
Setelah mengirimkan pesan kepada Sya, Radit menjadi gelisah sendiri. Sampai sekarang sudah lewat tengah malam dia tidak bisa memejamkan matanya.
" Sebenarnya untuk apa aku mengirimkan pesan itu kepada Maureen. Aku memang sudah gila sepertinya." Ujar Radit dalam hati.
Ya, sejak pembicaraan dengan Mamanya tadi sore, Radit menjadi berfikir untuk memenuhi keinginan Kendra dan Mama Riana untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar bos dan karyawan dengan Sya. Radit ingin membuktikan bahwa pernyataan Mama Riana itu salah. Dia tidak pernah trauma menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Hanya saja sampai sekarang dia masih lebih fokus dengan tumbuh kembang Kendra dan juga mengurus perusahaannya agar lebih maju.
Ingin rasanya Radit menarik lagi pesan yang tadi dia kirimkan. Bagaimana tidak, sampai sekarang pesan itu hanya centang dua tanda telah dibaca oleh sang penerima namun tetap tidak ada balasan.
Radit benci perasaan terabaikannya saat ini. Dia merasa dejavu setiap kali Sya tidak menanggapi pesannya.
" Bagaimana mungkin aku yang seorang direktur diabaikan oleh karyawanku sendiri. Benar-benar dia membuat aku tidak nyaman." Ujar Radit dalam hati.
.
.
Setelah tadi malam tidak bisa tidur, akhirnya Radit bisa memejamkan matanya juga. Namun yang tidak biasa adalah Radit yang hari ini terbangun cukup pagi, tidak seperti biasanya. Hanya sekitar empat jam saja Radit tidur, karena dia tertidur pukul 1 dini hari, dan sekarang masih pukul 5 pagi.
" Maureen, kenapa kamu selalu mengganggu fikiranku. Aku tidak nyaman dengan rasa ini. Benar-benar tidak nyaman."
Karena tidak bisa memejamkan matanya lagi, Radit memutuskan untuk mandi. Tepat pukul 06.30 Radit turun kebawah. Didapur terlihat Mama Riana sedang membuat roti panggang untuk sarapan. Mama Riana yang melihat Radit sudah turun di jam sepagi ini menatapnya heran.
" Kamu tumben jam segini udah turun buat sarapan." Ujar Mama Riana menyipitkan matanya.
" Iya, aku kebangun lebih pagi tadi." Jawab Radit singkat.
" Sarapannya belum siap. Tunggu sebentar ya." Ujar Mama Riana kembali fokus dengan roti diteflon.
" Nggak usah buru-buru Ma, Radit mau berangkat sekarang. Ini aku minum kopi aja." Ujar Radit melarang Mama Riana membuatkan sarapan untuknya.
" Kok udah mau berangkat aja sih. Tumben banget kamu. Ada apa? " Tanya Mama Riana dengan raut wajah curiga yang memang sengaja tidak dia tutupi.
" Enggak ada apa-apa. Cuma ada rapat aja hari ini. Radit titip Kendra ya Ma, nanti sepulang kantor Radit jemput dia. Sekarang Radit pamit berangkat dulu." Memang benar dia ada rapat dengan PT Sindoro Group kan? Radit meraih tangan Mama Riana untuk menciumnya. Walaupun sudah besar atau bahkan dia sudah tua saat ini, tetap saja kebiasaan mencium tangan orang tuanya setiap kali Radit pergi selalu dia lakukan. Dan itu pula yang sedang dia terapkan kepada putranya, Kendra.
" Hati-hati dijalan." Jawab Mama Riana.
Radit sengaja menyetir mobil sendiri pagi ini, dia ingin memiliki me timenya sendiri walaupun hanya didalam mobil.
Sesampainya di kantor ternyata belum ada karyawan yang berangkat. Hanya terlihat tas di meja resepsionis dan juga satpam dipintu depan.
Menuju ruangannya, Radit memikirkan apa yang akan dia bicarakan dengan Sya nantinya. Dengan kegabutan yang entah dari mana datangnya ini Radit memilih untuk menyalakan CC tv area parkiran. Tanpa diduga, ternyata itu bertepatan dengan Sya yang terlihat sedang memarkirkan sepeda motornya. Segera saja Radit keluar ruangannya dan turun ke lantai 5 dimana itu merupakan tempat dimana Sya bekerja.
