Baby... I Love You

Baby... I Love You
Galau



Radit terdiam duduk di ranjang di rumah kedua orang tuanya. Wajahnya terlihat sangat frustasi saat ini. Sebenarnya Radit ingin menelpon Mama Riana, tapi Radit tau kalau Mama Riana pasti juga tidak akan tau dimana Sya berada. Karena Mama Riana dan Papa Riyan saja pergi ke Bali sudah 4 hari yang lalu. Dan kalau Radit memberitahu kalau Sya dan anak-anak pergi, yang ada Radit akan mendapatkan omelan darinya.


Dan lagi, chat terakhir di ponsel Sya dengan Mama Riana, Radit sudah membacanya. Disana Mama Riana menanyakan keadaan Sya, itu berarti Mama Riana tidak tau mengenai perginya Sya kan?


"Sayang, aku tau aku salah. Tapi tolong jangan pergi seperti ini. Bukankah kita bisa bicarakan ini bersama?" Ujar Radit bergumam sendiri. Hatinya benar-benar terasa hampa sekaligus sesak.


Radit mengatakan itu seolah dia lupa akan kejadian minggu lalu dimana Sya mengajak Radit untuk berbicara mengenai Radit yang selalu sibuk dengan pekerjaannya tapi laki-laki itu menolak dan justru memarahi Sya.


Sya bahkan pergi tidak meninggalkan pesan secuilpun kepada Radit. Sama sekali tidak ada petunjuk akan kemana perginya Sya seolah istrinya itu memang berniat meninggalkannya tanpa jejak.


Tapi kalau memang Sya berniat meninggalkan dirinya kenapa harus membawa Kendra ikut serta? Dengan Sya pergi membawa Kendra bersamanya sudah menunjukkan kalau Sya tidak akan pernah lepas darinya, ya itu keyakinan yang saat ini Radit gunakan untuk menyemangati dirinya sendiri.


Radit memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya. Percuma jika dirinya pulang tapi tidak ada Sya dan anak-anak disana, itu akan membuat Radit semakin hampa.


Radit menyesal, ya dia sangat menyesal saat ini. Kalau saja dari awal Radit tau karena cabang baru dia harus di tinggalkan Sya, maka lebih baik Radit tidak membukanya. Atau kalau minimal Radit tidak akan mengabaikan Sya. Semua ini memang salah dirinya, bukan salah Sya. Setelah mengingat kembali sikapnya kepada Sya beberapa bulan kemarin, Radit benar-benar merasa sangat bersalah. Wajar saja kalau Sya tidak tahan dengan sikapnya ini.


Sekarang entah kemana Radit harus mencari Sya dan anak-anaknya. Dirinya benar-benar buntu saat ini. Dan lagi, Radit merasa tubuhnya saat ini benar-benar terasa sangat lelah. Terlebih pikirannya juga sangat kacau. Pikiran-pikiran negatif mulai berdatangan di kepalanya.


Bayangan Sya yang tidak akan kembali kepadanya membuat sakit kepalanya semakin bertambah.


"Tidak, Maureen tidak akan meninggalkanku." Radit terus bergumam seorang diri.



Di Bali, saat ini Sya dan Kendra bermain-main di pantai. Sebenarnya tadi Mama Riana dan Papa Riyan sempat bergabung, tapi mereka memilih untuk kembali ke villa terlebih dahulu dengan membawa baby Rendra karena angin sore sudah semakin kencang.



Setelah menidurkan baby Rendra, Mama Riana dan Papa Riyan berdiri bersebelahan menatap kearah pantai dimana Sya dan Kendra sedang tertawa bahagia.



"Apa kita tidak keterlaluan dengan memisahkan Radit dengan Sya dan anak-anaknya Ma?" Papa Riyan mengawali pembicaraan dengan Mama Riana.



