepada wanita itu, seketika saja Radit tertawa. Secara tidak langsung Sya mengakui kalau dia itu tampan kan.
" Hahaha, aku suka sama jawaban kamu itu. Iihh jadi makin cinta deh. " Ujar Radit seraya menciumi puncak kepala Sya.
" Emang Mas nggak kesel gitu karena aku memberikan kesan perempuan matre dan gila. harta? " Tanya Sya kepada Radit.
" Enggak dong, aku malah berharap kamu matre dan porotin aku. Tapi pada kenyataannya kamu mau porotin aku kalau itu soal makanan doang. " Jawab Radit santai. Benar bukan apa yang Radit katakan? Kalau Sya meminta sesuatu kepada Radit itu pasti hanya makanan yang dia inginkan. Barang-barang branded tidak pernah ada dalam kamus permintaan Sya sejak mereka saling mengenal.
" Ya aku mau minta apa sama kamu kalau semua kebutuhan aku saja sudah dipenuhi sama kamu. " Jawab Sya santai. Tidak ada yang Sya inginkan karena semua kebutuhannya sudah sangat tercukupi.
" Ya kan kamu bisa minta tas, sepatu, atau baju yang branded-branded. " Ujar Radit kepada Sya.
" Nggak perlu minta pun kamu udah beliin. Tuh yang belum dicopot barkodenya aja masih banyak. "
Selama ini hampir setiap 2 minggu sekali Radit pasti akan membelikan Tas, sepatu, atau bahkan baju untuk Sya. Jadi kenapa Sya harus meminta dibelikan bukan?
" Gemes deh sama kamu, jadi pengen sayang-sayangan. " Kali ini Radit menciumi seluruh wajah Sya. Benar-benar, menurut Radit istrinya itu terlalu hemat.
" Alahhh, modus Mas tuh. "
" Jadi kesimpulannya kamu cemburu karena apa? " Tanya Radit kepada Sya.
" Ya karena masih banyak yang nganggep kamu itu duda. Padahal kan aku istri kamu. " Jawab Sya cemberut.
" Hahaha.... "
" Kok Mas malah ketawa sih. "
" Apa besok aku bikin konferensi pers di TV untuk klarifikasi kalo aku udah bukan duda lagi? " Tanya Radit mencoba menggoda Sya.
" Nggak gitu juga konsepnya Mas..... "