.
.
Pagi ini cuaca sangat cerah. Sya sengaja berangkat lebih awal untuk membeli bubur ayam dan sarapan di kantor. Hari ini rasanya dia sedang malas untuk sarapan sereal.
Setibanya di kantor, ternyata baru ada Mbak Prita di meja resepsionisnya.
" Selamat Pagi Mbak Prita." Sapa Sya begitu melihat Mbak Prita yang terlihat sedang membereskan riasan di wajahnya.
" Selamat pagi juga Sya, tumben kamu pagi-pagi begini udah di kantor." Ujar Mbak Prita sembari membubuhkan blush on di pipinya yang tirus itu.
" Iya nih Mbak, aku mau sarapan dulu. Mbak udah sarapan? aku bawa bubur cuma satu porsi tapi. Kita bagi dua aja deh, gimana Mbak? " Sya menawarkan bubur yang masih dia tenteng.
" Udah sana sarapan aja. Aku udah sarapan nasi uduk tadi. " Ujar Mbak Prita.
" Beneran nih Mbak? "
" Iya, udah sana. Entar malah keburu masuk. Naik aja sana, jangan lupa absen dulu tapi." Mbak Prita mengingatkan Sya untuk absen terlebih dahulu, karena beberapa kali dia melupakan ID card dengan meninggalkan di ruangannya hingga dia harus menunggu Dian atau Tio datang untuk mengambilkannya. Karena tanpa ID card Sya tidak bisa masuk keruangannya.
" Iya mbak Iya. " Ujar Sya terkekeh kecil. " Duluan ya Mbak."
" Oke, habisin sarapannya, biar nanti kerja bisa fokus." Ujar Mbak Prita seraya tertawa.
Sya berjalan kearah lift. Dalam hati dia bahagia karena pagi ini bisa berangkat lebih pagi dan sarapan selain sereal. Namun, senyuman di wajahnya mendadak lenyap saat pintu lift terbuka.
Terlihat tepat di depannya Radit berdiri dengan tangan disaku.
" Pagi Pak Radit." Sapa Sya untuk berbasa-basi.
" Pagi. Saya mau bicara dengan kamu sesuai dengan pesan saya kemarin." Radit langsung masuk kedalam lift dan menekan angka 15 dimana ruangan direktur berada.
" Kalau ditunda dulu bisa nggak Pak? Saya laper, belum sarapan. Ini aja saya sengaja berangkat lebih pagi cuma buat sarapan bubur ayam." Ujar Sya melakukan negosiasi kepada Radit.
" Kamu bisa sarapan di ruangan saya." Ucapan Radit merupakan keputusan final. Sya sudah tidak bisa membantahnya lagi dengan argumennya saat ini.
" Jadi apa yang ingin Pak Radit bicarakan dengan saya? Langsung saja ketujuan awalnya Pak." Ujar Sya begitu sampai di ruangan Radit. Saat ini dia duduk di sofa berhadapan dengan direkturnya itu.
" Kamu sarapan saja dulu. Saya takut setelah membicarakan ini kamu justru menjadi tidak bernafsu untuk makan. " Ucap Radit dengan santai. Hal itu justru membuat emosi Sya menjadi terpancing. Tanpa basa-basi dibukanya bungkusan bubur ayam itu, dan memakannya dengan lahap tanpa ada rasa jaim untuk makan dengan anggun dihadapan Radit. Tidak ada sedikitpun juga niatan dalam diri Sya saat ini untuk menawarkan bubur ini kepada Radit. Dalam pikirannya, Sya hanya akan menuruti saja apa kata Radit untuk saat ini.
" Kamu tidak berniat untuk sekedar berbasa-basi menawarkan bubur ayam yang sedang kamu makan itu kepada saya? " Tanya Radit yang melihat Sya makan dengan lahap.
" Tidak Pak. Saya yakin juga bapak tidak akan mau. Dan lagi, saya hanya punya bubur ayam satu porsi. Saya tidak mau mengambil resiko dengan berbasa-basi menawarkannya. Bagaimana jika bapak bilang mau? Lalu saya makan apa nanti? " Jawab Sya santai.