Mama Riana diam mendengar ucapan suaminya itu. Setelah menghela nafas sejenak, Mama Riana menjawab pertanyaan Papa Riyan.


"Mau bagaimana lagi Pa, Mama juga sebenarnya tidak tega memisahkan mereka. Tapi Radit memang sudah sangat keterlaluan, dia mengabaikan anak dan istrinya demi pekerjaan. " Mama Riana menjeda kalimatnya. "Mama tau dan paham sekali kalau Radit adalah kepala keluarga yang wajib menafkahi keluarga kecilnya. Tapi tidak harus sampai mengabaikan keluarganya juga. Bukankah Sya dan anak-anak tidak hanya butuh nafkah materi saja? Mereka juga butuh perhatian dari Radit." Ujar Mama Riana.



Kali ini Papa Riyan yang terdiam. Memang, apa yang Mama Riana katakan itu sangat benar.




Meskipun tindakan Audrey tidaklah benar tapi Mama Riana juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mantan menantunya yang saat ini telah meninggal itu. Sedikit banyak Radit lah sebenarnya yang menjadi penyebab utama sampai Audrey melakukan itu.



"Baiklah, Papa terserah Mama saja. Tapi jangan lama-lama pisahin Radit sama Sya nya. Papa tau banget bagaimana rasanya berjauhan dengan istri." Ujar Papa Riyan.



"Papa juga sibuk kerja terus." Ujar Mama Riana.



"Papa sibuk tapi selalu kasih perhatian kan ke Mama. Lagian setiap Papa dinas di luar kota atau luar negeri Mama juga selalu ikut." Papa Riyan membela diri.



"Abang, udah yuk mainnya. Nanti masuk angin loh. Kita main besok lagi." Ujar Sya kepada Kendra.


Bocah tampan itu masih asik membuat istana pasirnya.


"Sebentar lagi Bunda, istananya hampir selesai." Kendra masih menolak untuk di ajak kembali ke Villa.


Sya menghela nafas sabar. Ini sudah jam 4 sore, Sya takut kalau terlalu lama bermain air dan tekena angin Kendra akan masuk angin.


"Ya udah, 15 menit lagi ya. Abis itu kita langsung pulang ke villa." Sya memberikan pepanjangan waktu.


Kendra mengangguk mengiyakan.


Tatapan Sya kembali beralih ke pantai yang gelombang airnya beberapa kali menyapu bibir pantai. Sungguh sangat indah pemandangan disini. Dan untungnya, suasana pantai disini sedang tidak terlalu ramai, jadi Sya dan Kendra bisa puas bermain tanpa terganggu banyak orang.


Sya seketika menghela nafas berat saat tiba-tiba dirinya mengingat Radit.


Sedang apa suaminya itu? Apa Radit sudah pulang dan sudah tau kalau dia dan anak-anak pergi? Aahhh, tapi tidak mungkin. Radit pasti akan pulang lewat pukul tengah malam seperti biasa.


Bagaimana perasaan Radit saat tau kalau dia dan anak-anak pergi dari rumah? Apakah Radit akan sedih atau justru dia akan senang? Gila, ya Sya memang sedang tidak sehat otaknya. Bagaimana bisa dia berpikir Radit akan senang dengan kepergiannya.


Sya kembali memikirkan keputusannya saat ini. Apakah yang dia lakukan ini sudah benar? Dia pergi membawa anak-anak tanpa seizin Radit. Apa yang Sya lakukan ini terlalu kekanak-kanakan? Bukannya menyelesaikan masalah yang ada diantara mereka, Sya justru kabur.


"Maafkan aku Mas, aku juga sebenarnya tidak ingin sampai melakukan ini. Tapi jika tidak aku lakukan Mas juga tetap tidak akan sadar dengan kesalahan kamu Mas." Ucap Sya di dalam hati.


"Bunda... Istananya sudah selesai, ayo kita pulang ke villa." Ujar Kendra menyadarkan lamunan Sya.